
"Abang yakin ingin membawa adiknya Mateo ke mansion kita?" tanya Laskar pada sang abang yang tengah membereskan barang-barang mereka untuk kembali nanti.
"Apa kau tidak dengar percakapan kami? Mateo masih harus sibuk mengurus perusahaannya dan membubarkan mafia Daniel. Tidak mungkin dia bisa memantau keadaan Raffa yang seperti itu," terang Lio.
"Apalagi Raffa sepertinya tidak takut pada mommy, hal itu sangat bagus sehingga kita bisa mengetahui keadaan Raffa dan menyembuhkan traumanya," sambung Lio.
Laskar tampaknya masih tidak terima, di mansion ada kedua adiknya. Dia takut kedua adiknya tak menerima Raffa dan mereka pun akan bertengkar.
"Kau tenang saja, pasti mommy bisa membujuk mereka," ujar Lio yang sepertinya mengerti akan kegelisahan sang adik.
Cklek!
Pintu kamar hotel terbuka, terlihatlah Meteo yang sedang menggendong Raffa menghampiri mereka berdua.
"Apa kalian sudah siap?" tanya Mateo.
"Sudah, apakah kau akan mengantar kami ke bandara?" tanya kembali Lio.
Mateo menggeleng, dia menduduki Raffa di kasur dan memberikannya coklat. Sehingga anak itu tidak rewel dan ketakutan.
"Aku tidak bisa, keadaan Frans masih perlu pantauanku. Bagaimana oun juga dia seperti itu karena aku, jika istrinya tau pasti aku akan habis di marahi," jawab Mateo.
"Tak masalah," ujar Lio.
Mateo berjalan mendekati Lio, dia menyerahkan sebuah kartu pada Lio. Lio pun mengerutkan keningnya sambil menatap kartu tersebut.
"Untuk apa?" heran Lio.
"Untuk keperluan adikku," ujar Mateo.
Lio menggeleng, dia mendorong sedikit kartu itu kepada Mateo.
"Kau lupa aku siapa?" tanya Lio.
Mateo menggeleng. "Tidak, aku tahu kau keturunan Wesley. Tapi anggaplah ini kebutuhan bulanan sebagai kakak untuk adiknya," ujar Mateo.
"Oke," pasrah Lio. Dia juga tidak mau membuat Mateo sedih.
Lio oun mengambil kartu hitam itu dan menyimpannya di dompet, setelah nya dia berpelukan singkat dengan Mateo sebagai salam perpisahan.
"Tolong jaga adikku, kabari aku jika sesuatu terjadi padanya. Aku akan berusaha untuk sering menelponnya," ujar Mateo.
"Kau tenang saja, adikmu akan di urus dengan orang yang tepat," ujar Lio.
Berbeda dengan Laskar yang sedari tadi mengajak Raffa bermain walau awalnya anak itu takut, tetapi Laskar membuat anak itu nyaman dengannya.
"Yasudah, kami akan berangkat," ujar Lio.
Mateo mengangguk, dia berjalan mendekati adiknya dan menggendongnya. Wajah penuh coklat itu membuatnya gemas, Mateo pun mengambil tisu basah dari sakunya dan membersihkan wajah sang adik.
"Ayo, aku akan mengantar kalian ke mobil," ujar Mateo dan berjalan lebih dulu.
Mereka oun keluar dati hotel, hingga sampai di mobil Lio yang terparkir Mateo pun mengucapkan salam perpisahan pada adiknya itu.
"Raffa dengan abang sayang, disana Raffa jangan nakal yah. Raffa nurut sama aunty Amora, okay?"
Raffa menggeleng, "Apa kau tak mau menemui wanita di ponsel tadi? kau ingin bertemu dengannya bukan? kalau gitu ikut mereka dan kau akan bertemu dengannya," ujar Mateo.
Raffa memiringkan kepalanya, dia mengingat Amora. Sehingga dia pun mengangguk, Mateo pun menciumi wajah adiknya. Rasanya dirinya tak sanggup harus berpisah sementara dengan adiknya itu.
Mateo menyerahkan Raffa pada Lio, anak itu pun tak menolak kala Lio menggendongnya.
"Jaga dia baik-baik," pinta Mateo.
Lio mengangguk, kemudian dia masuk dan duduk di samping Laskar yang sudah terlebih dahulu masuk.
Mobil mereka pun melaju, Mateo hanya menatap kepergian adiknya dengan sendu. Padahal dirinya baru bertemu dengan sang adik kemarin.
***
"Berhenti Ravin! jangan mengganggu paman koki masak!" kesal Amora, sedari tadi putranya terus merecoki para maid dan koki yang memasak.
Tak mendengarkan ucapan sang mommy, Amora pun terpaksa menjewer telinga sang anak yang tengah bermain spatula.
"Aa-aa cakit mommy, cakit mommy huaaa cakit,"
"Makanya mommy ngomong itu di dengerin, kalau kamu kena minyak gimana hah?! mau batal jadi good looking kamu!" kesal Amora.
Padahal Amora hanya memegang telinga sang putra dan tidak terlalu menekannya, tetapi Ravin sudah histeris seperti itu.
Amora pun melepaskan jewerannya, dia menatap Ravin yang tengah mengusap telinganya.
"Bandel lagi mommy jewer sampai telinganya melar, MAU?!" ancam Amora.
"Yasudah, cepat ke meja makan!" titah Amora.
Ravin pun langsung berlari ke ruang makan, dia sana sudah ada daddynya, Cia, Aurora dan juga Elbert beserta istrinya Audrey.
"Hahahah, pacti kamu abic di jewel cama mommy kan?" ledek Cia ketika melihat telinga Ravin yang merah sebelah.
"Nda ucah ledek, Cia duga kalau di ledek Lavin pacti nanis kan!" kesal Ravin.
Ravin berjalan menuju bangkunya yang ada di samping Cia, dia mengulurkan tangannya pada sang daddy agar membawanya ke kursinya.
Alden yang peka pun langsung membawa Ravin ke kursinya, dia menaruh sapu tangan di sela baju Ravin.
"Kakak tantik, nanti kita jalan ketaman yah," ajak Ravin pada Audrey yang sedang menatapnya.
"Ngapain?!" sinis Elbert.
"Lavin itu ngomongna cama kakak tantik, bukan cama anak kelbau," ujar Ravin.
Alden yang sedang meminum kopinya pun tersedak, sama halnya dengan Elbert yang terkejut.
"Berarti daddy kerbau dong?" ujar Elbert.
"Yang bilang begitu ciapa? kan abang cendili yang bilang, jadi calahna Lavin dimana?" sarkas Ravin.
Elbert terdiam seribu bahasa, Audrey pun hanya bisa tertawa melihat suaminya yang tak bisa melawan Ravin.
"Bang, kalau mau lawan Ravin harus ada mommy. Dia itu selalu kalah kalau udah ngomong sama mommy," ujar Aurora.
Ravin tersenyum puas, dia mengambil Anggur yang ada di meja dan memakannya.
Alden yang melihat hal itu segera mengeluarkan anggur itu dari mulut sang putra.
"Uhuk! uhuk! daddy apaan cih, untungna Lavin nda kecelek," kesal Ravin.
"Kamu kalau makan anggur liat-liat dong, ini itu anggur yang ada bijinya. Lupa kamu kemarin abis tersedak biji anggur huh?!" kesal Alden.
Ravin tersenyum, setelahnya Alden memberi Anggur hitam dan menyerahkannya pada sang putra.
Ravin memakannya dengan senang hati, Cia yang tak ingin tertinggal pun segera mengadahkan tangannya.
Alden juga memberikan pada Cia, setelahnya sarapan pun di bawa oleh maid ke meja mereka.
"Kok bubul lagi mommy?" bingung Ravin.
"Katanya Ravin suka sama bubur bayi, jadinya mommy buatkan lagi," ujar Amora yang kini telah duduk di samping Alden dan Ravin.
"Cuka cih cuka, tapi bukan cetiap hali juga mommyyy," gemas Ravin.
Amora mendelikkan matanya, Ravin pun meneguk ludahnya kasar dan memakan buburnya.
"Kau lihat, hanya sekali tatapan saja Ravin sudah takut pada mommy," ujar Elbert yang duduk di seberang mereka.
"Kau benar, andai aku memiliki adik pasti akan sangat seru," ujar Audrey.
"Ini belum seberapa, kau akan tahu semua sifat kedua beban itu ketika kau tinggal disni selama sebulan," bisik kembali Elbert.
Ravin merasa telinganya panas, dia menatap sang abang dan kakak iparnya yang tengah membicarakannya.
"Ngomong itu di depan olangna cini, kok belaninya main belakang. Dasal pentolan,"
"Ravin bicaranya!" peringat Amora.
"Abang juga ...," Ravin menghentikan ucapannya ketika melihat delikan sang mommy, dia kembali melihat makanannya dengan bahu yang lemas.
"Lavin lagi yang calah, celalu Lavin. Kayaknya benel kata om Alsel, Lavin itu anak tili," batin Ravin.
Mereka pun kembali fokus dengan makanannya, sampai akhirnya seorang bodyguard menyeru sesuatu.
"SELAMAT DATANG KEMBALI TUAN MUDA KEDUA DAN KETIGA,"
Ravin yang mendengar hal itu sontak turun dari kursinya, walau sempat terjatuh akibat kuris yang tinggi tetapi dia tak menghiraukannya.
"ABANG!" teriak Ravin sembari menuju pintu utama.
Langkah Ravin terhenti ketika melihat sang abang menggendong anak laki-laki seumuran dirinya. Dia memiringkan kepalanya dan menatap anak itu dengan pandangan bingung.
"Abang ke Amelika cuma buat pungut anak doang?"