
Ravin, bocah itu kini sudah mandi dan berpakaian rapih. Bahkan bedak sudah menjelaskan bagaimana bocah itu tampil segar sehabis mandi.
"Daddy!" panggil Ravin pada Alden yang bersiap ke kantor.
"Ada apa?" ujar Alden sambil membalikkan badan.
Ravin berjalan mendekati sang daddy, dia mengadahkan tangannya bermaksud untuk meminta uang. Alden yang mengerti menatap sang anak dengan raut kesal.
"Jajan mulu!" kesalnya.
"Ih! pelit banet cih! cuma docap doang duga!" gerutu Ravin dengan wajah kesal.
Alden mendelik menatap sang anak. "Di rumah banyak jajan, mau makan apa tinggal minta paman koki. Jangan kayak orang susah kamu!"
"Ish! lasana beda daddy! gemec cama daddy lah! di bilangna lasana bedaaa!" rengek Ravin.
"Iya beda karena pake micin, mau jadi anak micin kamu hah?! di kasih yang sehat malah minta yang lain," gerutu Alden.
"Nda papa, Lavin celing makan micin nyatana jadi pintal," ujar Ravin.
Alden memijat pangkal hidungnya, berdebat dengan putra bungsunya tidak akan selesai. Padahal putra-putrinya yang lain tidak suka makanan luar, tetapi karena bocah itu selalu main dengan anak lain jadi seperti ini.
"Ada apa ini?" tanya Amora yang baru memasuki kamar dengan membawa kopi Alden.
"Urus anak kamu yang, mau jajan lagi dia. Pernah masuk rumah sakit karena tipes, sekarang mau jajan sembarangan lagi," jengah Alden.
Amora menatap Ravin yang tertunduk, dia lebih takut jika sang mommy marah. Amora pun memberi Alden cangkir kopi dan mendekati putranya.
"Jangan jajan dulu yah, Ravin kan gak bisa jajan aneh-aneh. Ravin mau makan apa, nanti mommy buatkan," bujuk Amora.
"Huh, nda jadi," ujar Ravin dan beranjak keluar kamar orang tuanya. Alden dan Amora pun hanya bisa menggelengkan kepala mereka akibat ulah sang putra.
Ravin berjalan lesu menuju kamarnya, dia berpapasan dengan Lio yang akan berangkat kuliah.
"Kenapa tuh muka, lecek amat?" heran Lio.
Ravin mendongak, matanya kini berkaca-kaca menatap Lio. Lio yang heran pun segera menggendong sang adik untuk menenangkannya
"Kenapa hm?" tanya Lio dengan lembut.
"Tadi ... tadi Lavin minta uang ke daddy, tapi daddy nda kacih," adu Ravin.
"Mau bangkrut kali makanya pelit," celetuk Lio.
Ravin melengkungkan bibirnya kebawah, Lio heran apakah dirinya salah bicara?
"Janan bangklut hiks ... nanti Lavin nda jadi lich juniol," isak Ravin.
Entah saat ini Lio harus panik atau tertawa mendengar ucapan sekaligus tangisan sang adik. Dia membawa adiknya turun ke lantai satu agar orang tuanya tak mendengar tangisan sang adik.
"Nih abang kasih uang, tapi jangan bilang daddy okay," ujar Lio dan menurunkan sang adik. Dia mengeluarkan dompetnya dan mengambil uang berwarna cokelat.
"Itu duit belapa abang?" heran Ravin.
"Goceng." ujar Lio seraya memberikan uang itu.
Ravin melihat uang tersebut, netranya menangkap angka lima dan 3 nol. Dia menatap sang abang dengan kesal.
"Kok cuma lima libu? pelit banget cih! mana cukup buat beli batagol, bayal palkil aja kulang!" gerutu Ravin.
"Eeee nih anak, udah di kasih malah ngelunjak yah! yaudah kalau gitu sini balikin!" tagih Lio.
"Ya nda boleh, olang udah di kacih maca di ambil lagi. Nda papa lah, bica beli cetengah polci. Kalo ada abang El pacti di kacih gocap," ujar Ravin.
Lio mendelik tak terima, dia akan memarahinya. Namun, Ravin sudah keburu lari keluar mansion. Lio pun hanya bisa menggelengkan kepalanya karena melihat tingkah sang bungsu.
"Lu kenapa kasih dia uang bang, ntar daddy marah loh," ujar Laskar yang ternyata melihat interaksi mereka
"Kalau nangis, gue yang di omelin. Pilih mana lu?" kesal Lio dan berangkat ke kampusnya.
Laskar menggelengkan kepalanya, dia menoleh ketika mendengar suara lift terbuka. Senyumnya terangkat ketika melihat Cia dan Aurora yang baru saja keluar dari lift.
"Abang mau kemana?" heran Aurora karena melihat penampilan rapih sang abang.
"Mau ke mansion Gevonac," ujar Laskar.
Aurora memicingkan matanya, dia tahu apa yang akan abangnya lakukan disana.
"Bukan, ada satu hal yang harus aku urus," ujar Laskar.
"Apa?" tanya Aurora.
"Meretas sistem hacker bernama Sachi, semua peretas keluarga Gevonac turun tangan. Sachi menyerang sistem mereka untuk mengancam agar tidak mencari tahu siapa dia sebenarnya," terang Laskar.
Laskar menatap adiknya itu dengan heran, mengapa Aurora tampak terdiam dengan wajah mematung. Laskar menjentikkan jarinya tepat di depan wajah Aurora
CTAK!
"Hei, ada apa? ada hal yang mengganggumu?" heran Laskar.
"Aah tidak." ujar Aurora seraya mengerjapkan matanya.
Laskar mengangguk, tapi dia agak ragu dengan ekspresi Aurora. "Abang berangkat sekarang," ujar Laskar.
Aurora mengangguk, dia menatap kepergian Laskar dengan raut wajah tak terbaca. Sampai akhirnya, sebuah tangan mungil menaruh bajunya sehingga dia menunduk untuk melihatnya.
"Kakak, Cia cucul Lavin yah?" pinta Cia.
"Baik, pergilah," ujar Aurora dan mengelus rambut kuncir dua sang adik.
Cia pun berlari keluar, dia melihat Ravin yang baru masuk gerbang kembali dengan menenteng bungkus jajanan.
"Kok Lavin jajan Cia nda di ajak?" kesal Cia saat Ravin sudah sampai di hadapannya.
"Nda di ajak kan Lavin cudah belikan catu untuk Cia, nih." ujar Ravin seraya memberikan satu bungkus untuk Cia.
Cia menerimanya dengan senang, dia dan Ravin duduk di batu pekarangan mansion sambil memakan batagor itu.
"Batagolna mulah loh, cuma dua libu. Nih macih cica celibu," ujar Ravin dan menunjukkan uang seribu.
"Tlus itu es dali mana?" tanya Cia pada tangan Ravin yang memegang plastik es.
Ravin menyedotnya, setelah itu dia menatap Cia sambil tersenyum.
"Tadi di citu ada om-om, telus bilang kalau cium dia dapat ec. Lavin cium telus di kacih ec," cerita Ravin.
"Dih! kok kamu mau! mana omna, bial Cia malahin!" ujar Cia dan menaruh batagornya di pangkuan Ravin.
"Di cana, di lual pagal," ujar Ravin.
Cia segera berlari ke luar pagar, tak lama Cia kembali memasuki pagar sambil memegang es yang sama dengan Ravin. Dia menyedot es itu sambil berjalan riang.
"Cia dapet duga?" heran Ravin.
"Iya dong," seru Cia.
Cia pun mengambil kembali batagornya dan kembali memakannya, para bodyguard yang melihat interaksi mereka seketika melongo.
"RAVIIIN!"
Ravin dan Cia tersentak kaget, mereka kelabakan saat mendengar teriakan Alden terlebih Ravin.
"Itu daddy, itu daddy! cini batagolna umpetin dulu janan campe kelihatan daddy," seru Ravin.
Cia memberi es dan batagornya pada Ravin, Ravin pun menyembunyikan batagor dan es itu di balik pot besar.
Ravin dan Cia pun masuk menghampiri Alden, mereka melihat Alden yang menahan kekesalannya.
"Ada apa?" heran Ravin.
"Jam tangan mahal daddy mana? kemarin kamu mainin kan?" selidik Alden.
Ravin mengangguk, dia menarik lengan sang daddy menuju taman belakang. Ravin menunjuk kolam ikan seraya menatap sang daddy.
"Kemalin Lavin taluh di citu, eh ci ikanan telnyata cuka cama jam tangan daddy. Jadina Lavin lempal ke cana," ujar Ravin.
"Ka-kamu ... lempar kesana?" gugup Alden yang di balas anggukan oleh Ravin.
Alden berjongkok, dia mengacak rambutnya frustasi. Amora pun hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku putra bungsunya.
"Hanguslah duit sepuluh M gue," lirih Alden.
Jangan lupa like komen hadian dan votenya kawan😘