My Perfect Mafia Daddy

My Perfect Mafia Daddy
Part 37: Ngidamnya kedua istri sultan



"Eunghh," lenguh Aqila dalam tidurnya. Tak lama Aqila mengerjapkan matanya dan melihat sang suami yang masih tertidur.


Aqila pun menduduki dirinya, dia mengucek matanya sebentar dan melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 12 malam.


Aqila merasakan perutnya yang lapar, tidak seperti biasanya. Tangannya terulur mengelus perutnya dan menatap Frans yang tertidur pulas.


"Aku lapar sekali," gumam Aqila.


Tiba-tiba saja Aqila menginginkan sate padang, tapi tengah malam begini bagaimana dia keluar. Dia takut jika keluar mencari makanan dan ada yang menculiknya seperti kejadian itu. Membangunkan Frans, Aqila tidak tega karena pasalnya suaminya itu baru tidur setengah jam lalu karena lembur bekerja.


"Pesen online aja kali yah, tapi kalau online lama banget. Belum lagi pas nyampe sinis dingin," lirih Aqila.


Pergerakan Aqila membuat Frans terganggu, dia mengerjapkan matanya dan menatap sang istri dengan kening yang sedikit mengerut.


"Kamu kenapa bangun? perutnya sakit?" tanya Frans seraya menduduki dirinya.


Aqila menggeleng, dia akan bilang pada Frans jika dirinya mengidam. Hanya saja Aqila merasa malu sekaligus tidak enak karena menyuruh Frans malam-malam seperti ini keluar.


"Terus kenapa? kok mukanya gelisah gitu?" heran Frans.


"Aku laper," ujar Aqila dengan nada lirih.


"Apa? aku gak denger." ujar Frans seraya mendekatkan telinganya pada Aqila.


"Aku laper, mau makan sate padang!" seru Aqila.


Frans menatap Aqila dengan raut wajah terkejutnya, tak lama dia mengalihkan tatapannya menuju jam dinding.


"Tengah malam?" bingung Frans.


"Besok aja lah yah?" usul Frans seraya kembali menatap sang istri.


"Kamu gak mau belikan?" tanya Aqila dengan suara bergetar.


Frans menggaruk tengkuknya, pasalnya ini sudah sangat malam. Apakah masih ada toko makanan yang buka?


"Terus harus gimana Love? jam segini gak ada yang buka, atau aku ke mansion orang tuaku aja yah biar minta koki yang masak," usul Frans.


"Nanti ganggu mamah sama papah," cicit Aqila.


Frans menggeleng, dia mengelus rambut sang istri. Dirinya paham bagaimana rasanya ngidam karema dia pun sesekali mengalami itu.


"Nggak, kan buat calon cucu. Yaudah, aku siap-siap dulu yah," ujar Frans dan menyingkap selimutnya.


"Aku ikut!" ujar Aqila sambil menahan tangan Frans.


"Gak usah yah, kamu di rumah aja. Aku gak lama kok," tolak halus Frans.


Aqila menggeleng seraya menatap Frans dengan mata yang kini telah berkaca-kaca. Frans yang melihat itu menjadi tambah bingung, dia akhirnya mengangguk ragu yang mana membuat Aqila tersenyum manis.


"Yasudah, ganti pakaianmu dan kenakan jaket," titah Frans.


Aqila mengangguk, dia segera beranjak untuk mengganti bajunya begitu pula dengan Frans. Saat telah selesai, ponsel Frans berdering. Dia segera mengangkatnya dan menjauh dari kamar.


"Kenapa kau menelponku malam-malam begini?" heran Frans.


"Apa kau tau tempat penjual ketoprak dimana? istriku mengidap ketoprak tengah malam begini, dia terus saja menangis karena tidak makan ketoprak," frustasi Ezra.


Frans mengerutkan keningnya, dia tak mengerti makanan apa itu. Kenapa juga bisa berbarengan seperti ini?


"Jangankan penjualnya, ketoprak bentuknya kayak gimana juga saya aku tidak tau," ujar Frans.


"Bagaimana ini? sejak tadi dia tidak makan, minum susu pun tidak. Aku khawatir bayi kami kelaparan, dia selalu berkata mual dan hanya ingin makan ketoprak,"


Frans tampak berpikir, mungkin saja kokinya bisa membuatkannya. Karena koki yang ada di Mansion Gevonac bisa segala jenis makanan di berbagai negara.


"Begini saja, kau datang ke mansion Gevonac," usul Frans.


"Untuk apa?" bingung Ezra.


"Istriku juga lagi mengidam, dia menginginkan sate padang. Dan aku malas mencari keluar, lagi pula belum tentu ada bukan? nah, aku ingin kesana dan meminta kokiku untuk membuatnya," terang Frans.


"Baiklah, aku akan kesana," ujar Ezra.


Frans mengiyakan, dia memutus sambungan telpon dan membalikkan tubuhnya. Namun, dia terkejut melihat Aqila yang berkacak pinggang menatapnya.


"Habis telpon sama siapa? selingkuhan kamu?" selidik Aqila.


"Apa sih Love, selingkuhan apa? ya kali aku selingkuh dengan sesama jenis," jengah Frans.


Aqila mengangguk, dia mendekati Frans dan melingkarkan tangannya di lengan pria itu. Dia juga menatap Frans dengan senyum lebarnya sehingga Frans pun di buat bingung dengan tingkah sang istri.


"Naik motor yah? aku mau ngerasain naik kotor goncengan berdua sama kamu," pinta Aqila dengan mata penuh binar.


"Nggak! apaan sih, ada mobil ngapain naik motor. Kalau aku sendiri sih gak papa, kamu lagi hamil muda begini. Kalau anak kita masuk angin gimana?" tolak Frans.


"Saat dulu aku selalu minta di boncengin kamu buat pulang kuliah, tapi kamu selalu nolak dan bilang aku pengganggu. Sekarang juga sama," cicit Aqila.


Frans mengingat kejadian itu, beberapa tahun silam saat dia dan Aqila masih kuliah bersama.


Flashback On.


Frans tengah menaiki motor besarnya, dia memakai helm dan menyalakan motornya. Namun sebuah tepukan di bahunya membuat dirinya terkejut.


"Hai Frans, aku nebeng yah! papah belum jemput, mobil aku juga lagi di bengkel," seru seorang wanita bernama Aqila.


Frans menepuk pelan bahu yang tadinya Aqila pegang, dia menatap datar wanita yang berada di sampingnya.


"Aku tidak mau!" tolak Frans.


"Kau jahat sekali, rumah kita kan searah," ujar Aqila.


Netra Frans menatap sosok perempuan yang menatap mereka, perempuan itu menatap Frans dan Aqila dengan senyum miring.


"Tidak! kau itu pengganggu sekali! berhenti menggangguku karena aku tidak suka padamu!" ujar Frans sambil menatap Aqila.


"Dih, kok Frans ngomong gitu sih? Aqila sakit hati loh!" seru Aqila.


Frans mengabaikannya, dia menjalankan motornya dengan kecepatan tinggi meninggalkan Aqila yang menatapnya sendu.


"Maaf," lirih Frans.


Flashback Off.


"FRANS!" sentak Aqila saat Frans melamun.


Frans pun tersadar, dia menatap wajah sang istri yang kesal.


"Mikirin apa kamu?" kesal Aqila.


"Ng-ngak, yasudah kau ingin naik motor bukan? ayo, tapi jangan pakai jaket tipis begitu. Ganti jaketmu dengan yang lebih tebal agar kau tetap hangat." ujar Frans sambil mengusap kepala Aqila.


Aqila yang merasa permintaannya di terima pun mengangguk antusias, dia berjalan masuk kembali ke kamar mereka. Sedangkan Frans dia menatap punggung sang istri yang telah hilang dari pandangannya.


"Aku akan berusaha sebisa mungkin untuk melindungi kalian dari wanita psikopat itu, my Love," lirih Frans.


Tak lama Frans pun ikut masuk kembali ke kamarnya, dia mengambil kunci motor dan menggandeng lengan sang istri menuju teras rumah mereka.


Frans pun menaiki motornya, dia mengadahkan tangan agar Aqila mudah menaiki motornya dengan berpegangan tangannya.


"Hati-hati, helmnya sudah di pakai?" tanya Frans.


Aqila yang sudah duduk di jok motor seketika menggeleng, dia belum mengambil helmnya.


"Belum," cicit Aqila.


"Yasudah, biar aku yang ambilkan. Kamu tunggu sini," ujar Frans dan turun dari motornya.


Frans oun kembali masuk, dan dia kembali keluar dengan helm Aqila yang ada di tangannya. Tak lupa dia mengunci pintu rumah mereka dan melangkah mendekati sang istri yang masih duduk di motornya.


"Sini!" pinta Aqila.


Frans menggeleng, dia memakaikan Aqila helm itu dan hal tersebut membuat Aqila tertegun.


"Dulu kau sangat ini aku memasangkan helm mu bukan? sekarang biar aku yang pasangkan," ujar Frans.


Aqila hanya menerimanya, dia menatap Frans yang tengah serius menatapnya.


"Sudah, ayo kita berangkat!" seru Frans dan menaiki motornya.


Frans pun mulai menyalakan motornya, dia melirik perutnya tak terdapat tangan yang melingkar disana.


"Pegangan Love, nanti kamu jatuh," titah Frans.


Aqila dengan ragu memeluk Frans, dia menyandarkan tubuhnya pada punggung kekar Frans. Dengan senyum tipis, Frans pun mulai melajukan motornya dengan kecepatan sedang.


Jalanan malam terlihat sang sepi sekali, Frans oun dengan tenang melajukan motornya sambil sesekali menangkap omongan sang istri yang bercerita tentang kota ini.


"Dingin gak?!" tanya Frans.


"Lumayan," seru Aqila.


Frans pun memasukkan satu persatu tangan Aqila pada kantung hoodie nya, Aqila yabg di perlakukan seperti itu sungguh merasa terkejut.


"Frans," lirih Aqila.


"Kita jarang berdua begini, untuk kali ini biarkan seperti ini," ujar Frans.


Aqila mengangguk, dia tambah mendekatkan dirinya pada punggung Frans. Aqila sangat bahagia malam ini, hatinya pada Frans juga sedikit mencair. Karena Frans telah merubah dirinya untuk menjadi seorang suami sekaligus seorang daddy yang baik untuk calon anak mereka.