My Perfect Mafia Daddy

My Perfect Mafia Daddy
Part 58: Hak Frans



"Awas kamu cari hara-gara lagi, pokoknya hari ini aku mau USG!" titah Aqila pada suaminya yang tengah berjalan di sampingnya.


Setelah kejadian dua hari yang lalu, Aqila dan Frans kembali ke rumah sakit untuk melakukan USG.


"Iya-iya, ink kan dokternya perempuan jadi aku gak akan buat masalah," ujar Frans.


Frans menggenggam tangan Aqila, netranya tak sengaja melihat pria yang melewatinya. Frans merasakan aura berbeda dari pria itu, dia pun menghentikan langkahnya dan menolehkan kepalanya.


"Orang itu, siapa dia?" gumam Frans.


"Frans ada apa? ayo cepatlah, dia menunggu kita," ujar Aqila.


Frans mengangguk, sesekali dia menoleh untuk melihat pria misterius itu. Tak lama mereka pun sampai di ruangan dokter kandungan, Aqila dan Frans pun masuk dan menyapa dokter tersebut.


"Selamat siang dok," ujar Aqila dan tersenyum.


Dokter bernama Lisa itu mengangguk dan tersenyum, dia mempersilahkan Frans dan Aqila untuk duduk.


"Ada keluhan?" tanya dokter itu.


"Ehm begini dok, kami ingin memeriksa kandunganku dan juga memeriksa jenis kelaminnya," terang Aqila.


"Hm baiklah, silahkan berbaring," ujar Dokter.


Aqila pun berdiri, dia mendekati brankar dan merebahkan dirinya di sana. Dokter Lisa pun membuka setengah baju Aqila sehingga dia kini mengoleskan gel pada perut Aqila.


Lisa mengambil sebuah alat, dia mengarahkan alat itu pada perut Aqila dan menggerakkannya.


"Detak jantung bayinya bagus, beratnya juga normal. Semuanya bagus, dan tak perlu di khawatirkan dan untuk jenis kelaminnya dia laki-laki," ujar sang dokter.


Frans memperhatikan monitor itu dengan serius, berbeda dengan Aqila yang sedari tadi senyum bahkan dia sampai mengeluarkan air matanya.


"Mana anak saya?" bingung Frans.


"Ini pak, ini gambar kepalanya, kedua tangan dan ini kedua kakinya. Semuanya normal," ujar sang dokter.


"Kok kecil banget," ujar Frans.


Ingin rasanya Aqila melempar suaminya, dia kesal karena sang bayi di bilang kecil oleh yang buat sendiri.


"Kamu waktu buat lagi gak sadar makanya kecil," ngawur Aqila.


"ow gitu, yaudah nanti malam aku pompa aja supaya jadi gede," lugu Frans.


Dokter Lisa bingung ingin berkata seperti apa, kedua pasangan di depannya ini benar-benar aneh.


"Sepertinya saya salah menerima pasien," gumamnya.


Aqila pun telah selesai melakukan USG, sekarang mereka sedang berbincang mengenai kehamilan Aqila.


"Perbanyak makan buah dan sayuran yah bu, minum vitaminnya agar janin tetap sehat," ujar sang dokter.


Aqila mengangguk, tetapi Frans tengah berperang dengan pikirannya sendiri. Dia ragu untuk menanyakan apa yang sedari tadi dia pikirkan.


"Ehm dok," panggil Frans.


"Yah?" sahut sang dokter.


"Ehm begini, apakah jika kami melakukan hubungan suami istri ... itu akan membahayakan bayi kami?" tanya Frans.


Aqila terbatuk mendengar pertanyaan Frans, sedangkan Dokter Lisa tersenyum.


"Pertanyaan yang bagus, tidak masalah. Tetapi kau harus mengerti jika istrimu tengah hamil, orang yang hamil sangat mudah lelah dan kau harus paham kapan istrimu tidak lelah,"


Frans mengangguk semangat, Aqila yang melihat itu hanya bisa memutar bola matanya malas.


"Yasudah dok kalau begitu kami permisi," ujar Aqila.


"Baik, terima kasih," ujar sang dokter.


Aqila dan Frans keluar dari ruangan itu, mereka kini berjalan menuju ruangan Elvio sebab Frans harus memeriksa lukanya itu.


Cklek!


Frans dan Aqila masuk ke ruangan Elvio, mereka melihat Elvio yang sibu dengan data pasien miliknya.


"Pulang? tumben?" bingung Frans.


"Iya, kasihan mami sendirian di rumah. Kau tau sendiri sesibuk apa papi ku," ujar Elvio.


"Makanya kau menikah saja biar ada yang menemani tante," ujar Frans.


Elvio terkekeh, dia memakai saru tangannya dan menatap Frans yang tengah berbaring.


"Aku harus memilih wanita yang cocok dengan mami, sayang dengan mami. Jika tidak, itu akan menjadi boomerang dengan pernikahan ku karena tidak kecocokan mertua dan menantu," terang Elvio.


Elvio pun membuka setengah baju Frans, dua melihat dengan teliti luka Frans yang sudah tak berbalut perban.


"Ini bekas tembakan kan?" tanya Elvio.


"Iya, dia menembakku sebelumnya dia menyayatku dengan pisau." ujar Frans seraya melirik Aqila yang tampak terkejut.


Elvio yang melihat wajah terkejut Aqila menjadi paham jika wanita itu belum di beritahu Frans sama sekali tentang luka yang ada di perut Frans.


"Aku belum menceritakan padanya, aku khawatir dia syok," ujar Frans yang mengerti tatapan Elvio.


"Ehm, jahitannya sudah mengering dan tak perlu di khawatirkan lagi. Tapi kau masih merasakan sakit?" tanya Elvio.


"Iya, terkadang bekas itu masih terasa sakit. Tapi Aqila selalu mengompresnya dengan air hangat agar sakit itu berkurang," terang Frans.


"Aku akan meresepkan obat untukmu, jika sakit kembali kau bisa meminumnya," ujar Elvio.


Frans mengangguk, dia membenarkan bajunya dan menduduki dirinya. Tatapannya jatuh pada mata Aqila yang menatap dirinya dengan sendu.


"Tidak papa, inilah resiko dari pekerjaanku," ujar Frans.


Aqila dan Frans kembali duduk di depan meja Elvio, sedangkan Elvio sedang menuliskan sesuatu.


"Tidak ada yang perlu di khawatirkan, lukanya juga sudah mengering. Pasti istrimu merawatmu dengan baik, istrimu itu wanita idaman bang," ujar Elvio dengan sedikit bercanda.


"Maksudmu?" tanya Frans dengan mata memincing.


"Eh, Ehm ... maksudku ... kakak ipar istrimu yang terbaik," gugup Elvio.


Frans mengangguk, Aqila lun hanya bisa terkekeh melihat kelucuan mereka.


***


Aqila pun bersiap akan tidur, dia suka memakai piyamanya dan sedang membenarkan letak bantalnya.


Cklek!


Frans masuk ke kamar dengan wajah semang, entah apa yang terjadi dengan pria itu. Frans pun mengunci pintu dan memeluk istrinya dari belakang.


"Kenapa?" tanya Aqila dengan lembut.


Frans hanya menaruh kepalanya di ceruk leher istrinya, Aqila pun melepas pelukan Frans dan membalikkan badannya.


"Ngantuk?" tanya Aqila.


Frans menggeleng cepat, Aqila menjadi bingung dengan Frans.


"Terus?" bingung Aqila.


"Boleh aku minta ... hakku?" tanya Frans dengan pelan.


Aqila meneguk ludahnya kasar, nada suara Frans sudah berbeda. Dia sungguh takut saat ini, bahkan tubuhnya sampai bergetar.


"Aku sudah berjanji untuk tidak menyentuhmu sampai cinta itu kembali bersemi, dan sekarang waktunya bukan?" tanya Frans sembari menyelipkan rambut Aqila yang menutupi matanya dan diselipkan ke belakang telinga.


Frans memajukan wajahnya, Aqila pun meyakinkan dirinya untuk menerima apa yang Frans akan lakukan padanya.


"Kau siap sayang?" tanya Frans dengan suara beratnya.


Aqila pun dengan perlahan mengangguk, Frans membawa tubuh istrinya untuk berbaring. Dia mengambil selimut untuk menutupi tubuh mereka.


Kedua insan itu akhirnya memutuskan untuk melupakan kenangan pahit mereka, Aqila pun telah menerima Frans dan tak lagi larut dengan traumanya.