
Frans memasuki markasnya, dia memutar-mutar bandul kunci motor di telunjuknya.
"Mana Capo?" tanya Frans pada mafioso yang berjaga.
"Izin menjawab king! Capo telah pergi, baru saja," jawab mafioso tersebut.
Frans mengerutkan keningnya, tadi Raisa menyuruhnya untuk segera kesini. Kenapa sekarang malah pergi? jika tahu seperti ini Frans lebih baik berada di rumah menikmati elusan istri tercinta.
"Ck, Yasudah! mending aku pulang saja," kesal Frans dan membalikkan tubuhnya.
"Tunggu King!"
Frans menghentikan langkahnya, dia membalikkan tubuhnya dan melihat Kenan berjalan santai ke arahnya.
"Lebih baik anda melihat jasad tawanan kita, dari pada terus menerus bersama istri tercinta anda itu," ujar Kenan
"Tawanan? memangnya masih ada tawanan? ku rasa semua tawanan sudah ...,"
"Kau melupakan satu tawanan, tawanan yang memang di titipkan padamu sebab dirinya yang sering kabur dan membuat ulah. Apa kau lupa?" tanya Kenan.
Tampak Frans berpikir, karena menurutnya dia tidak memiliki tawanan. Ketika dirinya berperang melawan mafia lain, semua tawanan dia serahkan pada pihak kepolisian sebab dirinya tak suka mengurus hal tak menguntungkan itu.
"Jefran Farellino, ketua gangster terkejam. Dia telah tiada karena overdosis obat penenang yang entah dia dapat dari mana, padahal aku hanya memberinya obat itu ketika dia mengamuk dengan cara menyuntikkannya dan itu pun sangat jarang ku lakukan," terang Kenan.
"Apa kau telah melihat CCTV?" tanya Frans dengan wajah dinginnya.
"Sudah, dan ada rekaman yang hilang. Apa mungkin ada tikus kecil yang bersembunyi disini King?" ujar Kenan dengan satu sudut bibirnya yang terangkat.
Frans langsung melangkahkan kakinya, dan Kenan pun hanya bisa mengikuti. Kenan sudah tau ke arah mana Frans melangkah, ruangan bawa tanah lah yang menjadi tujuannya.
Sesampainya disana, terlihat sebuah jenazah yang tertutupi kain putih. Frans mendekatinya dan menyibakkan kain putih itu untuk melihatnya.
"Kapan dia tiada?" tanya Frans.
"Semalam, kami menemukannya sudah tergeletak dengan mulut berbusa," ujar Kenan.
Frans kembali menutupi tubuh itu dengan kain putih, netranya menajam dan menjadi dingin.
"Kuburkan dengan layak, walaupun hidupnya banyak menyusahkan," ujar Frans.
Kenan mengangguk, dia lupa memberi tahukan Frans tentang Jefran. Sehingga Kenan pun menyusul Frans yang sudah berjalan lebih dulu.
"King! Jefran memiliki seorang putra," seru Kenan.
Seketika langkah Frans terhenti, dia membalikkan tubuhnya dan menatap Kenan dengan satu alisnya yang terangkat.
"Putra? aku baru tahu jika dia memiliki putra," ujar Frans.
"Sewaktu dia menjadi pemberontak di perbatasan, putranya telah menjadi agen intilijen. Namun, dia di keluarkan dengan tidak terhormat lantaran membocorkan informasi pada ayahnya itu," terang Kenan.
Frans terdiam, jika ayahnya mampu membuat aparat negara kewalahan bagaimana dengan putranya? pemberontakan satu tahun silam membuat banyak korban yang berjatuhan, bahkan beberapa mafiosonya meninggal akibat pemberontakan itu.
"Ezra, apa kau sudah menghubunginya? bagaimana pun juga kala itu dia ikut serta untuk menangani para pemberontak," tanya Frans.
"Belum, tapi ku rasa incaran awal adalah dirimu King! sebab ayahnya ada di tanganmu bukan pada jendral Ezra," jawab Kenan.
Jika begini, Frans harus menjaga ketat keluarganya. Pasti putra Jefran tak dapat di ragukan dengan keahlian liciknya yang terkenal di kalangan intilijen.
"Kirim beberapa anggota untuk selalu menjaga rumahku dari jauh, serta mansion Dominic." titah Frans sambil mengeluarkan ponselnya dari saku celananya.
"Jendral Ezra?" tanya Kenan.
"Dia kan punya banyak anak buah, ngapain aku sumbangkan anak buahku juga?" delik Frans.
***
Aqila tengah menunggu Frans pulang, sedari tadi dia mondar-mandir di depan pintu rumahnya menunggu Kedatangan Frans. Bentley sudah tidur sejak tadi, sementara dirinya belum bisa karena khawatir pada Frans.
Saat sedang menunggu Frans, Aqila terdiam kala mendengar suara tangisan kencang putranya. Tidak biasanya Bentley menangis sekencang ini, dan Aqila pun segera berlari ke kamarnya.
Aqila membulatkan matanya, dia melihat seorang pria yang tengah memegang kaki Bentley sehingga putranya itu tergantung bebas di udara.
"KAU! KAU APAKAN PUTRAKU!" sentak Aqila.
Pria yang memakai baju serba hitam pun menoleh, dua menaruh kembali Bentley dan mendekati Aqila.
"Wah, apa kau adalah istri dari King mafia itu? sungguh cantik! Tadinya aku mau melenyapkan bayi kalian agar dia merasakan betapa sakitnya aku ketika tahu jika ayahku mati di tangannya,"
Aqila tampak tidak takut, dia hanya sedikit kaget mendengar penuturan pria bertopeng di depannya ini. Netra coklat pria itu membuat Aqila semakin berani menatap pria itu dengan tajam.
"Apa lebih baik aku dan kamu ...,"
"Tutup mulut menjijikanmu itu tuan, kau tak lebih dari sekedar lalat yang memasuki rumahku. Apa kau belum merasakan pukulan wajan milikku? jika belum mari ku ajarkan bagaiman sakitnya!" ujar Aqila dengan tegas dan tanpa takut sedikit pun.
"Oh nona, aku takut," ujarnya dengan meledek Aqila.
Aqila menyeringai, tangannya menggapai sesuatu di balik lemari yang ada di sampingnya. Serasa dapat, Aqila oun menghantamkan benda itu pada kepala pria tersebut.
DUNG!
"ARGHH!"
"Sudah ku bilang bukan? aku akan mengajarkan mu bagaimana rasa sakit dari wajan kesayanganku," ujar Aqila dengan puas.
Aqila memang menyimpan wajan di kamarnya, tapi bukan wajan dapur melainkan wajan pajangan mahal yang dirinya punya.
DUNG!
"Ini buat kau yang membuat putraku bangun,"
DUNG!
"Ini buat kau yang membuat putraku menangis!"
DUNG! DUNG! DUNG!
"Ini buat kau yang telah membuatku sangat kesal!" seru Aqila dengan nafas yang memburu.
Sepertinya pria itu akan mendapatkan banyak benjolan, bahkan kini pria itu sudah tak sanggup menahan kesadarannya.
"SAYANG! AKU PULANG!" seru Frans yang berada di lantai dasar.
Aqila menatap pria itu yang tengah memegangi kepalanya, dia menoyor kepala pria itu sehingga pria itu tergeletak dengan tak bertenaga.
"Aku aduin kamu ke mas suami!" ujar Aqila dan beranjak untuk mengambil putranya yang menangis sesenggukan.
"Cup sayang, sudah yah. Kita temuin appa," ujar Aqila dan membawa putranya keluar kamar meninggalkan pria itu yang tergeletak tak berdaya.
Aqila melihat Frans yang baru saja selesai menaiki anak tangga, pria itu mendekati istrinya yang tengah menenangkan putranya.
"Ada apa dengan Bent? kenapa dia menangis hingga wajahnya memerah seperti itu," tanya Frans dan mengambil alih Bent dari gendongan sang istri.
"Ada tikus kecil di kamar, dia menyakiti putra kita," ketus Aqila.
Frans mengerutkan keningnya, dia segera berjalan cepat ke kamar mereka. Sesampainya disana, Frans tak memdapati siapa pun. Aqila juga terkejut karena setahunya pria itu sudah tak dapat lagi melarikan diri.
"Tikus kecil? mana?" tanya Frans karena dia tahu tikus yang di maksud oleh istrinya pastilah penyusup.
"Tadi aku memukulnya menggunakan wajan koleksiku, dia terkapar dan tak sanggup berdiri dan kenapa dia tidak ada?
Sementara di luar jendela, tampak pria berpakaian hitam itu bertahan di sisi tembok.
"Mengancam King mafia itu lewat istrinya bukan pilihan yang tepat, aku terlalu meremehkan lawan," gumamnya.