
"Tenapa pada numpul cemua di cini?" tanya Ravin pada Cia yang tengah menatap semua keluarganya yang ada di ruang keluarga dari lantai dua.
"Cia nda tau, mungkin daddy lagi adain bancos kali," jawab Cia.
Netra mereka menoleh menatap Raffa yang sedati tadi memerhatikan banyaknya keluarga Ravin. Cia tahu mungkin saja Raffa merasa aneh sekaligus malu jika harus kesana.
"Laffa mau ke mommy?" tanya Cia.
Raffa menggeleng, dia menunjuk ruang kerja Alden sehingga Cia paham apa yang mau di temui oleh bocah itu.
"Oohh daddy, daddy kan lagi ada ulucan. Ya kan Lavin," ujar Cia dan menoleh pada Ravin yang ternyata sudah tidak ada.
"Hah? Lavin temana?" bingung Cia.
Sedangkan Ravin, kini bocah itu memasuki kamar bayi. Sepertinya dia sudah sangat ingin melihat keponakannya itu, apalagi Sky.
Kreeett!
Ravin mengambil kursi, dia menaikinya untuk menggapai box bayi. Netranya melihat ketiga bayi itu yang sedang tertidur.
"Kecil banet, kayak kucing," ujar Ravin.
Dengan iseng, Ravin mencolek pipi gembul Elang. Seketika Elang terbangun karena memang bayi itu sangat mudah terbangun, mata tajamnya menatap Ravin yang sudah membuatnya bangun.
"Nda ucah melotot gitu! cantai aja kali liatna!" seru Ravin sambil meremas wajah Elang.
Elang merasa di sakiti sehingga dia menangis kencang, Ravin panik ketika mendengar teriakan Elang yang begitu keras.
"Dacal ulet cagu! ngadu aja keljana!" seru Ravin dan turun dari kursi.
Tetapi, keadaan tubuh yang berat membuat Ravin terjatuh.
BUGH!
"Eh, kenapa vin?" bingung Aqila ketika memasuki kamar bayi.
Ravin menggosok kepalanya, matanya sudah berembun ketika Aqila menanyakan keadaannya. Ravin berdiri dan menggosok kepalanya.
"Hiks ..m aku nda papa," ujar Ravin yang masih menggosok kepalanya dan beranjak pergi dari ruang bayi.
Aqila menatap kepergian Ravin dengan heran, sedetik kemudian dia kembali tersadar mendengar tangisan Elang.
"Eh, Elang kenapa sayang?" tanya Aqila dan menggendong Elang.
"Kenapa kak?" tanya Lia yang baru saja memasuki kamar bayi.
"Gak tau, tadi aku denger suara Elang nangis. Buru-buru kesini supaya yang lain gak bangun," ujar Aqila.
Lia mengambil alih Elang, dia berjalan menuju sofa untuk menyusui Elang. Sementara Aqila, dia menatap Bentley yang masih saja tertidur.
"Tumben banget, biasanya jak segini dia bangun minta susu," heran Aqila.
Aqila mengusap pipi gembul putranya, seketika Bentley bangun dan menatap sang ibu dengan mata polosnya.
"Eh," kaget Aqila.
"Tadi Bentley bangun kak, terus dia ngerasa haus. Berhubung di botol masih ada asi yang kakak peras, jadinya aku kasih aja," ujar Lia.
Aqila membulatkan mulutnya, pantas saja Bentley tidak terbangun. Tiba-tiba saja Aqila teringat akan Frans, bagaimana keadaan suaminya itu? apakah Frans tengah baik-baik saja?
Tap!
Tap!
Tap!
Terdengar banyak sekali langkah, Aqila yang penasaran pun mulai melihat keluar kamar. Banyak bodyguard yang berlari menuju tangga dan lift, dia terheran dengan hal itu.
"Aqila! cepat masuk!" seru Amora yang menggandeng lengan Cia dan Raffa.
"Kenapa sih mom?" bingung Aqila.
"Mansion di serang, cepat masuk!" seru Amora.
Aqila pun masuk di ikuti Amora, Amora langsung mengunci pintu dan meminta bantuan Aqila agar menggeser sofa ke arah pintu.
"Mom," panggil Lia.
"Pastikan kedua bayimu tenang Lia!" titah Amora.
Amora mengangkat Raffa yang ketakutan ke gendongannya, sementara Cia meremas erat baju yang Amora pakai.
"Ada apa ini mom?" heran Lia yang telah selesai menyusui Elang.
"Mansion di serang, daddy dan yang lainnya sedang menghadang mereka," ujar Amora dengan nada pelan.
Lia membulatkan matanya, apa karena musuh telah mengetahui jika mereka sedang ada di mansion ALden? terlebih bayi-bayi berada disini.
"Eh bentar dulu,"
Aqila dan Lia menatap Amora dengan bingung, terlihat Amora menghitung bayi kemudian Cia dan Raffa.
"Satu dua tiga, pas ... terus satu dua ... kayak berasa ada yang kurang gak sih? adem banget gitu rasanya? sunyiii ruangan," heran Amora.
Mereka menatap satu sama lain, biasanya pasti akan ada yang banyak berceloteh. Tetapi ini sama sekali tidak ada, Cia juga sedari yadi ketakutan dan meremas baju Amora.
"Mommy punya anak kecil berapa sih?" tanya AMora pada Aqila.
"RAVIN! ASTAGA!" sentak Amora yang baru teringat.
Sedangkan di tempat lain, kini Ravin bocah itu tengah melihat banyaknya pasukan yang tengah adu tempur.
Dugh!
BRAK!
DOR!
"Mobil lejen ep-ep," gumam Ravin.
Posisi Ravin yang di balik gorden, tidak membuat mereka melihatnya. TErlebih anak itu tengah menonton pertempuran di jendela besar yang langsung mengarah ke luar.
Netra Ravin melihat sang daddy yang tengah adu pukul, netranya membulat ketika melohat dari arah belakang daddynya terdapat orang yang melayangkan pisau.
"DADDY! DADDY!" teriak Ravin.
Namun sayang, Alden tak mendengarnya. Ravin pun bergegas berlari. Dia berjalan menuju pintu utama yang tertutup rapat.
Dua pun mencari celah dan melihat jendela yang sedikit terbuka, Ravin meloloskan dirinya lewat jendela itu.
Pria yang akan menusuk Alden masih mencari ancang-ancang, Ravin pun mendekat. Dia melihat selang air dan menyalakannya.
"Belaninya main tucuk belakang! dacal nda ada otakna!" kesal Ravin salbil mengarahkan selang itu pada mereka yang tengah berkelahi.
"HEI! APA-APAAN INI!" teriak salah satu dari mereka.
Alden berbalik, dia terkejut ketika melihat orang yang akan menikamnya. Alden pun memukul tangan orang itu sehingga pisau tersebut terjatuh, netranya menatap Ravin yang berlari menghampirinya.
"JANGAN KESINI!" teriak Alden.
Tatapan seorang pria yang memakai topeng jatuh pada sosok Ravin, dia mendekati Ravin dan menangkap tubuh mungil itu.
"Wah, ini yah penampakan bungsu Alden? sangat gendut," ujarnya seraya menatap Ravin.
Ravin sangat kesal, dia tengah saling berhadapan karena dirinya tengah di gendong dengan menghadap pria itu.
"Tulunin!" sentak Ravin.
"Cadel rupanya?" ujar pria itu.
"TULUNIN LAVIN BILANG! TONGE APA?!" bentak Ravin dengan keras.
Semuanya berhenti, keadaan hening dengan tatapan mengarah pada Ravin dan pemimpin musuh.
"Kau! kau berani padaku!" sentaknya.
"Citu kan mukana lebih jelek dali monet, kenapa Lavin halus takut?" ujar Ravin yang tidak sedikit pun takut dengan orang yang berada di hadapannya.
Alden melangkah mendekat, tetapi seseorang malah menodongkan pistol agar ia tidak bergerak.
"EH KAMU! LEPASKAN PUTRA SAYA!" teriak Alden.
Pria bertopeng itu menatap Alden, dia menyeringai ketika melihat wajah khawatir Alden.
"Kau takut putramu akan aku sakiti hm? kalau begitu ... kau pilih putramu atau tarik kembali anak buahmu yang kau kerahkan di mansion ketuaku?"
"MENJAUH!" teriak Alden yang mana membuat pria itu terlihat bingung.
"Gue saranin lu turunin bocah itu! menjauh bodoh!" sentak Alden.
Pria itu tertawa, dia menatap Ravin yang tengah menatapnya dengan wajah menahan amarah.
"Kenapa aku harus menjauh? cepat putuskan karena ...,"
"ARGHHHH!"
"Kan, gue bilang juga apa," lirih Alden.
Ravin mencolok mata pria itu dengan jari mungilnya, dia menendang kakinya ke arah masa depan pria itu. Teriakan histeris pria itu mau membuat yang lain meringis.
Ravin terjatuh karena pria itu menghempaskan tubuhnya, sikunya bedarah yang mana membuat dirinya bertambah kesal.
"DACAL NDA ADA OTAKNA! MAIN LEMPAL-LEMPAL AJA!" teriak Ravin.
DOR!
Netra mereka menatap ke arah gerbang, mobil-mobil berdatangan dan itu bukan dari musuh melainkan Miller keluarga Amora mengirim bala bantuannya yang lain.
"MAMPUC! MAKAN TUH BELADU!"
"RAVIN! kenapa kau ada disini? dimana mommy?"
ALden mendekati putranya, pasukan musuh juga sudah mundur akibat kalah jumlah. Alden membawa Ravin ke gendongannya dan melihat siku putranya yang berdarah.
"Sakit?" tanya Alden.
Ravin melihat lukanya, darah keluar lumayan banyak. Seketika Ravin mencebikkan bibirnya bersiap akan menangis.
"HIKS ... CEHALUSNA TADI LAVIN AMBIL CEKALIAN MATANAAA!"
senin nih, votenya jangan lupa kawanπππ