
Bentley Harvey Gevonac, merupakan nama bayi darii King mafia Ateez. Bayi dengan bobot 3 kg itu menyandang nama mobil termahal yang Aqila pakai saat dia melahirkan.
Nama ini berdasarkan usulan dari Ane, dan Aqila pun setuju dengan alasan bayinya akan sangat senang dengan namanya.
"Apa kau kehabisan nama Frans?" tanya Ezra pada Frans yang menggendong putranya.
Setelah Aqila di perbolehkan pulang, Frans dan Aqila pun menjenguk Lia dan si kembar dan disinilah mereka berada.
"Tidak, bayiku lahir di mobilku. Lagi pula nama itu sangat cocok bukan?" ujar Frans.
"Biarkan saja bang, nanti abang buat generasi laginya di kebun strawberry milik oma. Nanti bayinya di namain dede tobeli biar impas," seru Lio.
Mereka semua tertawa kecuali Ezra yang menatap Lio kesal.
"Kalo buatna di kandang kelbo, namana dede kebo yah bang?" tanya Ravin yang mendengar percakapan orang dewasa.
Tatapan mereka tertuju pada Ravin yang tengah duduk di karpet dengan ditemani oleh Cia. Sementara Raffa berada di pangkuan Alden sedang pulas tertidur.
"Iyah, dulu Ravin di buatnya di gubuk. Seharusnya nama kamu itu dede gubuk, bukan Ravin," celetuk Laskar.
"Dih kok gitu cih! macak Lavin buatna di dubuk?! emang buatna Lavin gimana?!" marah Ravin dan bertanya pada Laskar.
Laskar akan menjawab, kemudian dia menggeleng tidak tahu. Netra keduanya menatap Alden yang sedang menatap Raffa.
Alden yang merasa di tatap pun akhirnya menatap kedua putranya dengan tatapan bertanya.
"Ada apa?" heran Alden.
"Daddy buat Ravin gimana sih? salah cetak yah?" tanya Laskar.
Alden mengerutkan keningnya, dia menatap sang istri yang sepertinya tidak mau tahu.
"Buat apa? Ravin? Ravin mah buatnya ...,"
"Ravin itu di titipin sama bangau, bangaunya datang ke mommy dan paruhnya ngasih Ravin. Terus jadilah Ravin," sela Amora.
"Bangau? bulung bangauna yang bawa Lavin?" bingung Ravin.
Amora mengangguk antusias, Laskar dan Aurora pun di buat bingung dengan jawaban sang mommy.
"Yang kamu jangan ajarin aneh-aneh ah," peringat Alden.
"Aneh gimana? emang benerkan Ravin itu dati bangau punya kamu," santai Amora.
"Punya daddy? daddy punya bulung bangau? kok Lavin nda pelnah liat?" tanya Ravin.
Amora menahan tawanya kala Alden tak sanggup menjawab, Sedangkan yang lain hanya bisa tertawa melihat keluguan anak itu.
"Sudah-sudah, Elbert apa istrimu sudah hamil?" tanya Amora pada putra sulungnya yang tengah bermain ponsel.
"Eh, belum mom. Kami masih berusaha," ujar Elbert dan tersenyum.
Amora mengelus punggung tegap sang putra, dia tahu betapa sangat inginnya Elbert menggendong bayi.
"Belum rezekinya, ya berdoa dan usaha semoga kalian cepat di karuniai seorang bayi," ujar Amora.
"Makasih mom," tulus Elbert.
Ane tertarik dengan pembahasan itu, sehingga di pun mendekati Amora dan Elbert yang sedang duduk di sofa.
"Maaf, apa tidak mencoba saja adopsi anak untuk pancingan?" tanya Ane.
Amora dan Elbert mengernyit bingung. "Anak pancingan? memangnya ada seperti itu?" heran Elbert.
"Ada, dan banyak yang berhasil," seru Ane.
Elbert menggelengkan kepalanya, dia tidak ingin merawat seorang anak hanya karena keinginannya. Dirinya takut setelah dia mendapat anak, dia akan menelantarkan anak adopsinya.
"Tidak tant, aku tidak mau. Kasihan anak itu nantinya," ujar Elbert.
"Kenapa abang tidak coba membujuk kak Audrey untuk merawat Raffa?" celetuk Lio.
Elbert terkejut, sontak saja dia menatap Alden yang sama juga terkejutnya.
"Kenapa kau tidak mencobanya dulu?" tanya Frans yang ikut menyambung.
Alden pun berdehem, dia tak bisa melepas Raffa begitu saja. Terlebih Raffa masih trauma terhadap orang sekitar, hanya Amora yang bisa menenangkan anak itu kala traumanya kambuh.
"Gak, gak bisa. Daddy gak bisa kasih Raffa untuk Elbert, Lio ... kamu sudah di amanahi oleh Mateo agar menjaga adiknya. Raffa sudah menjadi tanggung jawab daddy, dan lagi traumanya belum sembuh total," terang Alden.
"Daddy benar," ujar Lio.
"Ehm begini saja, kau bisa ikut program hamil dengan dokter Rena. Dia temanku dan ahli dalam bidang kehamilan. Kehamilan Lia pun di pegang olehnya, ketika kebanyakan dokter berkata jika janin Lia tak akan lama bertahan tetapi dia berkata tuhan itu ada. Kita bisa berusaha, kau coba saja dulu," ujar Ezra mencari solusi.
Elbert tampak berpikir, sedetik kemudian dia mengangguk.
"Kau kirimkan aku alamatnya, aku akan kesana bareng dengan Audrey," ujar Elbert.
Audrey memang tidak ikut untuk menjenguk Lia karema dia harus menghadiri acara keluarganya dan Elbert pun mengizinkannya.
"Bang, lu coba adopsi Ravin. Kan bisa mengurangi beban mansion tuh," celetuk Laskar.
"ABANG NDA ADA OTAKNA!"
***
Ini adalah malam pertama Bentley tidur di mansion Gevonac, Frans akhirnya memutuskan untuk Aqila agar tinggal di mansion Gevonac sementara.
"Dedeknya anteng yah?" tanya Ane.
"Iya mah, anteng banget. Nangis cuma karena haus, selebihnya hanya rengekan kecil," ujar Aqila yang kini tengah mengelus pipi bulat Bentley yang tertidur di kasur.
"Oh iya, kapan ayahmu datang?" tanya Ane.
Aqila tampak berpikir. "Belum tau mah, mungkin besok pagi. Ayah masih mengurusi pekerjaannya," terang Aqila.
Ane mengangguk, netranya melihat jam yang menunjukkan pukul 10 malam. Geo pun sedang ada di ruang kerjanya, sementara Frans entah kemana pria itu pergi.
"Kau tidurlah duluan, tidak usah menunggu Frans," ujar Ane.
"Iya mah," ujar Aqila.
Ane pun pamit kembali ke kamarnya, sedangkan Aqila menepuk paha putranya.
Cklek!
Netra Aqila melihat Frans yang memasuki kamarnya, pakaiannya berwarna hitam dan itu membuat Aqila bingung.
"Kau habis dari mana?" tanya Aqila sambil menduduki dirinya
"Aku akan bersih-bersih dulu," ujar Frans dan melepas jaketnya.
Frans menaruh jaket yang tadi dia lepas ke atas kasur, setelahnya dia memasuki kamar mandi. Aqila pun mengambil jaket hitam itu, seketika penciumannya menangkap bau sesuatu.
"Bau darah sama parfum perempuan," gumam Aqila.
Terlihat ada noda bercak darah, Aqila pun mendekati wajahnya untuk melihat.
"Ini darah luka atau ...,"
Cklek!
Aqila menaruh kembali jaket Frans, netranya menatap Frans yang keluar dari kamar mandi dengan handuk sepinggang dan rambutnya yang basah.
Frans berjalan mendekati ranjang, dia mengambil jaketnya dan membawanya ke kamar mandi, Aqila yang melihat itu semakin merasa aneh karena biasanya Frans akan selalu menaruhnya sampai Aqila sendiri yang membawanya ke mesin cuci.
Aqila pun menepiskan pikiran negatifnya, dia merebahkan dirinya di samping putranya, dan tak lama dia pun terlelap.
Tak berselang lama, Frans kembali keluar kamar mandi. Dia pun mendekati kemarin untuk mengambil bajunya dan memakainya.
Setelah itu Frans merebahkan dirinya di ranjang menyusul sang istri dan putranya yang sudah terlelap.
"Pasti kau menungguku, maaf," lirih Frans saat menatap wajah Aqila yang tertidur dengan damai.