My Perfect Mafia Daddy

My Perfect Mafia Daddy
Part 83



DOR!


DUGH!


BRAK!


TAP! TAP! TAP!


"KEPUNG AREA RUMAH SAKIT! PASTIKAN TIDAK ADA MOBIL YANG BERHASIL LOLOS!"


Banyak sekali mafioso yang berdatangan untuk mengepung rumah sakit, bukan hanya mafioso tetapi banyak juga orang bayaran yang di kerahkan oleh 3 keluarga.


"Ica, kamu cari keberadaan Frans sekarang!" sentak Geo.


Ica mengangguk, dia berlari dan mencari dimana keberadaan sang abang. Setiap kamar rawat dia selalu mengeceknya untuk memastikan apakah sang abang berada di sana.


Dirinya sangat yakin sebab telah mendapatkan informasi jika keberadaan sang abang berada disini, sehingga pagi huta seperti ini mereka sudah mengerahkan pasukan.


Pandangan Ica tertuju pada seorang pria yang tengah mendorong kursi roda, dia langsung berlari mendekati pria itu ketika menyadari jika ciri-cirinya sama persis dengan Gibran.


"GIBRAN BERHENTI ATAU ...," sentakan Ica terhenti ketika melihat jika pria itu bukanlah Gibran.


"Maaf," ujar Ica.


Ica kembali mencari, langkahnya terhenti ketika melihat tangga darurat. Ica pun menaikinya dan berlari ke arah rooftop rumah sakit.


BRAK!


Ica membuka pintu dengan kencang, pendengaran menangkap suara helikopter. Dan benar saja, helikopter tersebut akan di naiki oleh Gibran dan Frans yang terikat.


"GIBRAN! LEPASIN KAKAK GUE!" sentak Ica dan berlari ke arah Gibran.


Semua para bawahan Gibran menghalangi Ica, tetapi wanita itu tak tinggal diam dan menghajar mereka satu persatu.


Ica bahkan terluka akibat serangan, tetapi hal itu tidak ada kesakitan yang ia rasakan dibandingkan dengan keadaan sang abang yang sudah tidak berdaya.


Gibran terkejut melihat kelincahan Ica dalama menghadapi anak buahnya, gerakan perlawanan Ica sangat persis dengan wanita misterius yang pernah ia temui.


"Lepasin abang gue Gibran! lu gak berhak nangkap dia!" sentak Ica ketika dia telah berdiri di hadapan Gibran.


Gibran menyeringai, dia menatap Ica dengan raut wajah yang tak bisa terbaca.


"Gue gak berhak? abang lu juga gak berhak bunuh bokap gue!" sentak Gibran.


"ITU KESALAHAN BOKAP LU SENDIRI!" teriak Ica.


Gibran akan memukul Ica, tetapi Ica menepisnya. Mereka bertarung dengan Frans yang hanya menatap pertarungan itu dengan pandangan sayu.


Frans melihat sebuah revolver yang berada di dekatnya, dia menggeser pelan tubuhnya sehingga terjatuh dari kursi roda. Frans berusaha melepaskan tali yang mengikat tangannya, dan setelah berhasil Frans mengarahkan revolver itu pada Gibran.


CTAK!


Revolver itu terlempar akibat tendangan seseorang, Frans menatap orang tersebut yang tak lain ada Daniel.


"Kenapa kau tidak menembak dirimu sendiri anak muda?" tanya Daniel dengan seringainya.


Daniel menendang wajah Frans sehingga pria itu merasakan sakit yang amat, dia juga menginjak kaki Frans sehingga menimbulkan siara retakan.


"Kau selalu menghalangi ku untuk membunuh putramu, maka dari itu aku harus melenyapkanmu dulu!" sentak Daniel.


Daniel membawa tubuh Frans ke pembatas rooftop, dia mendorong Frans sehingga setengah badan pria itu melewati batas.


"FRANS!" teriak Elvio yang baru saja datang dengan Mateo.


"Pah, hentikan ini! Frans tidak salah apapun, justru papah yang salah!" sentak Mateo sambil mendekati Daniel.


Daniel sedikit menolehkan kepalanya, dia tersenyum melihat Mateo yang menemuinya tetapi dengan membela Frans.


"Dia telah melenyapkan mamahmu," ujar Daniel.


"Jangan berbohong, aku tau semuanya!" seru Mateo.


Mateo mendekati Daniel, tetapi papahnya itu malah menatapnya tajam dan semakin mendorong Frans.


"Anak yang kau sekap, dia adalah putramu. Putra kandungmu, bukan anak hasil selingkuhan mamah pah. Dia telah di rawat oleh keluarga Wesley, apa kau mau anak bungsumu tambah membencimu?" bujuk Mateo dengan halus.


"Dia bukan anakku!" bentak Daniel.


Mateo mengeluarkan sebuah kertas, dia memperlihatkan kertas itu tepat di depan wajah Daniel.


"Awalnya aku ragu, dan aku diam-diam melakukan tes DNA pada kalian. Ternyata benar dugaanku, Raffa adalah putramu!" ujar Mateo.


Daniel menggelengkan kepalanya, dia tertawa miris. Elvio yang melihat kelengahan Daniel segera mendorong Daniel dan menolong Frans.


Elvio yang berhasil menyelamatkan Frans segera memeriksa keadaan sepupunya itu.


"Frans kau mendengarku?" tanya Elvio dengan panik.


"Kau masih sanggup berdiri kan? ayo kita pergi dari sini," bujuk Elvio.


Frans menggeleng lemah, dia menunjuk kakinya seraya menatap Elvio dengan pandangan sendu.


"Mereka ... mereka telah membuat kakiku tidak bisa di gerakkan," lirih Frans.


"Jangan bercanda Frans!" sentak Elvio dengan menahan air matanya.


Elvio memeriksa keadaan kaki Frans, dia seorang dokter dan tentu tau apa yang terjadi pada Frans.


Elvio memukul kaki Frans dengan kencang, Frans merasakan sakit terbukti ketika pria itu meringis.


"Kau masih merasakannya?" tanya Elvio.


Frans mengangguk lemah, Elvio tersenyum senang. Saraf pada kaki Frans masih berfungsi, dengan begitu Frans tidak mengalami apa yang dia duga.


Frans oun di bawa oleh para suster dengan diikuti Elvio, mereka menggunakan kursi roda sehingga memudahkan untuk membawa Frans lebih cepat.


Ica dan Gibran masih bertarung, mereka mengeluarkan seluruh kemampuan mereka untuk menjatuhkan satu sama lain.


"Harusnya dari awal gue tau jika lu adalah biaya darat! gak ada otak!" sentak Ica.


"Ck, yang deketin gue kan lu duluan. Kenapa jadi gua yang salah," ujar Gibran dan menangkis pukulan Ica.


Brak!


Dugh!


Ica terjatuh akibat tendangan Gibran, dia meringis merasakan sakit diperutnya.


"Gimana kalau lu gue buat kayak abang lu juga? biar sama merasakan seperti bokap gue," ujar Gibran.


"Shhss, jika bukan karena abang gue ... lu pasti udah di jual sama bokap lu! dia yang udah buat ibu ku depresi!" ujar Ica mengeluarkan apa yang dia tahu.


Gibran yang tadinya akan mendekati Ica seketika terdiam, dia menatap Ica dengan pandangan rumit.


"BOKAP LU GAK SEBAIK YANG LU KIRA GIBRAN!" sentak Ica.


"Buktinya, ibu lu selalu nangis ... dia mengalami depresi kalau lu mau tahu. Saat itu lu dan bokap lu kemana? emang lu fikir siapa yang nolongin ibu lu waktu itu? abang gue yang bawa ibu lu berobat! bukan nyekap dia!" terang Ica.


Gibran terdiam, jantungnya berdegup sangat kencang. Ica yang menyadari hal itu menghela nafasnya pelan, setidaknya Gibran tak kembali menyakitinya.


"KAU! KAU HARUS TIADAA!"


Gibran dan Ica tersentak kaget ketika melihat Daniel yang mengarahkan sebuah revolver tepat padanya.


"PAPAH!"


DOR!


***


"Bagaimana keadaan Frans Elvio?" panik Aqila.


"Keadaan Frans kritis, dia ingin menemuimu," lirih Elvio.


Tanpa berlama-lama, Aqila memasuki ruang pemeriksaan. Dia melihat tubuh Frans yang banyak di di penuhi oleh alat-alat.


Aqila tak sanggup menahan air matanya, dia segera memeluk tubuh Frans yang tak memakai baju akibat alat-alat yang menempel di tubuh suaminya itu.


"Love," lirih Frans ketika ia melihat Aqila.


"Hiks ... hiks ... jangan menyiksaku seperti ini Frans, berjuanglah untu Bentley," isak Aqila.


Air mata Frans luruh, tangannya terulur untuk mengelus rambut sang istri.


"Aku lelah," lirih Frans hampir tidak terdengar.


"Gak, kamu gak boleh lelah. Bentley harus belajar jalan, dia harus belajar berbicara, dia jiga harus dia antar sekolah olehmu. Kau belum boleh capek dulu," ujar Aqila.


Netra mereka saling bertemu, mata sayu Frans menatap wajah istrinya yang tengah menatapnya khawatir.


"Bentley sakit hiks ... dia butuh kamu sebagai ayahnya, diapa yang akan menimang dia ketika dia menangis malam hari? aku ngantuk, yang bisa cuman kamu," isak Aqila.


"Elvio, dia bisa jadi Pengganti aku," ujar Frans yang mana membuat Aqila menatapnya marah.


"DIA BUKAN KAMU! AKU MAUNYA KAMU! AKU MAUNYA KAMU! JIKA KAMU TIADA, AKU AKAN MEMBUKA KEMBALI KANDANG BUAYA YANG AKU TUTUP DEMI KAMU!" teriak Aqila.


Frans tertawa hambar, dia terbatuk dan menatap Aqila dengan pandangan yang sama.


"Aku ayah yang buruk bukan?" tanya Frans.


Aqila menggeleng, dia menghapus air matanya dan menggenggam tangan Frans.


"Kamu ayah terbaik untuk putra kita, pasti saat besar dia akan berkata my perfect mafia daddy. Kau ayah terbaik yang dia miliki Frans," ujar Aqila.


"Aku hampir membuatnya tiada Love," lirih Frans.


"Itu karena kau tak sadar, sudah! kau harus berjuang, jangan membuatku menjadi janda. Mengerti!" seru Aqila.


Frans tersenyum hangat, Aqila merasakan jika senyuman Frans berbeda dari biasanya.


"Terima kasih, terima kasih untuk semuanya. Aku mencintaimu my love," lirih Frans


TUUUUTTT


"FRAAAANNSS!"


...TAMAT...


_________________


Hai-hai, gimana kabarnya nih? semoga selalu sehat yah🙂


Sebenarnya otor udah capek buat lanjutan karya di sini, cuman banyaknya pembaca yang menunggu sampe spam Up jadinya author lanjutin dulu deh nanggung juga.


Tamatnya gak jelas yah? iya, otornya ngaku kok kalau tamatnya gak jelas😌. Udah bingung gimana lanjutinnya soalnya😫😫.


Untuk Bonus Chapter ada, besok-besok author buat yah😌 biar gak ngegantungi para readers.


Terima kasih atas dukungan kalian untuk karyaku ini, mohon maaf yang sebesar-besar jika otor ada salah.


peringatan!


Di karya ini, yang buruk jangan kalian tiru yah! gak baik🙂🙂🙂 .


Oke sekian, jangan hapus dulu dari favorit karena akan ada bonchap.