My Perfect Mafia Daddy

My Perfect Mafia Daddy
Part 72: Bukan Lavin



Ica dengan gaya santainya dia memasuki kampusnya, berhubung mata kuliahnya hanya dua sehingga dia pulang tidak terlalu telat.


"Raisa!"


Ica menghentikan langkahnya, dia tersenyum ketika melihat teman-temannya yang menghampirinya.


"Eh, lu mau deketin senior itu kan? cepat sana, dia lagi belajar di perpus!" seru Ranti.


Ica mengangguk. "Thank's bestieee," seru Ica dan berlari ke arah perpustakaan.


Ica berjalan sangat cepat, dia membuka pintu perpustakaan dan mengedarkan pandangannya.


"Mana sih orangnya?" gumam Ica.


Netranya mencari, tepat di pojokan terdapat seorang pria memakai kaca mata baca sedang mempelajari suatu buku. Kedua sudut bibir Ica pun membuat lengkungan ke atas, tangannya terulur mengambil buku dan berjalan mendekati pria itu.


"Ekhem!"


Ica sedikit terbatuk agar pria itu menoleh padanya, tetapi tampaknya pria itu sangat serius membaca dan tak menyadari jika ada Ica di sampingnya.


"EKHEM! EKHEM! EKHEM!"


Akhirnya pria itu menoleh, dia tampak mengerutkan keningnya kala melihat Ica yang sedang menatapnya kesal.


Hanya sekedar melihat dan tak berbicara, pria itu kembali fokus terhadap bukunya. Ica sangat ingin memukul kepala pria itu dengan buku di genggamannya.


"Maaf yah kak, boleh saya duduk di sini?" tanya Ica berusaha untuk sabar.


Pria itu mengangguk, Ica pun duduk di sebelahnya dan menatap pria itu yang tengah serius membaca.


"Tampan," begitulah lirihan Ica kala melihat wajah pria itu dengan jarak yang dekat.


"Hai tampan, apakah harimu baik? mari kita perkenalkan diri, namaku ...,"


"Pengganggu!" sentaknya dan membereskan bukunya setelah itu dia beranjak dari samping Ica.


Tangan Ica mengudara, dia melongo tak percaya apa yabg di lakukan pria itu terhadapnya.


"Hohow, pertama kalinya pesonaku jatuh," gumam Ica yang tampak masih tak percaya.


Ica pun segera berdiri, dia mengejar pria itu yang sudah lumayan jauh.


"BEnar-benar kulkas, ku kira abang yang paling dingin ternyata dia melebihi dari yang ku duga," gumam Ica menatap punggung pria itu yang semakin jauh.


Puk!


Salah satu bahu Ica di pukul seseorang, dan bahu yang lain di buat sandaran tangan yang lain.


"Gimana bestie? berhasil?" tanya Ranti sambil menatap Ica yang sedang menahan kesal.


"Uh ... gagal yah, seorang anak mafia gagal ternyata," ledek Eva.


Ica menghempaskan kedua tangan sahabatnya dati bahunya, dia menaikkan lengan bajunya dan berkacak pinggang.


"Gue sumpahin tuh cowok cinta mati ama gue!" geram Ica.


"Ya makanya lu berdoa, siapa tahu kan jodoh," ujar Ranti.


Ica berlari ke tangga rooftop, sedangkan sahabatnya berlari juga mengikutinya walau mereka bingung.


Brak!


Ica membuka pintu rooftop dengan kasar, dia mendekati pagar pembatas dan berteriak.


"BISA GAK SIH DIA JADI JODOHKU?! KALAU GAK BISA, PAKSAAA! PAKSAAAA!"


"LANGIITTT, GUE BOSEN JOMBLO TERUS! BISAKAH KAU ...,"


"Gila!,"


Ica tertegun sejenak, dia menatap kesamping dan melihat pria yang dia kejar tadi berada disini. Bahkan pria itu tengah bersandar sambil menutupi wajahnya dengan buku.


"Lu kok ngomong kasar sih!" sentak Ica tak terima.


Kedua sahabat Ica terkejut melihat keberadaan pria itu, mereka pun memundurkan langkahnya pelan-pelan agar tak mengganggu keduanya.


"Lu tuh yah, lu ... UDAH BUAT GUE KESEL! LU GAK MERASA TERPESONA GITU SAMA RAISA GEVONAC?!"


Tampak pria itu terdiam, dia memikirikan apa yang Ica ucapkan. Selanjutnya dia membereskan bukunya dan bangkit berdiri.


Netranya bertubrukan dengan Ica yang tengah memandangnya, tinggi Ica hanya sebatas dadanya saja. Bahkan Ica tak bisa di bilang anak kuliah karena tingginya.


"Raisa Gevonac, anak bungsu keluarga Gevonav?" tanya pria itu sambil menaikkan satu alisnya dan tersenyum.


Tampak Ica mengerutkan keningnya, pertama kalinya pria itu menunjukkan senyum tipis pada orang lain.


"Gibran, nama gue Gibran. Salam kenal pendek,"


Setelah mengatakan hal itu, pria tersebut berlalu dari hadapan Ica. Sedangkan Ica, dia membulatkan mulutnya lantaran mendengar kata pendek.


"Kulkas banget, tapi sekalinya ngomong pedes banget dah," gumam Ica.


***


"Ini ciapa mommy?" tanya Cia menunjuk satu foto.



Amora menahan tawanya kala melihat seorang bayi yang di foto dengan labu, itu tak lain adalah Ravin yang berumur 9 bulan.


"Ini Ravin," ujar Amora.


Ravin melihat apa yang sang mommy tunjuk, dia mendelik pada sang mommy tidak percaya jika itu adalah dirinya.


"Mommy boong yah? macak Lavin kayak gini?" tanya Ravin dengan sinis.


"Dih nih anak gak nyadar, HEH! liat dulu badan Ravin sekarang udah mirip gentong!" seru Lio yang sepertinya tidak kuliah.


Ravin menatap abangnya, dia mengambil ponsel sang mommy yang tergeletak dan bergerak menuju Lio dan memukul aset sang abang dengan keras.


"ARGHHH! BOCAH GAK ADA AKHLAK!" teriak Lio sambil memegangi asetnya.


"Lacain!" ketus Ravin.


Ravin kembali mendekati mommynya, tetapi netranya tak lepas dari Lio yang menatapnya kesal.


"Hais kalian ini, sudah-sudah," ujar Amora.


"Ravin sangat lucu, kalau Kino dia pasti sudah menangis," ujar Kiara menimpali apa yang terjadi.


Amora tersenyum, "Sedari bayi Ravin gak di manja, malah dari bayi dia sangat galak dan gak suka dengan Lio dan Lia,"


Kirana terkekeh, begitu juga dengan Amora. Berhubung Zidan dan Kirana pulang sore nanti, Zidan pun kembali ke rumah sakit untuk menjenguk menantu serta cucunya.


"Badana kayak dentong," ujar Kino.


"Citu nda naca yah?! minta cama mommy, di dalam kamal banyak kaca!" sentak Ravin.


Keduanya saling tatap bermusuhan, sedangkan Cia dia sedang asik membalikkan lembar foto bersama Raffa yang duduk di sebelahnya.


"Ini juga Lavin mommy?" tanya Cia menunjuk bayi yang tengkurap.


"Iya, itu Ravin semua. Foto abang dan kakak ada di album lain," ujar Amora.


Tiba-tiba saja Ravin mengambil buku yang ada di tangan Cia, dia melempar buku itu dengan jarak yang cukup jauh.


"Nda ucah liat-liat lagi, Cia kalau Lavin poto pac ladi jelek Ciana malah kan?! jadi nda ucah liat-liat lagi! Cia liatna yang cekalang aja, udah ap-ap!"


Ap-ap yang Ravin maksud adalah glow up, hanya saja dia mengingat kata belakang tanpa depan.


Raffa menatap Amora, dia merangkak pelan mendekati Amora. Setelahnya dia duduk di pangkuan Amora karena tahu apa yang akan terjadi.


"Cadal dili Lavin, mukana nda danteng kayak oppa kolea kok gayana kayak le min ho?!" kesal Cia.


"Kok nda danteng cih, daddy danteng gak?" tanya Ravin pada Cia.


"Daddy danteng banet lah," seru Cia.


"Telus mommy tantik gak?" tanya kembali Ravin.


Cia mengalihkan pandangannya pada Amora yang sedang mengobrol dengan Kiara, dan diapun kembali melihat Ravin yang tengah menunggu jawaban.


"Tantik," ujar Cia.


"Ya belalti Lavin danteng dong, kan Lavin anak meleka. Maca delek," kesal Ravin.


"Ya belalti tandana Lavin anak punut, iya kan Cia?" sahut Kino dan bertanya pada Cia.


Cia mengangguk cepat, sedangkan Lio sudah menahan tawanya mendengar percakapan kedua bocah itu.


Lini wajah Ravin memerah, dia menatap Cia dan Kino dengan hidung yang kembang kempis menahan amarah.


"KINO NDA ADA OTAKNA!"


Viola yang baru saja datang dari datang di buat terkejut mendengar teriakan Ravin.


"Kenapa Lio?" tanya Viola pada Lio yang tertawa.


Sedangkan Amora, dia langsung menjauhkan Ravin yang bersiap akan mencakar wajah Kino.


"LEPACIN MOMMY! LEPACIN! BIAL LAVIN HAJAL MULUTNA BIAL JONTOL CEKALIAN!"


"Ravin, Ravin denger mommy! tadi ada suara telolet di depan, tukang sempol udah dateng. Cepat nih mommy kasih duit,"


Ravin menormalkan ekspresinya, dia tersenyum lebar dan mengambil uang yang Amora sodorkan.


"Makacih mommy!" seru Ravin dan berlari ke liar mansion.


"PAK TALIM BUKA GELBANGNAAAA!"


Amora dan Kirana menggelengkan kepalanya, sedangkan Kino dan Cia kembali asik sendiri melihat Ipad milik Cia.