My Perfect Mafia Daddy

My Perfect Mafia Daddy
Part 24: Siapa?



"Udah siap?" tanya Frans yang baru saja masuk kamar dan melihat sang istri sedang memainkan ponselnya.


"Belum," sahut Aqila tanpa melepas pandangannya dari ponsel.


"Kok belum? kan udah di tungguin yang lain Love, Ezra sama istrinya malah udah pulang begitu juga sama keluarga mereka." ujar Frans sambil menatap Aqila bingung.


Aqila pun mengalihkan pandangannya dari ponsel, dia menatap kesal ke arah Frans yang sedari tadi mengganggunya.


"Terus kenapa? lagian kita juga beda arah, mommy sama papah tadi udah pamitan sama aku. Kalau ayah kan masih mau ikut kita karena stay di indo, kamu tau itukan?" heran Aqila.


"Ayah stay di sini? memangnya perusahaan di sana ada yang handle?" tanya Frans.


"Di sini kan ada perusahaan cabang, ayah bisa mengurus perusahaannya disini. Dan lagi pula disana ada tante aku yang ngurus, kamu tenang aja deh," seru Aqila.


Frans menggaruk tengkuknya yang tak gatal, dugaannya jika Gio menetap di indonesia maka Frans tak akan bebas karena selalu di awasi oleh orang tuanya.


"Tenang aja, ayah disini sampai kasus om kamu itu selesai. Dia akan tenang kala orang itu berhasil di vonis penjara seumur hidup!" ucap Aqila.


"Maksudnya?" bingung Frans.


"Ck! lemot banget sih otaknya! mana bisa seorang ayah melepas orang yang membuat masa depan putrinya berakhir hancur seperti ini? beruntung kamu mau tanggung jawab, jika tidak sudah di pastikan ayah tak akan melepas dirimu tenang begitu saja," ujar Aqila.


Setelah mengatakan itu Aqila keluar dati kamar meninggalkan Frans yang kini terdiam karena ucapan Aqila. Dia merasa tersindir dengan apa yang istrinya itu ucapkan.


"Yah ... aku telah menyesalinya, andai saja aku tak menjadi pria yang egois dan bodoh mungkin kau masih memaafkanku. Tapi ... biarlah aku memperbaiki semuanya dari nol denganmu," lirih Frans.


"Jika dulu kamu mengejar-ngejar cintaku, biarkan kali ini aku yang berusaha mengejar cinta mu," sambung Frans.


Sedangkan di ruang tengah, Aqila tengah asik mengemil sambil melihat drama favoritnya bersama Ica. Mereka terlihat asik sampai tak menyadari jika Ane menatap mereka dengan heran.


"Kalian kenapa belum siap juga? kita mau pulang loh!" kesal Ane.


Ica menengok ke arah sang mamah. "Sedari tadi kita udah siap, tapi kalian pada lambat!" gerutu Ica.


"Yasudah sekarang bersiaplah kita berangkat, papah sudah ada di mobik. Dan Aqila, susu yang ada di meja sidah kamu minum?" ujar Ane dan beralih menatap Aqila.


Aqila menepuk keningnya, dia lupa meminum susu yang sudah Ane siapkan. Dengan segera dia berlari dan membuat suara pekikan Ane beserta Ica karena khawatir melihat Aqila berlari seperti itu.


"Ada apa sih mah? kok pada histeris begitu?" heran Frans yang baru saja turun lewat tangga.


"Kamu lihat istri kamu, dia berlari ke arah ruang makan. Mamah takut, apalagi janinnya masih kecil," sahut Ane.


Frans terkejut, dia segera menyusul sang istri ke ruang makan, netranya menangkap sosok yang dia khawatir kan tengah minum susu dengan perlahan.


Frans oun mendekati Aqila, dia menunggu Aqila selesai minum susunya. Setelah selesai, Frans mengambil tisu fan mengarahkan wajah Aqila menatap dirinya dengan jari telunjuknya.


"Habis ini kita langsung masuk mobil, apa kau perlu mengambil cemilan disini untuk perjalanan pulang?" tanya Frans sambil membersihkan sisa susu di sudut bibir Aqila.


"Tidak, aku ingin membeli di jalan saja. Bolehkah kita pulang mampir ke toko kue langganan ku? Aku sangat ingin memakan cheesecake," pinta Aqila.


Frans mengangguk, dia berjalan menuju tempat sampah dan membuang tisu tersebut. Setelah nya dia kembali mendekati Aqila dan menggandeng istrinya itu keluar dari ruang makan.


***


Selama perjalanan Aqila sangat mengantuk, bahkan kepalanya sampai terkantuk akibat tak kuat menahannya.


Gio membalikkan tubuhnya, dia menatap Aqila dengan senyum tipis. Setelah dia beralih menatap Frans yang tengah sibuk dengan laptopnya.


"Putriku mengantuk, tolong peka sedikit mantu!" bisik Gio yang duduk sebelah supir.


Frans mengangguk, dia menaruh laptopnya dan beralih mendekati duduknya dengan sang istri. Setelahnya dia membawa tubuh Aqila bersandar pada dada bidangnya.


"Syutt, tidurlah," ujar Frans.


Setelah di rasa Aqila terlelap, Frans beralih menatap jalanan. Dia teringat jika Aqila sangat ingin memakan kue, tapi dia tak tahu dimana toko kue yang Aqila maksud.


"Yah, apa kau tau dimana toko kue langganan Aqila?" tanya Frans dengan nada rendah.


"Tidak, kita belikan saja yang dekat sini. Mungkin juga rasanya tak jauh beda," ujar Gio.


Frans mengangguk, dia mengelus rambut istrinya dan beralih memindahkan laptop kembali ke pangkuannya.


Dia harus menyiapkan pekerjaannya agar tak menumpuk, dia harus menyelesaikannya agar tak lembur dam bisa memantau sang istri. Bahkan beberapa proyek harus dia batalkan lantaran dirinya harus fokus dengan Aqila dan kehamilan Aqila.


"Yah," panggil Frans saat dirinya ingat sesuatu.


"Hm," sahut Gio dan menolehkan kepalanya sebentar.


"Tadi Aqila bilang jika dirinya tak ingin tinggal di mansion, aku memang memiliki rumah yang terlihat tak terlalu besar tapi juga tak kecil. Rumah dengan nuansa modern dan juga bertetangga,"


"Aqila tidak ingin tinggal di mansion?" tebak Gio.


Frans mengangguk, saat pagi tadi Aqila mengatakan keinginannya. Awalnya Frans berat, terlebih jika dirinya bekerja Aqila akan sendiri di rumah.


"Itu keinginannya sedari dulu, menurutnya hidup bertetangga sangat menyenangkan. Jika di mansion, apalagi mansionmu yang bertetangga dengan pohon pasti dia tak akan suka. Begini saja, kau ajak dia ke rumah yang kamu maksud. Suka atau tidaknya dia, kita pikirkan nanti,"


"Baiklah," pasrah Frans.


"Hm ... dan sebenarnya ayah tak bisa menetap terlalu lama di sini, tapi Aqila memaksa untuk ayah tinggal di dekatnya selama dia hamil. Kakek Aqila tengah sakit, tapi aku ragu untuk meninggalkan Aqila disini," terang Gio mengeluarkan keluh kesahnya.


Frans terdiam, netranya melirik sebentar ke arah sang istri yang tertidur pulas. Setelahnya dia menatap lurus ke depan memikirkan apa jalan yang mereka ambil.


"Berapa lama kau bisa menetap?" tanya Frans.


"Sekitar dua sampai tiga hari," jawab Gio.


"Untuk Aqila, aku bisa berusaha membujuknya walau sepertinya aku ragu. Jika kau ragu meninggalkannya karena aku, aku tak apa menjaga jarak dengannya. Bahkan kami akan tidur di kamar terpisah jika nantinya Aqila akan takut padaku,"


"Jangan, jangan jaga jarak dengannya. Dia akan berpikir jika dirinya melakukan kesalahan, dia adalah orang yang selalu berpikiran overthinking. Kau pasti tau itukan? dan untuk kau sekamar dengannya atau tidak, itu hak kalian. Jika nantinya putriku masih memiliki trauma terhadapmu ... ku harap kau tak memaksanya," ujar Gio.


Frans mengangguk patuh, tak.lama mobil mereka terhenti dan Frans pun tak sengaja melihat toko roti di sebrang jalan.


"Yah, aku keluar sebentar. Disana ada toko roti, aku akan membelikan kue keinginan Aqila," ujar Frans dan membenarkan letak tidur Aqila dengan cara menurunkan kursinya.


Gio mengangguk, setelah itu Frans keluar dari mobil setelah memastikan Aqila nyenyak kembali. Dia menyebrang jalan dan memasuki toko roti tersebut.


"Halo, selamat datang di Sugar Bakery. Ada yang bisa kami bantu?" tanya sang pegawai menyambut kedatangan Frans.


"Saya ingin memesan cheesecake 3, dan juga ... macaron satu kotak seperti itu," ujar Frans dan menunjuk macaron yang terlihat di etalase.


"Baik, mohon di tunggu," ujar pegawai toko tersebut dan pergi dari hadapan Frans.


Frans pun duduk di bangku tunggu, dia memainkan ponselnya. Saat sedang asik, dirinya terkejut dengan tepukan di bahunya.


"Frans?"


Sontak saja Frans menoleh, dia menatap orang yang menepuknya. Seorang wanita cantik dan berpakaian modis.


"Cleo?" kaget Frans.