
"BAGAIMANA BISA? FRANS MEMANG BEGITU BODOH! KENAPA DIA TIDAK MENGGUNAKAN BODYGUARD!"
Begitulah kira-kira kemarahan dari Geo, dia langsung ke rumah Frans saat mendengar kabar jika ada penyusup yang masuk.
Aqila menelpon ayah mertuanya itu ketika para pria bertopeng telah pergi dengan membawa suaminya. Dia langsung menghubungi Geo untuk datang ke rumahnya.
"Maaf pah hiks ... Aqila yabg larang Frans untuk taruh bodyguard disini hiks ... Aqila merasa gak nyaman jika ada pria lain di rumah Aqila hiks ...," isak Aqila di pelukan Ane.
Geo menahan amarahnya, dia juga tidak bisa menyalahkan menantunya di saat seperti ini.
"Kakak ipar gak lupa kan jika abang seorang mafia? musuh banyak yang mengantri untuk menyerang kak!" sentak Ica pada Aqila yang masih menangis.
Aqila masih syok, dia jiga tidak tahu seperti apa kehidupan mafia pada umumnya.
"Berhenti saling menyalahkan, Ica mending kamu ke markas kumpulin anggota dan cari abangmu," titah Geo.
Ica mengangguk, dia menyambar kunci motornya yang berada di meja dan keluar dati rumah Aqila.
Ini yang Geo takutkan jika Frans kembali ke rumahnya, tetapi setelah Bentley berumur 2 bulan Frans memutuskan untuk kembali ke rumahnya.
"Dimana Bent?" tanya Geo.
"Hiks ... di kamar, aku tadi udah cek ternyata dia tidur," ujar Aqila yang masih sesenggukan.
Geo langsung bergerak menuju ke kamar Bentley, tak lama dia pun kembali dengan Bentley yang tertidur di gendongannya.
"Ane, kamu hubungin Ezra untuk segera bersiap.kita akan menjemput nya," ujar Geo.
"Ezra?" heran Ane.
"Frans udah tertangkap, Ezra lah selanjutnya yang menjadi incaran mereka karena Ezra juga ikut terlibat saat pemberontakan itu,"
Ane mengangguk, dia meraih ponselnya dan mencoba menelpon Ezra. Tak lama telpon itu tersambung, terdengar suara Ezra yang sangat berisik.
"Halo Ezra, kamu dimana nak?" tanya Ane dengan panik.
"Aku di jalan mah, tiba-tiba daddy jemput Lia dan si kembar. Aku ikutin mobil mereka dari belakang, tapi aku diserang sama sekelompok orang. Sekarang aku sedang bersembunyi, aku akan menelponmu lagi mah,"
Tuuut!
Ane menatap Geo dengan wajah paniknya, Frans telah tertangkap dan Ezra tengah terancam.
"Ezra juga," lirih Ane.
"Mereka merencanakan ini dengan matang dan ketika kita sedang lalai," ujar Geo.
Geo harus segera kembali ke markas, dia harus mengerahkan anggotanya untuk mencari Frans.
"Aqila, bersiaplah! kita akan ke mansion Wesley sekarang!" titah Geo.
Aqila oun berlari ke kamarnya, dia mengambil barang penting dan perlengkapan Bentley. Setelahnya dia kembali dengan tas besar di tangannya.
"Harus kita ke mansion Wesley?" tanya Ane.
"Untuk sementara mansion itu yang paling aman untuk Aqila dan Bentley tempati. Aku sibuk mengurus markas nanti untuk mencari keberadaan Frans, Aqila tentu harus di jaga dengan ketat," terang Geo.
"Mas tapi ...,"
"Aku tahu kamu mau Aqila di mansion kita, tapi sekarang keadaannya tidak memungkinkan. Cepat ayo kita berangkat," titah Geo.
Mereka pun akhirnya beranjak keluar, Aqila menatap rumahnya dengan tersenyum hambar.
***
BRUGH!
"Mau di taruh mana bos?" tanya bawahan Black.
"Lagi pula tinggal beberapa jam lagi, kita akan pergi dari negara ini untuk menyekapnya," gumam Black saat melewati lorong mansionnya menuju kamarnya.
Black adalah Gibran dan Gibran adalah Black, mereka orang yang sama dengan sifat yang bertolak belakang. Saat menjadi Black, tak ada lagi rasa kasihan kelembutan dan rasa simpati.
Gibran, pria itu telah membuka topengnya. Dia menghembuskan nafas berat dan menatap sebuah figura besar di kamarnya.
Dia mendekati figura itu, tangannya terulur untuk mengelus figura tersebut.
"Shunshine apa kau tahu ... kau sangat mirip dengannya, tingkah mu juga terdapat padanya. Tapi ada satu hal yang dirinya tidak punya, cintaku ... aku tak memiliki cinta untuknya,"
Gibran melangkah menuju balkon kamarnya, dia melihat sebuah helikopter dan juga jalanan yang ramai dengan mobil berlambang Ateez.
"Wah, tidak tanggung-tanggung juga dalam mencari ketua mereka. Hm ... pengikut yang setia," gumam Gibran.
Ponsel Gibran tiba-tiba berbunyi, dia mendekat ke arah ponselnya dan menerima panggilan itu.
"Ada apa?" tanya Gibran.
"Bos, mereka mencurigai rumah anda yang di tempati oleh paman anda," ujar bawahannya.
"Ck, mereka tidak mungkin akan masuk. Karena disana tidak ada aku, sehingga mereka tidak akan curiga," ujar Gibran dengan santai.
"Kau hanya perlu mengawasi rumahku, dan beri penjagaan terhadap pamanku. Apa kau mengerti!" titah Gibran.
"Siap, mengerti bos!"
Gibran mematikan sambungan telponnya, dia melempar ponselnya ke kasur. Netranya tak sengaja melihat sebuah bingkai foto yabg ada di nakas, itu adalah dia dan Ica yang sedang membelakangi kamera.
"Sebentar lagi ... sebentar lagi akan ku liat keluarga kalian berantakan sama seperti apa yang kakakmu lakukan pada keluargaku,"
Sedangkan di lain tempat, tepatnya di mansion Alden kini sangatlah ramai. Keluarga Robert berada disini terutama Stevan paman dari Audrey.
"Perlu bantuan mafia lain? aku bisa menghubungi temanku," saran Stevan.
"Benar El, paman memiliki banyak koneksi untuk mencari mafia yang akan membantu kita," usul Audrey.
"Kita tidak bisa gegabah sebelum tahu pasti apa yang dia lakukan pada Frans," ujar Alden.
Yang lain pun ikut mengangguk, Aqila dan Bent sudah istirahat di kamar tamu sehingga yang lainnya sedang membahas perkara Frans untuk kedepannya.
Geo sudah pergi ke markas, sedangkan Ane berada di mansion Wesley untuk menemani Aqila.
Begitu pula dengan Lia dan Ezra, untuk sementara mereka tinggal di kediaman Wesley sampai semuanya kembali.
"Gak bisa, kita tidak bisa memulainya dari mana pun. Jika benar dia putra Jefran, pasti dia memiliki banyak koneksi pemberontak lainnya. Keadaan wilayah pasti akan semakin memanas, di tambah Frans berada di tangan mereka. Pihak kepolisian tak mampu menangani kasus sebesar ini," ujar Azka yang sedari tadi diam.
"Benar! kita harus mencari siapa anak dari Jefran terlebih dahulu. Rupanya saja kita tidak tahu," ujar Elbert.
Lio mengamati percakapan mereka, netranya melirik ke arah Aurora yang sedang memainkan ponsel milik Lio. Entah apa yang bocah itu perbuat dengan ponsel milik abangnya.
"Suruh kak Ica untuk pergi ke daerah barat, cari setiap rumah yang ada. Mobil hitam dengan lambang B, karena mobil itu yang membawa bang Frans," celetuk Aurora yang mana membuat atensi mereka mengarah padanya.
"Aurora! daddy sudah peringatimu bukan? jangan ikut campur! ini bahaya untukmu!" geram Alden karena tahu apa yang putrinya itu lakukan.
Aurora mengembalikan ponsel Lio, dia menatap jam dinding yang menunjukkan pukul 10 malam.
"Terlambat dad, bahkan bang Laskar sudah menuju lokasi yang aku kirimkan. Cepatlah bergerak sebelum mereka akan berangkat ke luar negri malam ini juga," ujar Aurora dan pergi daru ruang keluarga menuju kamarnya.
Semuanya tertegun, Alden dan Elbert langsung bergerak menuju ruang senjata. Mereka mengambil senjata yang memang mereka simpan untuk hal genting.
"Kita semuanya langsung ke lokasi yang ada di ponselku," titah Lio.
Semuanya segera pergi kecuali Audrey yang memang tidak bisa pergi karena saat ini dia tengah hamil. Bulan madunya kemarin ternyata membuahkan hasil, dia tengah hamil dengan usia kandungan beranjak 4 bulan.