My Special Class

My Special Class
episode 6 [Revisi]



***


"Tch..., sial dua menit lagi bel." Desis Sheryl yang tengah berada di jalan, dengan jalan yang seperti berlari. Sayang sekali usahanya sia-sia. Dia terlambat. Tentu saja memasuki barisan orang terlambat. Dia mulai menerka-nerka hukuman apa yang di terimanya. Ini kali pertamanya dia terlambat. Wajar saja dia gugup dan deg-degan.


"Hampir tiap hari gue terlambat, baru kali ini gue liat lo baris di sini." Celetuk cowok itu, memecah lamunan gadis mungil ini. Sheryl mengenali suara itu. Iyap si tengil Nathan Arkasa.


"Lo? Oh yah lo kan rajanya terlambat, gak heran lo ada di sini. Kang bolos lagi." ketus Sheryl memalingkan wajah mendongak menatap cowok itu. Pasalnya tinggi Sheryl hanya se-bahu  Nathan. Nathan hanya tersenyum manis menatap gadis mungilnya. Duh sayang sekali tatapan mereka harus berakhir karna suara Pak Eky.


"Bapak tau kamu tiap hari terlambat Nathan. Tapi baru kali ini bapak liat kamu baris di sini mengakui keterlambatan mu. Biasanya nunggu di grebek dulu baru baris." Cibir Pak Eky meremehkan. yah kadang Pak Eky sering di buat naik darah oleh si bocah tengil ini.


"Gimana lagi pak. Pas saya liat ada bidadari baris di sini, saya ke sini, eh tau-taunya ada calon mama dari anak-anak saya di barisan ini. saya ikut baris lah, takut kalo ada yang gangguin." Sahut Nathan santai menaik turun kan alisnya menatap Sheryl.


Sheryl sendiri tercengang tidak percaya. Bagaimana mungkin Nathan menjawab pertanyaan Pak Eky dengan santai bahkan jawabannya itu nggak logis. Sedangkan murid lain yang sudah di tatap pak Eky saja gagu gemetar ketakutan.


"Yah itung-itung hukuman dari bapak nanti, di jadiin kencan aja, biar ada cerita buat anak saya kelak." sambung Nathan santai membaguskan dasinya. Whatt??!! Nathan pake dasi? sejarah sih ini.


"Kalau gitu, Nathan dan Sheryl di hukum membersihkan dedaunan di bawah pohon beringin halaman belakang. Dan bagiannya Sheryl hanya membersihkan bagian 90 derajat dan 270 derajatnya. Nathan yang bersihkan." Perintah pak Eky tak ingin melewatkan kesempatan menghukum ini. Entah kenapa kalau liat wajah Nathan, hasrat menghukum jadi tinggi.


Segera Sheryl pergi mengambil alat bersih. Menuju ke halaman belakang bersama Nathan yang setia berdiri di sampingnya. Nathan memainkan ponselnya, sedangkan Sheryl mulai menyapu dedaunan di bagiannya.


Tak berapa lama datang Zizah, Klara, Airin, Andrian, Regata, dan Agung yang membawa banyak alat - alat bersih dengan tampilan muka cengengesan. Sheryl melongo tak percaya mereka datang untuk membantu. Kebetulan Guru yang masuk ada urusan.


"Sher, bukannya gue nggak mau lama-lama sama lo. Cuman kalo kelamaan di tempat kayak gini juga nggak baik. Makanya gue panggil mereka buat bersihin bareng. Sebagai gantinya nanti waktu nikahan, kita rayain tujuh hari tujuh malam oke?" jelas Nathan santai menyapu dedaunan itu. Sheryl hanya menatap pria itu jengah.


Dengan dihiasi gelak tawa akhirnya mereka selesai membersihkan itu. Tentu saja Andrian yang sudah jatuh hati pada Zizah, tak melewatkan sedikit pun kesempatan untuk merayu Zizah.


...***...


Bel pergantian pelajaran telah berbunyi beberapa menit yang lalu. Langkah kaki tegap pak Ghani sudah mulai masuki kelas itu. Suasana Hening tercipta. Pasalnya Guru terkiller itu juga adalah wali kelas mereka.


"Yang nggak selesai PR. Pergi ke perpus dengan tugas tambahan halaman 126 nomor 3,4,5 dan 6 selesaikan hari ini juga, tidak siap tidak pulang." tegas Pak Ghani sembari menatap intens anak didiknya.


"Gila!! Yang sisa di kelas tinggal 13 orang! horor banget!!" teriak Zizah heboh. Kepribadiannya yang cerewet mulai terlihat. Sheryl menatap Nathan. Nathan tinggal di kelas yang artinya dia selesai. Melihat banyak murid yang keluar pak Ghani pusing tujuh keliling.


"Kamu Nathan cs, yakin udah selesai?" Tanya Pak Ghani Sambil memeriksa buku Nathan. membolak-balikkan lembaran buku itu.


"Yakin pak. Kayak keyakinan saya kalau saya ganteng." Sahut Nathan cengengesan. Giginya berbaris rapat di sana.


Bukan hanya selesai, Tapi Nathan juga menjawab semuanya dengan benar. Begitu juga dengan Andri dkk. Mereka selama ini bukan bodoh. Hanya saja mereka malas untuk mengerjakan nya. Kemarin malam Nathan mengabari Andri dan yang lain, untuk mengerjakan tugas mereka.


"Kesambet apa nih kalian selesai??" tanya pak Ghani.


"Kata mamanya calon anak-anak saya pak, kalo nggak selesai pr nggak boleh makan semeja pak." Sahut Nathan dengan nada polosnya.


Menangkap mengerti maksud Pak Ghani, Nathan cs tertawa cengengesan, sedangkan Sheryl cs, diam terpaku. Melotot tak percaya, pak Ghani berfikiran seperti itu. Bagaimana mungkin mereka bisa menyukai 4 pria playboy itu.


...***...


Bel istirahat berbunyi, sesuai janji, Sheryl, Nathan dan yang lainnya makan di kantin di satu meja pastinya. Menjadi pusat perhatian seluruh kantin. Andy yang duduk di meja lain bersama temannya, menatap sinis tidak senang pada Nathan dan Sheryl yang tertawa.


"Kenapa? Nyesel lo ngelepas sheryl?" cibir Alex yang duduk di sebelah Andy.


"Diam!" ketus Andy menggenggam erat kaleng minuman yang sudah remuk karna emosinya.


"Mau makan apa Ryl?" tanya Nathan.


"Bakso kosong aja Nat, es nya jeruk, nih duitnya." nyodorin uang 50.000 ke Nathan.


"Nggak pernah makan sama cowok yah?? Mana ada sejarahnya pacaran, Makan yang bayarin cewek. Malu lah Sama kegantengan gue ini. Udah ini semua Andri yang bayar" ujar Nathan yang langsung di sambut manis oleh yang lainnya "Jadi kalian boleh pesan sepuasnya." Nathan melenggang pergi mesan makanan.


"Ndri gapapa nih lo yang bayar?" tanya Zizah sedikit merasa tidak nyaman, wajar, Zizah itu polos, dia gak pernah kencan.


"Bukan gue. Noh si Nathan yang bayar, santai aja bokapnya masih hidup. Dia masih kaya. Bilang gue cuman candaan doang kok." jelas Andri. Yah, faktanya memang Nathan yang menanggung semuanya.


Telinga Andy rasanya panas medengar gelak tawa mereka. Banyak pasang mata yang menatap mereka. Ada yang mengatakan cocok, dan tentu saja komentar pedas dari para siswi yang lebih pedas dari sambel ulek nya bik izah kantin.


"Duh, memang yah kalian itu cocok." cibir Renata yang lewat di samping meja Sheryl.


"Gue kira otak lo, geblek sepenuhnya. Nyatanya lo lumayan. Emang iya gue emang cocok sama Sheryl. Secara Gue ganteng, Sheryl cantik pake banget. Yah jelas cocok. Kalo lo--. Lo sih, duh gue rasa Andri aja nggak sudi godain lo." balas Nathan memandang rendah Renata.


"Dih sama dia?! Gila lo yah Nat? Kasih gue satu mobil sport mewah suruh pacaran sama dia. Gue nggak sudi! Walau cuma pura-pura!" cibiran pedas Andri keluar. Dia yang biasanya bermulut manis sama perempuan mengeluarkan cibiran pedas. Membuat seisi kantin terkejut.


"Owalah memang nih ketua grup Teri!! Terlalu iri! emang nggak pernah mirror!!" Kasar Zizah.


"Udah! Bubar! Gue sebagai Ketos minta kalian bubar! Dan lo Renata mulai sekarang kita putus dan gue nggak mau punya pacar nggak berkelas kayak lo!" sambung Andy geram.


"Emang lo yah Ryl. Kurang ajar! Cewek murahan, taunya godain cowok orang. Dasar orang miskin. Nggak sadar diri lo! Nggak di didik yah sama nyokap bokap lo! Oh yah bokap lo kan udah nggak ada! Jadi wajar aja anaknya sampe jual diri buat ngehidupin keluarganya! Emang yah sampah! Sampe orang tua lo mati juga nggak bakal nandingin kekayaan keluarga gue." teriak Renata ingin menampar Sheryl. Omongannya udah sangat ngaco, mungkin efek iri dan dengki.


Bukan Sheryl namanya kalau menerima tamparan Renata gitu aja. Sebelum tangan Renata mendarat di wajah Sheryl. Tangan sheryl sudah menghentikan Renata. Ingin rasanya Sheryl pergi dari situ, namun, kata-kata Renata yang menyinggung hati terdalam Sheryl membangunkan amarahnya yang terpendam. Bagaimana tidak, Ayahnya yang telah tiada terbawa dalam hinaan yang Renata lontarkan. Emosinya meluap-luap jika ada yang menghina ayahnya, pahlawan pertamanya. Jus jeruk yang baru seteguk ia minum, ia lemparkan ke wajah Renata dengan kasar. Semuanya terkejut! Belum puas, Sheryl juga menampar kuat Renata sampai terjatuh tersungkur menyisahkan lebam biru di pipinya.


"Lo hina gue sesuka hati lo, gue sih bodoamat. Tapi sekali lagi, lo coba hina bokap gue...! Minimal Rumah Sakit Amerika, maksimal kuburan gang encot!" Ancam Sheryl menatap Renata dengan tatapan Sinis. Benar-benar tajam. Namun tetap tak terbendung air matanya mengalir dengan deras.


***