
Frans melawan mereka, beberapa kali dia pun di serang tetapi Frans tak menyerah dia tetap menyerang.
BUGH!
DUGH!
BUGH!
"AWSHH," ringis Frans ketika salah satu dari mereka menggores perut Frans dengan pisau.
Frans memegangi lukanya, netranya menoleh dan mendapati seseorang akan menendangnya. Frans pun menghindar, netranya melihat seorang berpakaian hitam membawa sebuah besi, dia mengarahkan besi itu pada Frans sehingga Frans terpukul di plipisnya.
Frans pun kembali memukuli mereka, sampai tak ada satu pun yang kembali bangkit karena Frans telah mengalahkannya.
Frans menyentuh telinganya, ternyata telinganya berdarah mungkin akibat serangan tadi. Netranya pun menatap perutnya yang tergores benda tajam, tak terlalu dalam tetapi sakit.
Frans melihat Mateo yang menghampirinya dengan seorang anak di gendongannya, mereka pun bersorak senang karema telah berhasil membawa adik dari Mateo.
Mereka tak menyadari jika ada seseorang yang tengah membidik mereka, orang itu pun menatap mereka dengan tatapan marah.
"Ini bukanlah akhir sebuah perang," ujar orang tersebut dan bersiap menarik pelatuknya.
Frans merasa tak asing, dia seperti merasa di tatap oleh seseorang. Netranya menatap sekeliling hingga netranya melihat orang yang tengah membidik ke arah mereka.
"MATEO AWAASS!" teriak Frans dan mendorong Mateo.
DOR!
Seketika waktu terasa seperti berhenti, Mateo masih tak percaya dengan apa yang dirinya lihat.
Frans menundukkan kepalanya, dia melihat perutnya yang tertembak. Tangan Frans pun menyentuh luka tembakan itu, setelahnya Frans mengambil granat dari saku jaketnya setelahnya dia melepaskan tali granat itu dan melemparnya ke arah orang tersebut.
Sehingga ledakan pun terdengar, Frans terjatuh dan Mateo melindungi sang adik dengan tubuhnya.
Korban banyak tersebar, kini hanya kesunyian yang ada. Mateo pun langsung bangkit dan mendekati Frans
"Frans! Frans! kau tak apa?!" panik Mateo.
Frans menatap Mateo, dia mencari sesuatu di kantung celananya. Setelahnya dia menyerahkan sebuah gelang kepada Mateo.
"A-aku ti-tidak tau a-kan selamat atau tidak hah ... hah ... ta-tapi to-tolong be-berikan i-ini pada i-istriku. Ja-jangan sampai di-dia tahu ko-kondisiku ... uhuk! uhuk!"
"Gak, gak! lu harus bertahan! katanya lu mau dapet jatah dari bini lu, yaudah jangan mati dulu! gue bilang apa entar ama bini lu," ujar Mateo dengan nada bergetar.
Frans tersenyum, kelopak matanya tertutup. Mateo pun menahan lengan Frans yang tadi sempat ia ulurkan untuk memberi kalung.
"FRAAAAANNNSSS!"
***
PRANGG!!
Aqila memegangi jantungnya yang berdegup kencang, tadi dia sedang memindahkan vas bunga dan tak sengaja dia menjatuhkannya.
Pendengarannya mendengar langkah orang berlari, dia keluar kamar dan mendekati pagar pembatas. Netranya melihat lantai satu yang banyak di penuhi oleh orang berpakaian hitam, dia melihat Geo yang sedang berjalan menuju pintu utama. Orang-orang itu mengikuti Geo keluar dari mansion, Aqila yang penasaran pun akhirnya berniat turun.
"Ada apa ini mah?" tanya Aqila ketika dia sudah sampai di bawah dan mendekati sang mamah yang menatap bingung ke arah pintu.
"Gak tau, tadi papah dapet telpon. Terus dia langsung ambil jaketnya dan keluar, mukanya kayak panik begitu." ujar Ane sambil menatap menantunya.
"Oh iya si Ica mana?" tanya Aqila sambil menoleh ke kanan dan kekiri mencari sang adik ipar.
"Itu dia, sebelum papah keluar si Raisa udah lari keluar duluan. Mukanya juga kayak panik gitu, mungkin dia akan ikut papah ke markas," ujar Ane.
"Perasaan Aqila gak enak mah," ujar Aqila.
Ane mengelus bahu menantunya, dia menarik tangan Aqila untuk duduk di sofa. Tangannya pun terulur untuk menyentuh perut menantunya yang sudah terlihat besar.
"Jangan di fikirkan, lebih baik kita ke mansion Wesley saja. Disana sedang ada kumpulan keluarga karena dalam waktu dekat ini kan adikmu akan menikah," ujar Ane.
"Baiklah," pasrah Aqila.
Sedangkan di mansion Wesley, kini telah berkumpul keluarga Robertson. Mereka ke mansion Wesley untuk membahas pernikahan Elbert dan Audrey sekaligus kumpul keluarga.
Sedari tadi Stevan terus menatap Ravin yang sedang bermain dengan Cia, sesekali dia menyunggingkan senyumannya ketika melihat tingkah kedua anak itu.
"Apa kau naksir dengan anak-anakku?" tanya Alden sembari menatap tajam Stevan. Sedari tadi Alden memperhatikan gerak-gerik Stevan yang mengawasi kedua anaknya.
"Jika iya, apa aku boleh membawa salah satunya?"
"Aku yang buat kau ambil seenak jidatnya, Gak! ya kali aku ngasih Ravin, bisa-bisa Amora ngamuk," kesal Alden.
Sedangkan Ravin, bocah itu tengah menatap bingung abang kedua dan ketiganya. Tampak mereka berlari keluar dengan terburu-buru. Ravin pun mengejarnya dengan berlari cepat membawa bada gembulnya.
"ABAAANGG! ABAAANGG! LAVIN IKUUTT!"
Sontak saja Lio dan Laskar mengjentikan langkah mereka, mereka mendekati Ravin dan menyuruh anak itu kembali.
"Kami sedang ada urusan," ujar Lio.
"Ulusan apa?" heran Ravin.
Laskar menggendong anak itu, dia kembali masuk dan mendekati orang tuanya.
"Tahan Ravin mom, kami ada urusan mendadak dan ini menyangkut nyawa," ujar Laskar
"NDA! NDA! MAU IKUT ABANG! MAU IKUT ABANG!" teriak Ravin sembari menendang-nendang.
Alden dengan sigap membawa sang anak ke gendongannya, dia menatap LAskar dan mengangguk.
"Jangan berontak, lebih baik kau dan Cia tidur siang," titah Alden.
"Hiks ... ikut abang, ikut abang," isak Ravin.
Alden menimang sang anak, tetapi Ravin tetap saja menangis sampai netra nya melihat seorang bodyguard yang membawa plastik.
"Telol gulung?"
"DADDY! TULUNIN LAVIN! TULUNIN LAVIN!"
"Kau mau kemana? sudah, waktunya tidur siang," kesal Alden.
"LAVIN MAU KE PAMAN ITU CEPAT TULUNIN LAVIN!"
Dengan terpaksa Alden menurunkan Ravin, bocah itu kini berlari ke arah bodyguard yang berjalan menuju dapur
"PAMAN!" teriak Ravin.
"Ada apa tuan kecil?" tanya bodyguard itu sambil menolehkan kepalanya.
"Itu telol gulungna beli dimana?" tanya Ravin.
Sang bodyguard melihat ke arah bungkus yang dia bawa, setelahnya dia menatap Ravin yang tengah menunggu jawabannya.
"Beli di luar, tapi kata tukangnya telornya habis," ujarnya.
"Tapi tukangna macih ada di lual gelbang?" tanya Ravin.
Bodyguard tersebut mengangguk pelan, setelahnya Ravin pergi ke dapur dan membuka kulkas dengan tenaga kecilnya.
Ravin mengambil dua telur, dia segera pergi dati dapur tanpa menutup kulkas kembali. Dia pun pergi menuju pintu utama, semua keluarga melihatnya dan terkekeh kecuali Alden dan Amora.
"KEJAR RAVIN MAS! PASTI MAU JAJAN LAGI DIA DI LUAR!"
Alden pun berlari menyusul anaknya yang telah berlari sangat cepat dengan tubuh gempalnya.
Sedangkan para keluarga terkekeh melihat tingkah ayah dan anak itu, bisa-bisanya Alden selalu kecolongan dengan sang anak.
"Mommy," panggil Cia dengan mata sayunya.
"Apa sayang?" tanya Amora sembari mengelus rambut Cia yang masih pendek, anak itu tidak mau rambut panjang. Dia berkata jika dia ingin rambutnya selalu pendek seperti itu.
"Ngantuk," lirih Cia.
Amora mengangguk, dia melepas bando yang di pakai oleh sang anak. Setelahnya dia mengangkat Cia ke pangkuannya dan menidurkannya.
"CUMA PAKE TELOL DAPUL! BUKAN TELOL PUNYA DADDY! HIKS ... CUMA NUMPANG GOLENG DOANG DUGA!" teriak Ravin.
Netra mereka melihat ke arah Ravin yang sedang di gendong Alden, Elbert yang melihat adiknya seperti itu pun hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Ck, jangan kayak orang susah kamu. Emang minyak lagi mahal tapi di mansion kita gak kekurangan minyak. Minta Paman koki buatkan, emang dasarnya kamu aja yang mulutnya orang susah. Jadi ragu kalau kamu anak daddy," kesal Alden.
"KALAU LAVIN BICA GANTI DADDY LAVIN MAU GANTI AJA HIKS ... MOMMY! CALI CUAMI BALU HIKS ... BIAL DADDY DI BUANG!"
"Apa-apaan kau menyuruh mommymu untuk mencari suami baru?!" kaget Alden.
"Bial Lavin dapet daddy balu hiks ...," isak Ravin.
"Kalau begitu, biar aku saja," ujar Steve yang mendapat pelototan dari Elbert dan Alden.