
Frans membuka pintu rumahnya dengan pelan, dia melirik kesana dan kemari dan tak menemukan dimana sang istri. Setelahnya Frans kembali menutup pintu dan melangkah masuk dengan cara mengendap-endap.
"Apa kau sedang menjadi maling di rumah sendiri Frans?"
Frans terdiam kaku, dia menolehkan kepalanya dengan perlahan. Senyuman canggung dia tampilkan pada istrinya yang kini tengah bersedekap dada di hadapannya.
"Eh Lo-Love," gagap Frans.
"Habis dari mana? sama siapa? kenapa baru pulang? tadi pergi jam berapa? kenapa gak ngabarin?"
Pertanyaan beruntun dari Aqila membuat Frans pusing, dia memegangi kepalanya dan hal itu membuat Aqila khawatir.
"Kenapa? kepalamu sakit?" panik Aqila sambil memegangi kepala Frans.
Frans tersenyum licik, dia mengubah ekspresinya menjadi menyedihkan.
"Iya sayang, sakit kepalaku. Disini, disini sakitnya," ujar Frans dan menunjuk belakang kepalanya.
Aqila membawa Frans duduk di sofa, dia membawa kepala suaminya ke pangkuannya. Tangannya dengan lihai memijat kepala sang suami.
Frans pun menikmati pijatan istrinya, dia menghadapkan wajahnya pada perut sedikit buncit Aqila. Dia menciumi perut itu, hal itu membuat Aqila berdecak sebal.
"Diamlah! itu geli!" kesal Aqila. Wanita itu pun menghentikan pijatannya, dia mengambil ponselnya dan menscroll IG miliknya.
Frans tak menghiraukannya, bahkan dia saat ini tengah memasuki kepalanya ke dalam kaos yang Aqila kenakan. Pria itu menduselkan hidungnya pada perut polos Aqila.
"Diamlah Frans, itu membuatku geli," ujar Aqila tanpa mengalihkan pandangannya.
Frans semakin menjadi, dia mengecup perut itu dan membuat Aqila tersadar.
"APA YANG KAU LAKUKAN!" sentak Aqila dan mengeluarkan kepala Frans dari bajunya.
BUGH!
Aqila menjatuhkan Frans, pria itu meringis sakit saat merasakan tubuhnya yang menghantam marmer.
"Awsh ... sakit Love," ringis Frans dan berusaha duduk.
"Dasar modus!" kesal Aqila dan pergi dari hadapan Frans menuju dapur.
Frans pun telah berdiri, dia mengikuti istrinya menuju dapur. Terlihat Aqila tengah lihai memasak, Frans pun mendekatinya dan memeluk wanita itu dari belakang.
"Frans!" kaget Aqila.
Frans menaruh kepalanya pada pundak Aqila, dia melihat apa yang istrinya itu masak.
"Aku kan udah bilang, jangan masak. Biar koki keluargaku aja kesini bawain kita makanan," ujar Frans.
"Istri kamu itu aku apa paman koki sih!" kesal Aqila.
"Loh, ya kamu dong," ujar Frans.
Aqila membiarkan Frans, dia kembali fokus pada masaknya. Tapi, bukannya berhenti membuat ulah malah sekarang pria itu menciumi pipi sang istri.
"Frans! bisakah kau tidak menggangguku!" kesal Aqila.
"Aku gemas dengan pipimu, semakin tembam saja," ujar Frans dan kembali menciumi pipi istirnya.
Aqila mematikan kompor, dia melepas lilitan tangan Frans pada perutnya dan membalikkan badannya.
"Jadi maksudmu aku gendut begitu?!" delik Aqila.
"Aku bilang pipimu tembam, bukan gendut loh," heran Frans.
Aqila mendengus sebal, dia membalikkan badannya dan menyelesaikan masaknya. Setelah itu dia menyajikannya di meja makan.
Frans pun duduk di meja makan dan menatap istrinya yang menyiapkan makan untuknya. Melihat wajah sang istri yang kesal, Frans pun menjadi takut untuk kembali berbicara.
"Makanlah," pinta Aqila dan menyerahkan piring berisi nasi dan lauk itu di hadapan Frans.
"Kau tidak makan?" bingung Frans ketika melihat sang istri yang hanya meminum air putih.
Aqila menggeleng, dia kembali menaruh gelas tersebut dan menatap Frans.
"Aku tidak nafsu makan, dan lagi pula kau bilang aku gemuk kan? dengan begitu aku akan kembali langsing, karena mengandung aku menjadi gemuk bukan?"
Mendengar perkataan sang istri membuat raut wajah Frans menjadi datar, pria itu menatap tajam Aqila yang sedang mengecek badannya yang kini terlihat semakin gemuk.
"Apa maksudmu?" tanya Frans dengan datar.
"Sebelum aku hamil, badanku selalu langsing Frans. Karena mengandung badanku jadi melar seperti ini, pasti kau juga akan menjadi ilfeel denganku," ujar Aqila.
"Jadi kau merasa terbebani dengan mengandung anakku?" dingin Frans.
"Maaf, bukan itu maksudku. Aku ...,"
Frans menyela ucapan Aqila dengan menyodorkan sesendok nasi ke hadapan mulutnya.
"Buka mulutmu, ini perintah!" tegas Frans.
Aqila membuka mulutnya, Frans pun menyendokkan nasi itu kedalam mulut Aqila. Aqila mengunyahnya dengan perlahan, dia takut saat Frans sudah serius seperti ini.
Mereka berakhir suap-suapan, Frans pun mengambil kembali makanan karena dia merasa kurang. Setelah habis, Frans meminum airnya begitu pula dengan Aqila.
"Kau mau kemana?" heran Aqila ketika melihat Frans beranjak menuju kamar mereka.
"Sebentar," ujar Frans.
Aqila mengangguk, dan tak lama Frans kembali dengan beberapa botol obat di tangannya.
"Obat apa itu Frans?" bingung Aqila.
Frans menduduki dirinya di samping sang istri, dia membuka botol obat dan mengeluarkan masing-masing satu kapsul.
"Makanlah." ujar Frans sambil menyodorkan obat tersebut di hadapan Aqila.
"Obat apa itu? jangan bilang kalau itu obat penggu ...,"
"Aku sudah berubah Aqila, ini obat penguat janin dan vitamin ibu hamil. Aku tidak mau kamu dan calon anak kita kenapa-napa, tenang saja ini berdasarkan resep dokter kandungan," sela Frans.
Aqila menurut, dia memakan obat itu dan menelannya dengan air. Frans pun membereskan bekas makan mereka dan membawanya ke dapur.
"Kamu mau ngapain?" bingung Frans ketika Aqila menyusulnya.
"Mau cuci piring," ujar Aqila.
Frans menarik lengan sang istri, dia membawa istrinya itu ke ruang tengah.
"Gak usah nyuci-nyuci begitu, aku udah panggil bi Rani untuk kesini. Dia yang akan membantu kamu ngurus rumah," ujar Frans.
Aqila sontak saja terkejut, "Jadi ... bi Rani adakah orangmu begitu?!" kaget Aqila.
"Yah, bisa di bilang begitu," ujar Frans.
Ingin rasanya Aqila meremas wajah Frans saat ini juga, dia sungguh kesal pada pria itu saat ini.
"Jangan marah begitu, dia yang ku perintahkan. Sudahlah, lebih baik kau makan cemilan," ujar Frans.
Frans menyandarkan tubuhnya pada kepala sofa, dia mengambil remot TV dan mencari Chanel yang cocok.
Aqila tak sadar menyandarkan dirinya pada dada bidang Frans, sehingga mereka tampak seperti suami istri yang harmonis pada umumnya.
"Pemirsa, telah di temukan seorang bayi di sebuah tumpukan jerami. Tampak bayi itu baru saja di lahirkan ...,"
"Hiks ... hiks ... hiks ...,"
Frans terkejut mendengar suara isakan, dia melirik sang istri yang kini sedang menangis akibat berita itu. Frans heran, ada apa dengan Aqila?
"Kasihan sekali hiks ... bayinya di buang hiks ... dia kan gak salah," isak Aqila.
Frans mengambil tisu di sebelahnya, dia menghapus air mata Aqila dengan telaten. Apa karena hamil membuat hati sang istri jauh lebih sensitiv?
"Aku akan mengganti chanel nya," ujar Frans.
"Jangan!" sentak Aqila sambil mengambil remot itu dan menyembunyikannya.
Frans semakin bingung, bukankah istrinya menangis karena tayangan itu?
"Padahal anaknya gak salah, mereka aja yang mau enaknya doang! kayak kamu!" ujar Aqila.
"Kok jadi aku juga yang? kan aku gak buang cebongku," bingung Frans.
"Cebong?" kaget Aqila.
Frans mengangguk, dia melirik perut Aqila dan kembali menatap sang istri.
"Kecebong, kan dia dari kecebong aku terus baru jadi bayi," ujar Frans.
Aqila mencubit perut Frans, dia tak terima sang anak dikatakan kecebong oleh suaminya sendiri.
"AKU KESEL SAMA KAMU HIKS ... KESEL! KESEL! KESEL!"
"Udah Love, sakitt aduh!"