
***
Enam tahun kemudian. Arfenik Arkasa sudah berusia Enam tahun. Bocah laki - laki yang imut mewarisi kegantengan dan kemungilan kedua orang Tua nya.
"Jomblo hepi, memang pilihan ati, bukan karlna tak mampu, untuk cari kekasih."
"Jomblo Hepi. Memang Pilihan, Biar ku bisa bebas, Terbang ke sana sini.. Jomblo. hepi"
Senandung - senandung itu terlontar dari bocah berusia Enam tahun, yang tengah menyisir rapi rambut nya. Dengan nada khas polosnya. Ia dengan santai menyanyikan lagu itu. Lagu yang sering di dengar nya Di You Tube.
"Sudah Terlalu lama sendiri...
Orang ganteng kayak aku ke sendiri..
Tak ada yang menemani..
Sudah terlalu lama Sendiri..
Hemmm. Hemmm. "
Lagi, Bocah kecil itu sekali lagi bersenandung dengan lagu yang berbeda, dengan beberapa lirik nya yang di cover sendiri atas ajaran sesat Ayah nya.
"Heii.. Kamu,. Iyah Kamu kaca yang ada di depan aku. Kamu beruntung tau gak, bisa lihat orang ganteng tiap pagi. Ingat yah, Mukak ini akan mengukir sejarah kegantengan" Celetuk Bocah itu, menatap Puas ke arah Cermin di depan nya. Ia tentu puas dengan wajah super duper ganteng nya. Sembari memainkan wajah nya.
"Makasih ya Allah, atas nikmat kegantengan yang kau berikan" Ucap Bocah itu, seraya mengangkat tangan nya berdoa.
"Arfen nak, Sayang Turun.. Kita sarapan" Seru Perempuan itu dari luar kamar, Arfen yah nama bocah itu adalah Arfenik Arkasa. Arfen kenal jelas dengan suara lemah lembut perempuan yang memanggil nya.
"Iyah Mah Arfen Ganteng bin imut Turun" Sahut Arfen, berlari kecil ke luar kamar nya.
Brukhhh
Karna tidak melihat jalan, Bocah imut itu menabrak seseorang.
"Ukh... Anak papah yang ganteng nya mengukir sejarah udah mandi" celetuk Pria itu, pria yang menbarak Arfen. mengangkat tubuh mungil bocah itu.
"Papah salah, Arfen enggak mandi hari ini. Kan liburrr.. Orang ganteng kayak Arfen cukup cuci muka aja pah, enggak usah mandi. Kan tetep ganteng" sahut Bocah itu menatal bangga papah nya.
"Halah, kamu kan belum masuk sekolah. Yah tiap hari libur. Tapi papah bangga sama kamu"
"Kenapa bangga Pah? "
"Karna kamu ganteng, anak papah emang harus ganteng"
Drtttttt
Suara itu berasal dari perut Arfen.
"Pah, Arfen Ganteng bin imut lapar, ke bawah yuk sarapan. Gendong ala pesawat terbang " Rengek Arfan manja terhadap Papah kesayangan nya ini.
"Nathan... Jangan gitu lah, nanti Arfen jatuh loh" Peringat wanita paruh baya itu lembut, yang sudah duduk di Meja makan. Nathan mengenali suara itu, yah suara lembut Arumi, mamah nya.
"Gak papa oma. Kalau jatuh, Asal tetep ganteng.. Arfen Ikhlas" sahut Arfen polos turun dari gendongan Papah kesayangan nya itu.
"Allah hu Akbar! Nathan, apa yang kamu ajarai ke cucu papah" Protes Herman yang juga duduk di sana.
"Enggak ada sih pa, dia belajar sendiri. Naluri orang ganteng " sahut Nathan santai ikut duduk di meja makan.
"Udah pah mah, sekarang sarapan aja Dulu" lerai Sheryl memebawa nampan berisikan Ayam goreng itu.
"Mah, Pah, entar ajarin Arfen naik sepeda yah. Omah sama Kakek udah beliin Sepeda baru buat Arfen" Rengek Arfen polos, mengambil Ayam yang ada di sana.
***
"Pelan.. Pelan aja sayang.. Awas jatuh " peringat Sheryl lembut, sembari melepas pegangan pada sepeda Putra tunggal nya itu.
"Tenang Ma, Arfen jago kok" sahut Arfen, menggoet sepeda itu berputar - putar di daerah sana.
"Shy, Arfen kayak nya butuh Adik.. Kasih yuk" celetuk Nathan menatap santai Sheryl.
"Nat, ngomong itu bisa di saring dulu enggak. Jangan asal ceplas - ceplos se enak jidat"
"Enggak, penting gue cinta ke elo"
"Enggak nyambung! "
Bukhhhhhh
"Arghhhh" Teriak Arfen yang jatuh dari sepeda. Tampak lutut bocah imut itu terluka.
"Arfen! Kamu gak papa nak? " Seru Sheryl dan Nathan segera menghampiri putra kecil mereka.
"Andrean! Panggil Dokter ahli bedah terbaik di Indonesia!!" Titah Nathan keras. Andrew dengan tergesa - gesa menelpon Dokter keluarga Arkasa itu.
"Mah, mama.. Pinjam Handphone dong" rengek Arfen. Entah apa maksud dari bocah kecil ini. Sheryl sendiri tidak menggubris ucapan Arfen, ia hanya fokus membersihkan luka Arfen dengan baju nya. Meski hanya Sedikit darah mengucur dari sana. Namun, rasa khawatir Nathan dan Sheryl tidak bisa di ungkap kan lagi.
Merasa tak di gubris, dengan polos nya Arfen mengambil Ponsel Papah nya yang tengah menggantung indah di kantung Kemeja Nathan.
"Untung yang luka cuma lutut. Wajah Arfen yang ganteng enggak kenapa - napa" celetuk bocah itu santai, melihat kamera Hp .
Sheryl dan Nathan diam, entah lah. Rasanya Kesombongan dan kesongongan Arfen jauh melampaui Nathan.
***
Masih ada satu Episode Ekstra lagi loh yah. Hehe