
...***...
Beberapa hari telah berlalu, Setiap Andy datang kerumah Sheryl. Sheryl selalu tidak ada di rumah.
Saat itu Nathan dipanggil pak Ghani ke ruangan nya. Namun saat melewati gudang kosong itu, dia terkejut. Dia di tarik dari belakang, memasuki ruangan gudang itu. Yang jelas tangan seorang pri lah yang menarik Nathan itu.
"Lepasin gue banci!!" teriak Nathan menepis tangan itu, dan melayangkan satu pukulan hebat pada pria itu.
"Santai aja. Gue ga bakal celakain lo kok." balas Rei yang sudah berdiri melipat tangan di hadapannya. Dan ada seorang pria di sampingnya. January, pria itu temannya Rei. Dan Resan, orang yang menarik Nathan tadi.
"Gue kira siapa, ternyata kakak ipar gue." jelas Nathan menatap penuh selidik pada Rei.
"Gue kan udah bilang, santai aja, gue disini cuma mau kasih tau lo, lo ingat gue pernah bilang, untuk dapetin restu gue, lo harus ngalahin satu cecunguk." balas Rei santai.
"Cecunguk itu si palsu Andy maksud lo?!" tanya Nathan santai.
"lo gila? Cuma bedebah kecil bukan apa-apa di banding si cecunguk itu."
"Hahhh..., jadi tantangan sebenarnya masih belum kelihatan yah, padahal gue udah ga sabar loh." Biasalah, dia kan Nathan pantang kalo ga pede.
"Yahhh.., gitulah, oh yah si Andy itu licik, dan dia punya dukungan kakek gue, kalo lo ga bertindak cepat, gue ragu lo bakal menang." Nasihat Rei serius.
"lo khawatirin gue nih ceritanya? wow, gue merasa sangat tersanjung."
"Haah, tajam juga lidah lo."
"Haha santai aja, orang yang udah gue genggam gak bakal gue lepas, apapun taruhannya. Dan orang yang nyakitin dia. Hanya ada satu kata buatnya. Siksaan!!!" ujar Nathan dengan penuh tekanan dan tatapan tajam. Seketika Nathan seperti orang yang berbeda. Tekanan yang sangat mengerikan. Cowok itu pergi melenggang begitu saja.
"lo yakin? Bakal jadiin si berandal tengil itu adik ipar lo?!" tanya Resan heran.
"Kenapa?? Lo mau jadi adik ipar gue??" balas Rei
"Kalo punya istri kayak Sheryl sih gue mau, tapi punya kakak ipar dengan segudang cara licik sih gue ga mau." jawab Resan begidik. "Kasian juga yah tuh si Nathan, mesti lewatin banyak ujian buat dapetin Sheryl." sambung January.
"engga segampang itu mau dapetin adek gue." gumam Rei menyeringai.
"Tapi lo yakin, si tengil Nathan bisa ngalahin si Andy, lo kan tahu si Nathan itu bahkan di kelas terburuk aja ga dapat peringkat, sedangkan Andy dapat peringkat ke dua di kelas jajaran atas itu." fikir Resan.
"Haha dasar!! Lo lupa siapa yang imbang lawan Rei waktu itu, dan buat lebam di muka Rei. Orang yang bisa melakukan itu, bukan cuma butuh tenaga yang kuat, tapi otak yang cerdas untuk mempertimbangkan pola gerakan." jelas January mengakui kemampuan Nathan.
"Benar juga sih, masuk akal. Oh yah dia kan anak tunggal keluarga Arkasa, keluarga yang setara dengan Wijaya." ucap Resan mengerti.
"Benar. Adik gue ga boleh nikah sama sembarang orang. Dan si Andy itu, cuma sampah bagi Nathan. Dan yah cinta Nathan, gue yakin itu." gumam Rei menyeringai.
Dan dia juga adalah Anak keluarga Arkasa, kandidat yang paling sempurna buat jadi adik ipar gue, ya kan pa?
batin Rei senyum lega.
...***...
"Nat, putar balik aja yuk, kemana gitu, tapi jangan pulang dulu." ujar Sheryl melihat mobil kakeknya dan Andy di parkiran mobil rumahnya.
"Kenapa?? Karna ada Andy, gue ga takut loh." jelas Nathan santai, sambil turun dari mobil.
"Tapi ada kakek jugak di dalam rumah." ujar Sheryl menghalangi jalan Nathan.
"Dasar bodoh." ucap Nathan memukul pelan jidat gadisnya itu. "Kalau karna ada kakek gue mundur, apa lo ga ngerasa gue gak layak buat jadi suami lo?" sambung Nathan menarik tangan Sheryl masuk.
"Tapii Nat--"
"Engga ada tapi-tapian, sekarang kita masuk, lo tenang aja, gue nggak bakal ngelepasin tangan yang udah gue genggam." balas Nathan menenangkan Sheryl.
"Pas banget, Sheryl udah balik, ini ada Andy loh." sambut kakek ceria.
"Oh jadi dia 'temen' kamu??" tanya kakek.
"Nathan kek, pacarnya sheryl." ucap Nathan menyalami tangan kakek sopan. Kakek menaikkan alisnya sebelah heran.
"Sheryl sekarang masuk, kakek mau ngomong sama mereka berdua." ujar kakek.
"Serah deh." balas sheryl melenggang pergi.
"Sekarang kakek mau nanya sama kalian secara adil, kalian ini beneran suka sama Sheryl?" tanya kakek melipat tangan tersenyum.
"Iya kek, saya cinta banget sama Sheryl, dan saya bakal menjadi suami yang terbaik buat Sheryl." ujar Andy.
"Tapi Sheryl nya gak suka sama lo, bahkan jijik." cibir Nathan.
"Oh jadi kalau kamu Nathan, gimana??"
"Perasaan saya ke Sheryl, perasaan dalam waktu singkat, namun bertahan selamanya, dan tak kan hilang apapun yang terjadi. Kakek bisa memegang kata-kata saya, jika saya melanggar, saya ikhlas kehilangan segala yang saya miliki." jelas Nathan membuat Andy bergeming, dan kakek yang terkejut.
"Heh, jawaban yang menarik, kakek harap kalian jujur." ujar kakek meminum kopinya santai.
"Oh ya, Nathan bagaimana pendapat orang tua mu tentang Sheryl, kalau dari orang tua Andy, saya yakin mereka akan menjaga cucu saya dengan baik." jelas kakek nada agak meremehkan.
"Selama saya ingin. orang tua saya bakal merestui, tapi saya melihat orang tua saya sangat menyayangi Sheryl, terutama papa saya. Saya yakin 10 milyar persen, Sheryl akan bahagia." jelas Nathan yang menatap tajam mata kakek, hawanya terasa dingin dan tertekan. Membuat Andy diam terpaku. Kakek yang menyadari itu heran, tidak seperti dari cerita Andy. Nathan yang sekarang sangat berbeda. Terasa dingin, kasar, dan siap menerkam mangsanya.
Mengambil hati tante Aryani harus dengan kelembutan dan ceria, namun pria di depan gue ini, seorang presdir besar. Harus dengan cara yang dingin dan kasar. batin Nathan.
"Apa jaminanya orang tua kamu bakal sayang sama dia, terutama papa kamu? Saya masih meragukan itu." ujar kakek.
"Kakek!! Kalau kakek meragukan kasih sayang papa Herman terhadap Sheryl lagi, sheryl bakal marah." jelas Sheryl yang entah sejak kapan sudah berada di belakang kakeknya.
"Ah begitu rupanya, sudah lah, kakek ingin ke kantor dulu. Masih banyak urusan. Untuk kalian berdua. Bersainglah dengan adil." ucap Kakek menatap tajam Nathan, namun juga tersenyum penuh maksud. Bukan menghindari tatapan itu, Nathan malah menatap balik kakek dan tersenyum menang. Dari kata-kata kakek yang meminta bersaing secara adil dapat di katakan kakek juga menyukai Nathan sebagai kandidat.
"Gimana kek?? Udah bisa bedain mana yang terbaik buat Sheryl?" tanya Rei yang duduk di teras menatap kakek penuh maksud.
"Menarik, sulit di tebak dan misterius." balas kakek yang langsung masuk mobil.
"lo manusia munafik, ngapain tetep di sini, kakek udah pergi tuh." cibir Rei yang baru masuk dari pintu utama.
"Gue pergi bukan karna takut, cuma gue ada urusan." ucap Andy melenggang pergi.
"Rei, apa si Andy udah balik??" tanya Aryani turun dari tangga.
"Udah tuh mah, barusan aja." jelas Rei.
"loh mama kenapa??"
"Mama males kalo ada Andy, setiap Andy ada, mama selalu diam di kamar aja." jelas Rei yang terkekeh.
"Hussttt Rei diem akh. Oh yah ada Nathan juga, yuk ke taman belakang, ngobrol bareng. Kebetulan tante ada buatin cemilan juga." ujar Aryani melenggang pergi.
"Hah, mantep juga ajian cari muka lo, mama gue bisa ga suka sama Andy, dan kakek masih ngasih jalan buat lo deket Sheryl." desis Rei pelan di dekat Nathan.
"Gue anggap itu pujian, dan yah bentar lagi, gue juga bakal dapet restu lo." ujar Nathan menepuk pundak Rei dan berjalan pergi di samping Sheryl.
"Gue juga berharap gitu." gumam Rei perlahan.
Sore itu menjadi waktu yang menyenangkan bagi mereka semua, mengobrol bersama di taman yang indah itu.
...***...