My Perfect Mafia Daddy

My Perfect Mafia Daddy
Part 69: Sky



"Frans sudah ku bilang jangan membuat ulah!" sentak Aqila pada Frans yang tengah tengkurap sambil melihat putranya yang berada di kasur bayi miliknya.


"Apa sih Love, orang cuman liatin Bent aja kok," ujar Frans dengan santai.


Aqila sungguh geram melihat kelakuan suaminya, bagaimana tidak? Frans memasangkan gaun pada tubuh kecil Bent yang entah kapan dia beli, ditambah dengan bando yang melekat pada kepala bayi itu.


"Frans, aku bisa mencekikmu sekarang juga!" ujar Aqila yang sudah terlampau marah.


"Jangan dong Love," ujar Frans dan menduduki dirinya. Frans membawa sang putra ke gendongannya, dia menciumi pipi sang putra.


"Gemes ... gemes ge ...,"


"Hwek!"


Aqila sontak saja membulatkan matanya, Frans menciumi putranya tetapi Bent malah memuntahkan Frans yang tadi mencium pipinya.


"Ekkhhh," rengek Bentley.


"LOVE! HWEK! BAU HWEK!" Frans langsung menyerahkan Bentley pada Aqila, dia langsung berlari ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya yang terkena muntahan Bentley.


Aqila mengambil tisu, dia membersihkan bekas muntahan Bentley di mulut kecil putranya itu. Setelahnya dia menggantikan baju Bentley dengan yang lain.


"Appa bau yah nak, appa bau makanya Bent muntahin bunda," ujar Aqila pada sang anak dan berbicara sendiri.


Bentley tertawa, dia hanya menurut ketika Aqila memakaikan dia baju.


Cklek!


"Bau banget Love, makan apa sih dia muntahnya sebau itu," ujar Frans yang telah keluar dari kamar mandi.


"Kamu itu, Bent hanya meminum susu. itu asi dariku!" kesal Aqila.


Frans menggeleng kan kepalanya, dia menduduki dirinya di sofa dan menatap putranya yang tengah menendang-nendang kakinya.


"Ayo sayang, kita main keluar ... main," ujar Aqila pada putranya.


Aqila membawa Bent keluar rumah, disana juga banyak terdapat anak kecil yang sedang berkain di temani oleh ibu mereka.


"Eh bu Aqila, dedeknya udah boleh di bawa keluar nih," ujar salah satu ibu yang mendekati Aqila.


Aqila tersenyum, dia tak terlalu dekat dengan tetangga rumahnya. Namun, ketika bertemu pasti menyapa.


"Iya bu, udah gak khawatir lagi. Sekarang juga bosenan di dalam," ujar Aqila.


"Bener, di bawa keluar buat ngelihat pemandangan jadi gak bosen. Oh iya, suaminya mana? kok gak ikut nemenin?"


Saat Aqila akan menjawab, Frans lebih dulu muncul dan mengecup cepat pipi gembul putranya.


"Aku ke markas dulu yah, ada urusan mendadak," bisik Frans di telinga Aqila.


"Mau ngapain? kamu gak macem-macem kan?!" selidik Aqila.


"Gak lah, macem-macem gimana? istriku udah paket komplit kok," ujar Frans dan tertawa oelan.


Mereka melupakan jika ada satu ibu-ibu di dekat Aqila. Tersadar, Aqila pun menatap ibu tersebut dengan pandangan bingung karena ibu itu malah menatap Frans dengan mulut terbuka.


"Orang aneh," gumam Frans ketika netranya menatap ibu tersebut.


Frans oun kembali masuk, dia mengambil motor besarnya dan menjalankannya.


"Aku berangkat yah Love, dadah baby car ... appa berangkat dulu," seru Frans dan melajukan motornya.


Aqila tersenyum kikuk ketika ibu itu menatap Frans dengan kagum, dia tahu jika ibu di depannya ini umurnya jauh di atas dirinya.


"Suami kamu lagi cari istri kedua gak?" tanya ibu itu.


Aqila mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan membingungkan ibu tersebut.


"Saya mau daftar." ujarnya seraya tersenyum menatap Aqila.


"Tapikan ibu sudah menikah," heran Aqila.


Aqila menjatuhkan rahangnya, dia tak mengira jika tetangganya akan berkata demikian. Padahal menurutnya Frans terlihat masih muda dan bukan seumuran ibu di depannya.


"Yaudah yah bu, saya mau aja anak saya pulang. Kapan-kapan ajakin saya main ke rumah yah," ujarnya dan berlalu dari hadapan Aqila yang masih menatapnya tak percaya.


***


"Bunda sama papah pulang dulu ke mansion Wesley, besok kami kesini lagi sekalian pamit kembali ke Singapura," ujar Zidan pada menantunya.


"Yah, kok cepet banget? aku kira bunda dan papah akan sebulanan disini," ujar Lia yang terlihat sedih. Karena dia pikir kedua mertuanya akan tinggal lama Ezra sehingga bisa memperbaiki hubungan Ezra dengan orang tuanya.


Kirana mengelus rambut Lia, dia tahu jika ibu baru itu sedih. Apalagi mereka hanya sebentar, jika saja mereka tak memiliki kerjaan dan juga merawat jacob yang merupakan ayah dari Zidan pasti mereka akan menetap lebih lama. Namun, keadaan saat ini tak mendukung hal itu.


"Yah, hati-hati di jalan," ujar Ezra dengan wajah santai.


"KAKAK!" peringat Lia.


Zidan dan Kirana tersenyum tipis, Ezra masih belum menerima kesalahan dirinya sepenuhnya. ZIdan sadar akan hal itu, tetapi dia juga tak mungkin memaksa Ezra untuk menerima keadaannya.


"Baiklah, kami pergi dulu. Jaga baik-baik istri dan anakmu nak," ujar Zidan pada Ezra.


Ezra berdehem, dia terlalu cuek sehingga Zidan menyimpulkan jika Ezra tak betah jika dia dan istri berlama-lama disini.


Zidan dan Kirana pun pulang, sehingga Lia mencubit lengan Ezra dengan keras.


"A-aaww, sakit ay! pedes tau gak!" kesal Ezra sambil mengelus lengannya.


"Kakak tuh kenapa sih! sehariiii aja gak buat orang sakit hati! ucapan kakak itu loh iiihhhh rasanya pengen aku geprek lidahnya kakak!" ujar Lia dengan nafas memburu.


Ezra menarik satu sudut bibirnya, dia mendekati wajahnya dengan Lia. Lia pun memundurkan wajahnya, dia meneguk ludahnya kasar saat Ezra mulai berucap.


"Di geprek sama bibirnya kamu aku mau kok," ujar Ezra menjahili Lia.


Lia yang kesal pun menggigit hidung mancung Ezra, sehingga pria itu memekik kesakitan dan Lia pun tersenyum puas.


"Merah ay," ujar Ezra.


"Mau aku buat biru?" tanya Lia dengan nada mengancam.


Ezra menggelengkan kepalanya dengan cepat, sejenak mereka tertegun ketika mendengar suara rengekan bayi dari depan pintu ruangan Lia.


"Itu ... itu kayak tangisan Sky kak!" seru Lia.


"Iya, mirip," gumam Ezra.


Entah mengapa mereka sangat hafal rengekan Sky, Ezra pun berdiri dan membuka pintu ruangan Lia. Terlihat sang dokter menggendong bayi yang tengah menangis.


"Kenapa putra saya anda keluarkan dari inkubator?!" sentak Ezra.


"Maaf pak, ruang inkubator mengalami kerusakan. Tiba-tiba saja atapnya rubuh dan beruntung bayi ini selamat dan saya langsung membawanya kemari.


Ezra mengambil tubuh kecil Sky, " Cepat persiapkan ruangan baru untuk putraku," titah Ezra.


Dokter itu mengangguk, dia segera melakukan pekerjaannya. Sementara Ezra kembali masuk, tampak Lia terkejut melihat bayinya.


"Kak Sky,"


"Sebentar," ujar Ezra.


Ezra menduduki dirinya di sofa, dia membuka kancing kemejanya hingga terpampanglah perut six pack miliknya. Ezra menaruh Sky tengkurap pada dada bidangnya. Dia mengambil selimut milik Elang yang tergeletak di samping dan menyelimuti putranya.


"Ruangan Sky atapnya rubuh, entah pembangunannya gimana. Dan beruntung rubuhan itu tak terkena Sky," terang Ezra.


Lia menutup mulutnya, dia terkejut mendengar hal itu. Pasalnya ruangan Sky berada di lantai tiga, dan bagaimana bisa rubuh?


"Aku akan menghubungi daddy, bagaimana bisa bangunan ini begitu jelek kualitasnya," kesal Ezra.


"Kak, bukankah lantai atas bertepatan dengan kamar Sky kosong?" tanya Lia yang mana membuat Ezra sontak saja tertegun.


"Benar, tidak mungkin jika ... apa maksud dokter itu berbohong?"