My Perfect Mafia Daddy

My Perfect Mafia Daddy
Part 50: Benda keramat



Aqila sedang termenung di kamarnya, kamar sebelum dirinya menikah dengan Frans. Netranya sedari tadi tak pernah lepas dari gelang yang Frans berikan padanya lewat Mateo.


"Apa sebegitu sibuknya dia sampai tidak menelponku sama sekali, padahal empat hari lagi kami berencana akan mengecek jenis kelamin bayi kami," lirih Aqila.


"Sayang, minum susumu. Ini akan melewatkan jam tidur malam," ujar Gio yang datang dengan segelas susu di tangannya.


Aqila menoleh, dia tersenyum menatap sang ayah dan mengambil susu tersebut. Aqila meneguknya sampai habis dan mengembalikan gelas itu pada Gio.


Gio menaruh gelas itu di nakas, setelahnya dia menduduki dirinya di samping putrinya. Tangannya terulur untuk mengelus rambut sang putri.


"Ada apa? Kenapa kau murung seperti itu?" tanya Gio.


"Aku merindukan Frans ayah," ujar Aqila.


"Hm ... begitu, coba jawab ayah dengan jujur. Apa kau telah memaafkan Frans sepenuhnya? apa kau telah kembali mencintai Frans?" tanya Gio.


Aqila terdiam, dia berperang dengan hati dan fikirannya sediri. Apa yang Frans lakukan padanya tak mungkin dia lupakan dengan mudah, hanya saja dirinya hanya bisa berdamai dengan masa lalu dan membuka lembaran baru.


"Memaafkan sih udah yah, cuma masih suka kesel kalau inget yang dulu," ujar Aqila.


"Keselnya?" heran Gio.


"Ya kesel aja, orang Aqila gak sadar dia juga yang nuduh. Seharusnya Aqila yang marahin dia, tapi dia yang malah marahin Aqila," gerutu Aqila bagaikan seorang putri kecil yang mengadu pada ayahnya.


Gio terkekeh, dia memeluk putrinya dengan sayang. Tangannya pun setia mengelus rambut sang putri.


"Kalau soal cinta sih iya, kan ayah tau sendiri kalau sedari dulu Aqila selalu ngejar-ngejar Frans. Eh pas udah dapet masa mau di lepas," ujar Aqila.


"Apa Frans selama ini baik denganmu?" tanya Gio.


Tiba-tiba mata Aqila memerah, bibirnya pun sedikit melengkung ke bawah.


"Baik ... baik banget, Aqila bully terus dia tetep sabar. Aqila lempar panci dia tetep senyum, Aqila lempar gayung dia tetep ketawa hiks ... untung aja suami Aqila bukan setan hiks ...,"


Gio tertawa, anaknya ini ada-ada saja. Setelahnya Gio mencium kening sang anak dan menyuruhnya tidur.


"Tidurlah, tidak baik ibu hamil begadang," ujar Gio.


Aqila mengangguk, Gio oun keluar dari kamar Aqila dan menutupnya. Setelahnya dia mengambil ponselnya yang ada di saku bajunya.


"Sudah dengar bukan? ini terakhir kalinya aku membantumu Frans! cepatlah pulang dan jangan membuat putriku menunggu!"


***


"Lia ayo cepat tidur, sekarang sudah jam sepuluh malam," ujar Ezra pada istrinya yang asik melihat ikan di dalam Aquarium yang haru saja Ezra beli atas permintaan sang istri.


"Nanti dulu, tunggu nemonya tidur," ujar Lia.


Ezra pun hanya bisa menepuk keningnya, dia melangkah mendekati sang istri dan menggendongnya ala bridal style.


"Kak Ezra aku mau lihat ikannya tidur dulu!" rengek Lia.


"Diamlah Ay, kau berat. Apa kau tahu?" kesal Ezra.


Lia menepuk pipi suaminya, dengan mudahnya sang suami mengatakan dirinya berat. Padahal Ezra tahu jika dia sedang mengandung dua bayi.


"Turunkan aku kalau begitu! turunkan!" berontak Lia.


Ezra tak mendengarkan perkataan sang istri, dia membawa istrinya ke kamar dan menurunkannya ke tempat tidur.


"Huh, dasar suami gak ada akhlak!" kesal Lia.


"Kalau akhlak aku gak ada mungkin kamu udah aku lempar tadi," balas Ezra.


Lia melototkan matanya, dia sungguh kesal dengan suaminya yang seenaknya saja. Sedangkan Ezra hanya acuh, dia mengambil baju tidur sang istri dan kembali mendekati istri kecilnya itu.


"Buka bajunya cepet, abis itu tidur," ujar Ezra.


Lia mendelik tajam, Ezra tak menghiraukan dia hanya memberi Lia baju setelahnya dia mengambil krim untuk perut Lia.


Setelah Lia membuka bajunya sehingga dia hanya memakai br4, Ezra pun mengoleskan krim itu pada perut sang istri dengan telaten. Gak papa lah, sama suami sendiri ini. Pikir Lia.


"Pakai cepat bajunya, aku mau buatkan susu untuk mu dulu," ujar Ezra dan menaruh krim itu kembali.


Tak lama Ezra kembali dengan susu coklat di tangannya, dia pun mendekati Lia dan menyuruh istrinya untuk duduk.


"Cepatlah duduk dan minum susumu," titah Ezra.


Lia menurut, dia menduduki dirinya dan menerima gelas yang ada di tangan Ezra. Lia pun meminumnya dan menyisakannya sedikit.


Ezra mengambil gelas Lia, dia mengerutkan keningnya ketika melihat susu Lia yang tidak habis.


"Kamu kebiasaan banget sih ay, aku kan udah bilang jangan menyisakan susu," kesal Ezra.


"Aku mual kalau udah hampir habis," ujar Lia.


"Habiskan!" titah Ezra.


Lia menggeleng sembari menutup mulutnya, Ezra pun menghela nafasnya dan meminum sisa susu itu.


Lia melepaskan tangannya, dia tersenyum puas. Tetapi ternyata dia salah, malah Ezra mengarahkan bibirnya pada bibir istrinya itu.


Lia memukul bahu Ezra, susunya pun terminum olehnya karena paksaan dari Ezra.


"Hwek," nek Lia.


Ezra pun mengusap bibirnya, dia tersenyum puas saat Lia menghabiskan susu coklat tersebut.


"Kalau kamu seperti ini lagi, aku akan berbuat hal yang sama," ujar Ezra dan pergi keluar kamar untuk mengembalikan gelas itu.


Lia mendengus sebal, mulutnya terasa tidak enak. Dia pun turun dari tempat tidur dan membuka laci nakas.


"Kak Ezra punya permen gak sih," ujar Lia sambil mencari permen tersebut.


"Eh apa nih?" gumam Lia ketika mendapati kotak berwarna merah yang terdapat gambar strawberry.


Ezra yang baru masuk kamar terkejut ketika melihat istrinya yang sedang memegang benda keramat miliknya.


"SAYANG!" sentak Ezra.


Lia sontak saja kaget, dia menoleh pada Ezra dan terkejut saat Ezra merebut benda di tangannya.


"Kok di ambil?" heran Lia.


"Ini bukan ...,"


"Itu permen kan? Lia mau, mulut Lia gak enak," ujar Lia.


Ezra bingung mencari alasan, sementara Lia sudah sangat kesal dengan suaminya.


"Ini ... ini permen tikus!" seru Ezra.


"Permen tikus?" bingung Lia.


"Iya, biar tikusnya mati. Untung kamu gak makan," ujar Ezra.


"Bohong yah pasti," selidik Lia.


Ezra menggiring istrinya untuk tidur, Lia yang tak terima pun hanya bisa pasrah. Setelahnya Ezra keluar kamar menuju dapur, dia membuang benda itu ke tempat sampah.


"Ini semua tuh gara-gara Elbert! gak ada akhlak dasar!" gerutu Ezra.


Setelahnya Ezra membuka kulkas, dia mengambil kaleng soda dan membukanya. Netranya menangkap lemari yang terbuka, dia oun melangkah mendekati lemari itu.


"Stok mi instan? pasti ini kerjaannya Lia," kesal Ezra.


Pasalnya Ezra telah melarang Lia untuk memakan mie karena tidak baik untuk kandungan sang istri, tetapi Lia adalah penyuka mie instan tentu sangat sulit melepas kebiasaannya.


"Besok aku harus menyuruh maid untuk membuang racun ini semua," kesal Ezra.


_____