My Perfect Mafia Daddy

My Perfect Mafia Daddy
Part 39: Kau kenal Elvio?



Pagi hari, terlihat seorang pria tengah keluar dari kamarnya. Dia menuruni tangga dan menghampiri seorang wanita paruh baya.


"Pagi mi," ujar Elvio.


"Pagi sayang, sini sarapan," ujar Delisa.


Elvio tersenyum manis, dia menduduki dirinya tepat di samping sang mami.


"Ekhem! apa kau tak menyapa papi?" tanya seorang pria paruh baya.


Elvio menolehkan kepalanya, keningnya sedikit mengerut. "Oh, kau di rumah ternyata? ingat punya rumah?" sindir Elvio.


"Jaga bicaramu El, aku papimu!" sentak papi Elvio bernama Daffin.


"Papi yah ... aku baru ingat memilikinya, sedari kecil ku rasa aku hanya mengingat tentang mami," acuh Elvio.


Saat Daffin akan menjawab, Delisa lebih dulu menantapnya untuk memberi isyarat agar sang suami tak melanjutkan percakapan mereka.


Mereka pun sarapan dengan tenang, selesai sarapan Elvio meminum air putihnya dan menatap sang mami.


"Aku selesai, oh iya mi aku akan ke mansion Gevonac. Tante memintaku kesana," ujar Elvio.


"Memangnya ada apa?" bingung Delisa.


"Bang Frans kembali mual-mual, dia mengalami ngidamnya orang hamil mi. Maka dari itu tante memintaku kesana agar aku memeriksa bang Frans," ujar Elvio.


"Baiklah, kau boleh pergi," ucap Delisa.


Elvio bangkit dati duduknya, dia berjalan ke sang mami dan mengecup keningnya. Setelah itu Elvio melirik sang papi sekilas dan beranjak dari ruang makan.


"Anak itu semakin tidak sopan saja," ujar Daffin.


"Dia seperti itu disebabkan oleh dirimu sendiri, coba katakan padaku kapan kau memiliki waktu luang untu bermain atau sekedar mengobrol dengannya? gak pernah kan? kau selalu sibuk dengan bisnis, bisnis dan bisnis," kesal Delisa.


"Sayang, kau tau kan jika aku sedang memperbaiki perusahaan yang papa wariskan untukku? sekarang aku sedang membangun kembali perusahaan itu," terang Deffin.


Delisa menatap suaminya dengan tajam, dia berdiri dan mengepalkan tangannya.


"Sampai kapan? lepaskan perusahaan ayahmu itu, dan bekerja lah bersama kakakku! kenapa kau tak pernah mendengarkan ku?!" kesal Delisa.


"De, perusahaan itu telah papahku bangun dari nol. Apa saat perusahaan itu di ambang ke bangkrutan aku harus meninggalkannya? papah ingin aku membuat perusahaan itu mengembang pesat dan ...,"


"perusahaan itu semakin lama semakin jatuh, malahan kau melewatkan masa-masa bersama anakmu dengan perusahaan tidak jelas itu!" kesal Delisa dan beranjak dari hadapan suaminya.


Daffin memandang punggung Delisa dengan sendu, Delisa tak pernah tau apa yang dirinya usahakan agar perusahaan itu bangkit kembali. Selama bertahun-tahun perusahaannya tak berkembang, bahkan utangnya pada perusahaan besar sangat menumpuk.


Sedangkan Elvio, dia sudah sampai di mansion Gevonac. Tak menunggu, Elvio langsung menuju kamar Frans tetapi dia tak sengaja berpapasan dengan Aqila yang akan menuju dapur.


"Hai," ujar Aqila.


"Hai, bagaimana keadaan bang Frans?" tanya Elvio.


"Yah begitulah, beberapa hari ini memang mual paginya hanya sebentar saja tapi hari ini dia terus mual-mual hingga lemas seperti itu," terang Aqila.


"Baiklah, aku akan segera memeriksanya," ujar Elvio.


Aqila mengangguk, Elvio pun beranjak menuju kamar sang abang sepupunya untuk memeriksa abangnya itu.


"Boleh aku masuk?" tanya Elvio pada semua orang yang ada kamar Frans.


"Eh, silahkan masuk El. Segera periksa abangmu itu, sedari tadi dia tak membuka matanya. Tante kira dia pingsan, makanya tante pukul ternyata hanya tidur saja." Cerita Ane sambil menggiring Elvio ke ranjang Frans.


Elvio menatap Frans, dia menduduki dirinya di tepi kasur dan mulai mengeluarkan alat-alatnya di dalam tas yang dirinya bawa.


"Tidak, kata Aqila ... Frans terbangun dari tidurnya dan langsung mual. Sehingga dia belum sempat makan, itu Aqila sedang memasak bubur untuk Frans," terang Ane.


Elvio mengangguk, dia mulai menginfus Frans. Sedangkan yang lain hanya melihat.


"Mah, aku sama kak Ezra pulang dulu yah. Ternyata daddy dan mommy akan ke rumah kami." ujar Lia seraya mendekati Ane.


"Baiklah, jaga dirimu baik-baik sayang. Jaga juga calon cucu mamah," ujar Ane dan memeluk menantunya itu.


"Teruma kasih mah, maaf merepotkan," ujar Lia saat pelukan itu terlepas.


Ane menggeleng, dia tak merasa di repotkan. Netranya beralih menatap sang putra yang malah memandangi mereka.


"Kak, pamitan dulu sama mamah," ujar Lia.


Ezra tak menggeser ataupun mengalihkan tatapan, dia hany memandang mereka berdua dengan serius. Tampaknya Ezra sedang malu ingin berbuat apa, Lia yang peka langsung menarik lengan suaminya dan menyuruhnya untuk memeluk sang mamah.


Akhirnya Ezra pun memeluk ibunya itu, dia merasa malu tetapi dia harus menjaga image nya di hadapan sang mamah.


Ezra melepas pelukan mereka, dengan kaku Ezra pun mencium kening sang mamah. Ane yang di perlakukan seperti itu mematung, dia menatap Ezra dengan wajah kagetnya.


"Kami pulang dulu mamah," ujar Ezra. Panggilan mamah dari Ezra yang sangat dia ingin dengar.


Dengan mata berkaca-kaca Ane mengangguk, Kemudian dia mengantar sang anak dan menantunya itu keluar.


Sedangkan Elvio, dia masih serius memasang kan infus pada Frans. Setelah selesai dia membereskan peralatannya dan memastikan kalau Frans masih tertidur.


"Bagaimana keadaannya Elvio?" tanya Aqila yang baru saja masuk dengan nampan sarapan untuk Frans di tangannya.


"Masih tertidur, mungkin karena efek lelah," ujar Elvio.


"Pantas saja, dia juga baru tidur saat hampir pagi karena mengurus ngidamku." ujar Aqila seraya menaruh nampan itu ke tempat tidur.


Elvio mengangguk kaku, netranya sedari tadi melihat bagaimana Aqila telaten mengurus Frans. Dari mulai mengambil makan dan membangunkan Frans dengan lembut.


"Bangunlah dulu, makan sarapanmu setelah itu minum obat," ujar Aqila.


Frans terbangun, netranya menatap Elvio yang tersenyum menatapnya.


"Kenapa dia ada disini?" heran Frans seraya melirik sang istri.


"Tentu saja dia ada disini, dia seorang dokter. Dan aku yang meminta mamah untuk memanggilnya," ujar Aqila.


Frans mengerutkan keningnya, apakah sang istri tau jika Elvio adakah seorang dokter? Frans pun menduduki dirinya dan menatap kedua orang itu dengan bingung.


"Kamu kenal sama Elvio?" heran Frans.


"Kenal, waktu pertana kali bali ke negara ini. Aku dan dia bertemu di pesawat, kami cekcok dan berakhir dekat. Benarkan El?"


"EL?" beo Frans.


"Kenapa waktu itu kau dan dia malah berkenalan? kenapa kau tidak bilang jika kau dan dia sudah saling mengenalmu Dan apa ini? bahkan kau memanggilnya dengan panggilan kesayangan, sedangkan aku FRANS! FRANS! FRANS!" kesal Frans.


Aqila menggaruk pelipisnya yang tak gatal, dia lupa akan hal itu. Sedangkan Elvio hanya menggelengkan kepalanya, apa disini dirinya di tuduh sebagai pebinor?


"Ya kan kalau aku panggil kamu Ste nanti kaya es warungan dong," ujar Aqila.


Frans tertawa garing sambil memukul Elvio, bahkan kepalanya sampai pening kembali.


"Namaku sudah paling modern, dan lihat istriku ... dia malah menyamakannya dengan es yang ada di warung,"


Elvio pun tersenyum paksa, bukannya apa tetapi pahanya menjadi korban pukulan Frans.