
***
Nathan membuka matanya perlahan, pandangan nya masih belum jelas. Ua mengerjapkan matanya beberapa kali, cowok tengil it sadar bahwa banyak sekali orang yang memanggil nya saar ini.
Nathan nengedarkan pandangan nya, tampak jelas keluarga Arkasa dan Wijaya mengelilingi nya saat itu.
"Nathann!! " Teriak Arumi yang sangat bahagia, putra tunggal nya sudah kembali sadar. Dengan segera dan penuh cinta Arumi memeluk erat Nathan.
Senyum bahagia terpancar dari wajah mereka semua.
***
Beberapa hari terus berlalu, keadaan Nathan pun naik dengan cepat.
"Mamah Arumi, Nathan nya ada di dalam? " tanya Sheryl pada Arumi yang masih berbicara dengan suster di luar ruangan.
"Mau anter makanan Buat Nathan? " tanya Arumi, ia tentu tau untuk siapa bekal makanan yang Sheyrl tenteng.
"Iyah mah, Nathan nya ada? "
"Iyah ada. Udah Sheryl masuk duluan aja, ntar mama nyusul" sahut Arumi lembut.
Segera Sheryl melangkah kan kaki nya, untuk menemui cowok tengil kesayangan nya itu. Tak lupa pula, ia melemparkan senyuman nya pada calon mamah mertua nya itu.
Krekkkk
Suara pintu terbuka, Sheryl dapat melihat dengan jelas. Kegiatan apa yang sedang Nathan lakukan.
"Nat, masih sakit loh. Kok ngegame? " Geram Sheryl, yah selama berbaring di Rumah Sakit. Hobinya Nathan itu kembali lagi, ngegame tanpa kenal waktu.
"Shyshy, ngomong - ngomong soal Ngegame. Lo tau gak bedanya lo sama Game di mata gue? " tanya Nathan, yah niat nya tentu menggombali Sheryl.
"Enggak, males gue mikir nya.. Ujung - ujung nya gombalan lo receh" sahut Gadis mungil itu duduk di sebelah Nathan yang berbaring.
"Halah.. Receh pun, lo kemakan kan sama omongan gue"
"Serah Nat serah, yang waras ngalah"
"Shy, ngomong dong gini, 'Terus Nathan sayang beda nya apa?' Gitu kek" Gerutu Nathan kesal, ia memperagakan gaya dan suara yang manja, ala Nathan untuk Sheryl ikuti. hampir saja gombalan nya itu gagal.
Sheryl menghela napas berat, manusia dengan seribu lambe ini memang enggak bisa diam.
"Terus, beda nya apa?? "
"Enggak ada beda nya. Lo dan Game Sama. No Game No Life, No You No Life and No punya anak " sahut Nathan dengan cengiran di wajah ganteng nya itu.
"Nat, lo kok bisa sih punya banyak gombalan receh. Gue curiga sama gebetan lo dulu berapa banyak" heran Sheryl. Pasal nya Gombalan yang Nathan lontarkan itu selalu berbeda, tidak ada yang sama.
"oh" sahut Sheryl singkat. Yang udah jelas makna nya.
"Eitss.. Bentar dong, jangan ngambek dulu. Shy, coba lo liat muka gue ini, serius " kata Nathan, yang entah apa maksud dan Tujuan nya.
Sheryl membulat kan matanya lebar - lebar, ia menatap Nathan dengan sorot mata serius, seperti yang Nathan minta. Begitu juga Nathan, ia menatap lekat bola mata Sheryl, kedua nya saling pandang penuh makna.
Deg.
Irama Hati Sheryl sudah tidak beraturan lagi, kacau. Hatinya berdegub begitu kencang.
"Udah pacaran nya? Kita masih harus nemui sang pendonor Ginjal loh. Buat nanya dia, apa permintaan nya" Sambar Rei yang sudah berdiri melipat kedua tangan nya bersender di pintu. Dengan Aisyah yang juga ada di sana.
"Halah.. Rese, ganggu mulu" Gerutu Nathan kesal. Sedangkan Gadis mungil itu masih mencoba mengatur kembali detakan jantung nya.
"Lo nya aja enggak bermodal, di rumah sakit masih aja ngegombal"
"Serah gue dong, yang penting gue ganteng. Mau gombal di mana aja enggak masalah"
***
"Shy, entar kalo permintaan nya dia minta Ginjal ini balik gimana?" tanya Nathan yang duduk di kursi roda, mendongak menatap Sheryl yang menuntun nya. Rei dan Aisyah hanya bisa menggelengkan kepala menatap perilaku calon adik ipar nya ini.
"Dia enggak segila lo Nat, dia waras. Ginjal yang di kasih enggak mungkin di minta lagi" sahut Sheryl, sudah dengan sabar menahan geram nya.
"Pribadi orang, mana ada yang tau ye kan" sahut Nathan santai, menaikkan kedua bahunya.
***
Pintu Kamar itu terbuka, Sheryl melihat ada orang yang tengah terbaring lemah di sana. Dengan begitu banyak alat rumah sakit di sekitar nya. Mereka berempat berjalan mendekat.
"Kalian udah datang. Kalian terlambat Dua menit" celetuk Pria itu, masih terbaring lemah.
"Kakak!! " Teriak Aisyah, tanpa Ba-Bi-Bu lagi Aisyah langsung memeluk tubuh lemah kakak nya itu. Mereka semua tak percaya jika yang menodonorkan Ginjal nya adalah Farhan. Farhan sang penyebab segala kekacauan ini.
Farhan dengan lembut juga mengusap kepala adik kesayangan nya itu.
"Kok lo? Apa mau lo?! " Sekak Rei, ia sudah mulai khawatir.
"Di perjanjian tertulis kita, Aku sebagai pendonor bebas meminta apapun kan?" Tanya Farhan santai, namun dari nada bicara nya ada gelagat yang tidak beres.
"Jangan bilang, kalo kakak mau Minta Shyshy nikah sama kakak?! Itu enggak mungkin!!" sangkal Aisyah cepat dari dekapan Kakak nya.
***