My Perfect Mafia Daddy

My Perfect Mafia Daddy
Part 61: 9 bulan menanti



Jam berganti jam, minggu berganti minggu dan bulan berganti bulan. Kini usia kandungan Aqila mencapai usia 9 bulan dan tinggal menunggu hari kapan dia akan lahiran.


Frans pun sedari awal bulan sudah mengambil cuti, dia harus siap siaga saat istrinya lahiran. Ane sudah menyarankan agar Aqila tunggal di mansionnya tetapi Aqila merasa rumahnya lebih dekat dari rumah sakit dan dirinya lebih nyaman di rumahnya sendiri.


"SAYANG!"


"LOVE!"


"DARLING!


Pagi ini Aqila begitu jengah, pasalnya dia hanya menyiram tanaman di depan rumah dan Frans sudah sibuk mencarinya.


Aqila pun membalikkan tubuhnya, dia melihat Frans yang berlari tergesa-gesa menghampirinya.


"Kamu ini kenapa sih Frans? panik begitu mukanya?" heran Aqila.


"Cepet kita siap-siap ke rumah sakit," pinta Frans.


Dahi Aqila mengerut. "Rumah sakit? untuk apa?" tanya Aqila.


"Lia mau melahirkan," jawab Frans dan menarik lembut istrinya memasuki rumah.


Aqila yang mendengar itu menjadi panik, pasalnya kandungan Lia lebih muda usianya dati pada kandungannya.


"Apa ada sesuatu yang terjadi? kenapa Lia melahirkan lebih cepat dariku?" khawatir Aqila.


"Entahlah, sebaiknya kita kerumah sakit. Jika kau lelah, lebih baik kita di rumah saja," ujar Frans.


"Tidak! aku mau ikut," seru Aqila.


Frans mengangguk, dia menuntun istrinya yang tengah hamil besar itu memasuki kamar setelahnya mereka bersiap akan pergi ke rumah sakit.


"BANG!"


Aqila dan Frans terkejut mendengar teriakan yang ada di rumah mereka, Frans pun keluar dan melihat Ica yang sedang memasuki rumahnya.


"Ngapain kamu kesini?" tanya Frans.


"Yaelah, kerumah abang sendiri masa gak boleh. Gue mau jengukin kakak ipar nih, kakak ipar gue mana?" ujar Ica dan bertanya dimana Aqila.


Saat Frans akan menjawab, Aqila pun muncul dengan tas di pegangannya. Dia mendekati Raisa dan Frans yang sedang berbincang.


"Loh Ica, kenapa kesini?" tanya Aqila.


"Tadi di suruh mamah kesini bawain jus buat kakak, tapi kayaknya lagi pada mau pergi nih," terang Ica.


"Emangnya kamu belum tahu kalau sahabatmu mau lahiran?" heran Frans.


Seketika Ica melototkan matanya, dia tak tahu mengenai hal ini.


"Lahiran? lahiran apaan, tadi pagi gue baru nelfon sama dia. Ngaco lu bang," ujar Iva tak percaya.


"Ngaco dari mana sih? tadi abang di telfon langsung sama Ezra," ujar Frans tak terima.


"Yaudah ayok bang kita kerumah sakit!" seru Ica dan menggandeng lengan kakak iparnya.


Frans yang melihat itu menatap Ica kesal, istrinya tengah hamil tua dan adiknya main seenaknya saja menggandeng.


Saat akan masuk mobil, Frans menatap heran baju hijau botol yang di pakai oleh istrinya tampak basah.


"Love, kamu ngompol?" heran Frans.


Aqila yang akan masuk mobil pun terhenti, dia mengernyit heran dan memegang bajunya.


"Nggak tapi kok basah yah?" bingung Aqila.


Ica melihat ke bawah, tampak jalanan yang mereka pijaki sudah basah.


"Masa sih kakak ngompol?" heran Ica.


"Iya, aku gak ngerasa kebelet pipis," ujar Aqila.


"Apa air dari selang yah?" tanya Frans.


Satu detik ...


Dua detik ...


Tiga detik ...


Mereka mencerna apa yang terjadi pada Aqila, dan Ica pun sadar apa yang terjadi pada kakak iparnya.


"KETUBANNYA PECAH! BANG! BINI LU MAU LAHIRAN B4NGKE!"


Frans membulatkan matanya, dia menatap Aqila yang juga terkejut.


"Kamu mau lahiran?" tanya Frans dengan lugu sekaligus terkejut.


"KALIAN ITU GIMANA SIH, CEPET KERUMAH SAKIT! BAYINYA MAU BROJOL ITU!" histeris Ica.


Tersadar dari kebingungan mereka, Frans pun langsung membawa istrinya masuk begitu pula dengan Ica yang duduk di samping kakak iparnya.


Frans pun menyetir mobilnya dengan kecepatan tinggi, tampak Aqila hanya santai tanpa beban.


"Kok lu gak heboh sih kak?" heran Ica, pasalnya setiap orang lahiran akan heboh karena teriakan sakit.


Aqila masih diam, dia baru merasakan pinggangnya yang panas dan perutnya yang sakit. Aqila pun menyentuh perutnya yang terdapat bayinya dan Frans.


"Frans bisa di cepetin lagi gak? perut aku sakit," ringis Aqila.


"Nah gitu kek! normal! cepet bang, kakak mau melahirkan. Kecebong lu gak sabaran ntu," seru Ica.


Frans pun menambah kecepatan mobilnya, entah hari ini keberuntungan bagi mereka atau bukan tampak jalanan sangat sepi.


"Akhh ... sakit hiks ... sakit ...," isak Aqila.


"Raisa kamu pegangin tangan kakak kamu takutnya di remas perutnya," pinta Frans.


Ica mengangguk, dia memegangi lengan Aqila yang mencengkram erat bajunya.


"Mau hiks ... mau keluar dedenya," ujar Aqila.


Frans dan Ica panik, mereka tidak bisa melakukan tindakan apapun pada Aqila.


"Gimana nih bang, adeknya mau keluar loh!" seru Ica.


"Suruh sabar dulu, bentar lagi sampai," ujar Frans.


Aqila merasakan perutnya yang semakin melilit, dia juga merasakan jika kepala bayi sudah hampir keluar sehingga Aqila pun mengambil tindakan dengan sendirinya.


"KAKAK MAU NGAPAIN?!" panik Ica saat melihat Aqila yang melepas celananya.


Aqila tak menjawab, dia masih berusaha mengeluarkan bayinya. Tampak kepala bayi sudah terlihat dan dia pun berusaha untuk mengejan.


"OEEEK ... OEEEKK,"


Frans menghentikan mobilnya, tubuhnya mematung dan matanya pun memerah. Sedangkan Ica masih tak percaya dengan apa yang dirinya lihat, di depannya kakak iparnya sedang memegang seorang bayi yang masih terdapat darah.


"Frans, kita langsung ke rumah sakit aja," ujar Aqila dengan nada lemahnya.


Dengan perlahan Frans menoleh, dia menatap Aqila yang tengah berusaha menyelimuti sang anak dengan selimut yang ada di mobil.


"Abang! cepat jalan!" seru Ica.


Frans mengangguk, dia menjalankan kembali mobilnya. Tak lama mobilnya pun sampai, Frans segera keluar untuk memanggil suster beserta dokter agar menangani istrinya.


Frans kembali ke mobil, dia membuka pintu dan membiarkan para dokter dan suster itu menangani istrinya.


Ica pun menelpon kedua orang tuanya dan juga Gio untuk memberitahu keadaan Aqila.


"Kami akan membawa nyonya ke ruang pemeriksaan," ujar sang dokter.


Frans mengangguk kaku, sedari tadi matanya tak lepas dari bayi yang di gendong oleh suster.


"Ayok bang kita ikut mereka," pinta Ica.


Mereka pun mengikuti Aqila yang sudah tertidur di brankar, dokter dan suster itu membawa Aqila masuk ke ruang pemeriksaan.


Setelah Aqila memasuki ruang itu, Frans dan Ica hanya bisa menunggu di depan ruangan itu. Mereka sedang harap-harap cemas dengan keadaan Aqila terlebih Frans. Hal Ini di luar rencana mereka.


"Bang, lu yang tenang. Kak Aqila gak papa, tadi liat sendiri kan kalau kak Aqila kuat dan bisa lahirin anak kalian sendiri?" ujar Ica berusaha menguatkan Frans.


Tiba-tiba mereka di kejutkan dengan teriakan seorang pria, tatapan mereka pun jatuh pada seorang pria yang sedang memegang jas dokter sambil berteriak naka istrinya.


"Maaf pak, istri anda kekurangan banyak darah saat melahirkan. Istri anda sudah tidak sanggup bertahan lagi," ujar sang dokter.


"GAK! GAK! KALIAN BOHONG HIKS ... ISTRIKU!"


Frans semakin takut melihat itu, dia melihat pintu ruangan sang istri yang belum juga terbuka.


"Tenang bang, kak Aqila kuat kok,"


"Gimana kalau nggak, abang gak mau jadi duda," ujar Frans.


Ica yang mendengar perkataannya menjadi bingung, sebab sang abang dari tadi membuatnya jengkel.


"Lu ngajak ribut yah bang?!" kesal Aqila.


_________


Maaf yah baru bisa up satu dari kemarin, jujur kemarin itu gak enak badan akunya😫😫. Ngelihat layar hp itu pusing banget, makanya gak bisa up banyak dan hanya sempat satu.


Sorry banget yah😓😓😓