My Special Class

My Special Class
Episode 30 (last episode)



***


ih kelamaan deh,  ntar filmnya udah mulai. Gue gak mau ketinggalan" ucap Sheryl menarik tangan Nathan masuk. Di ikuti Rei dan Aisyah yang saling menggenggam satu sama lain,  mata Rei masih lekat akurat menatap Aisyah. Merona pipinya Aisyah,  bagaima tidak? Saat ini dia sedang di genggam oleh pria Incaran banyak sekali wanita.


***


"mau pesan apa tuan?? " tanya pelayan perempuan itu. 


Lelah sudah rasa kedua pasangan ini,  sebelum akhirnya mereka melanjutkan nya ke sebuah restoran bintang lima milik keluarga Wijaya.


"emmm susi sama dimsum yah mbak" sahut Sheryl " minum nya Jus Jeruk aja" tambahnya lagi.


"saya samain aja mbak,  sama dia" sambar Nathan menatap lekat Sheryl.


"Tuan muda Rei,  ingin pesan apa??  Yang biasa?? " tanya pelayan itu sopan.


"tanyakan pada nona itu" perintah Rei menatap Aisyah.


"oh aku?  Pesan Mie ayam bakso aja deh...  Jus nya mangga yah" pesan Aisyah dengan lugunya.


"Apa?  Mie ayam bakso?  Nona,  ini Restoran internasional berbintang lima, mohon maaf kami tidak menyediakan nya"


"oh?  Kalau tidak di sediakan,  harus di sediakan. Saya kasih saran yah mbak,  mie ayam bakso itu rasanya luar biasa. Coba deh masukin di menu,  siapa tau aja laris yah kan?? " celutuk Aisyah santai.


"mbak... Ini Restoran berbintang, bukan warung pinggir jalan"


"mulai hari ini kau di pecat!  Mulai hari ini mie ayam bakso akan menjadi menu utama Restoran ini" perintah Rei.


"Tuan muda wijaya... Maafkan saya,  saya bersalah.. " kata pelayan itu berlutut. matanya menatap akurat lantai di hadapan nya.  Badan nya bergetar,  keringat menetes dari wajahnya.


Dimana kesalahan ku??  Aku hanya menjelaskan standar Restoran pada....nona ini?!!  Benar!! Nona ini dia?!!  Apa jangan - jangan kekasih tuan Rei yang perkataan nya mutlak dan tak boleh terbantah?!!


"Kakak,  nggak kah merasa terlalu berlebihan?? " sambar Sheryl.


"Tidak ada yang berlebihan jika itu menyangkut elo, Bunda,  dan Aisyah. Tiga wanita terhebat bagi gue"


"Kamu,  udah ke dapur bawain aja makanan yang ada. Kamu gak jadi di pecat" sambung Aisyah,  segera pelayan wanita itu setengah berlari ke arah dapur. Rei hanya bisa menghela nafas panjang,  sedangkan Aisyah sendiri cengengesan.


***


"Nat,  lo antar adek gue,  gue mau antar Aisyah" perintah Rei yang langsung melenggang pergi.


"Mereka berdua ini,  sangat serasi,  sudah saling mengenal sejak kecil. Andai aja kita juga gitu, ya kan Nat? " aju Sheryl.


"oh, gitu? Yuk, ikut gue"


"kemana Nat? "


"KUA, temenin gue"


"paan sih, gue serius tau gak? "


***


"Nat ini dimana? Ngapain malem - malem ke jembatan gini, sepi lagi. Jangan - jangan.. " putus Sheryl menatap Nathan begidik ngeri.


"mikir apaan? Negatif aja" keluh Nathan menarik hidung Sheryl.


"lemes amat kalo ngomong "


Malam itu, di temani dengan hembusan deruan angin malam. Dingin? Yah begitulah, namun itu mungkin sirna tatkala saat kamu bersama seseorang yang kamu anggap matahari kehangatan mu. Itulah yang kini tengah Sheryl rasakan, dingin nya angin malam sirna akan genggaman erat Nathan.


"Ngapain ngajak gue kesini?? " tanya Sheryl menaikkan sebelah alisnya menatap Nathan.


"gue mau dongeng" sahut Nathan mengalihkan pandangan nya ke depan.


"gue gak mau dengar" kilah Sheryl.


"Shh... Gue dulu pernah buta, lo udah tau kan? "


Tiba - tiba Sheryl menatap serius Nathan. "iyah, gue tau" sahutnya.


"Dulu, gue gak ada gairah dan semangat hidup, sampai akhirnya ada anak cewek yang datang like us Light in the dark ini my life ( seperti cahaya dalam kegelapan di hidup ku) "


"sok inggris lo" kilah Sheryl, padahal jelas ia sedang merasakan kecemburuan, tak ingin menggubris Nathan lebih dalam.


"Dengerin gue sampai selesai. Sejak saat itu gue udah sayang banget sama cewek itu, gue udah janji bakal genggam tangan nya. Gue udah janji bakal lindungin dia karna gue cinta sama dia"


"oh, terus sekarang masih cinta? " lirih Sheryl, ia tak dapat lagi menutupi rasa cemburu nya. Dia bukan Aisyah yang pandai berakting dalam segala hal. Suara berat dan penuh tekanan itu, tentu saja Nathan menyadari bahwa kekasihnya ini tengah di rundung kecemburuan.


"iyah masih, bahkan cinta nya nambah" sahut Nathan santai.


"gue paham kok, gue ngerti, cahaya di dalam kehidupan lo, lo pasti bakal ingat dia di seumur hidup lo. Andai aja yang datang waktu itu gue, mungkin ini lebih menarik"


"Buta bukan alasan kau harus mengurung diri. Kekurangan bukan juga alasan untuk mu memendam cita - cita mu. Kurang percaya diri bukan alasan untuk kau tak berteman. Dan kelemahan bukan alasan untuk mu terus bersembunyi. Hadapilah! Percaya lah, kau dapat mengatasi nya dengan cinta orang - orang di sekitar mu. Kejarlah kebahagiaan mu, memang jika ingin mendapatkan sesuatu yang di inginkan harus berusaha keras, maka dari itu berusahalah!! " ucap Nathan yang kali ini benar - benar serius.


"akhh.. " Desis Sheryl menekan kuat kepala nya. Sakit, itulah yang tengah ia rasakan saat ini. Sekilas gambaran dua orang bocah berdiri di jembatan, mengobrol tertawa ria terlintas di pikiran nya. Kata - kata Nathan barusan bergema dengan perkataan bocah perempuan di ingatan nya. Semakin mengingat nya, semakin sakit rasa kepala nya.


"Sheryl Wijaya. Lo emang perempuan kecil itu. Itulah kenapa, gue sampai sekarang sayang banget sama lo" Kata Nathan masih lekat menatap Sheryl yang wajah nya penuh kebingungan. Di tatap nya wajah Nathan lekat - lekat. Yah, Sheryl ingat sekarang ia ingat kenangan waktu itu. Meski ia membayar nya dengan rasa sakit kepala yang menghujam tak masalah. Ia senang, mengetahui gadis perempuan itu adalah dirinya. Ada rasa lega yang tak terukur di matanya, mengetahui dia adalah cinta pertama Nathan.


"makanya, Sheryl Wijaya, waktu itu gue lepasin genggaman tangan ini. Hari ini gue Nathan Arkasa berjanji gak akan pernah lepasin tangan lo, apapun yang terjadi! Bahaya apapun yang gue harus hadapin! Bakal gue hadapin! Lo, adalah satu - satunya cewek di hidup gue. Lo a--" putus Nathan, tangan Sheryl menutup mulut Nathan.


"Cukup Nat, Cukup. Gue gak sanggup kalo nerima cinta lo yang terlalu besar. Nat, gue.. Gue.. Hiks.. Gue gak bakal lepasin genggaman tangan ini! " kata Sheryl memeluk erat tubuh Nathan. Di balas dengan pelukan Hangat dari Nathan.


Jembatan itu menjadi saksi untuk yang kedua kalinya. Janji antara dua orang yang saling mencintai. Angin yang berderu merdu juga mendengar nya, janji suci yang mereka ucapkan. Bahkan bintang di langit juga menjadi saksi kebersamaan mereka ini.


"mpphhh"


***


Hai guys! Thanks yah udah baca karya aku yang judulnya 'Special my class' gak terasa yah kita udah ada di penghujung chapter. Eitss... Maksud nya last episode di Season 1 loh.


Author masih persiapkan Season dua yah.. Makanya dukung terus, mungkin akan rilis Selasa Depan yah.


Makasih untuk semua readers yang udah ikutin Special my class dari awal. Hehe.. Pokoknya I love You readers.


Kalau cerita nya kurang greget? Iyah emang wkwk.. Sengaja di Season 1 nggak kasih konflik yang greget yang penting romantis hehe. Kalo yang greget Mungkin ada di season selanjut nya.


Oh yah satu lagi, kalau ada saran chatt aja yah. Btw, maklum author baru 16 th kurang pengalaman hehe..


Dadah to seasons selanjutnya