
"Ck, kau tau? kau menyusahkanku bodoh!" sentak ELbert yang kini sudah memasak di rumah pasutri dan tengah menggerutu sambil menatap orang yang membuat ulah.
"Kan aku cuma minta tolong," ujar Frans dengan nada bergetar dan menatap sang istri dengan sendu.
"El," peringat Aqila.
Elbert mendengus kesal, ingin rasanya dia melempar Frans ke dalam sungai Amazon saat ini juga. Dia kesal melihat bagaimana pria itu memasang wajah memuakkan dan mengadu terhadap istrinya.
"Terus aku harus seperti apa lagi ini!" titah Elbert pada seorang koki yang sedari tadi melihat pertengkaran keduanya.
"O-oh ini kau masukkan bumbu yang tadi kita rajang," ujarnya.
"Ranjang? kenapa harus ranjang?" heran Eobert.
Aqila yang tengah berada di samping Frans menatap Elbert kesal, dia mendekati Elbert dan memukul bahu pria itu.
"Rajang! bukan ranjang! kalau Ravin dengar, kau pasti akan di tertawai olehnya," kesal Aqila.
"Ah udahlah, gue mau pulang aja. Sedari tadi salah mulu, seumur-umur gue baru aja masak ini sekarang!" ujar Elbert seraya membanting pisaunya.
Aqila menggeser tubuh Elbert, dia mengambil wortel dan memotongnya dengan pisau daging dengan keras sehingga Elbert, sang koki dan Frans pun meneguk ludah mereka kasar.
"Ba-baiklah, a-aku akan memasak. Kakak duduk saja yah," gugup Elbert.
Aqila tersenyum puas, dia menaruh pisau tersebut dan kembali mendekati Frans yang duduk di meja makan.
Tak lama masakan Elbert jadi, dia menaruh piring nasi goreng itu ke hadapan Frans. Dia menduduki dirinya berhadapan dengan Aqila dan Frans.
"Makanlah!" titah Aqila.
Frans mengangguk semangat, dia memakan nasi goreng buatan Elbert dengan lahap. Hal itu membuat Aqila dan Elbert kebingungan, apakah seenak itu rasanya hingga Frans makan dengan lahap?
"Apa kau tadi mencicipinya El?" bisik Aqila.
"Tidak, tapi masih ada sisa. AKu akan meminta pada koki agar kakak bisa merasakannya," ujar Elbert yang mendapat anggukan dari Aqila.
Elbert pun pergi ke dapur, dia mengambil sisa nasi goreng yang dirinya masak tadi. Tak kama dia kembali dengan piring nasi goreng di tangannya.
"Ini kak," ujar Elbert seraya menaruh sepiring nasi goreng itu ke hadaoan Aqila.
Aqioa pun menerimanya, dia mengambil sendok dan mulai menyendokkan makanan itu ke dalam mulutnya.
"Rasanya ... sedikit hambar, apa mungkin Frans lebih menyukai masakan hambar?" gumam Aqila.
"Benarkah?!" ujar Elbert dan menarik piring itu ke hadapannya. Elbert pun memakan nasi goreng tersebut, dia mengunyahnya dan mengangguk.
"Benar, bumbunya tidak terlalu terasa. Bahkan bisa di katakan hambar, bagaimana koki itu mengajariku membuat makanan hambar ini?" bingung Elbert.
Aqila menggeleng, dia menoleh menatap Frans dan terkejut ketika piring itu sudah kosong.
"Habis?" beo Aqila.
"Heem, aku mau lagi." ujar Frans sambil melirik piring yang ada di hadapan Elbert.
"Oh silahkan bang, ini makan saja. Aku sudah kenyang," ujar Elbert dan memberikan itu kepada Frans.
Frans dengan senang hati memakannya kembali, Aqila pun bangkit dari duduknya dan pergi menuju dapur. Dia akan menanyakan kepada koki tersebut sebenarnya apa yang terjadi pada Frans.
"Paman," panggil Aqila terhadap koki tersebut yang tengah membereskan meja kompor.
"Ya nona?" sahut sang koki.
"Ehm begini, kenapa Frans lebih suka makanan hambar? tadi siang aku memasak makanan untuknya, hanya saja aku mengerti jika dirinya sangat suka asin. Untuk itu aku memasak makanan dengan cita rasa yang pas, apa terjadi sesuatu selama beberapa minggu terakhir sebelum kami menikah?" tanya Aqila.
Koki tersebut tersenyum, dia mengangguk membenarkan ucapan Aqila.
"Benar nona, lidah tuan Frans lebih sensitif entah sejak kapan. Berkali-kali kami mengganti cita rasa makanan hanya untuknya, dan ternyata tuan Frans tak bisa makan mankanan dengan rasa yang terlalu tajam. Misal bawang yang terlalu banyak, dia lebih kepada makanan dengan sedikit rempah," terang Koki.
"Jadi seperti itu ... pantas saja sejak kita berada di rumah ini Frans membawa makanan dari mansion mertua. Ya ku pikir tidak enak jika mengambil makanan terus dari sana, jadinya aku belajar masak dan memasakkan untuknya," ujar Aqila.
"Mau saya tuliskan resepnya nona?" tanya sang koki.
Aqila mengangguk antusias, dia mempelajari masakan yang Frans makan nanti. Dia akan berusaha untuk membuat suaminya betah dengan makan masakan istrinya bukan masakan para maid.
"Kau tau? kau itu mirip seperti b4b1," ujar Elbert.
"Kalau aku b4b1 kau apa huh? keledai?" kesal Frans.
Kedua pria itu kini saling menatap tajam, setelah itu salah satu dari mereka kembali berbicara.
"Bisa ku tebak, pasti kau belum mendapat jatah semenjak kalian menikah. Benar bukan?" ledek Elbert.
"Itu privasiku bodoh!" sentak Frans.
"Hah, tinggal bilang iya aja susah," ujar ELbert memancing kemarahan Frans.
"KAU ...,"
"Kasihan sekali, menikah berasa sendiri. Hahahah, beberapa minggu lagi aku akan menikah. Aku akan semakin meledekmu Frans," sela Elbert.
Frans bangkit dari duduknya, dia mendekati Elbert yang kini juga sudah siap siaga. Bukannya baku hantam mereka berdua malah saling jambak menjambak.
"SAKIT WOY! LEPAS GAK LEPAS!" teriak Elbert
"KAU KIRA AKU GAK SAKIT HUH?" kesal Frans.
Aqila yang mendengar suara teriakan segera berjalan cepat menuju ruang makan, matanya terbelalak kala melihat adik dan suaminya saling menjambak rambut masing-masing.
"Kalian apa-apaan sih, lepas gak!" sentak Aqila.
Bagai anak yang menurut, Frans dan Elbert melepas jambakan mereka. Mata mereka saling menatap tajam hingga Aqila harus mengusap wajah keduanya agar tak adu mata lagi.
"Elbert, tadi mommy mengirim pesan kau harus cepat pulang. Ravin menangis karena kau tak mengajaknya pergi tadi, sekarang anak itu masih menangis. Pulang lah dulu," pinta Aqila.
Elbert mengangguk, dia mendekati Aqila dan akan memeluknya. Namun, Frans menghalangi Elbert agar tak memeluk istrinya. Suami yang posesive memang.
"Huh, sebelum jadi istrimu dia kakakku!" sentak Elbert.
"Tadi dia sudah menjadi istriku dan dia sepenuhnya adalah milikku dan aku tak mau berbagi! minya aja mahal masa istriku tidak?" sinis Frans.
Elbert pun pasrah, dia beranjak pulang dengan kesal. Dia pun memasuki mobilnya dan menjalankan mobilnya menuju jalan pulang.
"Benar-benar pria itu, belagunya bikin orang kesel!" gerutu Elbert sepanjang jalan.
Beberapa saat kemudian, mobil ELbert sudah sampai di pelataran mansion. Dia turun dari mobilnya dan segera memasuki mansion sambil membuka jaketnya.
"MAU ABANG! MAU ABANG! DADDY BAUU! MAU ABANG!" teriakan Ravin begitu melengking, bahkan Elbert oun bisa mendengarnya padahal sang adik ada di lantai dua.
Elbert pun memasuki lift dan segera menuju kamar adiknya yang berada di lantai dua. Sesampainya di sana, netra Elbert menatap sang adik yang tengah memeluk pintu kamarnya sambil di tarik oleh Alden agar anak itu menurutinya.
"Kau kenapa?" tanya Elbert yang sudah sampai di hadapan Ravin .
Ravin menoleh, dia tersenyum senang dan melepaskan tangannya dari pintu. Dia memeluk kaki Elbert, dan Elbert pun membawa bocah itu ke gendongannya.
"Untung kau cepat pulang," ujar Alden dengan wajah lelahnya.
"Adikmu itu taunya kamu pergi main, makanya dia menangis. Apalagi dia tahu jika ini hari libur," ujar Amora yang baru saja muncul.
"Lalu dimana Laskar dan Aurora dan juga Cia?" bingung Elbert.
Amora menatap Alden, begitu juga sebaliknya.
"Oh itu, Laskar pergi ke rumah ommu dan Aurora mengajak main Cia di kamarnya. Mereka sama-sama perempuan, jelas saja permainan mereka tak jauh dari boneka," terang Amora yang kini sudah menatap Elbert.
Elbert mengangguk, dia menghapus air mata Ravin dengan jaketnya. Setelah itu dia menepuk pelan punggung sang adik.
"Sore janti kita jalan-jalan ke rumah calon kakak iparmu okay," bujuk Elbert.
"Ke lumah kak tantik?" tanya Ravin.
"Betul, sekarang kita tidur siang." ajak Elbert sambil beranjak menuju kamarnya.
Sedangkan Amora dan Alden menghela nafasnya, hanya Elbert yang bisa membujuk Ravin. Berbeda dengan Lio, pria itu tengah asik tidur tanpa membujuk sang adik, jika dia membujuknya bukan berhenti nangis yang ada Ravin semakin keras menangis.