My Special Class

My Special Class
Episode 18 (Revisi)



...***...


"Sher, kantin bareng gue yuk?" ajak Andy datang ke meja Sheryl.


"N g g a k" ~ Sheryl


"Sayang sekali, Sheryl maunya pergi bareng gue." balas Nathan mencium lembut kening Sheryl dan mengajaknya pergi.


"Liat aja Sher, lo pasti nyesel! Apapun caranya gue bakal dapetin lo!" Gumam Andy penuh emosi.


...***...


"Shy, weekend ini jalan-jalan yuk? refreshing. Tenang yang bayar gue, anggap aja karna baru jadian sama zizah." ajak Andri.


"Boleh juga tuh, okeh gue sama Sheryl ikutan." sambung Nathan.


"Tunggu, gue bilang ke kakak gue dulu." kilah Sheryl. Wajar, soalnya Rei itu posesif sekali.


"Semoga kak Rei ngizinin." sambung zizah khawatir.


...***...


Malam hari itu, Sheryl datang ke kamar kakaknya.


"Kak, Sheryl boleh nggak pergi jalan-jalan bareng Nathan yang lainnya." ujar Sheryl memulai topik, sembari berdiri  memainkan kedua ujung bajunya, karna gugup.


"Oh jalan-jalan? Nggak jauh juga, tapi tetep gak boleh yah." balas Reihan memutar kursinya, dan menatap wajah gugup adiknya itu.


"Tapi kak, Sheryl pergi nya bareng Nathan loh."


"Sama siapapun itu, untuk sekarang nggak boleh, kakak gak mau ada kejadian yang ke dua, ngertiin kakak."


"Tapi kan kak--"


"Engga ada tapi-tapian, sekarang tidur gih udah malam nih. Masalah ini selesai, dan lo nggak boleh pergi. Bukan kakak ngekang, tapi nanti kejadian 5 tahun lalu, gak boleh terjadi lagi."


"Paham kak. Yah udah Sheryl pergi dulu." balas gadis itu sedih meninggalkan kamar kakaknya.


Setelah sampai di kamarnya di ambil nya boneka beruang warna biru muda itu, dipeluknya dan dibantingkan juga tubuh mungilnya di atas ranjang, menatap kosong pada langit-langit kamar.


"Ini semua karna kejadian itu, coba aja ga ada kejadian itu, ayah gak akan meninggal, dan kakak bakal selalu tenang!" gumam Sheryl. Sepanjang malam mengingat kejadian itu. Menetes bulir hangat yang susah rasanya dia tahan.


...***...


"Sheryl!!" panggil zizah yang pagi-pagi udah pacaran. Maklumi aja masih baru jadian.


"Tanpa lo panggil juga gue bakal datang, ini kan meja gue." sahut Sheryl yang terpaksa duduk di kursi Andri, sebelah Nathan. Pasalnya Andri nggak mau pindah dari kursi Sheryl di sebelah zizah.


"Gimana Shy? di izinin sama your protektif Brother?" tanya Nathan menyambut Sheryl, yang duduk di sebelahnya.


"Dia bilang, 'jalan-jalan yah?? Nggak jauh juga, tapi sayangnya ga boleh tuh." ujar Sheryl memeragakan nada Rei bicara.


"Kok Kak Rei gitu amat sih?"


"lo dah bilang belum, kalau perginya bareng gue?" tanya Nathan.


"Bareng siapapun itu tetep gak boleh kata kak Rei." ujar Sheryl, dia sedih, itu bisa dilihat dari raut wajahnya saat ini.


"Dih kakak lo posesifnya udah parah tuh Shy, " sambung Andri memainkan rambut Zizah.


Aneh, gue udah buktiin kemampuan bela diri gue di depan Rei, bahkan gue yang belum ngeluarin seluruh tenaga, hasilnya imbang. Rei harusnya udah tau kan. Kok tetap ngelarang sih?!


batin Nathan.


"Jangan salahin kak Rei, ini salah penculik gue waktu itu!!" Sheryl membanting pulpennya.


"Penculik?! Siapa?! Lo pernah di culik?!" pertanyaan beruntun itu berasal dari Nathan yang tengah emosi saat ini.


"Iya, jadi dulu semenjak kecil gue sering banget ikut papa ke panti asuhan, atau sekolah gratis yang udah papa bangun, sering ngasih makanan. Sampai waktu itu gue usia 11 tahun. Gue ikut papa pergi ke panti. Terus gue ingat tiba-tiba gue di culik. Gue pingsan. Tiba-tiba, waktu gue bangun, gue udah ada di rumah. Dan waktu gue bangun. Hari itu hari pemakaman papa gue, Rei bilang ini semua karna penculik itu, papa meninggal karna insiden itu. Gue mau nanya lebih jelas, tapi Rei nggak pernah jawab. Sejak saat itu, papa udah ga ada. Dan gue selalu dilarang dan dikekang sama Rei. Sampai suatu hari gue nekat pergi ke tempat dimana gue di culik. Hari itu untuk ke dua kalinya gue di culik. Tapi gagal. Ternyata Rei selalu ngasih gue bodyguard diam-diam. Saat itu bodyguard Rei luka parah. Gue pikir Rei bakal marah, tapi dia malah meluk gue. Sejak saat itu pula gue lebih baik mendengarkan apa kata Rei. Apapun itu, karna gue tau, Rei akan milih jalan yang terbaik buat gue." cerita Sheryl panjang lebar. Tak terasa sudah jatuh air matanya karna mengingat papanya meninggal karenanya.


"Jadi lo pernah ngalamin itu??! Lo kok nggak pernah sih cerita ke gue!!" teriak Zizah.


"Jadi maksudnya Rei takut penculik itu masih ngawasin lo, dan ambil kesempatan buat culik lo lagi??" tanya Andrian.


"Kayaknya sih gitu, udah lah gue ga bisa ikut ke bandung, maaf yah." balas Sheryl tersenyum. Meski hatinya sakit, dia ingin sekali pergi berlibur dengan yang lain nya.


Apa ini? Kenapa gue baru tau?! Hal kayak gini pernah di alami gadis yang paling gue sayang, tapi gue baru tau? Tapi.., dilihat dari kepribadian Rei dan kekuasaannya, kalau hanya penculik biasa, itu bukan lah masalah. Tapi sampai buat Rei harus jaga-jaga, dan bahkan buat papa Sheryl tiada, penculik ini pastilah bukan orang sembarangan. Apa yang dia mau sebenernya?! Apa mungkin Sampai sekarang penculik ini masih ngawasi Sheryl? Apa jangan-jangan cecunguk Yang Rei maksud adalah penculik ini? Sebenarnya apa yang terjadi? Apapun itu, siapapun yang ganggu cewek gue, nggak boleh bahagia terlalu lama!


Batin Nathan sedari tadi menerka - nerka apa yang terjadi sebenarnya.


"Lo udah bilang belum, kalo perginya bareng gue?" tanya Nathan untuk kedua kali nya masih tidak percaya.


"Udah, dia bilang siapapun itu, masih tetap nggak boleh pergi." balas Sheryl sendu.


"Lo sendiri pengen pergi ga?" Tanya Nathan menatap mata Sheryl. Membuat Sheryl gagu sesaat.


"Pengen sih, tapi kalo kejadian itu---"


"Pengen yah udah kita pergi, jangan jadikan masa lalu bayangan buruk di masa depan." balas Nathan lembut.


"Tapi kak Rei gimana??"


"Yah udah tenang aja, ntar gue bakal bilang, dan pasti bakal dapet izin." balas cowok itu yang tiba-tiba menyandarkan kepalanya dibahu Sheryl.


...***...