My Perfect Mafia Daddy

My Perfect Mafia Daddy
Part 46: Komplotan



⚠⚠⚠Ada adegan yang tidak boleh di tiru⚠⚠⚠⚠


"Tutup pintunya," titah Mateo.


Frans dan Mateo pun sudah kembali ke kamar hotel, mereka menormalkan nafasnya akibat penyerangan tadi.


"Gue yakin, pasti ini ada hubungannya sama bokap lu Mat. Bokap lu udah gila tau gak!" sentak Frans.


"Gue juga gak tau, gue aja baru tau kalau sebenarnya dia yang udah sekap ibu gue lima tahun lalu. Pantas aja jejaknya hilang begitu saja," ujar Mateo.


Mateo bangkit dari duduknya, dia menuangkan air putih dari teko ke dalam gelasnya. Netranya terpaku pada laptopnya yang menunjukkan sebuah angka acak.


"UHUK! UHUK!" Mateo pun tersedak karena tidak berhati-hati, dia segera duduk di kursi dan mengecek laptopnya.


"Frans!" panggil Mateo.


"Apaan sih, gue mau nelpon bini gue," kesal Frans.


"LIAT DULU SINI!" geram Mateo.


Frans dengan terpaksa bangkit dari acara berbaringnya, dia mendekati Mateo dan melihat layar laptop itu.


"LAPTOP LU DI HACK MAT!" sentak Frans dan berusaha menghentikannya.


Namun, tak lama layar angka itu berubah menjadi tulisan urut. Frans dan Mateo membacanya dengan teliti.


Saya Sachi, tak perlu berkenalan kau pun tahu aku. Sejak lama aku mendapat laporan seperti ini, tetapi ternyata kalianlah yang bergerak.


Kau Mateo, ibumu telah tiada. percuma kau mencarinya karena dia telah di bunuh oleh para penjahat itu.


Tak usah bersedih, karena nyatanya masih ada yang harus kau lindungi. Yaitu adikmu, sebelum mereka membawanya ke negara lain. Cepat selamatkan dia, jika sudah lewat perbatasan maka kau akan kehilangan dia untuk selama-lamanya.


Mata Mateo memerah, dia sungguh tak kuat mengetahui jika sang ibu telah tiada. Frans pun berusaha menguatkan Mateo.


Tak lama muncul sebuah video, dia sana memperlihat seorang anak balita yang di pukuk menggunakan tongkat. Anak tersebut tampak kesakitan, dia terus memegangi tubuhnya yang habis di pukul.


"Dia ...,"


Tanpa nama, berumur kurang lebih 4 tahun. Anak laki-laki yang paling kecil, dia berada di sel paling ujung.


Mateo dan Frans membaca dengan teliti, kini wajah Mateo memerah melihat adiknya yang di siksa seperti itu.


"AKU HARUS MENEMUINYA!" geram Mateo.


"Apa kau tak liat, dia mempunyai banyak anggota. Kita harus memikirkan cara itu dengan matang agar kita bisa membawa adikmu kembali," ujar Frans.


"Dia akan mati! kau tau kan betapa tersiksanya dia disana?!" kesal Mateo.


"DENGAN KAU KESANA YANG ADA KITA YANG GAK SELAMAT! aku juga ayah seorang anak, kau juga kakak dari seorang adik! kita punya peran masing-masing Mat, jangan gegabah," kesal Frans.


***


DUGH!


DUGH!


DUGH!


Frans dan Mateo terbangun dari tidur mereka, seseorang telah membuat keributan di kamar hotel mereka.


"Frans lihatlah siapa yang datang, aku sangat mengantuk," ujar Mateo.


Frans mengangguk, dia berjalan menuju pintu dan membukanya. Terlihat beberapa polisi menatapnya dengan datar.


"We receive reports that you have done damage and killed many victims,"


(Kami menerima laporan jika anda telah membuat kerusakan serta membunuh banyak korban)


"WHAT?!" kaget Frans.


"EH! APA-APAAN INI WOY! GUE BARU BANGUN TIDUR!" berontak Mateo.


Frans dan Mateo oun dibawa oleh mereka, saat masuk mobil Frans melirik Mateo.


"Kenapa mereka menangkap kita?" bisik Frans.


"Kau lupa? semalam kita membantai banyak penjahat, seharusnya kita di cap sebagai pahlawan buka penjahat," ujar Mateo.


Mateo dan Frans saling lirik, Frans begitu mudah membuka borgol. Setelahnya dia menancapkan borgol itu pada kaki polisi, setelahnya dia mendorong polisi yang lain.


"ARGHHH!"


Mateo berhasil membuka borgolnya, dia segera menutup mata polisi agar mobil itu berhenti.


"Stop the car!"


Mobil tersebut pun oleng hingga menabrak pembatas jalan. Frans dan Mateo berhasil melumpuhkan mereka, setelahnya mereka mengambil senjata dan segera keluar dari mobil.


Setelah keluar Frans berbalik, dia mengangkat satu sudut bibirnya ketika netranya menangkap bensin mobil yang bocor.


"Mari kita bermain," gumam Frans.


Frans pun mengarahkan senjata api itu pada bensin tersebut, setelahnya dia menarik pelatuk dan ...


DUAARR!


Frans berbalik dengan senyum penuh kemenangan, Mateo pun hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Netra Mateo melihat mobil yang berlambang sama seperti tato para penjahat itu, dia segera menarik Frans dan bersembunyi.


Tampak mobil itu berhenti, seseorang keluar dengan kantung jenazah dan membuangnya di pinggir jalan. Frans dan Mateo pun penasaran dengan apa yang mereka buang.


Setelah mobil itu pergi, Frans dan Mateo mendekati kantung jenazah itu. Dengan perlahan Frans membuka kantung tersebut dan tampaklah seorang anak laki-laki.


Mateo yang mengenalnya segera membuka lebar kantung jenazah itu, dia membulatkan matanya dan matanya pun kini memerah.


Tangannya terkepal kuat hingga kuku-kukunya memutih, anak itu adalah anak yang kemarin dia tolong. Kenapa anak ini kembali pada penjahat itu? kenapa bisa? bukankah sudah di akankan oleh polisi? setidaknya polisi menjaganya bukan?


"ARGHHH!!! POLISI GADUNGAN!" teriak Mateo.


Frans tak mengerti dan mencoba menenangkan Mateo yang terlihat sangat marah.


"Frans, polisi itu ... polisi itu telah berkomplot dengan para penjahat itu! mereka satu komplotan, kenapa gue terlambat menyadari nya! sama saja gue mengeluarkan anak ini dari kandang buaya dan memasukkannya ke kandang singa!" geram Mateo.


"Apa buktinya?" heran Frans karena dia tak melihatnya saat anak itu di jual.


Akhirnya Mateo menceritakan apa yang dirinya pikirkan, Frans pun merubah raut wajah ekspresinya menjadi marah.


"DENGAR AKU!"


Frans dan Mateo terkejut mendengar suara itu, dari mana suara itu berasal. Mereka pun mencarinya di segala penjuru.


"Tidak usah mencariku, kalian pergi ke kota yang ada di pinggir ibu kota. Disana terdapat sebuah toko senjata milik temanku, kalian bisa terbantu olehnya. kamera di kota ini sudah di retas semua oleh mereka, dimana pun kalian mereka pasti tau karena setiap CCTV di jalan ini kecuali kalian sudah ke pinggir ibu kota. Jangan lewat jalan besar, lewatlah jalan kecil agar kalian tidak terpantau oleh CCTV,"


"Baik, kami mengerti," ujar Frans.


Frans dan Mateo pun memasuki gang kecil, sesuai perintah dari orang misterius itu.


Sementara kini di sebuah ruangan gelap tampak seseorang tengah menggeram marah akibat dirinya yang kehilangan jejak Frans dan Mateo.


"Mereka sudah tau jika kita bekerja sama," sahut seorang pria.


"Cari mereka dan lenyapkan. Tidak boleh ada saksi mata dalam hal ini," ujar pria yang tampaknya adalah bos dari yang lain.


"Tapi bos, salah satu orang itu adalah King mafia Ateez. Sulit untuk melawannya," ujar sang anak buah.


Nampak bos mereka tertawa sambil mengetuk jarinya. "Disini dia hanya pendatang, dirinya tidak memiliki kekuatan sebab orang-orangnya telah kita tahan agar tak bisa masuk negara ini,"