
Ica mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi, sedari tadi Ica merasa tak enak. Dia merasa akan terjadi sesuatu dengan Frans.
CIIIITTT
BRAK!
Tiba-tiba saja ada mobil yang menghalangi jalannya, motor Ica menabrak trotoar jalan sehingga Ica pun jatuh.
Sekelompok orang berpakaian hitam mendekatinya sehingga Ica langsung saja bangkit walau badannya terasa sakit.
"Siapa kalian?" tanya Ica dengan aura gelapnya.
"Kami, kami penjemput nyawamu," ujar salah satu dari mereka.
Ica mengerutkan keningnya, dia menggaruk pelipisnya dan menatap mereka dengan tatapan bingung.
"Kok naik mobil? biasanya kan pake sayap," ujar Ica.
Para orang berpakaian hitam itu memdadak menyerang Ica, Ica oun dengan lihai melawan mereka.
Bugh!
Dugh!
Ica menghempaskan kedua orang dengan kakinya, dia kembali memukuli yang lain hingga mereka semua tumbang.
"Hah, untuk senjata gue gak keluar sia-sia. Kecil ini mah," ujar Ica.
Netranya melihat cahaya motor dari jarak jauh, sehingga Ica pun menoleh ke kanan dan kemari untuk mencari tempat persembunyian.
Ica menatap satu pohon, dan dia pun memanjat dan bersembunyi di sana. Terdengar sebuah motor berhenti tepat di bawahnya, Ica melihat dengan jelas jika ia adalah seorang pria.
"Kenapa kau mengirim anak buah yang lemah? mereka semua kalah karena wanita itu!"
Terdengar pria itu tengah memaki orang yang menelponnya, Ica pun memasang telinga guna mendengarkan lebih dalam.
Brak!
"ARGHHH! Gagal gue dapetin dia dan tahu siapa dia sebenarnya!"
"Kalau begini Ateez masih memiliki kekuatan selain King mereka,"
Ica merasa aneh, suara pria itu sangatlah familiar di pendengarannya. Sesaat Ica terdiam, dia tak sadar jika tangannya tergigit oleh semut, Ica pun terkejut dan menarik tangannya.
BRUGH!
"Aa-aaww," ringis Ica ketika dia terjatuh.
Tatapan Ica jatuh pada pria yang tadi, netranya membulat sempurna ketika melihat pria itu yang juga tengah melihatnya tak berkutik.
"Gibran?" lirih Ica.
Ica segera berdiri dan akan bersiap berlari, tetapi pria yang Ica lihat seperti Gibran pun menahan tangannya.
Ica menepis tangan tersebut, mereka lahirnya beradu dengan Ica yang mulai melayangkan pukulan.
Tangan Gibran akan menarik masker yang Ica gunakan, tetapi Ica malah menendang masa depan pria itu sehingga dia bisa melepas diri.
"ARGHHH!"
Ica berlari, sekuat tenaga. Tampaknya Gibran mengejarnya walau dia merasa kesakitan, mereka saling kejar mengejar di suasana yang sangat gelap. Jalanan sangat sepi hanya ada pohon yang berimbun di sisi dan kanan jalanan.
Gibran memotong jalan, Ica yang menoleh dan melihat Gibran tidak ada pun menghentikan langkahnya.
Ica meraup banyak udara, dia kesulitan bernafas akibat nafasnya yang tersenggal-senggal.
SREEKK!
Wangi parfum yang sanga familiar memasuki penciuman Ica, dia sangat hafal dengan wangi parfum ini. Detak jantung keduanya sangat terdengar jelas, entah karena lelah ataukah karena sesuatu yang tak bisa di jelaskan.
"Wah, kau kah itu Capo Ateez? sungguh hebat, lebih hebat lagi jika kau membuka maskermu itu," ujarnya di telinga Ica.
Ica berusaha melepaskan diri, Gibran berhasil menarik maskernya sehingga Ica langsung menutupi wajahnya dan mendorong Gibran dengan kencang.
Ica berlari sekuat tenaga ketika Gibran masih memegang cadar Ica. Sepertinya pria itu belum sempat melihat wajah Ica karena dia berlari mengejar Ica yang sudah sedikit jauh.
Suara helikopter terdengar, Ica melihat tali yang di turunkan. Dia langsung mengambil tali tersebut dan Helikopter pun membawanya menjauh.
Gibran berhenti sambil melihat kepergian Ica, dia memegang masker yang terlihat seperti kain di tangan Gibran.
"Sebenarnya siapa kamu," gumam Gibran.
***
"Jadi Gibran pria yang dekat denganmu itu adalah dalangnya?" tanya Geo pada putrinya yang tengah menunduk.
BRAK!
"Pantas saja pria itu paham jika kita sedang lalai, kau sering mengajaknya ke rumah kan?!" geram Geo pada putrinya.
"Aku ... aku hanya kerja kelompok saja pah, tidak lebih. Aku mana tahu jika dia akan berbuat hal seperti itu, orang dia masuk kuliah aja pakai beasiswa kok," bela Ica.
Geo memijat pangkal hidungnya, Ica tahu jika sang papah sangat kebanyakan pikiran. Ateez telah di serahkan pada dia dan Frans, Geo pun sangat jarang berada di markas.
"Kita akan menyerang mereka malam ini juga," ujar Geo.
Geo sudah mendapati dimana mobil mereka pergi membawa Frans, tentu hal itu dia dapat dari rekaman CCTV yang ada.
"Pah, kita tidak tau apa yang telah mereka lakukan dengan abang. Jika kita menyerang dan mereka malah melukai abang bagaimana? Aku takut," lirih Ica.
"Kamu gak usah takut karena ...,"
"Gibran orang yang sulit di tebak, bisa saja dia bertindak melewati batas. Papah tenang aja, Ica ... ica akan cari tahu karena dia tidak tau jika Ica adalah Capo di Ateez," sela Ica.
Geo tidak tahu apa yang ada di pikiran putrinya, tetapi jika Ica sudah berkata demikian pasti ada yang putrinya itu rencanakan.
"Apa rencanamu?" to the point Geo.
"Kita harus meminta bantuan mafia lain, jumlah kita dengan mereka hampir setara. Koneksi gangster Gibran sangat banyak, sebelumnya aku sudah cari tahu hal itu. Kita hanya akan menumbangkan banyak mafioso hanya deki satu nyawa saja," terang Ica.
Ica berdiri dari duduknya dan menatap sang papah yang juga tengah menatapnya.
"Tidak mudah membiarkan mereka untuk memberikan bantuan secara cuma-cuka kecuali kita menukarkan sesuatu yang berharga," ujar Geo.
"Hidupku ... aku akan menukarkan hidupku dengan menikahi Gibran," ujar Ica dan hal itu mampu membuat Geo malah menampar putrinya.
PLAK!
"APA KAU SUDAH GILA HAH?! APA PAPAH HARUS KEHILANGAN ANAK PAPAH YANG LAIN?! DENGAN MENIKAH DENGAN DIA SAMA SAJA KAMU MEMBERI NYAWAMU SENDIRI!" bentak Geo pada putrinya yang tengah memegangi pipinya.
Ica menangis, berapapun pukulan yang dia rasakan tidak sesakit apa yang sang ayah lakukan tadi. Dia juga tak tahu apa yang harus dia lakukan demi melepaskan abangnya.
"Abang hiks ... abang masih punya seorang putra, jika aku menikah dengan Gibran ... aku bisa menyelamatkan abang dari dalam. Jika nantinya Gibran mengetahui hao ini, usahaku tidak sia-sia karena abang kembali kepada keluarga kecilnya," isak Ica.
"Raisa ... jangan gegabah nak, pernikahan bukan hal yang main-main apalagi dengan dia ... putra dari seorang gangster. Pasti dia tidak jauh beda dengan ayahnya," ujar Geo dengan nada yang lembut.
"Pah, Bentley masih butuh ayahnya. Abang harus menyaksikan putranya tumbuh pah hiks ... selama ini abang telah banyak berkorban untuk Raisa, sekarang saatnya Raisa balas kebaikan abang," ujar Ica.
Geo menahan sesak di dadanya, dia memeluk putrinya ... Putri bungsunya dengan sangat erat.
"Pikirkan hal lain, jangan seperti ini," lirih Geo.