My Perfect Mafia Daddy

My Perfect Mafia Daddy
Part 52: Raffa



"Aqila, kau sedang apa sayang?" tanya Gio ketika melihat putrinya yang tengah berjongkok di taman belakang.


"Aku sedang melihat ulat bulu, tadi gak sengaja jatuh di bajuku," ujar Aqila dan bangkit untuk berdiri.


Gio mendekat pada putrinya, dia menarik lengan Aqila pelan untuk masuk kembali ke dalam mansion.


"Frans menelponmu," ujar Gio.


Tubuh Aqila mendadak kaku, sudah 2 minggu dia tak mendengar suara suaminya. Di pikiran Aqila, suaminya itu sibuk dengan pekerjaan dan melupakannya.


"Biarkan saja, aku tidak peduli," ujar Aqila.


"Hei, sedari kemarin kau menangis. Kenapa sekarang malah seperti ini?" bingung Gio.


Aqila tak menghiraukan ucapan sang ayah, dia berjalan cepat menuju kamarnya. Dirinya ternyata menangis sehingga menjauh dari Gio.


"Sepertinya jatahmu sudah hangus Frans," ujar Gio setelah kembali menempelkan benda pipih itu pada telinganya.


"Aku akan pulang sekarang," ujar Frans.


Tiba-tiba sambungan telpon itu terputus, berkali-kali Gio mencoba menghubungi Frans kembali. Namun, hanya terdengar nada sibuk dari sana.


"Dia beneran pulang? emangnya tu jahitan udah kering?" bingung Gio.


Gio memang mengetahui tentang apa yang terjadi disana, dia mendesak Frans dan akhirnya pria itu membuka mulut.


"Frans ... Frans, kau sudah bucin pada putriku rupanya," ujar Gio dan terkekeh.


***


BRAK!


"Bagaimana bisa mereka lolos semua, kita kehilangan penghasilan kitaaaa!" sentak Daniel pada orang di depannya.


"Kami tidak bisa lawan mereka, mereka itu cerdas. Terlebih di bantu oleh Hacker bernama Sachi, dia juga telah menerobos pertahanan kami," ujar pria itu.


Daniel tampak geram, dengan baju tahanan dia di temui oleh tangan kanannya. Sang tangan kanan yang bernama Tristan itu menceritakan apa yang terjadi, bahkan dia satu-satunya yang berhasil kabur.


"Kenapa kau tak membunuh mereka!" sentak Daniel.


"Apa aku harus membunuh putramu?" tanya Tristan.


Daniel sontak saja terdiam, dia mengerutkan keningnya. Tristan tersenyum, dia sudah tahu bagaimana reaksi Daniel mengetahui jika putranya sendiri yang melawannya.


"Dia telah mengetahui jika kamu yang menyekap ibunya selama 5 tahun, dia sungguh marah dan Sachi hacker itu memberi tahu keberadaan anak kecil itu," ujar Tristan.


"Dia tidak tahu yang sebenarnya," lirih Daniel.


Pekerjaan Daniel memang kotor, tetapi ada yang dia rahasiakan dari sang anak mengenai istrinya itu.


"MAaf, waktu jenguk telah habis. Kami akan kembali membawa tahanan ke dalam sel,"


Daniel berdiri, dia menatap Tristan yang juga tengah menatapnya.


"Beri tahu dia jika anak kecil itu bukanlah adik kandungnya, anak itu hasil perselingkuhan Caramel dengan pria lain!" ujar Daniel.


"Akan aku usahakan," ujar Tristan.


Tristan keluar dari penjara, dia memakai kaca matanya dan tudung kepalanya. Setelahnya dia berjalan ke arah mobilnya dan menaikinya.


Mobil itu pun melaju, tak lama dia pun sampai di sebuah hutan yang sangat sepi. Dia keluar dan akan menunggu seseorang, dan tak lama ada seseorang yang menghampirinya.


"Apa kau mendapat rekaman bukti itu?" tanya pria yang menghampirinya.


"Yah, aku mendapatkan nya," ujarnya.


Tristan menyerahkan alat perekam pada pria tersebut, percakapannya dengan Daniel terekam jelas disana.


"Kau ingin bukti itu untuk apa?" tanya Tristan.


"Tentu saja untuk King, kau di bebaskan bukan karena kabur tetapi karena kau anak buah King. Kau di tugasi hanya sebagai mata-mata King, jadi jangan banyak bertanya," ujar pria itu.


"Dari awal King sudah curiga, bahwa Caramel istri dari Daniel berselingkuh dengan sahabat Daniel sendiri. Apa kau tahu? antagonis di bangun dari tokoh yang tersakiti, dan itu terjadi pada Daniel. Membenci wanita dan juga anak kecil, mereka harus membayar apa yang seharusnya tidak mereka bayar," ujar Kenan.


"Kembalilah ke markas, aku akan menjemput King malam ini. Untuk markas, aku titipkan padamu," sambung Kenan.


Kenan menepuk pundak Tristan beberapa kali, "Tapi, saya telah gagal melindungi King," ujar Kenan.


"Kau tidak ada di lokasi saat itu bukan? tidak usah dipikirkan, yang harus kau pikirkan adalah ... kau perlu mencari tahu pria yang berselingkuh dengan Caramel," ujar Kenan dan pergi dari sana.


***


Sedari tadi Ravin menatap aneh Raffa yang selalu menemplok pada sang mommy, begitu pula dengan Cia. Mereka yang kini duduk di ruang keluarga sehingga semuanya telah berkumpul.


"Kayak anak monet, nemplok cama mommy telus," ujar Ravin tanpa dosa.


"Hus! kamu ini bicara nya!" ujar Lio.


Sedangkan Alden, dia menatap tajam ke arah anak itu. Sedari tadi Raffa memonopoli istrinya, bahkan dirinya tidak bisa memeluk sang istri.


"Eng ... Eng!" panggil Raffa pada Amora.


"Apa sayang?" tanya Amora sembari menunduk.


Raffa mengucek matanya, sepertinya anak itu mengantuk. Amora mengangguk, dia pun berdiri dan membawa Raffa ke kamar putra bungsunya.


"Dih, kok ngomong na eng eng telus. Nda bica bicala emangna?" ujar Cia.


"Nda tau, kita ajalin aja dia bicala. Mungkin belum bica bicala," ujar Ravin.


Sedangkan Alden menatap Lio yang sedang bermain ponsel, Lio yang merasa di tatap pun akhirnya mendongak.


"Kenapa dad? natepnya kayak naksir gitu?" heran Lio.


"Ck, ngapain kamu bawa anak kesini? apa kamu lupa di rumah udah ada dua biang kerok?" kesal Alden.


"Aku membawanya kesini karena ada alasannya," ujar Lio.


"Apa?!" tantang Alden.


Lio menghembuskan nafasnya pelan, dia menegakkan tubuhnya dan menatap Alden. Lio pun menceritakan tentang apa yang terjadi pada Raffa, Alden yang mendengar pun mendadak diam.


"Bahkan lidah Raffa pernah di ujung masukin rokok yang masih menyala, sehingga dia sulit berbicara di tambah dengan traumanya," ujar Lio.


Setelah di lakukan pemeriksaan terhadap Raffa, banya sekali luka sayatan serta cambukan yang ada di tubuh amak kecil itu Sehingga Raffa selalu memakai lengan panjang yang di sarankan oleh dokter.


"Tuh Ravin, untung daddy gak buang kamu. Lia noh si Raffa, sampe di gituin sama orang jahat. Mau kamu!" ancam Alden.


"Daddy mah antam telus aja Lavin, lama-lama Lavin cali daddy balu. Balu tau lasa," ujar Ravin.


Alden melotot, putranya ini tidak ada takut-takutnya.


"Tapi dad, yang bikin kita penasaran siapa itu Sachi. Bahkan Laskar yang memang mengerti meretas pun belum tahu siapa sachi," ujar Lio.


"Sachi?" bingung Alden.


"Iya, hacker yang selama ini membantu Frans serta keluarganya. Tapi kayaknya tujuannya bukan membantu keluarga itu, hanya saja kebetulan keluarga Frans sedang menghadapi kasus itu," terang Lio.


Alden mengetuk jarinya pada pahanya, dia berpikir siapa Sachi yang di maksud.


"Nanti daddy coba untuk masuk ke situsnya, akunnya masih kamu simpan?" tanya Alden.


"Nggak dad, setelah sia beri petunjuk tiba-tiba saja laptop atau bahkan ponsel kita bisa mati total," ujar Lio.


"Dia orang yang berpengalaman rupanya," gumam Alden.