My Perfect Mafia Daddy

My Perfect Mafia Daddy
Part 23: Malam pertama



Malam hari, acara pun telah selesai. Kini, mereka telah kembali ke kamar masing-masing untuk istirahat. Begitu pula dengan Frans dan Aqila, mereka masuk kamar tepat sebelah kamar Ezra dan Lia.


"Aku mandi duluan," ujar Aqila pada Frans yang sibuk dengan ponselnya.


Frans berdehem sebentar, Aqila pun masuk kamar mandi untuk membersihkan badannya sementara Frans menghubungi seseorang.


"Halo,"


"Halo kenan, bagaimana?"


"Saya sudah mengurus semuanya, sesuai perkataan anda jika setengah saham perusahaan berpindah menjadi atas nama Aqila Lawrance,"


"Bagus,"


Frans mematikan ponselnya ketika mendengar suara kamar mandi yang terbuka, dia menoleh dan menatap Aqila yang keluar hanya dengan memakai bathrobe.


"Kok gak langsung pakai baju? apa kau mau menggodaku?" jahil Frans sambil menaik turunkan alisnya.


Aqila memandang Frans, dia menatap tajam Frans seakan-akan menusuk Frans.


"Jangan melototiku begitu, okay aku salah," ringis Frans.


Aqila berjalan ke arah lemari, dia membukanya dan betapa kejutnya dia melihat semua baju yang ada di lemari tersebut.


"Kenapa kau diam?" heran Frans karena menyadari jika ada yang aneh dengan Aqila.


Tak mendapat jawaban, Frans pun menghampiri Aqila. Dia pun langsung tertawa melihat begitu banyaknya lingerie dan tak ada satupun baju yang lain.


"Siapa yang menyiapkan kamar ini?" tanya Aqila dengan menatap tajam Frans.


"Eh, bukan aku ... mommy Amora dan mamah yang melakukannya. Serius, kau bisa tanyakan pada mereka," bela Frans.


Aqila mendengus kesal, dia berjalan ke arah pintu dan meninggalkan Frans yang terbengong.


"Apa kau mau keluar dengan pakaian seperti itu?" heran Frans.


Langkah Aqila terhenti, dia melihat tubuhnya yang ternyata hanya berbalut bathrobe saja.


Aqila berbalik, dia menatap Frans yang sedang menahan tawanya.


"Kau keluar dan mintakan koperku se-ka-rang!" titah Aqila.


"Memangnya aku siapa mu?" jahil Frans.


"Kau sua ... huh?!" delik Aqila.


Frans tertawa keras, dia berjalan mendekati pintu dan membukanya. Saat ia menurunkan gagang pintu beberapa kali, tawanya luntur menjadi panik.


"Hei! siapa yang mengunci ini!" sentak Frans.


Aqila membulatkan matanya, dia menyingkirkan tubuh Frans dan berusaha membuka pintu itu.


"Ck! dimana mana tuh buka pintu udah pake sidik jari, lah ini masih pake kunci! gayanya aja mas kawin 50% saham, pintu masih jadul begini," kesal Aqila.


Frans melongo mendengar nya, ini adalah mansion lamanya dan tentunya pintunya masih memakai kunci berbeda dengan mansionnya sekarang.


"Kalau anak kita masuk angin itu gara-gara kamu!" sentak Aqila.


"Kok aku?" heran Frans sambil menunjuk dirinya.


"Iya kamu, emangnya suami aku siapa lagi huh?!" delik Aqila.


Frans menghela nafasnya kasar, dirinya harus ekstra sabar menghadapi bumil di depannya.


"Sudahlah, aku mau mandi," pasrah Frans.


"Ya sana!" ketus Aqila.


Frans pun berlalu dari kamar mandi, sementara Aqila berjalan menuju lemari dan melihat lingerie tersebut.


"Terpaksa deh," lirih Aqila.


Aqila pun memakai lingerie tersebut, setelah itu dia naik ke ranjang dan memakai selimut hingga batas lehernya.


Tak lama Frans pun keluar dengan baju santainya, tampaknya dirinya sudah mengganti baju di kamar mandi sehingga kini dia keluar dengan kaos dan celana pendeknya.


Frans mendekati meja rias, dia mengambil pengering rambut untuk mengeringkan rambutnya. Setelah merasa kering, Frans menyimpan kembali pengering rambut tersebut dan mendekati ranjang untuk tidur.


"Kamu mau ngapain?" panik Aqila.


"Tidur lah," ucap Frans.


"Ya jangan disini!" sentak Aqila.


"Terus dimana? sofa gak ada, karpet pun gak ada. Masa aku tidur di lantai, kamu tega?" kesal Frans.


Aqila pun mengambil guling, dia menaruh guling di tengah tengah dan menatap Frans dengan datar.


"Jangan lewati batas!" titah Aqila dan membelakangi Frans sambil menarik selimutnya.


Frans lun mengangguk pasrah, dia masuk kedalam selimut dan merebahkan badannya.


Frans pun mencoba memejamkan matanya, tapi dirinya tak bisa tidur.


Tak lama ada suara aneh dari kamar sebelah, Aqila dan Frans pun membuka matanya. Mereka saling tatap bahkan wajah aqila memerah dan Frans menghembuskan nafas kasar.


"Apakah tak bisa mereka diam, kenapa rasanya mengesalkan sekali. Apa mereka sengaja!" gerutu Frans.


Frans dan Aqila berusaha tidur, bahkan kini Frans telah menutup telinganya dengan batal. Tapi suara menakutkan itu kembali terdengar oleh mereka.


"Aku akan melihatnya." ujar Frans sambil melempar bantalnya dan membuka selimutnya.


"Tapi kan pintunya di kunci," ujar Aqila dengan bingung.


Frans menepuk dahinya, dia lupa hal itu. Segera dia berjalan ke arah lemari dan mencari kunci cadangan.


Tak lama kemudian Frans menemukan kunci cadangan itu, dia segera berjalan cepat menuju pintu dan membuka pintu tersebut.


Setelah terbuka Frans langsung menuju kamar di sampingnya yang ternyata adalah kamar Ezra dan Lia, tangannya terangkat dan memukul keras pintu itu.


DUGH!


DUGH!


DUGH!


Cklek!


Seketika Frans melototkan matanya, dia terkejut melihat Ezra yang membuka pintu dengan hanya memakai celana tanpa baju. Dan yang buat Frans terkejut tubuh Ezra sangat berkeringat, apakah dirinya telah mengganggu aktifitas Ezra?


"KAU!"


***


Cklek!


Frans kembali ke kamarnya dengan menahan tawanya, dia menutup pintu kembali dan berjalan menuju kasurnya yang terdapat Aqila yang menatapnya heran.


"Kamu kenapa?" heran Aqila.


"Hahaha, apa kau tahu ternyata suara tadi tak seperti yang kuta pikirkan." ujar Frans sembari tertawa, dia membuka selimut dan masuk kedalam selimut tersebut bersama istrinya.


Aqila terheran-heran, padahal Frans bukan tipikal orang yang senang tertawa. BAhkan bersama Frans Aqila bisa menghitung kapan lelaki itu tersenyum karena wajahnya yang selalu datar fan sedingin es.


"Memangnya apa yang terjadi?" bingung Aqila.


"Ezra, pria itu cerita jika Lia mengidap dirinya untuk berkeringat. Bahkan Ezra di suruh melompati kasur sampai berkeringat pantas saja terdengar suara yang menakutkan seperti itu. Menakutkan tersiksa karena ngidamnya istri,"


Seketika Aqila menahan senyumnya, apa sebegitu menakutkannya ngidam Lia? mendengar itu dirinya jadi teringat jika selama ini ternyata dia sudah tak lagi mengidam yang aneh-aneh. Bahkan morning sickness nya sudah tidak ada.


"Tapi ... jujur nih yah, belakangan ini aku udah gak lagi morning sickness dan mengidam. Apa kau tahu kenapa itu bisa terjadi?" heran Aqila.


Frans mengangkat satu alisnya, dirinya kembali teringat akan dirinya yang selalu muntah saat menyium bau masakan ataupun bau yang menyengat.


"Begitu kah? selama kau hamil, aku mengalami muntah dan berprilaku sangat aneh. Aku selaku muak ketika melihat orang berkepala botak dan terkadang aku sangat ingin mengusapnya dan terkadang aku ingin menunjuknya. Bahkan Kenan sampai bingung mengapa aku seperti ini,"


"Apa jangan-jangan, keinginanku tentang Frans yang mengalami apa yang kurasakan selama hamil terkabul?" gumam Aqila.


"Kau berbicara sesuatu Love?" tanya Frans sambil menatap heran wajah istrinya itu yabg terlihat terkejut.


"A-ah enggak kok, sudahlah tidur! aku sangat mengantuk," ujar Aqila dan menarik selimut tidur membelakangi Frans.


Frans mendengus sebal, dia menatap punggung istrinya dengan pandangan kesal.


"Dosa loh Love belakangi suami," ujar Frans.


"LOVE!" sentak Frans.


"APA SIH!" kesal Aqila.


"Kamu bentak suami juga dosa!" gerutu Frans.


Aqila mendengus kasar, ada apa dengan Frans saat ini. Mengapa pria itu sangat membuatnya darah tinggi.


"Dosa aku kan yang tanggung kamu! jadi kamu yang tambah dosa!" kesal Aqila dan menutup matanya untuk tidur.


"GAK GITU JUGA KONSEPNYA SAYAAAANGG!"