
"Ada apa ini? mengapa kalian malam-malam kesini?" tanya Ane yang baru saja menemui Aqila dan Frans yang tengah duduk di ruang tengah sambil menonton acara siaran televisi.
Aqila berdiri, dia memeluk sang ibu mertua. Begitu pula dengan Ane yang langsung memeluk menantunya itu.
"Menantumu itu mengidam sate padang mah, jam segini aku tidak tau dimana resto yang masih buka. Untuk itu aku mengajaknya kemari, dan sekarang koki kita sedang membuatkannya," terang Frans.
Ane melepaskan pelukannya, dia menatap Aqila dengan senyum manisnya. "Benarkah sayang? kau mengidam hm? Apakah cucu mamah sangat menginginkan sate padang?" tanya Ane.
Aqila mengangguk malu, Ane menjadi tertawa di buatnya. Tak lama Geo datang dengan wajah bantalnya sambil melempari Frans dengan bantal miliknya.
BRUGH!
"Apaan sih pah!" kesal Frans.
"Apa kau tahu, kau menggangguku tidur! udah gitu mamamu ini malah membangunkanku dengan galak!" seru Geo.
"Terus kenapa jadi aku yang salah?" heran Frans.
Saat akan menjawab, netra Geo tak sengaja menatap Aqila. Dia terheran mengapa menantunya ini berada disini, dia pikir hanya Frans saja yang datang. Geo pun merubah ekspresinya dan segera mendekati menantunya itu.
"Eh putri papah, kenapa tidak bilang ingin kesini? papah kan bisa membuat penyambutan untuk mu," ujar Geo.
Aqila memeluk ayah mertuanya singkat setelahnya Aqila menceritakan tentang apa yang dia inginkan.
"Ooo jadi begitu, kenapa kau tidak bilang dari tadi Frans!" kesal Geo sambil beralih menatap sang anak.
Frans hanya memutar bola matanya malas, belum juga dia bercerita tapi Geo malah melemparnya dengan bantal.
"Ekhem, maaf tuan. Di depan ada tuan Ezra beserta istrinya," ujar sang bodyguard menengahi kekesalan ayah dan anak itu.
Frans mengangguk, dia beranjak dari duduknya dan menatap sang mamah yang sepertinya tengah terkejut.
"E-Ezra, Ezra kesini?" kaget Ane.
Frans mengangguk, dia mendekati sang mamah dan mengelus bahunya pelan.
"Menantu mamah satu lagi juga sedang mengidam, dia menginginkan ketoprak. Jadi aku mengusulkannya untuk kesini, dengan begitu kau bisa mendampingi ngidam dua menantumu bukan?" ujar Frans.
Mata Ane berkaca-kaca, dia mengangguk seraya mengucapkan terima kasih pada Frans.
Frans lun keluar dari ruangan itu, dia menghampiri Ezra beserta Lia yang masih menunggu di depan pintu.
"Ayo masuklah," ajak Frans.
Ezra mengangguk, dia menggandeng tangan sang istri mengikuti Frans menuju ruang tengah.
Netra Ezra tak sengaja menatap Ane, dia melihat adanya sebuah kerinduan pada tatapan wanita itu.
"Ka-kau kesini? du-duduklah, mamah akan menyiapkan kalian minuman hangat," ujar Ane dan akan segera beranjak.
Namun, Lia mencegah mertuanya itu. Dia menatap Ane sebentar dan memeluknya.
"Apa kabar mamah?" ujar Lia.
Ane membalas pelukan Lia, setelah itu dia melepaskan pelukannya dan menatap Ezra yang malah memalingkan pandangannya.
"Kak," peringat Lia dan menyenggol lengan Ezra.
Ezra melirik istri nya sejenak, kemudian dia menatap Ane yang tengah menatapnya dengan netra yang berkaca-kaca.
Ezra pun berusaha menurunkan egonya, dia berjalan mendekati Ane dan memeluk wanita yang berstatus sebagai ibu kandungnya itu Tak terasa air mata Ane jatuh, dia sangat merindukan bisa memeluk sang putra seperti ini. Yang lain pun memandang mereka dengan senyum haru, ini merupakan keinginan Ane. Akhirnya dia bisa memeluk putra kandung semata wayangnya itu.
Setelah itu, Ezra melepaskan pelukan mereka. Ane pun menghapus air matanya dan menatap Ezra dengan senyumnya.
"Yasudah, tadi Lia ngidam apa sayang?" tanya Ane beralih menatap Lia.
"Hm ... ketoprak mah," ujar Lia dengan sedikit malu.
"Baiklah, mamah akan membuatkannya untuk kamu. Mamah lumayan ahli dalam membuat makanan itu, tunggu sebentar yah," ujar Ane dan beranjak dari ruang tengah menuju dapur.
Ezra dan Lia oun duduk di sofa lain, begitu pula dengan Aqila dan Frans. Sedangkan Geo mengikuti sang istri yang sudah pergi ke dapur.
Berhubung tempat duduk Aqila dan Lia bersebelahan, mereka pun saling berbisik yang mana membuat kedua suami mereka bingung.
"Kau bujuk menggunakan apa suamimu hingga dia menurut akan kesini?" bisik Aqila.
"Dia pria yang jika berbicara tentang calon anaknya maka dia tak akan berpikir ulang, dia seorang ayah yang baik bukan?" balas Lia.
"Benarkah? hal itu bagus, sering - sering lah membujuknya untuk kesini dengan alasan bayi kalian," bisik Kalian.
Kemudian kedua wanita itu terkekeh, Ezra dan Frans pun saling pandang dengan bingung.
"Apa yang ...,"
"Maaf tuan muda, ini pesanan nona muda," ujar sang maid dan menaruh dia piring sate padang yang masih panas itu.
Frans mengangguk, dia akan mengambilnya. Namun, Aqila lebih dulu mengambil salah satu piring dan menikmati makanan itu sambil sesekali meniupnya karena panas.
Lia yang menatap Aqila makan dengan lahap pun seketika menatap Ezra. Ezra yang mengerti segera mengambil satu piring untuk istrinya.
"Makam sedikit saja, ketoprakmu belum jadi bukan?" ujar Ezra.
Lia mengangguk antusias, dia makan sate tersebut sambil menyuapi Ezra. Tak lama Ane kembali dengan piring dua piring ketoprak di tangannya.
"Ini dia, tapi maaf sayang. Di mansion tidak ada lontong, kalau membuat lontong dulu pasti akan sangat lama. Jadi mamah mengganti nya dengan ayam dan juga tahu." ujar Ane seraya menaruh piring itu di hadapan Lia.
"Gak papa mah, terima kasih," ujar Lia dengan senyum manis.
"Sama-sama sayang," ujar Ane dan mengelus kepala sang menantu.
Sehabis memakan sate, Lia beralih memakan ketopraknya. Dia memakannya dengan lahap, Ezra yang penasaran pun meminta di suapi. Lia pun dengan telaten menyuapi Ezra.
"Enakkan?" tanya Lia.
Ezra mengangguk, dia kembali membuka mulutnya kala makanan itu sudah tertelan. Lia pun menyuapkan kembali hingga tak terasa ketoprak itu habis.
Ane yang melihat anaknya memakan masakannya seketika tersenyum, dia sangat senang dan ini pertama kalinya Ezra memakan masakannya.
"Jika Lia mengidam lagi, kembalilah kesini. Disini semua bahan tersedia karena kami memiliki perkebunan dan banyaknya stok makanan, jadi kalian tak perlu khawatir," ajak Geo.
"Iya benar," seru Ane.
"Terima kasih, tapi aku takut merepotkan kalian," ujar Ezra.
Ane menggelengkan kepalanya. "Tidak, sangat tidak merepotkan. Mamah ingin ikut andil dengan kehamilan menantu mamah,"
Ezra akan menjawab, tapi Lia malah mencubit perutnya yang membuat dirinya diam.
"Oh iya mah, nanti kalau Lia ngidam lagi Lia akan minta sama sama," seru Lia.
Ane tersenyum senang, dia akan sering bertemu dengan putra beserta menantunya. Sedangkan Frans dan Aqila, keduanya masih sibuk menghabiskan sate yang tadi di datangkan kembali oleh maid.
"Sudah jam tiga pagi, sebaiknya kalian menginap disini saja. Banyak kamar kosong kok," seru Ane pada Lia dan Ezra. Jika Frans, dia sudah tahu pasti dia dan istrinya akan menginap disini.
"Tidak usah kami ...,"
"Udah sih nginep aja, lagian juga besok hari libur. Santai aja, sesekali kita kumpul begini lah," sela Frans.
Ezra akan menjawab, tetapi Frans lebih duku menyelanya. "Anggap aja ini rasa terima kasih lu kepada gue yabg udah ngabulin ngidam bini lu itu," ujar Frans.
"Oke," pasrah Ezra.
Lia dan Aqila senang, mereka kini saling mengobrol dan berencana untuk tidur bersama. Frans dan Ezra yang telah menerima sinyal buruk segera menatap kedua istri mereka.
"Kak, aku dan kak Qila akan tidur berdua. Kami akan bercerita, boleh yah," pinta Lia.
"Nggak! aku tidur dimana kalau kayak gitu!" kesal Ezra.
Begitu pula dengan Aqila yang meminta izin pada Frans.
"Boleh yah,"
"Tidak, waktu tidurmu telah terganggu. Kalian kan bosa cerita besok!"
"TAPI KAMI INGIN BERCERITA TENTANG URUSAN WANITA DAN KALIAN TIDAK AKAN MENGERTI!" serentak Aqila dan Lia yang mana membuat kedua suami mereka terdiam.
Ane dan Geo yang melihatnya hanya terkekeh, putra mereka sedang di landa kegelisahan sebab istri mereka tidak tidur bersama mereka.
"Nanti aku peluk siapa yang? kan kamu tau aku gak bisa tidur kalau gak peluk kamu," rengek Ezra.
"Sebelum kita nikah aja kamu terbiasa peluk guling kok!" ujar Lia.
Sedangkan Frans, dia bingung bagaimana membujuk sang istri. Tidur pun dia harus meminta izin pada Aqila agar bisa memeluk wanita itu ketiak tidur, bagaimana cara membujuknya? haruskah dia bilang jika dirinya tidak bisa tidur tanpanya?
"Love aku ...,"
"KAmu tidur berdua sama Ezra aja, bukannya sama aja?" ujar Aqila.
Ucapan Aqila membuat Ezra dan Frans saling tatap, sedetik kemudian mereka bergidik ngeri membayangkan mereka tidur berdua.
"Sudahlah, ayo Lia kita ke kamar," ajak Aqila dan menggandeng lengan sang adik.
"Mah, pah, kita pamit ke kamar dulu. Selamat malam," ujar Lia dan pergi ke kamar bersama Aqila
Geo dan Ane pun hanya mengangguk ragu, netra mereka beralih menatap Frans dan Ezra yang sedang menatap nanar kepergian istri mereka.
"Kasihan sekali," lirih Geo.
"Gimana kalau papah juga ikut tidur sama mereka?" usul Ane.
"APA?!"