My Perfect Mafia Daddy

My Perfect Mafia Daddy
Part 67: Reunian trio cadel



Mansion Wesley tengah ramai dengan celotehan tiga bocil yang sedang ajang reuni, lihatlah mereka yang saling bermain di ruang tengah dengan menghamburkan semua mainan yang ada.


Raffa hanya terlihat bingung, pasalnya ketiga bocil itu yang sesekali akur dan bermusuhan. Raffa hanya di jaga oleh salah satu bodyguard Alden sebab Alden dan Amora entah kemana.


"Lavin! tadi kan Kino udah bilang, policinya jangan di taluh citu! kecebul nanti," gerutu Kino yang harus mengembalikan orang-orangan ke tempatnya cemula.


"Ih Kino! telcelah Lavin lah, kok citu cewot," ucap Ravin tak terima.


"Lavin itu kalau di bilangin jangan begitu, nanti banyak mucuhnya Loh!" seru Cia yang mulai jengah dengan jawaban Ravin.


Ravin hanya acuh, dia kembali menyusun bangunan legonya. Sedangkan Cia bermain boneka seperti anak perempuan kebanyakan.


Raffa sudah mulai mengantuk, dia yang tadi duduk berusaha untuk berdiri. Berat badannya tak sekurus dulu dan kini sudah berisi dengan tambahan pipi bulat yang menghiasi wajahnya manisnya.


Saat akan bangun, entah mengapa tangan Raffa tertekuk. Dia oun terjatuh sambil menyeruduk bangunan lego yang sudah Ravin dan Kino bangun.


Ravin dan Kino menatap legonya dengan tatapan terkejut, setelahnya tatapan mereka terjatuh pada Raffa yang sepertinya merasa bersalah.


"Kan, kalian belantem telus jadina Laffa kecal," celetuk Cia.


Tubuh Raffa bergetar, dia takut di marahi oleh Ravin dan Kino. Bodyguard pun ingin menenangkannya hanya saja dia takut Raffa akan tambah menangis akibat di sentuh oleh orang yang menurutnya asing.


Ravin segera mendekat, dia membantu Raffa berdiri dan menepuk kepala Raffa layaknya seorang kakak.


"Janan nanis, nanti mommy malah. Nda papa, nanti bica di benelin ladi cama Lavin," ujar Ravin.


Raffa tampak menatap Ravin dengan tatapan mengantuk sekaligus bersalah, terbukti dari mata anak itu yang sendu sekaligus air mata yang bersiap akan keluar.


"Yuk ke kamal mommy, Laffa ngantuk kan?" tanya Ravin.


Raffa mengangguk, Ravin pun menggenggam tangan Raffa dan berjalan menjauhi ruang tengah menuju kamar Amora.


Sedangkan Kino, dia menatap Cia yang kembali sibuk bermain.


"Dia ciapa cih? Kino lupa nanya," tanya Kino pada Cia.


"Dia itu Laffa, adeknya om Teo. Katana daddy dia di culik telus di pukul jadina takut cama olang acing, tapi kalo udah kenal nda takut kok cepelti Lavin," terang Cia.


"Di pukul?" tanya Kino yang penasaran.


"Iya, badana banyak banet bekac luka. Mommy campe nanis cetiap mandiin Laffa, jadina daddy yang halus mandiin kalo mommy udah nanis," jawab Cia.


Kino mengangguk, dia kasihan dengan Raffa. Sedari awal melihatnya Kino sudah merasa aneh sebab anak itu melihat takut dirinya, tetapi setelah kenal Raffa hanya biasa saja ketika dia menatapnya.


"Kenapa dia juga nda nomong-nomong?" tanya Kino.


Cia menghela nafasnya pelan, Kino terlalu banyak bertanya membuat dia kesal.


"Kenapa Kino balu tanya cekalang cih, tanya tuh dali tadi pac ada olangna.Kecel Cia," gerutu Cia.


"Cia kan punya mulut, kenapa juga cucah buat nomongna?" kesal Kino.


"Ya Kino juga punya kaki kaki kan? mata kan? telinga kan? tenapa nda tanya aja tadi cama Laffa?!" ujar Cia dengan sinis.


Bodyguard yang melihat pertengkaran mereka menahan nafasnya, perdebatan anak kecil di depannya selalu berhenti ketika salah satunya menangis.


Sedangkan Ravin, dia menarik lengan Raffa ke depan pintu kamar orang tuanya. Tangan kecilnya mengetuk keras pintu bercat putih itu dengan tidak sabaran.


Tok!


Tok!


Tok!


"MOMMY! DADDY! LAFFA NANTUK!" sery Ravin.


Tak ada balasan dari sana, Ravin tak sedikit akal. Dia melepas genggamannya dari tangan Raffa dan mengambil sapu yang ada di pojok ruangan.


"Nda dengel-dengel, Lavin pukul aja pintuna. Awac Laffa!" seru Ravin bersiap akan memukul.


Saat Ravin telah melayangkannya, pintu terbuka menampilkan Alden dengan hanya memakai celana pendeknya tanpa baju. Wajah bangun tidur tercetak jelas pada wajahnya, tetapi Ravin terlambat menghentikan pergerakan pukulan sapu tersebut. Sehingga wajah bantal Alden yang menjadi sasaran empuk tiang sapu itu.


DUGH!


"SAYANG! ANAKMU BUAT ULAH LAGIIIII!"


***


Frans menciumi pipi berisi sang istri, Aqila yang mulai jengah pun menjauhkan dirinya dari Frans.


"Mending kamu balik gih ke kantor, waktu makan siang juga sudah habis. Udah sana!" kesal Aqila.


"Satu kali yah yang, semalem kan enggak," ujar Frans yang mana membuat Aqila melototkan matanya.


Dugh!


"Aw! sakit yang, kenapa tangan aku kamu pukul?" heran Frans.


"Aku itu lagi nifas Frans, gak bisa! Nifas itu sama kayak menstruasi tapi lebih lama!" ujar Aqila.


Frans menjatuhkan rahangnya, dia menatap Aqila tak percaya dengan ucapan Aqila barusan. Baru saja dirinya berbuka, apakah harus berpuasa lagi?


"Ini pasti cuma akal-akalan kamu doang kan Love?" tanya Frans yang masih mencari celah.


"Apaan sih? pasti kamu sering bolos sekolah, ngaku kamu! masa kayak gini aja gak ngerti," kesal Aqila.


Frans pun menggaruk belakang kepalanya, sedari kecil dia di masukkan sekolah bisnis. Bukan sekolah formal kebanyakan anak, sebab dirinyalah yang menjadi pewaris utama mafia sekaligus bisnis Gevonac.


"Udah sana berangkat, biar pulang cepat nemenin baby Bent main. Tau sendiri dia kalau malam melek ampe tengah malam," ujar Aqila.


Frans dengan ogah bangun dari duduknya, dia mencium pelipis istrinya dan pipi bulat sang putra. Dengan jahil, Frans terus menciumi pipi sang putra yang tengah asik meminum Asi.


"FRANS!" kesal Aqila.


"Oeekk ... oeekkk,"


Frans pun berlari keluar dari kamar, dia sudah puas menjahili istri serta putranya. Dia pun kembali ke kantor karena waktu jam makan siangnya telah habis dan tumpukan berkas menanti dirinya.


Sesampainya di kantor, hal pertana kali yang Frans lakukan adalah mengecek laporan pada bawahannya. Dengan dasi yang di longgarkan Frans memulai pekerjaannya.


Tok!


Tok!


"MASUK!" seru Frans.


Pintu terbuka, seorang sekretaris Frans mendekati meja Frans.


"Maaf tuan, tuan Elbert datang mengunjungi anda," ujarnya dengan sopan.


Frans mengangguk, dia menyuruh sekretarisnya agar membiarkan Elbert masuk.


Tak berselang lama, Elbert pun masuk dengan santai. Dia mendekati meja Frans dan menduduki dirinya di hadapan pria itu.


"Tumben kesini? masalah sama istri?" tanya Frans tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas.


"Aku ingin bertanya satu hal," ujar Elbert.


Frans yang merasa tertarik pun mengalihkan pandangannya pada Elbert, satu alisnya terangkat serta tangannya berhenti mengetik.


"Kau tahu bukan jika istriku belum juga hamil? aku sidah mengajaknya untuk berkonsultasi dengan dokter, tetapi dia tidak mau," ujar Elbert.


"Sebelumnya sudah?" tanya Frans.


"Iya, dan dia takut hasilnya mengecewakan lagi," lirih Elbert.


Frans menghela nafasnya, dia menegakkan bahunya dan menatap Elbert yang terlihat banyak pikiran.


"Kenapa kau tak ajak dia berbulan madu? seperti ke negara romantis? bisa saja bukan istrimu banyak pikiran, dan jika disana dia lebih rileks," saran Frans.


Elbert terdiam, memang selama ini dia sibuk bekerja sehingga waktunya dengan Audrey menjadi lebih sedikit. Apa mungkin wanita itu butuh waktu berdua dengannya.


"Wanita itu sulit di tebak El, terkadang dia jenuh tetapi dia hanya diam. Dia lebih banyak memikirkan sesuatu di banding para pria, kita harus bisa mengetahui apa yang dia pikirkan," terang Frans seperti orang yang sangat berpengalaman.


"Kau benar, aku akan mengajaknya untuk bulan madu. Terima kasih atas sarannya Frans," ujar Elbert dan tersenyum senang.


Frans mengangguk, dia merasa bangga dengan dirinya yang memberi solusi untuk Elbert. Sedangkan dia, entahlah solusi apa untuk dirinya.