
Sesampainya di rumah sakit, Frans dan Aqila turun dar mobil. Aqila pun melingkarkan tangannya di lengan Frans, mereka masuk beriringan kedalam rumah sakit.
Karena ruang dokter kandungan berada di lantai atas, Aqila dan Frans berjalan menuju lift. Tapi sayangnya banyak orang yang mengantri, sehingga Frans dan Aqila pun menunggu.
"Frans," cicit Aqila.
"Hm?" tanya Frans sembari menatap wajah Aqila yang tampak lelah.
"Capek?" tanya Frans yang mendapat anggukan dari Aqila yang sedang mengelus perutnya.
Frans pun berjongkok dan menumpu kakinya, dia menarik Aqila untuk duduk di pahanya. Aqila juga tak menolak, dia duduk di paha Frans karena antrian yang sangat lama.
Orang yang melihat itu memekik histeris, Frans yang menggunakan baju kaos hitam ketat yang mencetak tubuhnya dan di baluti dengan jaket kulit berwarna hitam yang terbuka membuat mereka semua terpesona.
"Kau lihat pria itu? sangat tampan bukan? dia sangat perhatian pada istrinya yang sedang hamil,"
"Kau benar, apa dia membuka lowongan mencari istri kedua? aku pengen daftar,"
"Lihat ketampanannya itu, melebihi gula astagaa!"
Aqila menatap wajah suaminya yang melihat ke depan, dia memperhatikan ketampanan suaminya.
"Suami gue emang cakep, makanya gue kejar-kejar. Tapi sayangnya sekarang jadi bucin gue," batin Aqila.
"Kenapa?" tanya Frans yang kini sudah menatap wajah istrinya.
"Gak papa," ujar Aqila.
Lift kembali terbuka, Aqila segera berdiri dengan bantuan bahu Frans. Mereka masuk kedalam Lift yang sudah kosong, dan ternyata di belakang mereka juga banyak orang yang ingin menaiki lift.
"Aw," ringis Aqila ketika kakinya terinjak.
Frans dan Aqila berdiri paling belakang, yang masuk pun belum berhenti juga. Frans berjalan ke depan Aqila, dia berdiri di depan Aqila dan menaruh kedua tangannya dinding sisi kepala Aqila.
"Panas," ujar Aqila.
"Besok aku beli rumah sakitnya, jadi kita tak perlu naik lift sesak seperti ini," gerutu Frans.
Lift pun berjalan naik, Frans tetap mengungkung tubuh Aqila dan menjaga jarak dirinya dan juga perut istrinya itu.
Bau asap rokok tercium, semua orang menatap pria yang dengan santai merokok padahal sudah ada tulisan di larang merokok.
"Uhuk! uhuk!"
Frans menutup wajah Aqila dengan jaketnya, sehingga kini Aqila dapat mencium wangi maskulin dari tubuh Frans.
TRING!
Lift pun terbuka, Frans melepas jaketnya dari wajah Aqila. Dia segera menggenggam tangan istrinya dan berjalan keluar dati lift.
Frans dan Aqila menahan napas mereka ketika melihat antrian di depan dokter kandungan sangat ramai.
"Kita salah waktu sepertinya," ujar Aqila.
"Kita pulang saja, USG nya di dokter kamu aja Love. Biar kita buat janji dulu, ini ramai banget," ujar Frans.
"Kok pulang, kita udah cepek sampe.sini loh. Udah ah, kita ambil nomor antrian dulu," ujar Aqila.
Aqila berjalan menuju loker, dia mengambil antrian untuknya dan setelah itu dia mendekati Frans yang sudah duduk di bangku pojok.
"Sini." pinta Frans sambil menepuk bangku di sebelahnya.
"Dapet nomor berapa?" tanya Frans.
"23," jawab Aqila.
Frans pun melototkan matanya, berapa lama lagi mereka akan menunggu? padahal ini sudah hampir siang, istrinya juga butuh istirahat.
"Aku akan menghubungi Elvio sebentar, kau jangan kemana-mana," pinta Frans yang di angguki oleh Aqila.
Aqila mengelus perutnya sembari melihat para ibu-ibu hamil yang juga sedang mengantri, tak lama ada seorang ibu hamil yang duduk di sebelahnya.
"Antriannya masih lama yah?" lirih wanita itu.
"Iya," sahut Aqila secara tak sadar.
"Kau bisa berbahasa indonesia?!" kaget wanita itu.
Aqila menatap wanita itu, dia mengangguk sembari tersenyum.
"Hai, aku tak menyangka akan bertemu denganmu. Akhirnya aku bisa berbicara dengan orang yang bisa berbahasa indonesia,"
"Apa kau tidak bisa berbahasa inggris?" tanya Aqila.
"Tidak, aku mendapat suami bule. Baru tinggal disini sekitar 1 bulan lalu," ujarnya.
Aqila tersenyum, dia menatap perut wanita itu yang sepertinya sudah sangat besar. Jika di perkirakan kandungannya itu sudah berusia 9 bulan.
"Oh aku Sera, dan kau?"
"Aku Aqila, panggil saja Qila," ujar Aqila.
Mereka kembali terdiam, tiba-tiba Aqila merasa mual. Mungkin karena dirinya mencium aroma yang aneh menurutnya sehingga dia pun pamit ke kamar mandi dengan Sera.
Ada seorang suster yang tak sengaja mendorong meja makan pasien ke arah pojok dan itu di duduki oleh Sera. Sera yang melihat itu segera berdiri dan akan menghindar, tetapi telat meja itu menabrak perutnya dengan cukup kencang.
BRAK!
"AAWW ... AA-AAH,"
Semua perawat yang ada disana segera menghampiri Sera, mereka terkejut melihat darah yang keluar dari sela kaki Sera. Bahkan darah itu sudah mengotori lantai, Sera yang tak tahan sakit pun akhirnya pingsan.
Suster segera mengangkat Sera ke brankar, mereka langsung membawa Sera ke ruang persalinan.
Orang-orang disana terkejut melihat hal itu, bahkan kini ramai perbincangan di tengah mereka.
Sedangkan Frans, dia masih asik mengobrol dengan Elvio.
"Bilang pada temanmu itu agar lebih mendahulukan istriku, antrian disini sangat panjang. Istriku harus istirahat ahar malam nanti bisa kembali," ujar Frans.
"Yah, nanti akan ku hubungi temanku,"
"Oke, terima kasih El,"
Frans mematikan ponselnya, dia kembali ke ruang tunggu. Frans mengerutkan keningnya ketika tak mendapati sang istri, netranya hanya melihat OB yang sedang membersihkan sesuatu di lantai.
"Excuse me, do you see the pregnant woman sitting here?" pada seorang wanita hami yang tak jauh dari sana.
(permisi, apa kau melihat wanita hamil yang duduk disini?)
"Are you her husband?" tanya wanita itu.
(Apakah anda suaminya?)
Frans dengan bingung pun menjawab. "Yes I am her husband,"
(Ya saya suaminya)
"your wife was hit by the patient's dining table, hit her stomach hard enough to make her bleed," terang wanita itu yang mana membuat jantung Frans berdegup sangat kencang.
(istrimu tertabrak meja makan pasien, perutnya terbentur dengan cukup keras sehingga membuat dia pendarahan)
"Bleeding?" kaget Frans.
(Pendarahan?)
Wanita itu mengangguk, "*Well, she's passed out and looks like she's in the delivery room right now. I hope your wife and baby will be okay,"
(Yah, dia pingsan dan sepertinya sekarang sedang berada di ruang persalinan. Semoga saja istrimu bayi kalian tidak apa-apa*,"
Setelah wanita itu menyelesaikan perkataan nya, Frans langsung menuju ruang persalinan. Jantungnya berdegup sangat kencang, bukan waktunya sang istri lahiran saat ini.
Cklek!
"how is my wife?" tanya Frans.
(bagaimana keadaan istriku?)
"you her husband?" tanya sang dokter dan segera di angguki oleh Frans.
Dokter tersebut melepas maskernya, dia menatap Frans dengan tatapan bersalah. Frans lun semakin tidak karuan ketika melihat ekspresi dokter tersebut.
"Your wife is bleeding profusely, we decided to perform surgery. However, unfortunately the life of the baby and the mother was not
can be helped. We are truly sorry,"
(Istri anda mengalami pendarahan hebat, kami memutuskan untuk melakukan tindakan operasi. Namun, sayangnya nyawa bayi dan ibunya tidak dapat tertolong. Kami benar-benar meminta maaf.)
Tubuh Frans langsung lemas, dia jatuh terduduk dan menangis. Jika saja dia tak meninggalkan istrinya pasti dia bisa menjaga istrinya untuk terhindar dari kejadian ini.
"Hiks ... hiks ... aku gagal hiks ... aku gagal," isak Frans.
Sedangkan yang di khawatirkan kini berada di kantin rumah sakit, dia sedang memesan minuman karena sangat haus.
"Hah ... segernya, balik deh takut Frans cariin,"
Maaf yah ganti gambar judul terus, abisnya author bosen sama yang lam eh pas buat baru malah ada yang sama. Fiks harus edit gambar sendiri biar gak kembar😪😪😪.
Terima kasih atas dukungan kalian😘😘😘