My Perfect Mafia Daddy

My Perfect Mafia Daddy
Part 66: Zidan dan Kirana



DI ruang rawat Lia, tampak Ezra tengah menyuapi Lia makan. Keluarga Wesley pun telah kembali dan tak bisa berlama-lama di rumah sakit karena ketiga bocil yang membuat usil.


Dengan telaten, Ezra menyuapi Lia makan walaupun dirinya belum makan sedari kemarin karena terlalu banyak memikirkan keadaan Lia dan putranya.


"Sudah," ujar Lia yang serasa akan muntah.


Ezra tak ingin memaksa, dia langsung menaruh makanan Lia di nakas dan mengambilkan minum. Ezra menyodorkan gelas itu tepat di depan bibir Lia, Lia pun meminumnya dengan pelan.


"Habis ini aku ke ruang Sky sebentar yah," pinta Ezra setelah menaruh kembali gelas itu di atas nakas.


Lia mengangguk singkat, setelahnya Ezra mengambil tisu dan membersihkan bibir sang istri.


"Tadi aku sudah menggantikan popok Elang, kau bisa beristirahat," ujar Ezra.


"Ehm, baiklah," ujar Lia.


Ezra mengelus pelan kepala sang istri, Setelahnya dia mengecup pelipis Lia dan akan beranjak keluar. Namun, saat dirinya baru saja membuka pintu terlihat sosok pria dan wanita paruh baya yang sedang menatapnya dengan terkejut.


"Ezra papah dan bunda ...,"


"Masuklah," ujar Ezra dengan datar.


Pria dan wanita itu yang tak lain adalah Zidan dan Kirana, mereka datang setelah Lio menghubungi mereka. Bukan Ezra, sebab pria itu sepertinya sibuk mengurus yang lain.


"Papah, bunda!" seru Lia.


Kirana tersenyum, dia mendekati brankar Lia dan memeluknya. Hubungan Lia dan Kirana tak sedingin hubungan Kirana dan Ezra. Lia masih menerima Kirana sebagai ibu mertuanya sejak kejadian pengungkapan itu.


Ezra menatap Zidan dengan wajah datar andalannya, Zidan pun menjadi bingung ingin memulai dari mana.


"Maaf, papah dan bunda datang karena kami ingin tahu kondisi istrimu," ujar Zidan.


"Tak masalah, Lia menantu papah dan kalian hanya ingin menjenguk," ujar Ezra dengan santai.


Zidan merasa hatinya sedikit tenang, dia pikir Ezra akan mengusirnya dan ternyata tidak. Netranya melihat bayi yang berada di box, tampak bayi itu tengah tertidur pulas.


"Apa dia bayi kalian?" tanya Zidan sambil mendekati box bayi itu.


"Wah, lucu sekali. Dia sangat tampan," seru Kirana.


Lia tersenyum, berbeda dengan Ezra yang tak menampilkan senyum sama sekali. Justru Ezra hanya bersikap cuek entah karena apa, mungkin dirinya juga merasa canggung.


"Iya, dia Schafer Elang Castillo." ujar Lia seraya tersenyum menatap Kirana yang terkejut.


Zidan paham, tidak ada nama Elvish di belakang bayi itu. Tatapannya berubah menjadi sendu, Lia yang menyadari hal tersebut pun mengubah suasana.


"Iya pah, ini cucu papah. Cucu sulung papa," ujar Lia.


"Oh iya, dan dimana cucu bungsuku?" tanya Zidan sambil menatap Ezra.


Lia dan Ezra berpandangan sebentar, setelahnya mereka menatap Zidan dan Kirana yang terlihat kebingungan.


"Ada di inkubator, berat badannya sangat rendah. Hanya 1,5 kg saja, untuk itu dokter memutuskan untuk memasukkannya ke inkubator," terang Ezra.


Zidan dan Kirana tentu saja terkejut, pasalnya Lio tak memberitahu keadaan Lia beserta cucunya. Lio hanya mengabarinya jika Lia sidah melahirkan secara caesar.


"Papah, papah ingin melihatnya," pinta Zidan.


Ezra mengangguk, kebetulan dirinya akan menjenguk putranya itu. Ezra pun mengajak Zidan untuk keluar menemui Sky yang berada di ruangan lain.


Kini tinggallah Lia dan Kirana dengan keheningan, Lia pun' memecahkan suasana canggung ini.


"Bagaimana kabar bunda?" tanya Lia.


"Baik, sangat baik." ujar Kirana sambil tersenyum.


"Viola di mansion Wesley untuk bertemu Lio, Kino juga ikut karena katanya dia merindukan Cia," ujar Kirana sedikit tertawa.


Lia terkekeh, apa jadinya saat Kino kembali bertemu dengan para adiknya yang bawel itu. Dan tunggu, ada hubungan apa antara Lio dan Viola?


"Apa Lio sudah ada hubungan dengan Viola?" tanya Lia dengan hati-hati.


Kirana tampak terkejut dengan pertanyaan Lia, dia pun berdehem untuk mengatur keterkejutannya.


"Sudah, Lio sudah melamar Viola. Namun, Viola ingin mereka menikah setelah keduanya sama-sama lulus kuliah," ujar Kirana.


"Kenapa harus seperti itu? kenapa tidak langsung menikah saja? lagi pula mereka sudah sering bertemu, tidak baik jika terlalu lama menunda," ujar Lia.


Kirana menghela nafasnya, akibat masalah antara dia, Zidan dan juga Ane. Hal ini berdampak pada hubungan Lio dan Viola, mereka menunggu waktu yang pas untuk mengungkapkan semua terlebih Alden yang masih sangat kesal dengan Zidan.


"Kau jelas tahu betul apa yang terjadi ketika itu, semenjak kejadian dimana semuanya terbongkar hubungan kedua keluarga menjadi renggang," ujar Kirana dengan nada lirih.


"Bunda hanya sebagai korban, begitu pula dengan mamah. Kalian hanya korban keegoisan seorang pria, karena aku tahu jika bunda lah yang sebenarnya istri pertama papah," ujar Lia yang mana membuat Kirana mematung.


"Ba-bagaimana kau tahu?!"


***


Terlihat Ezra tengah memasukkan tangannya kedalam lubang inkubator, dia menyentuh tangan putra kecilnya yang terkepal. Tak di sangka jari telunjuk Ezra di genggam oleh bayi itu, netra Ezra pun tampak berkaca-kaca.


"Bayimu kuat, dia bertahan untuk orang tuanya. Bersabarlah, dia pasti akan keluar dati sini," ujar Zidan dan menepuk pelan punggung Ezra yang tampak bergetar.


Ezra mengeluarkan tangannya, dia menghapus air mata yang berada di sudut matanya. Hatinya bergetar kala dirinya mendengar tangisan Sky untuk pertama kalinya, dia kira dia akan kehilangan putra kecilnya itu ternyata Sky masih bertahan.


"Dulu saat kau lahir, untuk pertama kalinya papah menggendongmu ... kau menangis, kau menangis dan tangisan itu membuat papah ikut menangis,"


Ezra tertarik dengan cerita Zidan, dia menatap wajah sang papah dengan serius.


"Setiap malam kau menangis kelaparan, papah hanya bisa memberimu susu formula karena saat itu ... keadaan yang tak memungkinkan untuk mamahmu menyusui kamu," lanjut Zidan.


"Elang, sangat mirip denganmu sewaktu bayi. Sangat mirip," ujar Zidan yang tengah menatap Ezra dengan mata berkaca-kaca.


Netra Zidan melihat papan nama bayi, dia membaca nama bayi tersebut. Kemudian netranya beralih menatap Ezra yang tengah menatap Sky.


"Sky? kenapa kau menamainya Sky?" tanya Zidan dengan heran.


"Sebentar lagi papah pasti akan mengetahuinya." ujar Ezra sambil mengangkat satu sudut bibirnya.


Zidan menatap Ezra aneh, tak lama isakan kecil terdengar. Mata Zidan melebar ketika melihat Sky mulai membuka matanya, terlihat warna bir langit yang sangat menenangkan.


"Kenapa bisa?!" kaget Zidan.


"Papah lupa? kita memiliki keturunan darah bule, tentu saja putraku bisa menuruninya,"


Zidan terkekeh, dia baru ingat. Setelahnya dia menatap takjub pada Sky yang merengek pelan.


"Aku akan memanggil suster sebentar," ujar Ezra.


Zidan mengangguk tanpa mengalihkan pandangan dari Sky, walau tubuhnya sangat kecil tetapi Sky sangat menggemaskan di mata Zidan. Apalagi jika anak itu gemuk dengan pipi bakpau, pasti lebih lucu lagi.


"Jadilah anak baik, permata keluarga. Saat besar nanti aku berharap kau menjadi sosok pria yang menghargai wanita dan menjaganya," lirih Zidan.


Zidan mengakui apa yang dia perbuat pada Ane dan Kirana bukanlah hal yang patut di ikuti. Bukan hanya kedua wanita itu yang tersakiti, putra dan putri mereka juga menjadi korbannya.




.