My Perfect Mafia Daddy

My Perfect Mafia Daddy
Part 57: Dokter Andin



"Kalian jadi pulang hari ini?" tanya Gio di sela sarapan mereka.


"Iya yah, kantor Frans sudah lama di tinggal. Jadi kami harus pulang, ayah berkunjunglah ke rumah kami," ujar Aqila.


"Ehm, setelah urusan ayah beres. Ayah akan berkunjung ke rumah kalian." ujar Gio seraya tersenyum.


Frans, pria itu tengah memperhatikan makanan. Entah karena apa, pria itu membedakan warna makanan.


"Frans, kenapa sayurnya kamu pisah seperti itu?" heran Aqila yang baru menyadari kelakuan suaminya.


"Gak enak ngeliat campur aduk, kan wortel sama wortel. Brokoli sama brokoli, biar gak berpisah. Berpisah berat tau," cicit Frans.


Aqila dan Gio saling tatap, mereka pun menggelengkan kepalanya melihat tingkah Frans. Gio pun memaklumi jika saat ini Frans mungkin dalem fase calon ayah.


Selesai sarapan, mereka pun bersiap pulang. Helikopter pun telah mendarat di atas mansion, Aqila dan Frans pun pulang setelah pamit dengan sang ayah.


"Aqila ingat ucapan ayah, berhenti bekerja okay. Kandunganmu sudah besar, dan Frans! kau harus menjaga putriku yang hamil besar ini," titah Gio.


"Ayah gak perlu khawatir, jika Frans gak bisa jaga Aqila. Aqila bisa kok cari suami baru," ujar Aqila meledek Frans.


"Tuh kan yah, liat Aqila," kesal Frans.


Gio menggelengkan kepalanya, dua orang di depannya akan segera menjadi orang tua. Tetapi kelakuan seperti anak kecil.


Akhirnya Aqila pun menaiki helikopter dengan di bantu oleh Frans, setelahnya Frans mengikuti istrinya itu.


Gio melambaikan tangannya, begitu pula dengan Aqila dan Frans. Helikopter itu pun pergi, Aqila sangat senang melihat pemandangan dari atas helikopter.


"Kau sesenang itu?" heran Frans


"Tentu saja," seru Aqila.


Mereka sedikit berteriak agar terdengar karena berisik akibat baling helikopter.


Waktu pun berselang, Helikopter mendarat sempurna di sebuah gedung. Aqila bingung gedung apa itu, setahunya mereka akan mendarat di bandara.


"Frans, kenapa kita mendarat disini? gedung apa ini?" heran Aqila.


"Ini gedung rumah sakit Wesley, daddy berkata untuk memeriksa kandunganmu disini. Daddy sudah mendatangkan dokter kandungan terbaik, bahkan Lia dan Ezra akan kesini untuk memeriksa kandungan Lia," terang Frans.


Frans pun turun, kemudian dia membantu istrinya itu untuk turun. Setelahnya mereka menuju lift untuk turun ke lantai bawah.


TRING!


Aqila dan Frans pun keluar, mereka tak perlu lagi mengantri sebab dokter itu Alden datangkan khusus untuk putri-putrinya.


"Jika saja kau memiliki rumah sakit, pasti kita tak perlu repot mengantri seperti kemarin," ujar Aqila.


"Baiklah, besok akan aku buatkan kau rumah sakit hanya khusus untukmu," seru Frans.


Aqila yang kesal pun mencubit pinggang suaminya, dia hanya bercanda tetapi Frans malah menseriusi ucapannya.


"Sudahlah, itu ruangannya. Ayo kita masuk." ujar Frans sambil menunjuk pintu yang tertera nama Dokter Andin.


Frans tersenyum, itu adalah nama perempuan. Frans dan Aqila pun mengetuk pintu dan masuk kedalam. Terlihat seorang dokter tengah membelakangi mereka.


"Oh kalian sudah datang?"


"Suara laki-laki?" batin Frans yang mulai tidak karuan.


Dokter itu membalikkan kursinya, dia tersenyum melihat kedatangan Frans dan Aqila. Frans pun kesal dengan Alden karena memberikan pada istrinya dokter laki-laki yang muda dan tampan.


"Kau dokter yang papahku rekomendasikan?" bingung Aqila.


"Iya, saya Dokter Andin. Kalian mau periksa kandungan bukan? silahkan berbaring saya akan menyiapkan alat-alatnya," ujarnya.


Dokter yang bernama Andin itu bangkit, dia segera menyiapkan alat untuk memeriksa Aqila.


"Ntar dulu, kok anda pria?" bingung Frans.


"Memangnya tuan Alden tidak bicara pada anda mengenai genre saya?" ujar Dokter Andin.


Frans menggeleng, dia akan menelpon Alden tetapi pintu ruangan kembali terbuka.


"Iya, aku mau periksa USG," ujar Aqila.


Lia dan Aqila pun duduk di depan meja dokter, sedangkan. Ezra dan Frans saling berbicara.


"Itu dokternya?" tanya Ezra sembari menunjuk Andin yang sedang menyiapkan alat.


"Iya, lu bingung? sama gue juga bingung," jawab Frans.


"Gue kira cewek, daddy kasih tau sih namanya ya gue kira cewek. Kalau tau cowok udah dari kemarin gue tolak," gerutu Ezra.


Mereka melihat Aqila dan Lia yang berdiri dan mendekati ke dua brankar yang memang telah di siapkan.


"Frans, USG tuh di buka loh bajunya. Gue mau bawa istri gue balik ah, enak aja perut istri gue di liat dia," ujar Ezra dan segera menghampiri Lia.


Frans pun terkejut mendengar penuturan Ezra, dia segera mendekati Aqila dan menyuruhnya pulang.


"Kakak tuh apa-apaan sih, aku mau di periksa ini loh," kesal Lia.


"Dokternya laki-laki ay, aku gak mau perut kamu di liat dia," ujar Ezra


"Kan cuma di periksa doang kakak, lagian dokternya cakep bisa aja kan anak kita gantengnya sama kayak dia," ujar Lia.


Ezra mengeraskan rahangnya, dia kesal dengan istrinya yang malah memuji pria lain. Ezra pun menggendong Lia paksa dan membawanya keluar.


"Hei, kenapa kau membawanya keluar?!" sentak Dokter Andin.


"Love ayo kita kembali saja, aku yang akan mencari kan dokter yang lebih baik dari dia yang terpenting itu wanita," ujar Frans dan menarik lengan Aqila tanpa memberi waktu sang istri protes.


Mereka berdua telah keluar dan meninggalkan Dokter Andin dengan kebingungan.


"Mengapa mereka keluar? apa mereka tidak jadi di periksa? aneh sekali," gumamnya.


***


"Kalian ini gimana sih, daddy sudah memanggilnya dan dia disini hanya hari ini saja. Kenapa kalian seperti itu," marah Alden pada dua menantunya yang sedang tertunduk itu.


"Dokter itu akan memegang perut istriku, Lia hanya milikku bukan miliknya," kesal Ezra.


"Benar, memangnya daddy mau jika mommy di periksa oleh laki-laki?" tanya balik Frans.


Alden menggeleng secara tak sadar, kemudian dia berdehem saat menantunya itu menatapnya dengan menahan tawa.


"Ekhem, maksud daddy kan dia di bantu oleh suster. Jadi dia tidak akan menyentuh,"


"Tapi akan melihat," seru Frans.


"Mana masih muda, aku yakin pasti dia belum menikah," kesal Ezra.


Alden hanya bisa menghela nafasnya, dia menduduki dirinya di sofa dan mengambil kopinya.


"Aku bisa mencari dokter kandungan untuk istriku sendiri, daddy tidak perlu repot-repot," ujar Ezra.


Saat Alden akan menjawab, terdengar bunyi teriakan dari taman belakang. Ketiga pria itu langsung saja berlari ke taman belakang.


"ASTAGAAAA!"


"Ada apa sayang, kenapa kau teriak?" tanya Frans pada Amora yang sedang membekap mulutnya sambil melihat ke arah atas pohon.


Amora tak menjawab, dia menarik kepala Alden untuk menghadap atas pohon. Alden pun membulatkan matanya melihat kedua putrinya yang sedang hamil besar tengah asik duduk di salah satu dahan pohon sambil memakan mangga.


"EZRA! FRANS! LIHATLAH ISTRI KALIAN ITU!"


"Mas, mereka berdua tengah hamil. Bagaimana bisa naik," bingung Amora.


Tatapan Amora jatuh pada tangga yang ada di belakang pohon, dia menepuk keningnya karena melihat hal itu.


"Oh astaga," gumam Amora.