My Perfect Mafia Daddy

My Perfect Mafia Daddy
Part 44: Mencari bukti 1



Seorang pria menapakkan kaki di sebuah rumah sakit, tepatnya rumah sakit jiwa yang kini banyak di huni oleh orang-orang yang memiliki gangguan jiwa.


Banyak sekali para pasien yang sedang berjalan keluar, di temani oleh para suster mereka. Pria itu, yang tak lain dan tak bukan melanjutkan jalannya.


Kakinya melangkah ke sebuah kamar yang memang berada di pojok sendiri dan terpisah dengan yang lain, di sana sudah ada para suster yang berjaga. Teriakan histeris dari kamar itu memasuki gendang telinganya.


"Bagaimana keadaan dia?" tanya Frans pada kedua suster yang berjaga.


"Semakin buruk tuan, dia selalu mengatakan kata yang kami tidak mengerti. Bahkan kata itu tidak tersambung karena dia terus berteriak," ujarnya.


Frans mengangguk, saat dia akan masuk. Bahunya di tepuk oleh seseorang, dia menolehkan kepalanya dan kedua garis sudut bibirnya oun terangkat ketika melihat siapa orang itu.


"Kau benar-benar mengikuti ku Mateo?" tanya Frans.


"Tentu saja, aku harus andil dalam pencarian ibuku bukan?" ujar Mateo sambil mengangkat satu sudut bibirnya.


Frans pun mengajak Mateo untuk masuk, terlihat disana seorang wanita yang memakai pakaian putih dengan tangan teringat. Rambutnya berantakan, teriakan pun masih terdengar.


"Kenapa dia bisa menjadi sangat gila?" bingung Mateo.


"Dia memang memiliki riwayat gangguan mental, tapi dia di nyatakan sembuh. Mungkin dirinya kembali kambuh saat peristiwa itu," terang Frans.


Tampak dokter dan suster kewalahan, wanita itu pun melihat Frans. Seketika teriakannya berhenti menjadi sebuah tawa.


"Kau datang! kau datang! lihat ... dia datang membawa ku DARI KALIAN!" Seru wanita itu.


"Cleo, apa aku boleh bertanya?" tanya Frans setelah dirinya mendekati wanita yang ternyata adalah Cleo.


Cleo mengangguk cepat, dia mendekatkan dirinya pada Frans dengan senyum yang menurut Frans sangat menyedihkan.


"Dimana Daniel menyekap istrinya?" tanya Frans.


"Aku tidak tau," ujar Cleo dan tertawa.


"CEPAT KATAKAN DIMANA IBUKU!" sentak Mateo.


Cleo menggeleng takut, dia mendekat ke arah Frans dan berlindung di balik tubuh pria itu.


"Tenanglah Mateo, dia akan ketakutan," ujar Frans.


Mateo berusaha mengontrol emosinya, dia sangat merindukan ibunya itu. Entah apa yang ayahnya lakukan pada ibunya dan mengapa dia menyekapnya.


"Aku ... aku tidak tau, hanya saja ibumu pasti sama sepertiku hahahaha. Kita tau rahasiaaaa,"


Frans dan Mateo mengerutkan keningnya, apa yang di maksud Cleo tentang Rahasia.


"Apa maksudmu? rahasia apa?" bingung Mateo.


"Rahasia ... rahasiaaaa apa yah?"


Frans dan Mateo menjatuhkan rahang mereka, kenapa Cleo menjadi seperti ini? sungguh membuat mereka bingung dengan Cleo.


"Ooooohhhh, pulau ... pulau," ujar Cleo bahkan dia sampai menyebut kata pulau berulang kali.


"Pulau? pulau apa? jawab cepat!" sentak Mateo.


"pequeno ... muito pequeno," ujar Cleo.


Frans dan Mateo saling tatap, bahasa apa yang di pakai Cleo? mereka tak mengerti, saat akan bertanya kembali Cleo malah menyanyi tidak jelas.


"Sebentar lagi ... akan di ledakkan DUAR! semuanya kan tiada, terbaaaanggg ke tempat yang baruuu hihihi,"


"Maaf tuan, sepertinya pasien sudah tidak bisa di ajak bicara kembali. Lebih baik kalian pulang, jika terus di paksa bertanya pasien akan mengamuk," ujar sang dokter.


Frans mengangguk, dia mengajak Mateo. Namun, sepertinya pria itu masih penasaran sehingga Frans harus memaksanya.


"AKu masih ingin bertanya, dimana Daniel menyekap ibuku!"


"DIAMLAH MATEO! kita tidak bisa memaksanya, Daniel pun enggan membuka mulut walaupun kita mengancam nyawanya. Lebih baik kita kembali ke hotel, besok kita kembali lagi kesini," ujar Frans.


Akhirnya Mateo mengangguk, mereka pun kembali ke hotel. Mateo dan Frans memutuskan untuk tinggal sekamar agar mereka bisa membahas mengenai kejadian tadi.


"Kau belum menutup pintu?" tanya Frans.


"Belum, aku akan menutupnya," ujar Mateo.


Mateo pun kembali mendekati pintu, saat akan menutupnya ada seorang anak yang di bawa oleh seorang pria. Tampaknya wajah anak itu tertekan, tetapi dia terheran dengan senandung yang di keluarkan anak itu.


"Sugu ni soreha bakuha sa re, subete ga nakunari, atarashī basho ni tobudeshou. Watashi wa kowai, kowai ... Tasukete,"


(Segera akan diledakkan, semuanya akan hilang dan akan terbang ke tempat baru. Aku takut, takut ... tolong)


Mateo mengerti bahasa itu, itu adakah bahasa Jepang. Dia tak mengerti mengapa anak itu seperti bernyanyi dengan suara lirih tetapi kata-katanya tersirat ketakutan.


Mateo menatap pria yang juga tengah menatapnya, terlebih dirinya menatap leher pira itu yang terdapat tato berukiran tulisan yang tak dapat di baca. Tatapan nya kemudian jatuh pada tangan anak itu yang membiru.


"MATEO! KENAPA KAU BELUM MENUTUP PINTUNYA!" teriak Frans.


Mateo menoleh sembari melihat Frans yang mendekatinya, saat kembali menoleh ke anak itu ternyata anak tersebut masuk ke sebuah hotel bersama pria tadi.


Mateo mundur, dia mengintip apa yang di lakukan pria itu. Tak lama ada seorang pria keluar, dia mengelus kepala anak laki-laki tersebut dan memberikan uang pada pria yang membawa anak itu.


"Penjualan anak?!" kaget Mateo.


"Ada apaan sih?" bingung Frans.


Saat pria itu sudah pergi, Mateo segera mendekati pintu hotel yang sudah tertutup. Dia mengetuknya dan tak lama pintu pun terbuka.


"Sorry, have you seen my cat?"


(Maaf, apa kau melihat kucingku?)


"No, I didn't see it. Please leave my place"


(Tidak, aku tidak melihatnya. Silahkan pergi dari tempatku)


Saat pria itu akan menutup pintunya, Mateo menahan pintu itu. Netranya melihat anak kecil tersebut yang sedang berada di pojok kamar dan sedang menangis sembari memegangi kepalanya.


***


Terlihat polisi menangkap pria yang telah membeli anak itu, Frans dan Mateo pun menatap pria tersebut dari depan kamar hotel mereka.


Para polisi pun mengamankan anak yang di duga korban kekerasan pria itu, dan polisi tersebut berjalan mendekati Mateo dan Frans.


"Thank you for the report,"


(Terima kasih atas laporannya.)


Mateo mengangguk, tetapi tatapannya jatuh pada tato yang ada di leher pria itu. Tato yang sama dengan milik pria yang menjual anak tadi.


Para polisi beserta anak itu pergi, Mateo terdiam dengan pikirannya. Frans pun menepuk bahu sepupunya guna menyadarkannya.


"Ada apa?" bingung Frans.


"Tidak, ayo kita masuk." ajak Mateo sambil berjalan masuk.


Frans bingung, tadinya dia kaget dengan hal itu. Untuk apa ada penjualan anak seperti itu? apa mereka tidak takut?


Malam harinya, Frans sedang video call dengan istrinya. Sementara Mateo sedang menggambar tidak jelas di buku miliknya.


Mateo menggambarkan kata yang tadi siang dia dengar dari Cleo dan menyambungnya dengan nyanyian anak itu juga.


"Hanya beda tipis, apa kaitannya dengan hal ini?" bingung Mateo.


"Pulau ... pulau apa? anak tadi berbicara bahasa jepang, apa dia berasal dari sana? tapi wajahnya sangat asia sekali," gumam Mateo.


Mateo kembali teringat apa yang terjadi hari ini, di mulai dari Cleo hingga anak kecil tadi. Dan yang paling membuatnya bingung, tato polisi itu sama persis dengan milik pria yang menjual anak tadi.


"Sepertinya pria yang membawa anak tadi seperti orang ... portugis," lirih Mateo.