My Perfect Mafia Daddy

My Perfect Mafia Daddy
Part 75: Tentang Aurora



"LEPASKAN! LEPASKAN AKU! KAU TIDAK BERHAK MENAHANKU!"


Seorang pria memakai tudung berjalan mendekati orang yang berteriak itu. Dia melepaskan tudungnya dan menatap orang itu dengan tajam.


"FRANS! JADI KAU YANG MENANGKAPKU HAH?! LEPASKAN TALI INI!"


Pria bertudung itu adalah Frans, sedangkan pria di depannya adalah Jefran. Frans menahan Jefran karena berhasil menyingkirkan para pemberontak yang di ketuai oleh Jefran.


"Itu tidak akan terjadi, kau akan tersekap di ruangan ini selama hidupmu karena hukumanmu," ujar Frans.


"Kau tak berhak menghukumku Frans!"


"LAlu siapa? aku hanya menjalani perintah, buronan terlicik macam dirimu ... penjara adalah tempat terbaik, untuk itu mereka mengirimmu padaku," ujar Frans.


Frans berjalan, dia mengambil sebuah kertas dan melemparkannya pada wajah Jefran.


"Akibat ulahmu, istrimu bunuh diri karena tak ingin membocorkan tentang rencanamu. Begitu beruntungnya kamu, seorang penjahat yang berteman wanita setia. Aku jadi kasihan terhadapnya karena dia mengambil langkah yang salah," ujar Frans dengan nada memelas.


Terlihat Jefran meremas keras kertas itu, dia menatap Frans dengan mata tajamnya. Amarah menggebu sangat terlihat dari mata Jefran, Frans yang di tatap seperti itu pun hanya santai.


"Kau ingin menguasai daerah perbatasan, aoa itu bukan suatu hal yang berlebihan?"


"Jefran, beruntung aku tidak memasukkanmu ke kandang buaya milikku. KAu masih diberikan kesempatan untuk berbuat baik bukan?" lanjut Frans.


Frans berjalan keluar dari ruangan gelap itu, dia menghiraukan teriakan histeris dari Jefran.


"FRANS AKU AKAN MEMBALASMU!"


"FRANS!!"


Frans terbangun dari tidurnya, keringat bercucuran dari keningnya. Aqila pun mengusap dada suaminya agar menenangkannya.


"Kamu kenapa? kok tidurnya gelisah gitu?" panik Aqila.


Frans menggeleng, dia juga tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya. Aqila mengambilkan Frans segelas air yang berada di nakas dan memberikannya pada Frans.


Frans pun meminumnya dengan sekali teguk, entah mengapa dia merasa sangat kehausan. Mimpi itu adalah kejadian dulu sebelum meninggalnya Jefran saat pertama kali dia menahannya.


"Bent mana?" tanya Frans dengan wajah panik.


"Bent tidur di boxnya tuh, kenapa sih?" heran Aqila.


Frans bangun dari duduknya, dia mendekati box bayi dan menghela nafas lega ketika melihat putranya yang nyenyak tertidur.


"Kamu mimpi buruk?" tanya Aqila.


Frans menggeleng, dia bukan mimpi buruk melainkan memutar kembali kejadian itu. Dia hanya takut putranya terkena balasan apa yang dia perbuat pada Jefran. Namun, bukan salah dirinya. Jefran lah yang salah dan itulah hukumannya.


Netra Frans melihat ke arah jam dinding, ternyata ini sudah pukul 5 pagi. Frans harus segera bersiap, dia akan ke markas untuk membahas tentang pencarian putra dari Jefran.


"Aku mau mandi," ujar Frans.


"Mandi lah, aku akan menyiapkan pakaian kerjamu," sahut Aqila.


Frans oun memasuki kamar mandi, sedangkan Aqila mencepol rambutnya dan berjalan menuju lemari. Dia menyiapkan pakaian Frans, tetapi dia lupa jika dirinya belum membuatkan Frans kopi.


Aqila pun keluar kamar, dia pergi menuju dapur. Dia menyiapkan kopi untuk Frans dan kembali lagi ke kamarnya.


Cklek!


Netra Aqila melihat Frans yang sudah keluar dari kamar mandi, rambut pria itu masih sangat basah. Aqila pun menaruh kopi Frans di nakas dan mengambil handuk yang Frans taruh di kasur.


"Duduklah, aku akan mengeringkan rambutmu," titah Aqila.


Frans mengangguk, dia menduduki dirinya dalam keadaan belum mengancingkan kemejanya.


Aqila dengan telaten mengeringkan rambut Frans, tangannya dengan cekatan melakukan tugasnya.


Sedangkan Frans, pria itu hanya melingkarkan tangannya pada pinggang sang istri. Dia menyembunyikan wajahnya di perut Aqila, mumpung istrinya sedang memanjakannya.


"Sudah," ujar Aqila.


Aqila mengembalikan handuk di tangannya, setelah itu dia mendekati kembali Frans untuk memasangkan kancing kemeja pria itu.


"Untuk apa kesana lagi?" kesal Aqila.


Frans tak menjawab, dia hanya diam sehingga Aqila pun menepuk bahunya.


"Frans, sebenarnya ada apa dengan Ica? Kenapa dia menangis?" tanya Aqila.


Frans menghembuskan nafas lelah, dia menatap istrinya yang sepertinya sangat penasaran.


"Ica menjalin hubungan dengan seorang pria, dia salah satu pemuda yang mendapat beasiswa dan yah ... Ica memiliki hubungan dengannya," ujar Frans.


"Tapi Frans, belum tentu mereka ...,"


"Aqila, dia adikku satu-satunya. Jelas aku akan merasa takut jika suatu saat nanti seorang pria menyakitinya," sela Frans.


***


Aurora tengah memainkan komputernya, mulutnya sedari tadi mengunyah permen karet dan jari kecilnya dengan lihat mengetik sesuatu di komputer cantik miliknya.


Aurora ingin buang air, dia segera ke kamar mandi tanpa mematikan komputernya.


Cklek!


"Rora aku pinjam kameramu," ujar Laskar yang tiba-tiba saja memasuki kamar Aurora.


"Rora?"


Laskar tak menemui Aurora, telinganya mendengar suara air dari kamar mandi.


"Oh lagi di kamar mandi," ujar Laskar.


Tatapan Laskar jatuh pada layar komputer Aurora yang menyala, dia mendekati layar itu dan menatap dengan teliti apa yang adiknya kerjakan.


"Ha? ini kan kasus waktu itu, gimana Aurora bisa punya salinannya?"


Laskar menduduki dirinya, jarinya bergerak lincah di atas keyboard. Namun, Laskar salah ketik sehingga muncul tulisan merah dan hak itu membuat Laksar terkejut.


Laskar mencoba untuk menghentikannya, tetapi tak lama kemudian komputer Aurora mati. Laskar pun mencoba untuk menghidupinya lagi.


"Apa yang abang lakukan di kamarku?" suara dingin Aurora membuat jantung Laskar berpacu sangat cepat.


Laskar pun berdiri dan duduknya dan menatap Aurora yang tengah menatapnya marah.


"Hanya meminjam komputermu, itu saja," ujar Laskar.


"Abang tuh lancang banget sih! Rora bakal aduin ke daddy!" kesal Aurora dan akan melangkah menuju pintu.


"APA KAU AKAN BILANG PADA DADDY JIKA KAU JUGA IKUT CAMPUR DALAM KASUS MAFIA?"


Aurora menghentikan langkahnya, jantungnya berdegup kencang. Dia tidak tahu jika LAskar juga mengetahui tentang kasus ini dan mencurigai dirinya. Ternyata, selama ini dia melawan Laskar yang mencoba masuk ke jaringan miliknya.


"Berhentilah bermain-main Aurora, kenapa kau selalu tak menurutiku. Ini demi keselamatanmu, daddy juga melarangmu untuk ikut campur bukan?" geram Laskar.


Aurora membalikkan badannya, dia menatap Laskar yang tengah menahan kekesalannya. Aurora dan Laskar memiliki IQ dia atas rata-rata, bahkan sejak kecil mereka telah pandai dalam hal meretas. Namun, Aurora lebih unggul ketimbang Laskar.


Saat kasus Daniel, Alden menceritakan kasus itu pada Lio. Kebetulan Laskar dan Aurora sedang berada disana, Alden pun mewanti mereka agar tak ikut campur dengan masalah ini.


"ABang juga kenapa ikut campur? daddy kan udah larang," balas Aurora.


"Karena daddy sudah mengizinkan! kamu tahu kenapa daddy mengizinkan? itu karenamu! keluarga Gevonac tak bisa meretas jaringanmu sehingga mereka memintaku untuk melakukannya!" sentak Laskar.


"Bagaimana jika kau menjadi incaran selanjutnya hah?!" seru Laskar.


Aurora menghela nafasnya, dia mengibaskan tangannya di depan wajahnya. Sementara Laskar terdiam heran dengan wajah santai sang adik.


"Santai saja, dia kan sedang ada di penjara dan tidak boleh di besuk," santai Aurora dan melipat tangannya.


"Dia telah di bawa kabur Rora, apa kau tidak tahu?" heran Laskar.


"APA?!"