
Sesampainya di mall, Frans dan Aqila saling bergandengan masuk kesana. Mata Aqila berbinar ketika melihat toko roti, dia segera menarik tangan Frans untuk masuk ke sana.
"Frans aku mau kue ini, ini dan ini. Terus dessert itu, sama itu. Terus juga sama ...,"
"Kamu mau habiskan semuanya? sanggup?" heran Frans yang mulai jengah dengan permintaan kue Aqila.
"GAk sih, nantikan bisa kamu yang habiskan," ujar Aqila.
Frans menahan napasnya, dia menghabiskan makanan yang mengandung banyak gula itu? bisa-bisa perutnya menjadi bulat dan ototnya menghilang.
Frans pun memesan makanan Aqila, dia meminta agar kue itu di potong dengan ukuran kecil-kecil.
"Sudah?" tanya Aqila.
Frans mengangguk, dia mengambil pesanan istrinya dan memberikan pada Aqila.
"Kok kecil?" heran Aqila.
Tampak yang Frans bawa hanya satu kotak kue saja, padahal Aqila membeli sangat banyak.
"Aku minta seperempatnya, sisanya buat mereka. AKu gak yakin kamu bakal habis, kamu itu cuman penasaran," terang Frans.
Aqila mengerucutkan bibirnya, suaminya ini bisa di katakan pelit untuk dompet yang tebal.
"Jangan cemberut begitu, sudahlah. Ayo kita belanja," ujar Frans.
Aqila mengangguk pasrah, dia menggandeng lengan Frans berjalan menyusuri Mall itu. Netranya tak sengaja melihat toko kosmetik, Aqila pun menarik lengan Frans untuk memasuki toko tersebut.
"Ngapain kesini Love?" bingung Frans.
"Mancing duda! ya beli make up lah!" kesal Aqila.
Frans pun hanya bisa menggaruk kepalanya, dia melihat istrinya yang sudah pergi menuju tempat lipstik.
"Ngapain kamu beli beginian?" tanya Frans.
"Ya buat bibir lah, biar cetar!" seru Aqila.
Frans mendelik, dia mengambil lipstik di tangan Aqila dan kembali menaruhnya.
"Kamu mendadak bangkrut Frans?" kesal Aqila.
"Bukan bangkrut Love, aku gak mau kamu pakai begituan. AKu gak suka!" ujar Frans.
"Oh, jadi kamu suka yang natural?" tanya Aqila.
Frans mengangguk cepat, Aqila yang melihat itu menatap Frans dengan kesal.
"Maunya punya istri yang natural, tapi doyannya selingkuhan yang bermakeup! emang bagus yah!" delik Aqila.
"Salah lagi aku?" bingung Frans.
"SALAH! KAMU AJAKIN AKU SHOPING, SHOPING APA? PELIT BANGET!" kesal Aqila.
***
Setelah selesai berbelanja, Aqila dan Frans pun telah sampai di sebuah restoran untuk makan siang.
"Frans, aku lupa," ujar Aqila.
"Lupa apa?" bingung Frans.
"KAu tahu kan bajuku sekarang pada kecil, alu ingin beli baju hamil," ujar Aqila.
"Tapi kan mamah sudah belikan banyak untuk kamu? di lemari juga masih ada," heran Frans.
Aqila menjatuhkan rahangnya, apa sebegitu pelitnya Frans untuk membeli baju untuknya?
"Tidak, tidak jadi. Ku rasa aku haru mencari sigar daddy, jadi segala keperluan ku dia yang berikan," sindir Aqila.
"Kok gitu sih? aku kurang hot apa coba?" kesal Frans.
"Kurang Hot money!" cetus Aqila.
Frans menggelengkan kepalanya, dia berdiri dari duduknya dan meninggalkan Aqila. Aqila yang di tinggalkan pun merasa terheran, makanan mereka belum datang dan Frans sudah meninggalkannya.
Sedangkan Frans, pria itu kini berjalan mendekati toko berlian. Dia melihat sebuah kalung berlian dan menunjuknya pada pegawai itu.
"Saya mau ini, tolong bungkuskan," titah Frans.
Tampak pegawai itu terkejut, dia memegang berlian itu dengan tangan bergetar. Bagaimana bisa orang membeli berlian seperti membeli gorengan tanpa berpikir dua kali?
"Ba-baik, kami akan kemas segera," ujarnya.
Frans menunggu sambil memainkan ponselnya, tak lama pun pesenannya datang dan dia menyerahkan kartu black card nya.
Pegawai itu menggesek kartu Frans, setelahnya dia mengembalikan kartu Frans dan mengucapkan terima kasih.
BUGH!
Saat akan berbalik, Frans menabrak seseorang. Netranya bertubrukan langsung dengan kata wanita itu.
"Maaf, saya tidak sengaja," ujar Frans.
Tampak wanita itu mengangguk, Frans tak mau berlama-lama dan ia melanjutkan jalannya kembali.
"Mirip banget sama Aqila," gumam Frans.
Tampak wanita itu terkesima dengan wajah Frans, bahkan jantungnya sudah berdegup sangat kencang.
"Sangat tampan, apa dia sudah menikah?" lirihnya.
Sedangkan Frans, kini pria itu telah kembali ke dalam resto. Netranya melihat sang istri yang tengah makan sambil merutuki dirinya.
"Lihatlah, dia makan saja masih sempat-sempatnya merutukiku," lirih Frans.
Aqila mengocek sambil memasukkan makanannya ke mulut.
"Dasar suami minim akhlak, tega! tega! tega!" begitulah gerutuan Aqila.
"Ekhem!"
Aqila sontak saja menoleh, dia melihat Frans yang tengah tersenyum menatapnya.
"Oh, balik lagi toh. Aku kira udah lupa dan kecantol sama setan," ujar Aqila.
Frans hanya bisa terkekeh, dia mengeluarkan kalung berlian yang tadi dia beli dan memakaikannya di leher Aqila.
"Frans kau tahu aku ... eh, apa ini?!" kaget Aqila dan menyentuh kalungnya.
"Tadi kau bilang aku pelit bukan? sekarang aku memberikanmu kalung ini," ujar Frans.
Aqila segera mengambil cerminnya di tas kecil miliknya, dia segera mengarahkan cermin itu pada lehernya.
"Apa kau kesambet crazy rich kuyang Frans?" heran Aqila.
Frans membatu, dia kira Aqila akan memujinya dan akan memberikan hadiah berupa kecupan untuknya seperti kebanyakan sinetron.
"Berapa harganya?" tanya Aqila.
"Huh, sekitar 30 miliyar," enteng Frans dan menduduki dirinya di depan Aqila.
Aqila yang sedang menyentuh kalungnya seketika terdiam, dia menatap Frans dengan mulut terbuka lebar.
"Kenapa kau membelinya?! lepas ini Frans, ini sangat mahal. Lebih baik kau bayarkan hutang negara," ujar Aqila dan berusaha melepaskan kalung nya.
Frans sungguh terkejut dengan pernyataan sang istri, biasanya perempuan akan sangat bahagia tetapi istrinya ini malah menyuruhnya membayar hutang negara?
"Nih, kembalikan dan minta uangnya kembali. Kau hanya perlu membelikanku berlian dengan harga 1-2 juta saja." ujar Aqila sambil memberikan kalung berlian itu di depan Frans.
"Love, sepertinya kepalamu terbentur," cicit Frans.
"Terbentur? tidak, aku tidak terbentur sama sekali," heran Aqila.
Frans pun tertawa sumbang, dia bahkan bingung bagaimana mengekspresikan wajahnya saat ini.
"Aku ... huh ... apa kau tak pernah membeli berlian? kalung mas saja tidak cukup dengan harga segitu, dan kau menginginkan berlian dengan harga kurang dari 3 juta? kau melawak pada dunia?" ujar Frans.
"Tidak, aku tidak pernah membeli berlian. Itu sangat mahal, lebih baik aku menyekolahkan anak jalanan dari pada beli berlian gak guna," ujar Aqila.
Frans meneguk ludahnya kasar, dia melihat berlian itu dengan pandangan bingung.
"Lebih baik kau simpan saja, malu aku jika di kembalikan. Buang saja tidak papa, asal jangan suruh aku mengembalikannya," ujar Frans.
"Ck, biar aku yang kembalikan," ucap Aqila dan akan mengambil kalung itu.
"JANGAN! oke, aku yang akan mengembalikannya," pasrah Frans.
Aqila tersenyum senang, dia kembali memakan makannya m Sedangkan Frans menatap nanar kalung itu.
"Oh iya, tadi aku melihat cewek sangat mirip denganmu. Yang membedakan hanya dia mempunyai wajah yang bulat dan chubby," ujar Frans.
"Benarkah?" kaget Aqila.