My Perfect Mafia Daddy

My Perfect Mafia Daddy
Part 71: siapa yang membebaskan Daniel?



"Kenan, semalam ada yang menyusup ke dalam kamarku. Dia hampir saja melenyapkan Bent, kau cari tahu siang orangnya dan bawakan padaku sesegera mungkin," ujar Frans pada Kenan yang berada di hadapannya.


"Baik king," ujar Kenan dan beranjak pergi.


Netra Frans melihat penjuru markasnya, banyak sekali ruangan disini. Ruangan patihan menembak, bela diri, perakit, semuanya ada disini. Penyeleksian masuk ke Ateez sangatlah ketat, bayaran tinggi mereka dapatkan.


"King!" seru seorang wanita.


Frans menatap wanita itu yang tak lain adalah Raisa, lengkap dengan kain yang menutupi setengah wajahnya.


"Apa ada hal yang terjadi capo?" tanya Frans dengan sangat formal.


"Apa kau sedang memiliki musuh saat ini?" tanya Ica.


Frans terkekeh sinis. "Jangan bercanda, mafia selalu memiliki musuh di sekitarnya. Akan tetapi musuh yang paling menonjol adalah Daniel, hanya saja dia sudah tak memiliki kekuatan apapun untuk melawan," ujar Frans.


Ica melipat tangannya di depan dada, dia menatap Frans dengan satu sudut bibir yang terangkat.


"Ada, seorang pria ... dari ciri yang aku lihat, umurnya tidak tua dan dia berhasil membebaskan Daniel dari penjara tanpa jejak apapun," ujar Ica yang membuat kejutan untuk Frans.


"Apa maksudmu?!"


***


Tampaklah dua orang pria berbeda usia tengah saling tatap menatap, mereka menikmati secangkir kopi yang di sajikan pelayan kafe.


"AKu sudah berhasil membebaskanmu ketua, jadi kau harus membayarnya," ujar pria yang lebih muda yang tak lain adalah Black dengan penutup topeng setengah wajah.


"Tapi aku masih menjadi buronan!" sentaknya yang tak lain adalah Daniel.


Tak!


Black menaruh cangkir kopinya dengan sedikit keras, dia mengeluarkan sebuah map dari dalam jaketnya dan menyerahkannya pada Daniel.


"Tujuan kita sama, menghancurkan King Ateez. Kau ingin mafianya, sedangkan aku ingin kehancurannya," ujar Black dan melihat Daniel yang membuka map coklat itu.


"Aku seorang yang ahli dan berpengalaman, tentu saja aku telah menyiapkan semua. Aku telah membuat kematian palsu untukmu, dan di hadapanmu kini adalah identitasmu yang baru." ujar Black sambil melihat Daniel yang tengah membaca lembaran demi lembaran.


Daniel menatap tak percaya, umur Black tak jauh beda dengan putranya. Bagaimana bisa pria itu begitu mudah melakukan sejauh ini?


"Kau mengeluarkanmu dari penjara bukan hal yang cuma-cuma bukan?" curiga Daniel.


Ctak!


"Benar sekali!" seru Black yang memetik jarinya.


"Di negara ini tidak ada yang gratis, bahkan masuk toilet pun kita di suruh bayar. Kau sangat pintar mencerna tuan Daniel Gevonac, eh ups ... salah ... kau tidak termasuk dalam keluarga itu hahahaha,"


Daniel menatap tajam Black, bisa-bisanya Black menertawai dirinya.


"Jangan marah, aku hanya bercanda. Tugasmu, cari tau letak pusat kehancuran Ateez." ujar Black sambil membenarkan letak topeng di sebelah wajahnya m


"Itu hal yang sulit, Ateez merupakan mafia yang paling di takuti walau dia tak menyiksa sebab perlawanannya tidak main-main. Bisa mati konyol saya!" kesal Daniel.


Black kembali mengeluarkan sebuah foto yang dia ambil secara diam-diam, foto tersebut di serahkan pada Daniel.


"Ini Aqila kan? Dia ...,"


"Istri Frans, wanita yang sangat Frans cintai. Dan di gendongan pria itu adalah anak mereka, Bentley nama yang sangat unik," ujar Black.


Daniel tampak seperti tidak mengetahui tentang pernikahan Frans, dia masuk penjara sebelum Frans menikahi Aqila.


"Apa memang benar-benar Frans yang membunuh kedua orang tuamu?" tanya Daniel dengan ragu.


Black mengangguk, orang kepercayaan ayahnya sendiri yang berkata. Black pun tak bisa melawan Ateez seorang diri dan dia perlu bantuan Daniel.


"Mafiaku telah bubar Black," ujar Daniel.


"Aku tahu, tapi kau banyak memiliki koneksi. Benar bukan? mudah bagimu untuk meminta batuan mereka, aku tahu itu Daniel ... jangan remehkan aku," ujar Black dengan nada pelan.


Sedangkan Frans, pria itu sungguh terkejut setelah mengetahui jika Daniel sudah di bebaskan. Dia pun menelpon temannya yang dari pihak kepolisian, ternyata Daniel di bawa kabur oleh seseorang ketika gas memenuhi sel dan berakhir banyaknya yang pingsan.


"Kenapa kau yakin jika dia adalah pria yang sama dengan pria yang hampir melenyapkan Bent?" tanya Frans pada Ica yang tengah santai memakan cemilannya.


"Dia mantan anggota intilijen, penjagaan di rumahmu sangat ketat dan dia bisa memasukinya. Itu yang pertama, yang kedua ... dia sudah berhasil memasuki markas tanpa di ketahui oleh penjaga karena dia menyuntikkan obat bius di leher penjaga. Yang ketiga, persamaan itu membuat aku yakin jik mereka adalah orang yang sama," terang Ica.


"Dia sangat pintar, dia melakukan pekerjaannya dengan bersih tanpa meninggalkan jejak. Itulah yang ada di kedua orang dalan satu raga itu, dalam artian lain ... mereka orang yang sama," lanjut Ica.


Ica memakan kembali kripik kentangnya, berhubung ini di ruangan khusus tamu Ica pun dengan santai membuka topengnya.


Frans sedari tadi meneliti sang adik, karena tumben sekali Ica berdandan layaknya perempuan sejati. Di tambah dia memakai perhiasan emas bukan lagi tali hitam seperti biasanya.


"Apa kau tengah jatuh cinta?" curiga Frans.


Ica menghentikan kunyahannya, dia menatap Frans yang tengah menatapnya penuh dengan curiga.


"Kenapa abang bertanya seperti itu? memangnya ada yang salah denganku?" heran Ica meneliti penampilannya.


"Kalung emas, gelang emas, make up yang sedikit menonjol. Juga ... sejak kapan kau menyukai lipstik?"


Ica tersedak, dia segera meminum jusnya dan membersihkan bibirnya dengan punggung telapak tangannya.


"Apa yang salah? aku kan seorang perempuan, wajar jika aku seperti ini," ujar Ica.


"Sudahlah, aku akan ke kampus. Abang ngeselin," ujar Ica dan kembali memakai penutup wajahnya.


Frans tertawa, dia yakin jika Raisa tengah jatuh cinta. Saat adiknya pergi, Frans mendapatkan telepon dari istrinya.


"Halo Love, apa kau merindukan aku?" tanya Frans dengan suara berbeda.


"Love lap Love, makan itu lap! cepat pulang! saya sudah berada di rumahmu! keluyuran terus!"


Frans terkejut, itu adalah nada suara Gio. Ayah mertuanya sudah berada di rumahnya, dengan segera Frans berlari keluar untuk pulang.


"KING! MAU KEMANA KAU!" teriak Kenan saat di depan pintu.


Tampak Frans tak menjawab, pria itu hanya masuk ke dalam mobilnya dan menjalankannya dengan kecepatan tinggi.


Kenan menatap kepergian Frans dengan wajah terbengong, dia melihat anggota lain yang tengah menahan tawanya.


"Kenapa dia buru-buru sekali?" heran Kenan.


"Ehm maaf underboss, apa kau lupa memakai celanamu?" tanya anggota itu dengan wajah datar sekaligus menahan tawa.


Kenan menundukkan kepalanya, dia menatap kakinya yang tak terbalut celana. Dia hanya memakai boxernya yang bergambar kartun kotak kuning, dia pun menutupi gambar itu dan menatap anggota dengan tajam.


"TUTUP SEMUA MATA KALIAN!" teriak Kenan yang sudah kelewat malu.


"Haaiisshh, malu aku mak," cicit Kenan dan berjalan menjauhi pintu utama sambil memegangi gambar di celananya.