
⚠⚠⚠ terdapat adegan yang tak boleh di tiru⚠
"Sayang, maafkan aku," ujar Frans seraya mengganggu Aqila bekerja.
"Bisakah kau diam? aku sedang menyelesaikan pekerjaanku!" kesal Aqila.
"Biarkan saja dulu, suamimu kan bosnya," ujar Frans.
Aqila yang sedang memegang beberapa kertas pun menaruh kertas itu dengan keras. Frans pun terkejut, istrinya dengan dalam mode senggol bacok.
"Jelaskan saat kita dirumah, sekarang ini kau harus prefessional. Kalau tidak, aku akan meminta papah agar memindahkanku ke perusahaanku sebelumnya!" geram Aqila.
"Oke baiklah," pasrah Frans.
Frans pun kembali ke meja kerjanya, dia melihat berkasnya dan menghela nafas kasar karena sekarang ini dirinya sedang tidak mood bekerja.
Frans pun memutuskan untuk menelpon OB agar membawakannya kopi untuk menyegarkan tenggorokannya.
Aqila juga hanya melirik Frans sebentar dan kembali menatap layar laptopnya, dia harus segera menyelesaikan pekerjaannya dengan segera.
Tok!
Tok!
Tok!
"MASUK!" seru Frans.
Cklek!
Seorang pria berpakaian OB masuk ke dalam ruangan Frans, dia berjalan mendekati meja kerja Frans dan menaruh cangkir kopi itu di sebelah laptop Frans.
"Kau aduk berapa kali?" tanya Frans sambil menatap OB itu dengan tatapan menyelidik.
"Se-sepuluh tuan," gugup OB itu.
"Kekiri atau ke kanan?" tanya kembali Frans.
"Ke kanan tuan,"
"BAGUS!" seru Frans dan meminum kopinya.
OB itu menghela nafas lega, dia segera pergi kala Frans mengisyaratkan dengan tangannya. Aqila yang menonton hal itu tentu saja bingung, kenapa Frans begitu menyulitkan bawahannya?
"Ada apa denganmu? kenapa kau memberatkan dia dengan lelucon itu?" tanya Aqila.
"Apa? maksudmu tadi? aku tidak bisa meminum kopi dengan sembarang adukan semenjak kau hamil," ujar Frans dan kembali menyeruput kopinya.
"Aneh," gumam Aqila.
***
Kini Aqila dan Frans sudah berada di mobil menuju perjalanan pulang, Aqila yang memang tampak sudah lelah pun akhirnya tertidur. Frans yang melihat itu tersenyum tipis, dan menepikan mobilnya.
Frans menelpon seseorang dan keluar dati mobilnya sepekan mungkin agar tak membuat Aqila terbangun.
"Halo King,"
"Apa kau telah mengurus wanita gila itu?" tanya Frans.
"Sudah king, dia sudah kami pindahkan ke rumah sakit jiwa yang ada di luar negri. Tadinya Mateo menemui Cleo, dia hampir saja membunuh Cleo jika aku tidak menahannya. Dia memaksa Cleo agar memberitahukan dimana Daniel menyembunyikan ibunya,"
"Mateo sudah tahu?" heran Frans.
"Yah, dia sudah tahu jika Daniel adalah dalang dari penyekapan sang ibu. Kini dia meminta kita bekerja sama dengannya karena Daniel terus mengancam menggunakan ibunya itu," ujar Kenan.
"Yah, kita akan bekerja sama dengannya mencari ibunya yang di sekap,"
"Siapa yang di sekap?"
Jantung Frans serasa berhenti berdetak ketika mendengar suara Aqila yang ada di belakangnya, Frans menolehkan kepalanya dan tenryata benar. Sang istri tengah memandangnya dengan tatapan heran.
"Love, kenapa kau keluar? udaranya dingin karena hampir malam," ujar Frans dan mematikan ponselnya.
"Jawab aku, siapa yang kamu maksud?" jengah Aqila.
Frans bingung, haruskah dirinya bilang semuanya pada Aqila? semua tentang yang dirinya rahasiakan?
"Jika kau tak menjawabnya juga, aku akan pulang naik taksi!" ancam Aqila.
"Oke! sekarang masuk mobil dan kita pulang. Di rumah aku akan menceritakannya," pasrah Frans.
Aqila menurut, dia berbalik dan masuk kembali ke dalam mobil. Sementara Frans hanya bisa menghela nafas berat.
Frans pun memasuki mobilnya, dia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Tak lama, mereka sampai di rumah mereka, Aqila langsung keluar mobil tanpa menunggu Frans.
"Ceritain dari mana yah? hais ... istri kok kerjaannya kepo mulu," gerutu Frans.
"CEPAT MASUK ATAU AKU KUNCI KAMU DI LUAR!" teriak Aqila.
Frans terkejut, dia segera menutup kembali jendela yang tadi dirinya sempat bukan dan keluar dari mobil.
Frans pun masuk ke dalam rumah dan berjalan menuju kamar, saat di kamar pun Frans tak melihat istrinya. Ternyata wanita itu sedang mandi, sehingga dia harus menunggu terlebih dahulu.
Beberapa menit Frans menunggu, akhirnya Aqila keluar juga. Frans yang melihat hal itu langsung mendekati sang istri yang tengah mengeringkan rambutnya.
"Sayang aku akan ce ...,"
"Mandi dulu sana, kamu bau," ujar Aqila.
Frans pun mengendus tubuhnya, dia tak merasakan bau tetapi malah parfumnya yang masih tercium.
"Yaudah aku mandi, tapi jangan kemana-mana," pinta Frans.
Aqila mengangguk, dia beranjak menuju lemari bajunya sementara Frans membersihkan badannya.
Berselang setengah jam, Frans kini sudah selesai mandi dan telah memakai bajunya. Dia menghampiri sang istri yang tengah memainkan ponselnya di atas tempat tidur.
"Sudah? Sekarang jelaskan!" titah Aqila saat menyadari Frans duduk di sebelahnya.
Frans bingung mau mulai dari mana, dia pun menatap Aqila yang tengah menunggu penjelasan darinya.
"Mulai yang mana?" tanya Frans.
"Emang banyak cabangnya?" kesal Aqila.
"Yaudah, gini ... Cleo dia adalah anak angkat dari Daniel ...,"
FLASHBACK ON.
Seorang wanita berparas cantik tengah memainkan rubik, saat asik memainkannya tiba-tiba saja ada sebuah tangan yang menghalanginya dari panas matahari.
"Steve!" serunya.
Frans tersenyum, dia menarik kembali tangannya dan duduk di samping wanita itu Netranya menatap rubik yang wanita itu mainkan.
"Belum selesai?" tanya Frans.
"Belum, ini sangat sulit. Aku tidak sepintar dirimu Steve," ujarnya.
Frans mengangguk, dia juga tak tau cara memainkan rubik.
"Apa kau masih mencari keberadaan adik mu?" tanya Frans.
Wanita itu menggeleng, raut wajahnya menjadi sendu. Saat kecil dirinya kehilangan sang adik, adiknya di culik dan sampai saat ini dia belum pernah bertemu kembali dengan adiknya.
Orang tuanya pun telah tiada, dia selalu mencari sang adik karena adiknya lah keluarga satu-satunya yang dia miliki.
"Bisakah kau membantuku mencari keberadaan adikku? aku sangat merindukan nya," ujar wanita itu dan menatap Frans dengan tatapan sendu.
"Kau itu tunanganku, sebentar lagi kita akan menikah. Sudah sepatutnya aku membantumu," ujar Frans.
Sejak dari itu, Frans berusaha menemukan keberadaan adik dari tunangannya itu dengan di bantu oleh sang papah.
Akhirnya Frans berhasil menemukannya, dia adalah Cleo wanita yang merupakan sahabat dari Aqila.
Frans mulai mendekati mereka, tetapi dirinya salha telah membuat Aqila dan Cleo jatuh hati secara bersamaan padanya.
Hingga tiba saat dimana Cleo menyatakan perasaannya, Frans menolak dan mengatakan bahwa dirinya sudah bertunangan.
"Siapa? Siapa tunanganmu itu?" tanya Cleo dengan suara bergetar.
"Apa Aqila?" tanya Cleo.
Frans menggeleng, dia menunjuk sosok wanita yang menatap mereka sedari tadi. Cleo pun menolehkan kepalanya, dia menutup mulutnya tak percaya melihat siapa yang ada di depannya.
"Senior Wilona? dia tunanganmu?" kaget Cleo.
"Sekaligus kakak kandungmu,"
Cleo terkejut bukan main, dia menatap wanita yang bernama Wilona dengan tatapan kebencian.
"Oh jadi kau kak Wilona? sungguh enak nasibmu, kau mendapatkan orang yang aku suka. Kau dan orang tua kita tak pernah membiarkan aku bahagia! apalagi mencariku! setiap hari setiap saat aku selalu menunggu kalian datang menolongku! tapi nyatanya, kau dan orang tuamu tidak pernah datang!" jerit Cleo.
"Setiap hari aku di pukul, di siksa bahkan di cambuk! Setiap hari aku selalu berharap kalian datang menolongku, memang nyatanya kau masih sama seperti dulu ... sama-sama menjadi anak kesayangan mereka!"
"Hera jangan seperti itu, kakak ...,"
"BERHENTI MEMANGGILKU HERA! AKU BUKAN HERA TAPI CLEO!" teriak Cleo sambil menunjuk tepat di wajah Wilona.
Frans ingin menghalangi Cleo, tetapi Wilona menggelengkan kepalanya. Ini masalahnya dengan sang adik dan Frans tidak berhak ikut campur.
Tiba-tiba saja raut wajah Cleo berubah menjadi menyeramkan, Wilona yang melihatnya pun takut dan memundurkan tubuhnya.
"Cleo a-apa yang akan kau lakukan?" gugup Wilona.
Menyadari ada yang tidak beres, Frans segera mendekat. Betapa terkejut dia saat melihat Cleo yang mengeluarkan pisau dan menancapkannya pada perut Wilona.
"ARGHH!"
"WILONA!"
Cleo mencabut pisau itu, dia menatap Wilona yang sedang menahan darah yang keluar dari bekas tusukan pisau.
"Tadinya ku pikir akan melenyapkan Aqila, tapi ternyata kakakku sendiri yang mengajukan diri. Selanjutnya, tunggal Aqila dan aku akan menjadi wanita satu-satunya di kehidupan mu,"
Frans tengah menahan tubuh Wilona seketika tertegun saat Cleo mengucapkan kata itu. Dia mendongak menatap Cleo yang menatap kosong ke arah mereka.
"Steve," lirih Wilona.
Frans langsung melihat ke arah Wilona, dia menatapnya dengan cemas sembari tangannya memegang perut Wilona yang terus mengeluarkan darah.
"Dia ... dia memiliki gangguan mental, ja-jangan laporkan dia, ka-kau harus membantunya u-ntuk sembuh. Jan-ji padaku ...,"
Flashback Off.
"Seperti itu, kau jangan salah paham. Memang dulunya aku mencintai Wilona, tapi sekarang hanya ada kau," ujar Frans.
"Ehm ... mengapa Wilona bisa tahu jika Cleo memiliki gangguan mental?" bingung Aqila.
"Dia merupakan anak jurusan psikolog, tentu dia mengerti,"
Aqila pun mengangguk, dia merinding mendengar cerita Frans. Tetapi dia rasa ada yang belum Frans ceritakan.
"Lalu, siapa yang di sekap?"
_________