
"Berhasil dong, mana hadiah gue!" seru Ica pada kedua sahabatnya.
Mereka berkumpul di salah satu kafe untuk membahas perihal rencana mereka, Ica pun sudah tidak sabar menerima hadiah miliknya.
"Gue bakal kasih setelah ini," ujar Ranti dan meminum jusnya.
"AAAA THANK'S BESTIEEE!" seru Ica dan memeluk Ranti.
Eva berdehem, sebuah ide muncul di kepalanya.
"Raisa," panggil Eva.
Ica pun melepas pelukannya pada Ranti dan menatap Eva dengan pandangan bertanya.
"Terus hubungan lu sama dia gimana sekarang?" tanya Eva dengan penasaran.
"Ya ... dia beper ama gue, dan gue juga kebawa baper sih sama dia. Gak ada yang serius dan kita pun tak menjalin kasih hanya sekedar tekan tapi mesra hahaha," canda Ica.
Eva dan Ranti menggelengkan kepalanya, mereka kemudian teringat akan sesuatu.
"Rai, gue mau tantang lu lagi," ujar Ranti.
"APa? nanti gue menang lagi kalian yang tekor," ujar Ica yang tengah memainkan ponselnya.
Eva dan Ranti menyeringai, kali ini pasti Ica tak akan bisa menyelesaikan tantangan dari mereka.
"Kita tantang lu buat nikah sama dia," ujar Eva.
Sontak saja Ica membulatkan matanya, otaknya berhenti bekerja sedangkan hati dan pikirannya sedang berperang.
BRAK!
"GILA KALI YA LU BERDUA!" sentak Ica setelah memukul meja.
"Lah, hadiah yang kita tawarin jiga gak main-main kok. Iya kan Va?" seru Ranti.
Ica menghela nafasnya pelan, dia memijat pangkal hidungnya dan menormalkan deru nafasnya.
"Apa yang kalian tawarin?" tanya Ica yang merasa tertarik.
"Pulau pribadi gue, tahun lalu lu sanoe memohon ke gue agar gue menjual pulau itu untuk lu. Sayangnya pulau itu terlalu banyak hal yang indah dan gue gak rela lepasinnya, tapi sekarang ... gue akan kasih lu dengan cuma-cuma asalkan lu bisa nikah dengan dia," ujar Eva.
Ica menarik satu sudut bibirnya, dia menumpu wajahnya pada kedua tangan yang saling bertautan.
"Dengan menikah dengan dia, gue berkorban kehidupan gue. Hadiah yang kalian tawarkan terlaku rendah, oh ayolah ... aku tidak sebodoh itu," ujar Ica dengan sinis.
"Terus, apa yang lu mau?" tanya Ranti dengan ekspresi bingung.
CKTAK!
"Pintar! aku mau sepuluh ribu mafioso kalian!" seru Ica.
Ranti dan Eva saling pandang, setelahnya mereka kembali menatap Ica yang tersenyum puas.
"Seimbang bukan? pulau dan mafioso untukku dan kalian senang," ujar Ica.
"Udah ah, kalau kalian deal gue bakal ajak dia buat nikah. Ini sangat mudah, BYE GIRLS!"
Ica pun pergi dari hadapan keduanya, Eva dan Ranti saling pandang. Mereka menghela nafas kasar dan tak lama mereka pun ikut beranjak pulang.
Ica kembali ke markas, dia ada misi penting untuk menyusup ke rumah orang yang abangnya duga sebagai putra dari Jefran.
Ica mengganti bajunya di kamar pribadi miliknya yang berada di markas dan menggunakan topengnya, setelahnya dia mengambil motor besarnya dan pergi menuju alamat yang abangnya maksud.
"Ck, gimana sih bang Frans. Tau alamat tapi gak tau orangnya, jadi bingung kan gue," decak Ica.
Ica pun memarkirkan motornya yang sedikit jauh dari rumah yang sang abang maksudkan. Setelahnya netranya menangkap sebuah rumah yang menarik perhatiannya.
"Hah? ini bukannya jalanan deket rumah Gibran yah?" gumam Ica sambil melirik ke sana dan kemari.
"Terus ... abang ngapain suruh gue kesini?"
***
"LOVE! LOVE!"
Aqila berlari tergesa-geda menuju kamar Bentley, bahkan apron miliknya masih melekat pada tubuhnya.
"Kamu liat deh, Bent udah bisa tengkurep!" seru Frans sambil berjingkrak heboh.
Aqila melongo melihat suaminya yang seperti mendapat menang undian, dia menatap Bentley yang sedang tengkurap sembari tertawa.
"Dari kemarin juga kayak gitu, kamu aja yang telat tahunya," ujar Aqila yang mana membuat Frans menghentikan kegirangannya dan menatap Aqila dengan wajah datarnya.
"Kamu tuh gak suka banget sih aku seneng, pura-pura baru tahu gitu kek!" kesal Frans.
Aqila menghelannafasnya, dia memehamkan matanya sebentar dan berteouk tangannsambil melompat-lompat.
"HOREEE BENT BISA TENGKUREP, AKU BARU TAHU LOOHHHH ... HEBAT ANAK BUNDAAA!"
Frans melongo melihat kelakuan istrinya, dia menggaruk belakang lehernya ketika ekspresi wajah Aqila berubah kembali.
"Udah?" tanya Aqila dan di balas anggukan oleh Frans.
Aqila kembali keluar kamar, dia harus menyelesaikan memasaknya agar mereka dapat makan malam.
"Ada-ada saja kelakuan bundamu Bent," ujar Frans.
Frans merebahkan dirinya di kasur, dengan kepala yang bersandar di kepala Ranjang Frans pun membawa tubuh Bentley untuk tengkurep di dadanya.
"Appa mau Bent jadi pengganti appa untuk menjaga bunda, cepatlah besar agar kau bisa membantu appa menjaganya hm," ujar Frans.
"Oyaa,"
"Iya, kau harus membantu appa," ujar Frans dan menciumi pipi bulat putranya.
PRANK!
BRAK!
DUGH!
Frans mengerutkan keningnya, ada apa di luar kamar? bukankah di rumah ini hanya dia dan Aqila saja? kecuali jika berada di mansion mungkin dia akan mengira jika itu adalah orang lain, tapi tidak mungkin istrinya berbuat kegaduhan seperti itu.
"Sebentar yah, appa mau lihat bunda dulu." ujar Frans sambil beranjak dari duduknya dan menaruh Bentley kembali ke box bayinya.
Frans pun menutup pintu kamar Bent, seketika pintu itu terkunci karena memang pintu otomatis. Hanya terbuka dengan sidik hari dia dan Aqila.
Frans menuruni tangga, suasana rumahnya terasa sangat sepi. Biasanya jika Aqila memasak, pasti terdengar suara panci dan bau masakan.
"Sayang!" panggil Frans.
"Love! kau dimana?"
Frans semakin cepat menuruni tangga, netranya mencari keberadaan istrinya yang berada di dapur.
Krak!
Netra Frans terjatuh pada ponsel Aqila, dia mengambilnya dan melihat ponsel itu dengan seksama.
Tabuh Frans menegang ketika merasakan jarum suntik pada lehernya, tubuhnya mendadak kaku ketika melihat Aqila yang di todong senjata oleh seorang pria bertopeng.
"Sayang," lirih Frans sebelum kesadarannya terenggut.
Bruk!
Aqila menjerit tertahan akibat kain yang menyumpal mulutnya, tangannya terikat sehingga dia tak bisa menggapai Frans.
"Kalian, bawa pria ini," titah pria memakai topeng tepat di belakang Frans.
Aqila menatap pria bertopeng itu, pria itu yang beberapa bulan lalu menyusup ke rumahnya. Sebenarnya siapa incaran pria itu?
Pria itu berjalan menghampiri Aqila, dia mengelus wajah Aqila dengan pistol yang berada di tangannya.
"Saya izin mengambil suamimu nona ... menculik dirinya dan putramu aku selalu di larang oleh pamanku. Ck, padahal menyaksikan dia tersiksa dengan melihat kau dan putra kalian tiada adakah impianku,"
"Sayangnya aku tak seegois itu, aku hanya ingin suamimu agar dia membayar penderitaan orang tuaku!"
Aqila hanya mampu terdiam, dia tak dapat berbicara sebab mulutnya yang masih tersumpal.
"Kalau kau ingin mencariku ... carilah aku, Black ... itulah namaku," ujarnya berbisik di telinga Aqila.