
"DADDY! LAFFA KECEBUL!"
Alden yang sedang makan pun tersedak, dia segera berlari menuju kolam renang. Dan benar saja Raffa sedang berusaha untuk naik, Alden yang melihat itu tanpa pikir panjang segera menyeburkan dirinya.
"Ada apa ini Ravin?" tanya Amora yang baru saja datang.
"Nda tau, tadi Laffa jalan ke alah kolam lenang telus lompat ke cana," terang Ravin.
Alden berenang ketepian dengan Raffa di pelukannya, dia membawa Raffa ke tepi dan mendudukinya disana.
"Raffa gak papa?" panik Amora sambil mendekati Raffa yang masih terdiam.
Alden pun naik, dia menepuk pipi Raffa karena sedari tadi anak itu hanya terdiam. Bodyguard pun berlarian dan memberikan Alden handuk, mereka langsung melihat sekitar dan mengecek CCTV.
"Raffa sayang, jawab mommy," panik Amora.
"Bawa dia kedalam, gantikan bajunya," titah Alden dan membungkus tubuh Raffa dengan handuk.
Cia dan Ravin hanya menatap kejadian itu, mereka juga bingung kenapa Raffa seperti itu. Padahal sebelumnya mereka asik main sampai akhirnya Raffa melakukan hal tersebut.
Amora membawa Raffa ke gendongannya, dia segera masuk dengan diikuti Alden. Amora masuk ke kamarnya, dia segera menggantikan baju Raffa yang basah.
Sedari tadi anak itu terus diam dengan pandangan kosong, sedangkan Alden dia langsung masuk kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
"Raffa dengan mommy?" tanya Amora.
Raffa mengangguk, tetapi pandangan anak itu tetap saja kosong. Amora mengarahkan tangannya pada mata Raffa, mata anak itu berkedip tetapi seperti ada sesuatu yang anak itu fikirkan.
Amora memakaikan Raffa minyak telon, setelahnya dia memakaikan baju dan juga jaket untuk bocah itu.
"Raffa tunggu sini, mommy ambil susu Raffa dulu," pinta Amora.
Amora pun segera keluar dari kamar, dan tak lama Alden pun telah keluar dari kamar mandi.
Netranya melihat Raffa yang hanya memandang jendela kamarnya dengan kosong. Alden pun memasuki walk in closet untuk memakai bajunya.
Cklek!
Amira kembali ke kamar dengan satu botol susu ditangannya, dia mendekati Raffa yang masih seperti tadi.
"Sayang, minum susunya yuk," bujuk Amora dan duduk di samping Raffa.
Amora membawa Raffa ke pangkuannya, dia memasukkan ujung dot itu pada mulut Raffa. Raffa pun menyedotnya dengan perlahan, Amora dengan sigap mengelus kening bocah itu.
"Mommy," panggil Ravin yang baru saja memasuki kamar orang tuanya.
"YA sayang," jawab Amora.
Ravin mendekati mommynya, dia menatap Raffa sejenak dan kembali menatap sang mommy.
"Tadi Lavin udah lalang buat deket kolam, tapi Laffana nda mau dengel," ujar Ravin.
"Memangnya ada apa dengan Raffa?" tanya AMora sambil menatap penasaran pada Ravin.
"Tadi Laffa nanis, telus matanya lihat ke alah kolam telus. Lavin udah talik, eh malah Laffana dolong Lavin," ujarnya.
Amora mendengar cerita sang anak dengan sesama, dia terdiam dan memikirkan apa yang terjadi pada Raffa.
Netra Amora melihat Alden yang telah selesai berganti pakaian, pria itu mendekatinya dan duduk di sebelahnya.
"Cia mana?" tanya Alden.
"Lagi makan puding cambil nonton cocomelon," terang Ravin.
Alden mengangguk singkat, dia melihat Raffa yang sudah tertidur.
"Mas, kayaknya kita harus bicarakan ini dengan psikiater Raffa. Anak ini seperti sedang halusinasi," ujar Amora.
"Aku akan keluar untuk cek CCTV," pamit Alden.
Setelah kepergian Alden, Amora oun membaringkan tubuh Raffa dengan perlahan di atas kasur. Dia menepuk paha Raffa pelan, sementara Ravin tengah mencuri-curi pandang pada botol susu Raffa yang masih tersisa setengah.
"Mommy," panggil Ravin.
"Hm?" sahut Amora dan menatap putranya itu.
"Itu cucuna Laffa macih cica cetengah, buat Lavin aja yah? dali pada bajil," ujarnya.
Amora memutar bola matanya malas, sang anak pandai memanfaatkan situasi. Lihat sekarang, dia memakai kata mubadzir untuk mendapat kata iya dari sang mommy.
"Tadi Ravin sudah minum susu, dua botol lagi. Gak ah, bisa-bisa makin gendut kamu," tolak Amora.
"Dih, kok mommy begitu cih! Lavin nda dendut ya!" ujar Ravin tidak terima terhadap apa yang mommynya katakan.
"Coba sana ngaca, badan Ravin gendut apa nggak?" saran Amora.
Ravin mendelik, dia berjalan kecik mendekati cermin full body dan menatap dirinya.
"Nda telalu kok," ujar Ravin.
"Gendut gak terlalu maksudnya?" ledek Amora.
Ravin menatap sang mommy dengan wajah yang memerah, hidungnya kembang kempis.
"MOMMY TUH AJAK LIBUT LAVIN AJA TELUUUUSSS!"
Frans baru saja selesai gym, dia mengistirahatkan dirinya sambil mengecek ponselnya.
"Frans,"
Frans mengangkat kepalanya, dia tersenyum melihat istrinya yang sepertinya baru saja bangun tidur.
Aqila berjalan mendekati Frans, Frans pun menaruh ponselnya dan menduduki istrinya di pahanya.
"Kenapa terbangun? kau masih lelah bukan?" tanya Frans.
"Tentu saja! dan semuanya gara-gara kamu!" kesal Aqila.
Frans terkekeh, dia mengusap perut buncit sang istri. Tendangan sang bayi oun dia rasakan, awalnya dirinya kaget saat merasakan tendangan itu. Tapi kini dirinya sangat senang mengelus perut Aqila dan menerima tendangan dari buah hatinya.
"Kau senang bayi kita laki-laki?" tanya Aqila yang kini menyandarkan kepalanya pada bahu polos Frans.
"Tentu saja, dia akan menjadi penerusku fan akan menjadi seorang kakak untuk adik-adiknya. Awalnya aku takut jika dia perempuan," ujar Frans.
"Kenapa?" heran Aqila.
"Aku takut gagal menjaganya, aku takut ada orang yang menyakitinya terlebih laki-laki. Aku beluk sanggup menjaganya," terang Frans.
Aqila paham akan ketakutan Frans, dia pun mengelus rahang tegas suaminya.
"Bukankah dia mempunyai pahlawan?" tanya Aqila.
"Siapa?" heran Frans.
"Tentu saja kau, kau menyelamatkan banyak nyawa dengan mengorbankan dirimu apalagi putrimu nanti," ujar Aqila.
Frans tersenyum. "Mandilah, setelah ini akan ku ajak kau membeli kebutuhan baby kita," ujar Frans.
Aqila yang mencium aroma shoping segera berdiri, dia berjalan cepat keluar dari tempat gym menuju kamarnya.
Frans hanya bisa menggeleng melihat melakukan istrinya.
"Semua wanita sangat suka berbelanja," gumam Frans.
Waktu pun berselang, Frans dan Aqila sidah siap dan akan segera pergi ke mall. Mereka pun masuk ke dalam mobil dengan di supiri oleh Kenan.
"Perasaan gue itu sayap kanan Ateez, tapi kenapa gue jadi supir? berasa kekurangan duit gue," gumam Kenan yang terdengar oleh Frans.
PUK!
Frans memukul bangku kemudi Kenan. "Gak usah banyak drama, anterin kita aja. Siapa tahu di sana ketemu sama calon," ujar Frans.
Kenan pun melajukan mobil dengan wajah di tekuk kesal, Frans yang melihat hal itu terkekeh.
"Frans!" panggil Aqila.
Frans yang masih asik main ponsel tak menghiraukan panggilan istrinya.
"FRANS!" teriak Aqila.
"Apa sih?" sahut Frans dan menatap istrinya.
"Kok apa sih? biasanya juga kamu bilang apa sayang, gitu!" kesal Aqila.
Frans menghela nafasnya, dia merasa tidak ada yang salah dari dirinya.
"Kamu tuh cuek tau gak! sebelumnya aja kamu terus kejar-kejar aku, kasih aku hadiahlah. Perhiasanlah, sekarang aku panggil kamu cuek!"
Frans menatap Aqila, dia merangkul Aqila dan mendekati wajahnya. Frans pun berbisik pada telinga Aqila.
"Emangnya kamu pernah liat nelayan kasih umpan ke ikan yang tertangkap?"
Aqila yang kesal pun memukul mulut Frans sehingga pria itu terkejut sambil memegangi bibirnya.
"EMANGNYA KAMU PERNAH LIAT NELAYAN NIKAHI IKAN HAH?!"
Kenan pun hanya bisa tertawa melihat kelucuan dia orang itu.
"Makan tuh karma!" ujarnya.
_______________
Tadi aku sempat baca komenan yang mewakili banyak orang, jika membuat novel yang bagus itu tidak harus ada adegan dewasanya.
Setiap karya memang tidak ada adegan dewasanya, kenapa? karena aku tahu banyak pembacaku yang masih di bawah umur, walaupun kita para penulis sudah memberikan larangan tapi rasa penasaran mereka membuat mereka melanggar.
Novel yang banyak Adegan dewasanya itu selalu banyak peminatnya, sedangkan yang tidak ... pasti sepi pembaca kecuali jika dia menguatkan alurnya.
Sekarang banyak anak di bawah yang tercuci otaknya, mereka bahkan mengerti adegan dewasa. Maka dari itu setidaknya Author mengurangi hal seperti itu di dunia pernovelan dan menunjukkan pada kalian bahwa membuat novel yang bagus tidak harus ada adegan dewasanya.
Menanggung dosanya itu loh yang berat😓, untuk itu maaf sekali jika di novel author tidak ada adegan yang kalian harapkan🙂🙂🙂.
Walau begitu, Author membuat tokoh anak kecil agar kalian tidka bosan dengan alurnya. Jadi, tetap tunggu kelanjutannya🤗🤗🤗.
Apalagi kalau ada tiga bayi, pasti tambah rame tuhðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤