
"Sayang,"
"Sayang,"
Aqila merasa terusik dalam tidurnya, dia mengerjapkan matanya dan dia terkejut mendapati dada bidang seseorang tepat di depan wajahnya.
Aqila mendongak, dia menghela nafas pelan. Ternyata itu adalah Frans suaminya.
"Kau mengagetkanku!" kesal Aqila sambil memukul bahu pria itu.
Aqila membalikkan badannya, dia kembali memejamkan. Frans yang melihat itu segera membalikkan tubuh istrinya.
"Apalagi?" kesal Aqila karena merasa tidurnya di ganggu.
"Aku pulang loh, kok kamu gak seneng?" heran Frans.
Aqila yang akan kembali memejamkan matanya sontak saja kembali membukanya, dia terduduk dan menatap Frans dengan terkejut.
"NGAPAIN KAMU PULANG HAH?! UDAH PUAS JAJANNYA?!" teriak Aqila.
Frans pun menduduki dirinya dengan perlahan, dia menatap sang istri dengan senyum yang tak luntur.
"Ini aku pulang," ujar Frans.
Aqila tampak membelakangi Frans, dia kesal dengan Frans entah karena rindu atau karena pria itu tidak ada kabar.
"Love,"
"Sayang,"
"Cintaku,"
Panggilan Frans tidak Aqila gubris, sehingga Frans pun mencoba memeluk istrinya dari belakang.
"Ish, apaan sih! awas!" sentak Aqila sambil menjauhkan Frans dari tubuhnya.
Tangan putih Aqila tak sengaja menyentuh perban di perut Frans, Frans pun meringis sembari memegangi perutnya.
"Hahsss,"
"Gak usah lebay kamu, paling cuma aku ... INI KENAPA?!" kaget Aqila ketika dia menoleh dan secara jelas melihat perut Frans yang di perban.
Aqila melihat luka itu, dia menyentuhnya sedikit. Frans lun tersenyum karena merasa sudah mengambil perhatian istrinya.
"Pasti sakit yah," lirih Aqila dan menatap Frans.
Frans mengangguk cepat sambil memajukan bibirnya, Aqila yang melihat itu bergidik ngeri.
"RASAIN!" sarkas Aqila dan turun dari tempat tidur.
"Loh Love, kok kamu gitu sih?!" kaget Frans yang melihat istrinya keluar dari kamar.
"Ck, koma dua minggu aja diginiin. Kalau koma sebulan bisa-bisa bini gue kawin lagi kali yah," gerutu Frans.
Frans pun merebahkan dirinya, dia sungguh ngantuk malam ini. Aqila pun kembali dengan gelas air di tangannya, dia terkejut ketika melihat Frans sudah tertidur.
Aqila pun berjalan menuju nakas, dia menaruh air putih itu dan duduk di tepi kasur.
"Sebenarnya apa pekerjaanmu? apa bekerja sebagai mafia membuatmu menjadi seperti ini? untung kau bisa pulang, jika tidak aku akan mencari ayah baru untuk anakku nanti," ujar Aqila.
Tadinya Aqila ingin mengambil minum untuk suaminya, tetapi Frans malah tertidur. Dia pun tak tega untuk membangunkannya, Aqila juga memutuskan untuk kembali tertidur bersama sang suami.
Pagi harinya, semua tampak sangat cerah. Aqila kini sedang memasak di temani para maid, dia terkadang mengobrol dengan maid tersebut.
Saat asik memasak, Aqila terkejut mendapati tangan kekar melingkar di perutnya. Dia segera mematikan kompor dan membalikkan badannya.
"FRANS! MALU TAU GAK, DISINI BANYAK MAID!" kesal Aqila.
Aqila pun menarik lengan suaminya menuju kamar kembali, Frans yang belum menggunakan baju membuat Aqila kesal.
"Pake bajunya, nih." ujar Aqila sambil menyerahkan sebuah kaos hitam pada Frans.
Frans menerimanya, dia memakai kaosnya dengan perlahan. Aqila segera keluar untuk mengambil kopi, dan tak lama dia kembali dengan segelas kopi di tangannya.
"Minumlah, wajahmu sangat kucel," ujar Aqila.
Aqila menyodorkan gelas tersebut pada bibir Frans, Frans pun meminumnya tanpa dia pegang.
"Sudah," ujar Frans.
Aqila kembali menaruh gelas kopi tersebut di nakas, dia berjalan menuju pintu lemari dan membukanya.
"Kau sedang mencari apa?" heran Frans.
"Mencari buku hamilku, hari ini aku akan kerumah sakit untuk melakukan USG," ujar Aqila.
Tak lama Aqila menemukannya, dia segera mendekati Frans dan menatap pria itu.
"Tapi aku belum mandi," ucap Frans.
"Tidak usah mandi, kau akan mandi bagaimana hah?" ujar Aqila.
Frans hanya terkekeh, dia berdiri dengan perlahan dan mengambil jaketnya yang semalam dia pakai.
"Frans aku boleh bertanya?"
"Iya, tanya saja," sahut Frans.
"Apa yang kau lakukan di Amerika? pasti bukan masalah bisnis, aku sudah tebak itu sedari awal. Apa ada yang kau sembunyikan?"
Frans terdiam, dia menatap istrinya dengan pandangan tak terbaca. Tadinya dia tak mau cerita hal ini pada Aqila, dia takut Aqila khawatir dan mempengaruhi bayi mereka. Frans juga berniat akan menceritakannya, tetapi dia juga menunggu waktu yang pas.
"Bisakah kita berbicara itu nanti? saat di pastikan keadaan bayi kita baik-baik saja, aku akan menceritakannya," ujar Frans.
"Kenapa tidak sekarang saja?" heran Aqila.
"Aku tidak mau mengambil resiko terhadap kandunganmu," jawab singkat Frans, dan hal itu membuat Aqila tak lagi bertanya.
Mereka pun kembali ke luar, terlihat Gio tengah membaca laporan perusahaan sambil menikmati secangkir kopi.
"Kalian mau kemana?" tanya Gio menyadari jika anak dan menantunya tengah menghampirinya.
"Kami ingin pergi ke rumah sakit, mau cek kandungan aku sama ini nih perutnya dia," ujar Aqila.
"Perut Frans kenapa?" ujar Gio berpura-pura tidak tahu.
Aqila menatap Frans. "Abis kena colek sama jajanan di luar," ujar Aqila dan berlalu dari hadapan kedua pria itu.
Gio tertawa, sedangkan Frans menekuk wajahnya kesal. Padahal dirinya tertekbak dan koma, bukan jajan di luar yang istrinya maksud.
"Sudah ku bilang dari awal kan, jujur lah padanya dan kau tidak kau," ujar Gio.
"Aku takut Aqila banyak pikiran, apalagi kandungannya menginjak 7 bulan. Kalau tiba-tiba lahir prematur gimana?" ujar Frans.
"Memangnya orang hamil itu berapa bulan?" heran Gio.
"Ehm gak tahu, mungkin setahun kali yah," gumam Frans.
Gio menggeleng, pasalnya dia belum pernah menghadapi wanita hamil. Saat Aluna, ibu dari Aqila hamil dia pun koma pada saat itu. Aluna menjadi istri Alden juga dia tidak tahu, bahkan saat dia bangun dari komanya Aqila sudah lima tahun saat itu.
"Urusan pengalaman anak kau tanya saja pada Alden, dia yang tahu jelas karena banyak anaknya," ujar Gio.
Frans pun mengangguk, dia segera menyusul Aqila yang sudah terlebih dahulu ada di dalam mobil.
"Kamu abis ngobrol apa sama ayah?" tanya Aqila ketika sang suami masuk mobil dan duduk di sebelahnya.
"Ngomongin kandungan kamu, kamu lahiran berapa bulan lagi? masih setengah tahun?" ujar Frans dan balik bertanya.
Aqila melongo, setengah tahun anak mereka sudah beberapa bulan sejak lahir. Apa-apaan suaminya ini? tampaknya Aqila harus memasukkan Frans ke les khusus Perfect Daddy.
"Bahkan jarak aku lahiran hanya berkisaran 2 bulan Frans, bahkan bisa lebih cepat dari itu,"
"APA?! KENAPA CEPAT SEKALI?!" kaget Frans.
Frans mengambil ponselnya, dia menghubungi seseorang dan banyak berbicara. Aqila jadi pusing sendiri mendengar percakapan Frans dengan orang yang di telpon.
"Kamar bayinya juga harus siap, biru laut iya. Tempat tidurnya harus yang mahal, kalau murah saya tidak mau. Ah iya sepatunya jangan sampai lupa, baju juga. Pokoknya keperluan anak saya nanti kalian harus menyiapkan nya,"
Aqila melongo mendengarnya, jenis kelamin anak mereka saja mereka belum mengetahuinya karena sepakat akan menjadi rahasia. Tapi ini, kenapa Frans malah menyiapkan warna biru? bagaimana jika bayi mereka perempuan?
Mobil mereka melaju dengan keadaan Aqila yang bingung dan Frans yang asik menelpon. Mereka memang menggunakan supir agar Frans tak perlu lelah menyetir.
"Frans, bagaimana jika bayi kita perempuan? kenapa semuanya serba biru?" tanya Aqila setelah Frans selesai menelpon.
Frans pun menatap istrinya. "Entah mengapa aku sangat yakin jika bayi di perutmu itu laki-laki, apa kau tau karena apa?" tanya balik Frans.
Aqila menggeleng. "Pertama, kau itu galak semenjak hamil. Kedua, kau tidak suka berdandan padahal sebelum hamil kau suka sekali berdandan. Yang ketiga, bayi kita lebih aktif menendang." ujar Frans sambil mengelus perut Aqila dan mendapat tendangan dari bayi mereka.
"Setiap kali aku mengelus perutmu, bayi kita akan menyapaku. Benarkan sayang?"
Aqila merasa tersentuh, suaminya sangat peka dengan dirinya dan juga kandungannya. Frans tak pernah protes mengenai dirinya yang berubah semenjak hamil.
"Badanku melar, apa kau akan mencari yang baru?" tanya Aqila sembari mengusap rambut suaminya yang sedang asik menciumi perutnya.
"Gak papa melar, biar makin semok. Jadi enak buat di peluk," ujar Frans tanpa dosa.
untuk cerita Ravin, banyak yang mau cerita Ravin di buat sendiri. Oke, setelah cerita ini selesai author akan buat cerita Ravin. Dan untuk itu terus beri like komen, vote dan hadiah untuk karya ini agar author lebih cepat menyelesaikannya.
kadang susah nyari alur, tetapi setiap komenan kalian entah mengapa membuat ide ku berjalan.
Jadi ... jangan bosen-bosen komen yah😎😎😎