My Perfect Mafia Daddy

My Perfect Mafia Daddy
Part 49: Raffa



Frans mengerjapkan matanya, pandangannya memburam ketika melihat cahaya. Dia kembali mengerjapkan matanya, pandangannya pun telah pulih, dia berusaha menduduki dirinya tetapi luka di perutnya membuat dia meringis.


"SHHSS," ringis Frans.


Cklek!


"Kau sudah sadar?" tanya Mateo yang baru saja masuk ke dalam kamar rawat Frans.


Frans mengangguk, dia memegangi perutnya yang terluka.


"Jangan banyak gerak, lukamu belum kering," ujar Mateo.


Mateo mendekati brankar Frans, dia mengambilkan gelas air yang ada di nakas dan menyodorkannya pada mulut Frans.


"Sudah," lirih Frans.


Mateo pun mengembalikan gelas itu, dia mengambil kursi dan menaruhnya di sebelah brankar Frans. Setelahnya dia duduk dan menatap Frans.


"Sudah berapa hari aku ada disini?" tanya Frans.


"Kurang lebih dua minggu lah, gue tungguin lu disini,"


Sontak saja Frans membulatkan matanya, dia menatap Mateo yang tengah memandangnya santai.


"Terus keluarga gue tau keadaan gue?" panik Frans.


Mateo menggeleng. "Nggak, yang mereka tahu lu ada misi penting dan butuh waktu lebih lama. Istri lu juga percaya, yah pada awalnya ada drama sedikit karena istri lu memaksa ikut. Untuknya mertua lu ngajak dia balik ke London,"


"London?!" kaget Frans.


"Yah ... kenapa? liburan juga kan? baby moon tampa suami," ujar Mateo.


Frans berdecak sebal, pasti istrinya itu masih khawatir padanya.


"Terus gimana keadaan adek lu?" tanya Frans.


"Masih sering dateng ke psikolog, dia butuh bimbingan psikolog untuk memperbaiki mentalnya. Kejadian itu membuatnya takut melihat orang, bahkan gue sebagai abangnya sendiri gak boleh meluk dia. Seperti Trauma sama orang begitu, mana gue harus ngurus mafia dan perusahaan. Gue gak bisa mantau dia," terang Mateo.


Cklek!


Pintu kembali terbuka, tampaklah Lio dan Laskar yang sedang membawa belanjaan.


"Eh, udah sadar lu?" ujar Laskar dengan tidak sopannya.


"Untung kakak gue gak kadi janda, coba aja lu gk selamat udah gue jodohin ama sugar daddy disini," ujar Lio tanpa dosa.


Frans mendengus kesal, padahal dirinya baru bangun dari koma. Tetapi orang-orang itu malah meledeknya.


"Apa dalang dari semuanya sudah tertangkap?" tanya Frans.


"Sudahlah, gue sama bang Lio yang nangkep mereka. Bukan semua polisi yang terlibat, hanya setengah dari mereka. Semua para wanita dan juga anak kecil sudah di bebaskan yang meninggal pun sudah di kuburkan dengan layak." terang Laskar sambil menaruh belanjaan dirinya.


Frans menatap bungkusan brand ternama di tangan Laskar, keningnya mengerut.


"Lu belanja?" heran Frans.


"Iya lah, nanti sore gue sama bang Lio mau pulang. Kita beli oleh-oleh buat orang di rumah, ya gak bang?" seru Laskar.


Lio hanya mengangguk, netranya menatap sekeliling ruangan Frans yang tampak luas. Kakinya melangkah perlahan mendekati jendela, tangannya terulur untuk menyentuh kaca jendela tersebut.


Netranya menangkap sebuah jarum kecil yabg ada di sela jendela. Kemudian netra Lio beralih ke botol infus Frans, mata tajamnya semakin melihat ke arah botol itu.


"Cairan kuning?"


Lio berjalan mendekati tiang infus Frans dengan cepat, dia mencabut sekang infus Frans dengan sekali tarikan sehingga menimbulkan suara ringisan dari Frans.


"AWSHH, LU GAK WARAS YAH!" sentak Frans.


Lio hanya memperhatikan selang infus itu, untung saja cairan itu belum di terima oleh Frans. Lio pun mengeluarkan lakban dan menempelkannya di botol infus itu, setelahnya dia mengambil kembali lakban itu dan melihat ada sidik jari yang berbeda.


"Lu ngapain sih?" bingung Mateo.


Laskar yang mengerti segera mengeluarkan ponselnya dan meretas CCTV rumah sakit.


"Ada orang yang kesini, dia nyuntikin cairan di infus Frans. Kayaknya keburu Frans terbangun jadinya dia langsung kabur tanpa memastikan cairan itu masuk ke tubuh Frans," terang Lio.


Laskar segera mendekati Mateo, dia menyerahkan ponselnya untuk Mateo lihat.


"Kau kenal pria ini?" tanya Laskar.


Sedangkan Frans tengah menahan darahnya yang keluar dengan selimutnya, Lio pun keluar untuk memanggil dokter.


Tak lama Lio kembali dengan seorang dokter, dokter itu pun menghentikan pendarahan Frans dan memasang infus di tangan yang berbeda.


"Sidik ini akan gue bawa ke polisi sebagai tambahan barang bukti, dan sore ini juga gue harus pulang," ujar Lio.


"Ikut," pinta Frans.


Laskar dan Mateo mendelik menatap Frans, kenapa Frans menjadi seperti anak kecil yang tidak ingin di tinggal sang ibu.


"Lu masih tahap penyembuhan disini, stres kali lu! jalan aja belum bisa," kesal Laskar.


"Gue mau pulang, ntar dapet jatahnya di cancel karena kelamaan," ujar Frans.


"EH MONKEY, DENGAN PERUT ABIS DI JAIT LU BISA APA HAH? BINI LU LAGI BUNTING DODOOL," kesal Mateo.


Frans menggerutu kesal, sedangkan Laskar dan Lio hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Adik lu ada kemajuan?" tanya Lio sambil menatap Laskar.


"Belum, dia masih takut ketemu orang," ujar Mateo.


"Dia ada di kamar sebelah?" tanya Lio.


Mateo mengangguk, dia memang memesan kamar untuk adiknya agar dia mudah untuk bolak balik.


"Boleh gue jenguk?" tanya Lio.


"Boleh, ayo ikut gue," ujar Mateo.


Mereka berdua pun pergi menuju kamar sebelah yang di tempati oleh adik dari Mateo.


Cklek!


Sesaat setelah pintu ruangan terbuka, tampaknya adik Mateo terkejut. DIa langsung menjauh dan bersembunyi di balik gorden.


"Raffa, jangan takut sayang. Sini sama abang, liat abang bawa siapa." bujuk Mateo dan sembari berjalan masuk.


Raffa tetap menggeleng, tak lama bunyi suara dering ponsel. TErnyata itu ponsel Lio, dia segera mengambil ponsel dari saku jaketnya dan melihatnya.


"Siapa?" tanya.


"Nyokap video call," ujar Lio.


Lio pun menggeser Icon hijau, dan tampaklah wajah sang mommy yang masih terlihat awet muda itu.


"Kapan kau pulang? setelah nikahan abangmu kalian berdua langsung berangkat kembali ke Amerika, apa urusan kalian disana hah?!" kesal Amora.


"Sorry mommy, nanti sore aku pulang. Aku janji," ujar Lio.


Posisi Lio membelakangi Mateo dan Raffa, sehingga Mateo bisa melihat Amora. Raffa pun memunculkan sedikit kepalanya, dia melihat Lio yang sedang membelakanginya.


"Hei, siapa anak kecil itu? kau sekarang ada dimana?" tanya Amora.


Lio mengerutkan keningnya, dia membalikkan badannya dan melihat ternyata Raffa sedang memperhatikannya. Dia pun mendekati Raffa, tetapi anak itu kembali bersembunyi.


"Mom lihatlah, dia sepupu dari Frans. Sapa dia mom," ujar Lio dan mengarahkan kameranya pada Raffa yang bersembunyi.


"Hai sayang, siapa namamu? apa kau malu denganku?" tanya Amora.


Raffa sedikit memunculkan kepalanya, dia melihat wajah Amora di layar ponsel itu. Netranya terus menatap Amora tanpa takut, berbeda jika dirinya menatap Lio dan Mateo.


"Siapa namamu?" tanya kembali Amora.


"Mom, dia belum bisa bicara," ujar Lio dan kembali mengarahkan kameranya pada wajahnya.


"Dia seumuran Ravin sama Cia kan? kok belum bisa berbicara? adikmu saja sudah cerewetnya minta ampun," ujar Amora yang merasa tak percaya.


"Sebelumnya dia diculik sedari bayi, dia tak mampu berbicara karena trauma dan mentalnya terguncang. Setiap hari setiap saat dia hanya melihat anak-anak di cambuk di pukul dan di bunuh di depan matanya sendiri. Bahkan Mateo pun harus bersabar ketika sang adik bersembunyi darinya," ujar Lio.


"Kasihan sekali," lirih Amora dengan netra berkaca-kaca.


Lio tak sadar jika Raffa sudah keluar dari tempat persembunyiannya, bocah itu kini sudah berada di belakang Lio yang berjongkok. entah Lio tak menyadari nya karena fokus dengan sang mommy, hal itu tak luput dari Mateo sang kakak.


"Halo sayang." ujar Amora sambil melambaikan tangannya.


Lio sontak saja menoleh, dia melihat Raffa yang sedang memperhatikan layar ponselnya. Tatapan Lio pun mengarah pada Mateo, sepertinya pria itu sama terkejutnya seperti dirinya.