My Perfect Mafia Daddy

My Perfect Mafia Daddy
Part 35: Bawahan Daniel



Aqila dan Frans memasuki ruang rapat, tampak di sana sudah terdapat dua orang laki-laki berbeda usia dan satu orang wanita.


Frans pun menarik kursi untuk Aqila setelah itu baru dirinya, mereka duduk berhadapan dengan orang-orang tersebut.


"Wah ternyata rumor di luaran sana jika kau dingin adalah salah, kau begitu baik pada sekretarismu itu," ujar pria paruh baya.


"Terima kasih atas pujian anda tuan Seno," datar Frans.


Sedangkan Aqila cuek, dia hanya melihat berkas yang dirinya bawa karena takut ada kesalahan. Frans pun menyodorkan tangannya pada Aqila, Aqila yang paham segera memberi berkas tersebut.


"Sebelumnya saya meminta maaf karena rapat sebelumnya saya tidak bisa menghadiri karena ada urusan penting. Asisten saya sudah menjelaskan semua rapat itu, dan ada satu hal yang saya tidak setujui," terang Frans.


"Apa itu?" heran pak Seno.


Frans memberikan kertas itu di hadapan pak Seno, netranya menjadi dingin kala melihat jika pak Seno tak merasa bersalah sedikitpun.


"Dana yang di keluarkan sangat besar, tetapi keuntungan sangat kecil. Apa kau ingin menipuku?" dingin Frans.


Aqila mengerutkan keningnya, dia rasa tak ada yang salah dengan berkas yang pak Seno berikan. Tapi mengapa Frans mengatakan hal itu?


"Tuan, anda bisa lita baik-baik. Jika nominal keuntungan sangat besar," ujar pak Seno dan memberikan berkas tersebut.


"Kau ingin mengecohku?" sinis Frans.


Aqila mengambil berkas itu, dia menelitinya dan terdapat nominal yang tidak sesuai. Frans belum mentandatangani berkas itu, apakah ini alasannya?


"Ehm ... tuan, ayahku benar. Kerja sama ini akan membawa keuntungan yang besar untuk kita," ujar seorang wanita yang memakai pakaian terbuka. Frans pun berdecih malas mendengar suara wanita itu.


"Kau itu siapa? apa jabatanmu di kantor? apa kau wanita bayaran yang di bawa oleh pria ini?" sarkas Frans.


"Jaga ucapanmu tuan, dia adalah putriku. Dia kesini karena ingin bertemu denganmu, dia sangat mengagumimu," ujar Seno.


Frans menghela nafas berat, dia menatap Aqila agar sang istri yang menjelaskannya. Energinya di buang percuma menghadapi orang di depannya.


"Tuan Seno, sebelumnya anda meminjam uang di perusahaan kami. Setelahnya anda mengajukan kerja sama dengan syarat kami menginvestasikan saham kami pada perusahaan anda, Sedangkan perusahaan anda terus mengalami penurunan dalam omset. Bagaimana kami harus bekerja sama dengan anda? dan dimana untung yang di janjikan?" tegas Aqila.


"Maaf nona, kau hanya sekretarisnya dan kau berani merendahkan perusahaan ayahku?!" ujar wanita itu.


Frans menatap tajam wanita bernama Lira itu, dia melipat tangannya di depan dada dan menaikkan satu alisnya.


"Lalu bagaimana denganmu? kau hanya anak dari pak Seno, bukan sekretarisnya. Bahkan sedati tadi tampaknya sekretarisnya hanya diam karena tahu jika proposal yang kalian berikan itu salah!" sinis Aqila.


"Kamu!" sentak Lira.


"Jaga bicara anda pada anak saya, kau hanya sebagai sekretaris," ujar Seno.


Aqila yang kesal merobek kerja sama itu, dia menatap tajam Seno dengan aura mematikan. Sedari tadi dirinya mencoba bersabar dengan ejekan dari orang di depannya.


"APA YANG KAU LAKUKAN?! KENAPA KAU MEROBEKNYA HAH?!" sentak Seno.


Lira, wanita itu langsung menggandeng lengan Frans. Dia mengadu sambil menunjuk Aqila yang memasang wajah jutek kepada mereka.


"Tuan, lihatlah sekretaris anda. Dia tak mampu bekerja dengan anda, dia hanya bisa menyusahkan anda saja. Pecat dia tuan! aku bisa menggantikannya menjadi sekretarismu," bujuk Lira.


Frans menghempaskan wanita itu, tak lama para polisi datang dan mengepung tempat itu.


"APA-APAAN INI! MENGAPA ANDA MELAPORKAN SAYA? APA SALAH SAYA?!" sentak Seno.


Frans bangkit dari duduknya, dia mendekati Seno yang menatapnya penuh amarah.


"Anda di bayar berapa oleh Daniel? jangan kira saya tidak tahu jika anda adalah tangan kanan Daniel untuk sedikit menghancurkan perusahaan saya," ujar Frans.


Aqila tampak terkejut, dia berdiri dan menoleh menatap semua para polisi yang mendekati mereka.


"Anda salah lawan, tuan," ujar Frans.


Frans menoleh menatap Lira yang mengepalkan tangannya menahan amarah. Frans berdecih sinis, dia berjalan mendekati sang istri dan merangkulnya.


Tampak Seno dan Lira terkejut, mereka memandang Aqila tak percaya. Mereka kira rumor tentang Frans menikah hanya kabar sesaat dan belum tentu benar.


"Tangkap mereka!" titah Frans.


"Siap King!"


Frans tersenyum menatap sang istri, dia membawa Aqila kembali ke ruangannya. Sedangkan Aqila, dia hanya diam karena syok apa yang terjadi.


"Ulasanmu tadi cukup mengagumkan, kau cocok menjadi sekretarisku," ujar Frans.


Aqila melepaskan tangan Frans yang merangkul pinggangnya, dia menduduki dirinya di sofa dan menatap Frans dengan tajam.


"Kenapa kau bisa tahu jika dia adalah orang Daniel? kau tak membicarakan ini padaku! aku berhak tau Frans!" kesal Aqila.


"Baiklah, akan ku ceritakan," ujar Frans dan duduk di samping Aqila yang malah menggeser duduknya.


Frans menghela nafasnya, dia akhirnya mulai bercerita tentang Seno dan Daniel.


Flashback On.


"Maaf King, apa aku mengganggu malam pernikahanmu?" tanya Kenan.


"Tidak, katakan!" ujar Frans.


"Ternyata Daniel membayar beberapa irang untuk menusukmu dari belakang, walau dia di penjara tapi dirinya banyak cara agara kau jatuh. Mafianya di kabarkan telah di bubarkan, tapi ternyata mafia itu tetap berdiri dengan di pimpin oleh putri angkatnya. Untuk markasnya, saya belum menemukannya," terang Kenan.


"Siapa orang yang kamu tahu jika itu adalah orang suruhan Daniel?"


"Seno, Seno dari perusahaan di bidang fashion. Kau harus berhati-hati terhadapnya, Daniel menjanjikan saham sebesar 35% jika dia berhasil membuat perusahaanmu hancur," jawab Kenan.


Frans tertawa pelan, apakah Seno kira perusahaannya di bangun oleh kardus hingga bisa dengan mudah di hancurkan? sungguh orang yang naif, apakah dirinya tidak tau jika Daniel memanfaatkannya?


"Sudahlah, dia hanyalah hama kecil. Aku bisa mengurusnya sendiri," ujar Frans.


Flashback Off.


"Ada yang mau kamu tanyakan lagi?" tanya Frans.


Aqila menggeleng, tapi sedetik kemudian dia mengangguk. "Kenapa Cleo bisa ada di negara ini? dan kenapa kau terlihat sangat membencinya, bukankah dulu kau pernah menjadi temannya?" heran Aqila.


Raut wajah Frans berubah, dia tak ingin menjawab itu. Aqila yang mengerti pun hanya bisa menghela nafas pelan, apa yang Frans sembunyikan hingga dirinya tidak boleh tahu?


"Frans apa ...,"


"Lupakan masalah itu, setelah kau melahirkan dan kau sehat. Aku akan membicarakannya padamu, aku tak ingin ada apa-apa dengan kandunganmu. Tapi stau yang pasti, aku selalu menjagamu. Dan ingat ini, jangan pernah percaya dengan orang luar kecuali aku dan keluargamu termasuk Cleo!"


"Terkadang ... sahabat adalah orang yang menusuk kita dari belakang, karena sekarang ini adalah masa dimana semua orang rakus akan harta, kedudukan dan keinginan mereka yang harus terpenuhi!"


Aqila mengangguk mendengar wejangan suaminya, dia hanya bisa menurut untuk saat ini.


"Frans," panggil Aqila dengan nada lirih.


"Hm, kenapa?" tanya Frans.


Aqila mengelus perutnya, dia menatap Frans dengan lembut. "Babynya lapar, ayo kita makan siang," pinta Aqila.


"Benarkah kau lapar sayang? baiklah karena cebong lapar mari kita makan di luar," seru Frans seraya mengelus perut Aqila.


"Jangan berkata seperti itu, bisa saja dia marah," kesal Aqila.


Frans hanya tersenyum tidak jelas, dia merangkul pinggang sang istri dan keluar dari kantornya. Mereka memutuskan makan siang karena sang baby yang merasa lapar.


bantu dukung karya author dengan cara beri like, komen, vote dan hadiahnya yah🤩🤩🤩🤩