My Perfect Mafia Daddy

My Perfect Mafia Daddy
Part 55: Frans yang cengeng



Aqila kembali ke tempatnya, antrian itu juga hanya tersisa tiga lagi.


"Frans kemana sih? kok nelponnya lama banget?" gerutu Aqila sembari menduduki dirinya di kursi.


Aqila pun menelpon Frans, Frans pun mengangkat panggilan itu tetapi tak ada suara yang keluar.


"Halo, kamu di mana Frans?" tanya Aqila.


"Halo," panggil Aqila lagi.


Ponsel Aqila pun mati karena kehabisan batrai, dia pun memutuskan untuk mencari suaminya.


Sedangkan Frans, kini keadaannya sudah kacau. Rambut yang berantakan, jaket yang sudah terlepas. Wajah yang penuh air mata, di tambah Aqila yang menelponnya membuat Frans menangis histeris.


"Hiks ... Arwah istri gue gentayangan hiks ... dia nelpon gue, padahal mayatnya ada di depan mata." ujar Frans sambil menatap seseorang yang di selimuti kain putih.


BRAK!


"SERA! SERA!"


Frans terkejut, dia segera memundurkan tubuhnya dan menatap pria itu dengan wajah bingung. Siapa Sera yang pria itu maksud? kenapa dia masuk ke kamar istrinya? itulah yang Frans tanyakan dalam batinnya.


"Ini orang siapa sih? salah masuk kamar kali yah?" gumam Frans.


Frans kembali terisak, dia menutup wajahnya dan menangis. Dia pun sudah tidak peduli dengan orang yang menangis sambil memeluk Sera.


"Kamu siapa?" tanya pria itu.


"Hiks ... ini my wife," ujar Frans dengan melantur.


"Your wife? salah! ini wife saya!" ujar pria itu.


Frans menatap pria itu dengan bingung, begitu pula dengan pria itu. Pria itu pun membuka kain putih yang menutupi wajah Sera, Frans yang melihatnya pun terkejut.


"Look, my wife!" serunya.


"Istri lu mati kok malah sewot sih, nangis bodoh!" ujar Frans.


Pria itu tak menggubris Frans, dia menangis sambil memeluk istrinya. Frans yang merasa malu pun segera keluar dari kamar mayat, dia berjalan lunglai sambil memegangi dadanya.


"Huh ... syukur deh, gak jadi duda gue," ujar Frans dan mengelus dadanya.


"Kamu doain aku gak ada hah?!"


Frans terkejut, dia membalikkan tubuhnya dan melihat Aqila yang sedang menatapnya tajam.


"Sayang hiks ... hiks .. huaaa, kamu masih ada hiks ... tau gak aku nangis hiks ... aku kira kamu udah meninggal hiks." isak Frans sambil memeluk Aqila.


"Ada apa sih? mata kamu bengkak begitu, kenapa kamu juga nangis?" heran Aqila.


"Nanti aja ceritanya hiks ... pulang aja yuk hiks .. aku lemes," ujar Frans setelah melepas pelukannya.


Aqila yang bingung pun mengangguk, dia juga tak tega melihat wajah Frans yang pucat. Bahkan Frans harus merangkul istrinya agar tidak jatuh karena sangking lemasnya.


Di mobil, Frans pun hanya memeluk istrinya. Seakan-akan Aqila akan pergi dari sisinya.


"Frans, lepas dulu. Ceritain kamu tadi kemana dan kenapa?" tanya Aqila dengan lembut sembari mengusap kepala suaminya.


Aqila bisa merasakan jika Frans menggeleng, Aqila pun menghela nafasnya dan membiarkan Frans yang seperti itu.


Sesampainya di mansion Lawrance, Aqila dan Frans segera turun dengan Frans yang tak pernah lepas memeluknya.


"Kalian sudah pulang?" ujar Gio yang sepertinya akan kembali ke kantornya.


"Ya ayah, apa ayah akan kembali ke kantor?" tanya Aqila.


"Ya, sore nanti ayah akan pulang. Kenapa dengan dia? mengapa dia menemplok kepadamu seperti itu? sudah kayak virus saja," ujar Gio.


Aqila terkekeh, Frans tidak menggubris ayah mertuanya. Ketakutannya kini lebih dominan dari pada haris berdebat dengan mertuanya.


"Yasudah ayah berangkat dulu," ujar Gio.


Aqila dan Frans pun memasuki kamar, Aqila berusaha membujuk Frans agar melepasnya. Tetapi pria itu tetap bertahan dan mengatakan aku tidak mau kehilanganmu.


"Frans lepas, engap tau gak!" kesal Aqila.


"Aku takut," cicit Frans.


"Ta takut kenapa? kalau takut terus dan gak mau bilang kenapanya aku juga bingung," kesal Aqila.


Frans melepas pelukannya, dia melatih nafasnya dan mulai menceritakan apa yang terjadi tadi. Seketika Aqila pun terkejut, baru saja dia mengenal Sera dan sekarang dia sudah tiada.


"Gak selamat, makanya tadi aku kira kamu. Kan kamu duduk disitu, aku panik banget hiks ...,"


Aqila pun memeluk Frans, dia menenangkan suaminya yang sangat cemas terhadap dirinya.


"Sudah yah, sekarangkan aku gak papa," ujar Aqila dan melepas pelukannya.


Aqila beranjak untuk mengambil tisu di atas nakas, dia membersihkan wajah Frans yang basah karena air mata. Setelahnya dia memencet hidung Frans agar cairan hidungnya itu keluar.


Frans memeluk pinggang Aqila sambil terus mengeluarkan air mata, Aqila dengan sabar menghapus kembali air mata Frans sembari mengusap rambut suaminya.


"Terus kamu sedih?" tanya Aqila.


Frans mengangguk lugu, Aqila yang melihat itu menahan tawanya.


"Frans takut kehilangan Aqila?" tanya kembali Aqila dan kembali mendapat anggukan dari Frans.


"Makanya jangan selingkuh yah, kalau Frans selingkuh nanti Frans kehilangan Aqila," ujar Aqila.


"Frans menggeleng cepat. "Frans ... Frans hiks ... Frans gak selingkuuuhhhh hiks huaaa ... hiks gak selingkuuuhh,"


"Iya-iya, gak usah nangis. Kan Aqila cuma ingetin doang, sudah cup nanti gantengnya hilang," ujar Aqila yang panik karena Frans menangis.


Aqila baru tahu jika suaminya akan menangis untuknya, padahal dulunya Frans adalah orang yang sangat dingin dan datar. Tapi lihat sekarang, pria itu tampak seperti bayi.


"Hiks ... Hiks ... haus," ujar Frans.


Aqila mengambil air putih di nakas, dia menyodorkan nya pada mulut Frans sehingga pria itu meneguknya sampai habis.


"Kamu lap badan yah, ini bajunya basah karena keringet. Nanti aku bantu, sekarang lepas dulu bajunya." pinta Aqila sambil menaruh kembali gelas itu.


Frans menurut, dia melepas kaosnya sehingga kini tampaklah perutnya yang di perban. Aqila akan keluar untuk mengambil baskom air dan juga kain untuk mengelap badan Frans.


"Mau kemana hiks?" tanya Frans.


"Mau ambil baskom sebentar," ujar Aqila.


Frans pun mengangguk, Aqila segera keluar untuk mengambil baskom. Setelahnya Aqila kembali dengan baskom air hangat di tangannya.


"Kamu tiduran gih, biar aku bisa lap badannya," pinta Aqila.


Dengan telaten Aqila mengelap badan Frans, mungkin karena lelah menangis Frans pun tertidur. Aqila yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya.


Setelah selesai, Aqila membuka kaos kaki Frans. Dia juag membersihkan kaki Frans dan menarik selimut untuk suaminya sampai sebatas dada.


"Aku baru tahu kamu secengeng ini," ujar Aqila dan membelai rambut Frans.


***


"Frans bangun, kau belum makan sedari siang!" seru Aqila.


Frans yang merasa terusik pun akhirnya mengerjapkan matanya, dia melihat Aqila yang sedang menatapnya.


"Jam berapa?" tanya Frans dengan suara seraknya.


"Jam tujuh malam!" seru Aqila.


Seketika Frans melotot, dia langsung terduduk dan memegangi kepalanya yang terasa sakit.


"Kenapa?" khawatir Aqila.


"Kepalaku sakit," lirih Frans.


Aqila pun menduduki dirinya di tepi kasur, dia memegang kepala Frans dan memijatnya dengan pelan.


"Badanku juga sakit semua, perutnya juga sakit," rengek Frans.


"Bekas lukanya juga sakit?" tanya Aqila yang di balas anggukan oleh Frans.


"Sakit semua hiks ... badannya gak bisa di ajak kompromi hiks ... jadi hilang jatahnya," isak Frans.


Aqila hanya bisa menggelengkan kepalanya, betapa cengeng suaminya ini.


"Sembuh dulu baru ngomongin itu," seru Aqila.


"Puasa lagi dong?" lirih Frans.