My Perfect Mafia Daddy

My Perfect Mafia Daddy
Part 85



Flashback On.


"FRANS!" sentak Aqila ketika mendengar suara mesin EKG berbunyi dan membentuk garis lurus.


Aqila melihat Frans yang tengah menatapnya, dia melongo dan melihat kembali mesin tersebut.


Tanpa banyak bicara Aqila langsung berlari keluar, dia mendapati ternyata Elvio tengah berjalan menuju padanya.


"El, mesin EKG Frans berbunyi. Garisnya menjadi lurus," ujar Aqila.


Tanpa aba-aba, Elvio langsung bergegas masuk. Dia melihat Frans yang sudah memejamkan matanya, setelah itu dia segera memeriksa Frans dan masih merasakan denyut nadinya.


"Ah, sayang sekali Aqila ... sepertinya kau akan menjadi janda. Aku akan segera mendaftar menjadi calon suamimu," ujar Elvio dan mengedipkan sebelah matanya.


Aqila tak mengerti, dia ikut mengedipkan matanya ketika melihat kelakuan Elvio.


"Ku hajar kau sekarang juga El!"


Tatapan Aqila mengarah pada suaminya, dia melihat sang suami tengah menatap tajam ke arah Elvio. Aqila masih belum memahami kondisi saat ini, dia tak mengerti dengan Frans sekarang.


"Dia hanya membuatmu takut, sudahlah. Aku harus keluar dan memberi waktu untuk kau marah Aqila. Bisa-bisa gue kena imbasnya," ujar Elvio dengan berakhir ucapan batin.


Kini hanya Aqila dan Frans, Elvio masih harus membantu yang lain. Aqila menatap Frans tajam, sekarang keadaan genting dan suaminya malah membuat prank konyol ini.


"Ini sungguh tidak lucu Frans! semua orang panik! terlebih Ica yang sedang bertarung melawan Gibran! apa kau tak memikirkan keselamatan yang lain? GILA!" marah Aqila.


"Maaf Love, aku hanya tidak mau kamu terlalu khawatir," ujar Frans.


Aqila memukul tangan Frans, suaminya membuat dirinya semakin khawatir dan kehilangan pikiran. DIa seperti wanita gila yang di candai oleh suaminya.


"Hiks ... jangan seperti ini hiks ... Bent sakit dan kau pura-pura mati. Aku hampir saja jantungan, jika aku sampai jantungan ... putraku sama siapa hah?!" Isak Aqila.


Frans meraih tangan Aqila, dia mengecupnya berkali-kali sambil menggumamkan kata maaf.


BRAK!


"FRANS! GIBRAN TERTEMBAK!"


Frans dan Aqila sama-sama terkejut, mereka mengira jika Ica lah yang menembaknya karena sebelum dia berada disini Ica yang sedang melawan Gibran.


"Ica menembaknya?" ragu Frans.


Lio, dia menggelengkan kepalanya. Selanjutnya dia mendekat dan mengatakan apa yang terjadi.


"Bukan Ica, tapi Daniel. Setelahnya dia menjatuhkan diri dari atas gedung," ujar Lio.


"APA?!"


Flashback Off


"Sejak kejadian itu, Gibran belum juga terbangun. DIa melindungi Ica, sehingga tembakan itu mengenai jantungnya. Aku berhutang budi padanya, fasilitas rumah sakit aku yang menanggungnya. Dokter terbaik aku datangkan agar dia segera bangun,"


"Namun, semua itu kembali kepada takdir. Ica juga sangat yakin jika suatu saat Gibran bangun, maka dari itu dia terus menjaganya. Padahal, banyak dokter yang mengatakan jika Gibran sudah tidak ada harapan." Lanjut Frans.


Ezra mengangguk paham, sudah cukup lama. Bahkan sudah berjalan tiga tahun tetapi Ica masih setia menunggu Gibran sadar.


"Keluarga Wesley akan kesini besok, kita akan mengadakan acara ketiga tahunnya Si kembar dan Bentley. Hanya makan besar keluarga saja," ujar Ezra.


"Tak masalah, oh iya apakah Sky masih selalu kambuh? aku dengar jika dia memiliki asma?" tanya Frans dengan tatapan bertanya.


Ezra mengangguk, akibat Sky yang terlahir prematur dan juga lemah membuatnya mudah terserang penyakit. Ezra dan Lia berusaha untuk saling menguatkan ketika putra bungsu mereka sakit, beruntung Elang sangat perhatian pada kedua orang tuanya. Jadi doa tak banyak menuntut.


"Iya, tak parah hanya saja Lia selalu takut jika sewaktu-waktu asmanya kambuh. Kesini saja kami harus membawa dokter bersama kami, beruntungnya asma Sky tidak parah dan hanya sesak sedikit," ujar Ezra.


"Kau memiliki anak yang kalem, padahal kalau aku lihat istrimu sangat pecicilan dibandingkan istriku yang anggun. Apa anak kita tertukar?" Tanya Frans sembari menatap Ezra yang membulatkan matanya.


BRUGH!


Sontak saja perhatian Aqila dan Lia mengarah pada Bent yang tengah berkacak pinggang sambil menatap tajam Frans.


"Kak, sepertinya kau harus jauhkan putramu dari Ravin." Cicit Lia.


***


"Sky sama mami yuk nak." Ajak Lia pada putranya yang memegangi kaki Ezra, pasalnya pria itu tengah merokok dan hal itu membuat Lia serasa ingin memukul suaminya itu. Kebiasaan Ezra belum berubah, sesekali ia mencuri waktu untuk merokok walau Lia sudah membuang semua rokok tersebut.


"Nda mau, mau cama papi," ujar Sky.


Ezra mematahkan rokoknya, dia membuangnya ke tempat sampah dan membawa Sky ke gendongannya. Tangannya membenarkan jaket Sky agar tak kedinginan, Lia juga memakaikan topi pada rambut coklat Sky.


"Kenapa belum tidur? dua abang sudah tidur, kenapa Sky belum tidur hm?" Tanya Ezra dengan lembut.


"Dicini cangat lamai, Ky tidak cuka." Lirihnya sambil menaruh kepalanya di dada bidang sang papi.


Ezra berfikir mungkin karena banyaknya bodyguard, dia tak terlalu memusingkan hal itu.


"Di rumah kita juga ramai seperti ini nak, sama aja kan?" bujuk Lia.


Sky menggeleng dan berkata, "Beda mami, di lumah nda cepelti ini. Dicini banak anak main, olang banak duga. Celem mukana, nda pelnah pake kinkel cepelti mami tali,"


Lia dan Ezra saling pandang, mereka menduga satu hal. Namun, mereka segera menepisnya, mungkin saja putranya hanya melantur.


"Mami,"


Ezra dan juga Lia mengalihkan pandangannya, terlihat Elang menghampiri mereka dengan baju tidur yang terlapis jaket tebal. Cuaca yang dingin membuat mereka harus menghangatkan tubuh.


"Kenapa bangun hm?" Tanya Lia sambil menghampiri putranya, dia membawa Elang ke gendongannya sehingga putranya kini merebahkan kepala di bahu sang mami.


"Kita bawa mereka ke kamar saja, Sky juga tidak bisa di tinggal sendiri di kamar sebelah," ujar Ezra.


Lia mengangguk, dia mengikuti suaminya berjalan ke arah kamar mereka. Tadinya Sky dan Elang menempati kamar sebelah, tetapi karena Ezra khawatir pada Sky dia memutuskan untuk menyatukan kamarnya dengan putra-putranya.


Sedangkan di kamar Frans, ia sedang menikmati pijatan dari istrinya. Kepalanya terasa sangat sakit, Aqila pun berinisiatif untuk memijatnya.


"Aku tuh sering sakit kepala tau gak Love," ujar Frans.


"Makanya jangan kerja lembur, semenjak minggu lalu kita pindah ke sini aku sudah tidak suka. Kantormu sangat jauh dari sini, berikan saja mansion kakekmu ini pada Mateo." Kesal Aqila.


Mansion ini merupakan mansion kakek Frans, pria itu mengajak Aqila tinggal disini untuk membuka lembaran baru. Dia trauma sejak kejadian itu, bahkan kakinya bari sembuh setelah 2 tahun dengan menjalani terapi.


DIa tak ingin lalai lagi, mafia Ateez mencoba berdamai dengan yang lain. Baiknya, mereka bekerja sama dengan bisnis yang di setujui.


"Frans, aku telat datang bulan," ujar Aqila di sela memijatnya.


Frans yang tadi memejamkan matanya seketika melotot, dia mendudukkan dirinya dan menatap istrinya dengan wajah terkejut.


"Jangan bercanda Love," ujar Frans.


"Aku gak bercanda, beneran ih! emang kamu puasa terakhir kali kapan hayo?" Seru Aqila.


Frans menghitung, benar dirinya terakhir puasa dua bulan yang lalu. Kenapa dia tak menyadari jika istrinya belum datang bulan, biasanya dia selalu mencak-mencak kesal kala Aqila mengatakan bahwa dirinya datang bulan.


"Di sedot lagi aja kali yah Love? biar keluar gitu," saran Frans.


Aqila menatap tajam Frans, dia berkacak pinggang dan bersiap berteriak.


"EMANG KAMU KIRA KECEBONGMU ITU DEBU HAH?! MAIN DI SEDOT? PAKAI APA HAH?! EMANG BENER KATA RAVIN ENGGAK ADA OTAKNYA KAMU!"


...-Tamat-...


maaf, authornya kehilangan inspirasi🙇‍♂️