My Perfect Mafia Daddy

My Perfect Mafia Daddy
Part 82: keadaan Frans



Frans terbangun dari tidurnya, dia menatap ruangan sekelilingnya yang bernuansa putih. Dia akan menggerakkan tangannya, hanya saja tangannya tengah di rantai.


"Si4l!" decak Frans.


Kreett!


"Wah sudah bangun rupanya?"


Frans menoleh ke asal suara, di sana terdapat Daniel yang tengah menghampirinya. Frans semakin mengeluarkan aura dinginnya.


"Lepaskan aku bodoh!" sentak Frans.


"Kenapa paman harus melepaskanmu keponakan?" tanya Daniel dengan wajah yang di buat sesedih mungkin.


Frans semakin kesal, dia menatap Daniel yang tengah menekan sebuah remot sehingga televisi yang berada di dekat tempat tidur Frans menyala.


"Bent ... Aqila," gumam Frans.


Frans semakin tidak karuan, dia berusaha melepaskan rantai yang melilit tangannya. Namun, ada satu hal yang aneh, dia menatap kakinya yang tidak terantai tetapi tak bisa digerakkan.


"APA YANG KAU LAKUKAN PADA KAKIKU!" teriak Frans.


Daniel menutup telinganya saat Frans berteriak, setelahnya dia menurunkan tangan dan berjalan mendekati Frans.


"Ponakanku yang malang, Black telah melumpuhkan kakimu sehingga kamu tidak bisa kabur dari sini," ujar Daniel yang mana membuat Frans membelalakkan matanya.


"TIDAK MUNGKIN!" histeris Frans.


Daniel mengarahkan pukulan pada kaki Frans, tetapi Frans tak merasakan apapun. Wajahnya menjadi datar, matanya berkaca-kaca ketika menyadari jika dirinya tak lagi mampu berjalan.


"Aku hanya bertugas untuk menjagamu, sedangkan Black ... dia mengurusi keluargamu terlebih adik cantikmu itu," ujar Daniel yang mana membuat Frans menggeram marah.


"Ngomong - ngomong ... putramu sangat lucu, apalagi jika aku tawarkan pada ...,"


"JANGAN SENTUH PUTRAKU!" sela Frans dengan wajah marah.


Daniel tertawa kencang, disini dia bebas menyakiti Frans. Terlebih dendamnya oada Frans yang harus dia balaskan.


"Aku tidak menyentuhnya, mungkin nanti," ujar Daniel mencoba menarik emosi Frans.


Frans akan kembali marah, tetapi dadanya terasa sakit secara tiba-tiba. Dia tak memiliki riwayat penyakit jantung atau yang lain, tapi kenapa dadanya terasa sakit.


"Saat kau marah, kau akan merasakan sakit seperti itu. Jadi ... berhentilah bertindak bodoh,"


Frans menahan rasa sakitnya, netranya tak lepas dari Daniel sedikitpun sampai pamannya itu keluar dari ruangan miliknya.


"Bagaimana keadaan Aqila dan Bent? apa Alden dan Ezra telah mengamankan mereka?" gumam Frans.


Frans mencoba melepas rantai yang memborgol tangannya, dia berusaha sekuat tenaga hingga tangannya berdarah akibat gesekan yang dirinya timbulkan.


Frans berhasil melepas tangannya dari rantai, dia berusaha menurunkan kakinya dengan di bantu oleh kedua tangannya. Frans mencoba berdiri, tetapi dia malah terjatuh dan tersadar jika sedari tadi dia memakai baju seorang pasien.


"Rumah sakit?" gumam Frans.


Frans menyeret tubuhnya hingga jendela besar, dia menarik tirai dan menatap jalanan yang dirinya sangat kenal.


"I-ini rumah sakit Elvio bekerja, iyah! ini rumah sakitnya!" seru Frans.


Frans menatap sekitarnya, dia mendapati telepon rumah sakit. Dengan segera di mendekati telepon tersebut.


Cklek!


"Sudah berani rupanya?"


Frans menolehkan kepalanya, dia menatap seorang pria yang sangat dirinya kenal. Pria yang dekat dengan adiknya, pria yang membuatnya seperti ini.


"KAU! APA YANG KAU LAKUKAN PADA KAKIKU?! KEMBALIKAN KAKIKU SEPERTI SEMULA GIBRAN!" teriak Frans.


"Syuutt jangan berteriak, jika mereka sampai tahu aku akan melenyapkanmu saat ini juga. Dan kau tahu aoa? putramu akan sam sepertiku, menjadi seorang anak tanpa ayah bahkan ibu," ancam Gibran.


Gibran berjalan menuju nakas, dia mengambil telepon genggam rumah sakit dan memutuskan sambungannya.


"Kau salah paham," ujar Frans dengan tatapan sayunya, Frans sangat merasakan sakit di dadanya saat ini.


Gibran membantu Frans untuk kembali ke brankar, dia menidurkan Frans dan mengambil obat milik Frans yang berada di nakas.


"Minum!" titah Gibran.


"Apa kau akan membuat tanganku lumpuh juga?" tanya Frans dengan lemas.


"Kau mau? aku nisa mengabulkannya," ujar Gibran yang di hadiahkan pelototan dari Frans.


Gibran memaksa Frans meminumnya akibat pria itu yang tak mau untuk meminum obatnya. Frans sudah berusaha menolak tetapi obat itu malah semakin di masukkan ke mulutnya.


"Oba itu akan membuatmu tidur kembali, akan repot jika kau sadar saat kita pergi," ujar Gibran yang tengah menatap Frans yang hour tertidur


*****


"Ekheee,"


Aqila terbangun saat mendengar tangisan putranya, dia menatap lekat Bent yang tengah gelisah di dalam tidurnya.


Kulit Aqila tak sengaja menyentuh paha putranya. Seketika panas menjalar di tangan Aqila, Bentley demam dan Aqila lun menjadi panik.


"Kamu demam nak?!" kaget Aqila.


Aqila membawa Bent yang masih menangis ke gendongannya. Dia keluar dari kamar dan menuju kamar Amora dan Alden.


TOK! TOK!


"Mom, Bent demam mom. Please, helm me," isak Aqila.


Cklek!


"Bent demam?" kaget Amora.


"Iya mom, aku harus apa?" panik Aqila karena Bent sangat jarang sakit, dan ketika putranya sakit Frans yang selalu menjaganya.


Amora memegang tangan gemuk Bentley, dia merasakan panas yang tinggi pada tubuh anak itu.


"Kita ke rumah sakit, mommy akan bangunin daddy. Kau bersiap!" titah Amora dan kembali masuk untuk membangunkan Alden.


Aqila kembali ke kamarnya, dia memakaikan Bentley selimut tebal dan hal lain. Dia kembali keluar kamar dan melihat mommynya yang berlari menghampirinya.


"Daddy mana mom?" heran Aqila.


"Daddy kamu kalau tidur kayak kebo, udah kita langsung ke rumah sakit aja." titah Amora sambil mengambil barang bawaan Aqila.


Mereka menuju rumah sakit, karena cuaca yang cukup dingin Amora memutuskan untuk berhenti di rumah sakit terdekat. Tampak rumah sakit itu terlihat sangat baru dan tak jauh dari rumahnya.


"Mommy urus adminitrasinya, kamu langsung bawa dia ke dokter anak," titah Amora ketika mereka telah keluar dari mobil.


Amora langsung pergi menuju resepsionis, dia mendaftarkan Bentley dan segera kembali mencari Aqila.


Sedangkan Aqila kini berjalan panik, sedari tadi dia mencari ruang dokter anak tetapi tak juga di temukan.


Cklek!


Aqila menatap kaget seseorang yang baru keluar dari ruang rawat, dia berdehem sebentar dan melanjutkan mencari ruangan dokter.


"Istri Frans? dia berada disini? gue harus segera membawa Frans balik," gumam pria tersebut yang tak lain adalah Gibran.


_____


Maaf membuat kalian kecewa dengan alurnya, banyaknya tokoh yang mana membuat pemeran utama tergeser.


Aku berbuat demikian biar ceritanya gak jadi monoton, bosan dengan pemeran utama. Untuk itu aku berusaha membuat seimbang agar tak berfokus pada satu titik.


Maaf sekali lagi, untuk kedepannya aku akan perbanyak tokoh utama nya🤗🤗🤗 tapi tetap pemeran figuran masih berjalan.


Soalnya aku kalau baca cerita, terus novelnya fokusnya ke pemeran utamaa terus ... aku bosan bacanya. Dan aku kira banyak dari kalian yang mengalami hal sepertiku😌😌