My Perfect Mafia Daddy

My Perfect Mafia Daddy
Part 45: Hukuman Ravin



Keadaan mansion Wesley kembali di gemparkan oleh anak kecil, siapa lagi kalau bukan Ravin.


"Pokokna minggu depan Lavin mau ke lumahna glanpa Althul! mommy kan udah janji cama Lavin," ujar anak itu.


"Tapi kan sayang, minggu depan abang nikah. Granpa juga pasti kesini," bujuk Amora.


"GLANDPA NA KECINI, TAPI CI MBUL NDAK!" teriak Ravin.


"Sekali lagi kau berteriak di depan mommy, daddy akan kurung kamu di kandang mbeknya pak mamat," ancam Alden yang geram dengan teriakan sang anak.


Ravin membuang wajahnya, dia segera berlari keluar dari kamar orang tuanya. Sementara Amora dan Alden hanya bisa menghela nafas lelah, bungsu mereka selalu meminta singa Arthur kembali.


Sedangkan Ravin, kini anak itu kembali berulah. Dia berlari ke arah dapur dan menggangu para maid yang akan menyiapkan makan siang.


"Tuan kecil, jangan mainan tepung itu. Nanti baju anda kembali kotor," ujar salah satu maid.


Ravin tak menggubrisnya, dia malah menumpahkan satu bungkus tepung dan menendang-nendang dengan kakinya.


Netranya menatap berbinar kulkas yang sedang di buka, dia sana terdapat telor yang tersusun Rapih. Ravin pun mendekati kulkas dan menarik tempat penyimpanan telor yang kemang tak terlalu tinggi.


BRAK!


"ASTAGAAAA!" seru para maid.


RAvin hanya tertawa sambil bertepuk tangan, dia menidurkan dirinya di pecahan telor itu dengan senang. Kini tubuhnya sudah berbalur tepung dan telur.


"Laviiinnn!" sentak Cia yang baru saja masuk ke dalam dapur.


"Cia cini main cama Lavin, acik loh," ujar Ravin.


"Nda mau, kamu bau! amis! liat aja bauna gak bakal ilang walaupun kamu mandi kembang tujuh lupa!" sentak Cia sambil menutup hidungnya.


Cia pun berlari keluar dapur untuk memanggil Amora, sedangkan Ravin bocah itu mencium bau amis. DIa pun menatap para maid yang menatapnya dengan datar, anak itu membuat yang lain gemas.


"ASTAGAAAA APA INI RAVIIINN!" kaget Amora sembari menatap anaknya dan berkacak pinggang.


Ravin segera berdiri, dia menundukkan kepalanya sambil menyembunyikan tangannya di belakang tubuhnya. Satu kakinya pun dia jinjit dan dia putar-putarkan mengurangi rasa gugupnya.


"Sekarang ikut mommy mandi, setelah itu jalani hukuman seperti biasa." ujar Amora sambil menarik sang anak mengikutinya.


Amora pun memandikan Ravin di kamar bawah karena tak mungkin dengan baju penuh tepung dan telor memasuki kamarnya. Bisa-bisa bau tersebar di mana-mana.


Ravin hanya menurut ketika sang mommy memandikannya berulang kali, bahkan memakai banyak sabun.


"Sudah tidak bau." ujar Amira sambil mengendus rambut sang anak.


Amora oun memakaikan Ravin handuk dan membawanya ke kamar atas karena baju sang putra yang berada di sana.


Sesampainya disana, Amora langsung menurunkan Ravin di tempat tidur. Dia mengambil pakaian Ravin beserta minyak telon dan memakaikannya pada sang anak.


"Sekarang hadap tembok dan renungi kesalahanmu, tidak ada bantahan!" titah Amora.


Ravin mengangguk, dia berjalan mendekati tembok yang ada di dekat pintu. Dia pun menundukkan kepalanya sambil sesekali memainkan kakinya.


Sedangkan Amora kembali membereskan barang Ravin, dia sungguh kesal dengan putranya yang selalu mencari gara-gara. Bahkan sikap Ravin melebihi nakalnya Elbert.


CKLEK!


Alden memasuki kamarnya, netranya melihat sang anak yang sedang menghadap dinding. Alden tidak tau apa yang terjadi karena dia sedang berada di ruang kerjanya bersama Elbert membahas acara pernikahan minggu depan.


"Kenapa Vin?" bingung Alden.


"Di hukum cama mommy," ujar Ravin.


Alden menghela nafasnya, dia berjalan mendekati sang istri untuk mempertanyakan kesalahan sang putra.


"Yang Ravin kok kamu hu ..."


DUGH!


Alden mengusap bahunya yang terkena lemparan minyak telon, dia mendekati Ravin dan melakukan hal serupa dengan Ravin.


Ravin yang melihat hal itu segera mendongak menatap sang daddy.


"Cabal, olang cabal pantatna lebal," ujar Ravin.


Alden melototkan matanya, sang anak sudah di hukum tidak ada takut-takutnya.


***


"Gimana? udah dapet petunjuk?" tanya Frans pada Mateo yang asik meretas akun seseorang.


"ARGHH! gagal!" sentak Mateo.


Frans menggeleng, kemudian tatapan Frans jatuh pada coretan Mateo. Frans oun mengambilnya dan memerhatikan coretan Mateo.


"Mungkin gak sih, bukan hanya anak-anak aja yang di jual. Tapi para wanita juga di jual, secara banyakkan wanita malam di sini?" tanya Frans.


"Lu bener, mending kita ke jalan XX. Disana banyak banget wanita malamnya," ujar Mateo.


Mateo dan Frans pun bersiap, mereka segera menuju lokasi yang Mateo maksud. Mereka pun menggunakan motor agar lebih cepat sampai, tak lupa Frans dan Mateo membaca senjatanya untuk berjaga-jaga.


Sesampainya di sana, ternyata benar. Banyak sekali wanita malam, Frans dan Mateo oun turun dan memakai kaca kata mereka.


Netra Frans menangkap banyaknya CCTV, tetapi dirinya curiga jika CCTV itu untuk memantau para wanita tersebut.


Mateo melihat beberapa orang yang memiliki tato yang sama seperti dia lihat sebelumnya, bahkan begitu banyak orang seperti itu disini.


"Hi, do you need me to accompany you?"


(Hai, apa kau butuh ku temani?)


Frans menggedikkan bahunya, sungguh wanita itu membuatnya mual.


"Masih cakepan bini gue, udah cantik badan bak gitar spanyol," ringis Frans.


Frans berusaha menghindar, sementara Mateo langsung mendekati Frans dan melihat wanita itu.


"Maaf, apa kami bisa mencari wanita bernama Sera?" tanya Mateo.


"Tidak, tidak ada yang bernama Sera disini,"


Mateo dan Frans terkejut, wanita itu bosa berbahasa seperti mereka. Mateo pun menatap tajam wanita yang sedang memantau sesuatu.


"Dengar, aku memang berasal dari negara yang sama seperti kalian. Aku tak kenal wanita yang kau maksud, tapi tolong bantu kami terlepas dari sini. Aku juga ingin pulang dan bertemu keluargaku. Ku mohon," ujar wanita itu dengan berbisik.


Netra Mateo dan Frans menatap para pria yang mereka curigai sedang mendekati mereka, pria-pria itu menarik lengan wanita tersebut dan menjambaknya dengan kasar.


"you better go!"


(Sebaiknya anda pergi!)


Ujar salah satu pria itu pada Frans, Mateo pun merasa ada yang aneh.


"Ini udah tindak kejahatan, pemaksaan, dan penjualan wanita," geram Mateo.


Mateo melihat marah ke arah pria yang menjambak wanita itu sambil membawanya kembali masuk. Dengan segera Mateo mengeluarkan senjatanya dan menembakkan beberapa orang disana. Begitu pula dengan Frans, dia memukul orang dan mematahkan tulang leher orang tersebut.


Frans memasuki tempat kelam itu, dia segera menolong para wanita yang telah di beri obat. Wanita tadi yang telah terbebas pun membantu Frans membangunkan teman-temannya yang lain.


Setelah itu Frans kembali ke luar, dia melihat para orang tersebut sudah kalah dengan Mateo.


"Tuan, bisakah aku mengikuti kalian kembali ke negaraku?" tanya wanita tadi.


"Tidak bisa, nyawa kami sedang menjadi incaran. Sebaiknya kamu cari jalan keluar sendiri, dan pakai kartu ini. Orang-orangku akan membantumu keluar dari negara ini," ujar Frans.


Frans pun menaiki motornya, begitu pula dengan Mateo. Frans pun melajukan motornya meninggalkan tempat itu.