
***
"Jangan bilang, kalo kakak mau Minta Shyshy nikah sama kakak?! Itu enggak mungkin!!" sangkal Aisyah cepat dari dekapan Kakak nya.
"Cuma informasi buat lo yang sekarang terbaring lemah.. Gua gak akan berikan dua hal yang paling gue sayangi di dunia ini setelah orang tua gue. Pertama, Sheryl calon mamah nya anak - anak gue. Yang kedua, kegantengan gue ini yang akan menjadi legenda nya manusia ganteng. Selain itu semua, lo bebas minta apa aja" Sahut Nathan santai, menatap ringan Farhan.
"Aku punya banyak permintaan--uhuk!! Uhukkk!! " Di sela - sela ucapan nya Farhan terbatuk, bahkan batuk itu mengeluarkan darah. Wajah Farhan sendiri pucat pasih.
"Kakak... " Lirih Aisyah, menatap nanar Farhan.
"Buat Sheryl, Aku cuma minta Supaya Kamu ingat nama aku selamanya, nama Farhan Ardinanta, dan jangan pernah lupakan" Lirih Farhan dengan suara lemah.
Sheryl diam, ia bingung mau menjawab apa. Pandangan Mata Sheryl bertemu dengab Nathan, Nathan sendiri mengangguk pasti. Sheryl mengerti, ia paham jelas maksud Nathan.
"Iyah, Aku bakal ingat selalu dan selamanya Nama Farhan Ardinanta" sahut Sheryl, masih di ambang kebingungan. Entah apa maksud dari ucapan Farhan sebenarnya.
"Bagus, Makasih. Buat Aisyah, kakak cuma minta satu. Biarkan kakak jadi Kakak nya Aisyah selamanya, karna kita saudara kan? " Pinta Farhan lagi dengan suara lirih.
Entah lah, melihat keadaan Farhan yang lemah seperti ini. Ada rasa iba dari Nathan dan Rei.
"Kakak.. Maafin Aisyah, waktu Itu Aisyah Khilaf. Kakak jangan dengerin kata - kata Aisyah waktu itu. Bagi Aisyah, kakak adalah kakak terbaik dan terhebat di seluruh Dunia" sahut Aisyah, memeluk erat kakak laki-laki nya itu.
"Makasih Syah, kakak juga sangat bahagia punya adik luar biasa kayak kamu. Buat Rei, Aku cuma minta. Jagain Adik ku, apapun yang terjadi" Tambah Farhan menatap yakin pada Rei.
"Enggak perlu di minta, itu kewajiban dan kemauan gue, buat selalu jagain Aisyah" sahut Rei, masih dengan nada congkak. Meski ada hati kecil nya yang sakit, bagaimana pun juga, pria yang terbaring lemah di hadapan nya ini adalah kakak ipar nya. Kakak kandung Aisyah, istrinya.
"Dan satu lagi, Tolong kelak kalau kalian punya anak perempuan, Kasih dia nama keluarga Ardinanta. Bisa kan Rei? " Pinta Farhan lagi, menatap penuh harap ke arah Rei.
"Gue udah janji, bakal gue tepati. Anak perempuan gue, bakal gue kasih nama Raisa Ardinanta. Puas? "
"Okeh, Aku puas. Sangat puas. Dan permintaan terakhir buat Nathan. Aku udah kasih Ginjal aku ke kamu, Dengan sayarat. Nathan tolong jagain Sheryl, gimana pun juga. Sheryl adalah perempuan pertama dan terakhir yang aku cintai. Bahkan hingga aku mati nanti" pinta Farhan, menatap tajam ke arah Nathan.
"Santai aja, calon binik gue nih. Gue bakal jagain, Gue saranin lo cari cewek lain deh, Sebelum lo bener - bener gila karna Sheryl. Udah, cukup gue aja yang gila karna cewek cantik yang satu ini. Yang lain enggak boleh" sahut Nathan santai, dengan Nada Khas nya.
"Bagus, kamu luar biasa. Tekad dan cinta kamu , Aku akui. Aisyah dan Sheryl, adalah Dua perempuan Terbaik di hidup ku. Jadi, tolong.. Ja.. Uhuk!! Uhukk!! "
Farhan terbatuk, bahkan dengan darah yang keluar dari mulut nya lebih banyak, Farhan menggenggam tangan Aisyah erat. Terlihat, Farhan sulit bernafas.
"Dokter!! Dokter!! " Teriak Rei, memanggil Dokter terdekat. Semuanya terlihat panik.
"Bagaimana keadaan Kakak saya dok? " tanya Aisyah dengan kepanikan yang jelas di wajah nya.
Semua menatap wajah dokter itu, dengan tatapan menekan.
Dokter itu menggelengkan kepalanya pelan. "Maaf, dia tidak selamat. Ternyata dia memiliki tubuh yang lemah, Tubuh nya tidak sanggup menahan saat kehilangan Organ penting nya, Ginjal nya" kata Dokter itu, menatap hampa pada Aisyah.
"Argggghhhh!! " Nathan memukul kasar kursi roda nya, ia terlihat Frustrasi. Sheryl sendiri tak kuasa menahan isak tangis nya. Kembali Sheryl mengenang masa saat ia bersama Farhan. Jika di ingat lagi, Farhan tidak pernah berlaku kasar pada Sheryl, selain tamparan waktu itu.
"Kakak!!! Enggak!! Enggak!! Enggak boleh!! Kakak enggak bisa ninggalin Aisyah sendiri!!! " Teriak Aisyah sangat Frustasi. Ia memeluk erat tubuh kakak nya yang masih hangat, namun sudah tak bernyawa. Rei segera mendekap erat tubuh Aisyah. "Rei... Rei.. Aku.. " lirih Aisyah lagi, menatap hampa pada Rei. Wajah nya sudah banjir akan air mata deras Aisyah.
***
Gue Sheryl Wijaya, menarik kembali kata - kata gue. Lo Farhan, adalah orang yang baik, hanya saja tersesat di jalan yang salah. Maaf, tapi sampai kapan pun. Gue cuma cinta sama Nathan. Enggak ada ruang lagi buat siapapun, entah elo atau bahkan orang lain. Tapi yang jelas, gue bakal ingat janji gue. Gue bakal selalu ingat nama Farhan Ardinanta.
Batin Sheryl menatap Nanar batu nisan di hadapan nya, dengan bertuliskan nama Farhan Ardinanta.
"Nona Muda Aisyah, Ada beberapa surat Warisan yang harus anda tanda tangani" Kata seseorang dari belakang mereka. Aisyah yang sedari tadi nenangis pun menoleh. Sheryl mengenali nya, yah dia adalah Syafa.
"Dimana Ken? Bukan kah dia yang harusnya mengurus hal ini? " pekik Rei, Aisyah diam. Ia tak kuasa untuk berbicara pada siapapun saat ini.
"Tuan Ken ada di sini, dia bersama Tuan Muda Farhan" sahut Syafa.
"Apa maksud mu di--"
"Benar, makam di sebelah makam Tuan Muda Farhan adalah Makam milik Tuan Ken."
"Bagaimana bisa orang itu meninggal secepat itu?! "
"Dia meminum racun setelah tau Tuan Muda Farhan telah tiada. Dia pernah mengatakan nya, bahwa dia akan mengikuti kemanapun Tuan Farhan pergi. yah, sekarang Tuan Ken mengikuti nya, bahkan sampai Alam Baka sekalipun" sahut Syafa.
Mereka semua diam, banyak kata andai di dalam benak mereka. Andai bahwa Farhan menyadari kesalahan nya lebih cepat, mungkin ini semua tak kan berakhir seperti ini.
Jodoh, Rezeki, dan Maut. Allah lah yang menentukan.
Batin Nathan, berdoa yang terbaik Untuk Farhan dan Ken.
***