
***
Nathan mengenali suara itu. Suara yang selalu membangkitkan jiwa kesombongan nya.
"Rei?! Calon kakak ipar Luknut?!! " Teriak Nathan, mendapati Rei ada di sana.
"Lemah amat lo! Di keroyok belasan orang aja bengeb! " cibir Rei menepuk pundak adik ipar nya itu, ah calon maksud nya.
"Pala lo peyang 45 derajat! Ngomong seenak jidat! Noh, hadapin sendiri kalo ngerasa hebat!" sahut Nathan mundur, membiarkan Sang Calon kakak ipar bereaksi.
"Wah wah.. Bagus juga kalian berdua kumpul. Biar sekalian gue habisin penghalang gue dan Sheryl!! " Desis Gilang merasa di ambang kemenangan.
"Lo suka sama adek gue? Udah ngaca belom? " Cibir Rei santai.
"Iyah, kenapa? Kalo lo gak mau celaka. Mending restuin kita. Dan suruh Sheryl mutusin cowok lambe turah itu!! "
"Lo kira gue mau. Punya adek ipar yang sebelas dua belas sama Sampah. "
"Oh oke fine. Lo jangan salahin gue kalo lo berbaring di rumah sakit. "
"Haha. Pede nya lo itu bikin jijik. Sumpah! "
"Banyak bacot lo! Serang mereka! " pekik Gilang memerintahkan anggota nya.
Mereka semua bergegas menyerang Rei. Rei adalah musuh utama mereka. Mengingat bagaimana Rei mempermalukan mereka dulu. Dendam yang lama ini kembali menyulut api emosi yang berkobar.
Bukhhh!!
Rei dengan cekatan menghindar , bahkan memukul balik anggota nya. Tampak tak jauh dari Rei ada orang yang membawa balok kayu. bersiap menimpuk Rei jika ada kesempatan.
"Celah! Gawat! " gumam Nathan melihat orang itu bersiap memukul Rei dengan Balok kayu yang tebal itu.
Bukhhhhh!!
Rei membalikkan badan nya, berhasil mengelak. Bukan hanya mengelak, Rei bahkan memukul balik musuh nya itu.
Sayang sekali, saat Rei berbalik ada seseorang yang sudah bersiap menusuk Rei menggunakan pisau.
Plakkk
Dengan cepat Nathan menendang tangan orang itu. Dengan tanpa ampun menendang telinga nya hingga mengucurkan darah.
"What!! Sepatu mahal gue, baru gue beli nih. Kena darah lagi" Gerutu Nathan, menatap sepatu nya yang terkena bercak darah.
"Sepatu Kw gitu aja heboh. Diem, dengerin gue punya Rencana--" Ucap Rei berbisik. Saat punggung kedua saling nyaenempel. Mereka menatap intens para Geng motor yang sudah mengelilingi mereka.
"Halah.. Enggak usah pake Rencana. Ribet, bikin mereka terhormat aja, kalah pakai rencana. Udah lah, langsung main bantai habis aja. Kenapa? Enggak sanggup? Tulang lo keropos? " Sinis Nathan.
"Kurang ajar! Berani nya Kalian diskusi waktu maut udah di depan kalian! Serang mereka!! " titah Dean emosi. Ia merasa di lecehkan. Dengan ekspresi Nathan dan Rei yang tidak ada takut nya. Malah terlihat santai dan tenang.
Rei mengangkat tubuh Nathan. Mereka berputar dengan Nathan yang menendang musuh nya satu per satu.
***
"Kak Aisyah? Kapan pulang? " tanya Sheryl yang baru keluar dari pintu utama keluarga Wijaya itu, yah sekedar untuk mencari angin. Dia terkejut tatkala melihat kakak ipar kesayangan nya datang dengan Mobil Rei.
"Baru aja kok Shy. Mamah mana? " tanya Aisyah saat sudah melepas pelukan nya kepada adik ipar nya itu.
"Mamah di dalem kak. Kak Rei mana kak? " tanya Sheryl lagi. Ia menyipitkan matanya mencari di mana sosok Rei berada, namun tak di temukan oleh nya.
"Oh... Tadi Rei liat Nathan di keroyok sama Geng Motor gitu. Terus Rei bilang kakak suruh balik duluan aja pake mobil nya dia. Dia mau bantuin Nathan bentar" sahut Aisyah santai, duduk di kursi yang tersedia di teras itu.
"Di Keroyok kak?! Kak, kita lapor polisi yok! " Ajak Sheryl antusias.. Tentu ia khawatir akan cowok tengil nya ini. Stok cowok seperti Nathan itu hanya satu.
"Kakak udah bilang gitu ke Rei. Tapi dianya nolak, pokok nya enggak boleh lapor polisi. Makanya nih kakak ngambek sama dia!" Gerutu Aisyah memanyun kan mulut nya.
"Kak, udah lah.. Kata - kata kak Rei enggak usah di dengerin. Udah yuk telpon polisi"
"Enggak usah di dengeri gimana? Dia tuh suami kakak. Dosa loh kalo enggak nurut" sangkal Asiyah. Kedua nya menghela napas kasar. Lelah sekali rasanya menghadapi orang jenis Nathan dan Rei ini.
***
"Nat! Bisa lebih cepat lagi gak? Aisyah tadi ngambek sama gue. Ntar kalo kelamaan enggak di bujuk. Gue yang sesek!!" pekik Rei yang sudah menyelesaikan Beberapa orang disana. Yang sudah terbaring lemah.
"Bentar! Nih satu lagi" sahut Nathan.
Krekkk!!
Bagai bunyi tulang yang patah.
"Okeh selesai. Yuk balik" Ajak Nathan santai, mengibaskan keduaa tangan nya. Berharap kuman yang menempel terbang.
"Makin lama, makin hebat juga lo berantem." Puji Rei yang sudah duduk di mobil.
"Gue punya feeling enggak enak. Soal 'Cecunguk' itu. Oh yah? Lo sendiri balik kenapa? "
"Karna 'Cecunguk' itu juga" sahut Rei terlihat serius.
***
Apakah Nathan dan Rei terlalu sadis? 😯