My Special Class

My Special Class
(S2) Episode 34



***


"Gue punya feeling enggak enak. Soal 'Cecunguk' itu. Oh yah? Lo sendiri balik kenapa? "


"Karna 'Cecunguk' itu juga" sahut Rei terlihat serius.


***


"Shyshy.. Dengerin kakak yah, entar kalo mereka berdua balik. Kita jangan peduli. Kacangin aja, anggap aja mereka angin lalu kalo lagi ngomong sama kita. Kita gak boleh sahutin ucapan mereka. Biar mereka tau rasa. Enak aja enggak dengerin pendapat kita!! " Gerutu Aisyah masih duduk di pinggir kolam.


"Setuju kak, Mereka sih. Beneran kelewatan. Enggak sadar apa yang di sini khawatir!! " sahut Sheryl mengangguk. Setuju akan argumen kakak ipar nya, yang selalu di anggap nya panutan.


"Shhh.. Ingat. Kita kacangin aja mereka" peringat Aisyah lagi, saat melihat bayangan Rei dan Nathan menghampiri mereka.


"Ingat pulang? "


"Masih hidup? "


Tanya Aisyah dan Sheryl bergantian, duduk di pinggir kolam dengan kaki yang mengayun di air. Mengakibat kan gelombang pada air yang tenang itu.


Mereka tentu tau hawa saat Nathan dan Rei masuk.


"Dih kakak ipar, kejem bener" celetuk Nathan yang duduk di sebelah Sheryl.


Aisyah menoleh dengan memasang wajah cemberut yang akut. Berharap kecemberutan nya itu membuat Reihan sang suami gundah.


"Loh Rei? Itu mata kamu kenapa? Kok birem? Itu bbir juga kok berdarah?? Ikh bodoh! Ikut Aku, biar aku obatin" Seru Aisyah beruntun dengan wajah khawatir khas istri muda . Segera ia menghampiri sang Suami yang di rasa sudah terluka parah.


"Gak papa kok. Abis main - main aja sama kucing jalanan. Kucing nya galak, lumayan sulit di jinakin" sahut Rei santai, mengecup pucuk kepala istri nya itu.


"Udah. Penjelasan nya nanti aja, sekarang ikut aku. Ini luka nya bisa parah nanti" Kata Aisyah menarik tangan Rei. Rei tersenyum puas dan menang ke arah Nathan.


"Kak Aisyah???... " Gumam Sheryl, ia bingung sendiri melihat sikap Aisyah ini. Siapa yang tadi bilang nya ingin ngacangin. Eh sekali liat udah langsung luluh.


Sheryl menoleh ke kiri, ada Nathan di sana yang sudah berdiri cengengesan, dengan tangan menggaruk kepala padalah tidak gatal.


Gadis mungil itu menghela napas kasar. Ia menghentakkan kaki berjalan masuk.


"Shyshy! Maafin gue dong. Gue salah, lo gak maafin gue sekarang. Udah jelas entar malam gue begadang" celetuk Nathan. Ia merasa ekspresi Sheryl tengah marah padanya, makanya ingin pergi.


"Gue mau ambil kotak P3K. Buat ngobatin mukak lo yang ganteng nya melegenda itu" sahut Sheryl menjalan kan kaki nya.


"Alhamdulillah. Rezeki nya anak ganteng. Pacar enggak marah karna gue ganteng" celetuk Nathan duduk di pinggir kolam.


Cessssss!!


Sheryl baru datang dan sudah menempelkan Es itu ke wajah Nathan yang membiru.


"Haihhhh.. Shy? Gue minta maaf. Jangan marah dong. " rengek Nathan menja, menatap nanar gadis nya yang di sebelah nya ini.


"Gue marah sama lo. Gue gak perduli sama lo. Lo mau buat apa bodoamat! " Seru Sheryl, ia dengan lembut Mengobati luka di sudut bibir Nathan, sembari dengan celotehan nya yang tidak ingin perduli pada Nathan, keluar begitu saja dari mulut nya.


"Ini nih, Lain di hati lain di mulut. Enggak diam tuh mulut, jelas gue sosor kayak angsa" celetuk Nathan menatap intens Sheryl.


Spontan, Gadis manis itu diam klakap. Ia tak kuasa untuk berbicara lagi. Bibir nya mengatup rapat akurat.


"Shy, entar kalo kita nikah sedian banyak Tropicanaslim yah" celetuk Nathan menatap wajah Sheryl erat - erat.


"Emang nya kenapa?? " tanya Sheryl bingung.


"Iyah, Gula di jaga. Takut nya gue diabetes, liat yang manis - manis tiap hari" Kata Nathan menatap gombal pada gadis nya ini. Yang tengah merona pipi nya.


Duh bodoh Shy! Berapa kali sih lo di gombalin Nathan! Tapi kok enggak kebel jugak!!


Batin Sheryl, ia memukul mukul kepala nya pelan. Nathan tersenyum puas, ia tentu tahu. Kenapa gadis nya ini bertingkah seperti ini.


Cup.


Nathan mencium pucuk kepala gadis mungil itu.


"Tetap lah di sisi gue. Apapun yang terjadi"


Sheryl terkesiap, ia selalu saja di kejutkan dengan perilaku Nathan.


***


Ting Tong! Ting Tong!


Bel keluarga Drapan berbunyi. Entah siapa tamu nya, membuat Dean yang sedang terluka harus membuka kan pintu nya..


"Iyah! Iyah! Siapa sih. Berisik bener. Enggak tau apa ini bel rumah keluarga Drapan!!" Keluh Dean dengan sedikit terpincang berjalan, ingin membukakan pintu itu. Melihat siapa orang yang telah memencet bel rumah nya dengan kasar.


"Kak She-Ryl?! " Kata Dean tergagu. Saat mendapati Sheryl lah yang bertamu ke rumah nya.


"Dimana Gilang? Gue mau ngomong sama dia?! " Sinis Sheryl kasar.


***


Next?


Lanjut?


Maaf yah kemaleman. Ai abis ngerjain tugas. Hehw